Share

Bab 27. Rindu

Penulis: ADZWADA_KINAKA
last update Tanggal publikasi: 2026-02-21 08:04:20

Tak membuang waktu, Mega menekan tombol penerima panggilan dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"(Hallo, Bi!, Bibi apa kabar?)" sapa Mega begitu senangnya saat sang Bibi menghubunginya.

"(Sudahlah, Mega, tidak usah berbasa basi, bagaimana uang untuk pengobatan Nenekmu, kenapa lama sekali?)" tanya sang Bibi.

"(Uang? Emm .... Tunggu ya, Bi, Mega sedang mengusahakannya!)" jawab Mega.

"(jangan buat alasan terus, kalau kamu memang sayang pada nenekmu, segera usahakan uang itu, PAHAM!)" teg
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 80. Menyusul

    Rasa nyeri terasa menusuk hati Mega dengan begitu dalam, "tadi Mbak Minah yang menyambut saya kesini atas perintah Pak Awan...kalau kehadiran saya membuat Bu Amel terganggu biar saya kembali ke paviliun saja," pamit Mega. Amelia sini tersenyums, "baguslah kalau kamu sadar diri," Mega mengangguk, lalu memutar tubuhnya. “Tunggu, Mel… tadi memang aku yang meminta Mbak Minah memanggil Mega, mau bagimanapun Mega juga butuh asupan,” jelas Awan. Amelia menatap Mega dengan sedikit tajam. Ucapan Awan tak membuat Mega menghentikan langkah kakinya, dan Awan pun buru-buru mengejar Mega. Saat tepat di belakang Mega Awan segera meraih pergelangan tangan Mega dan sontak saja Mega pun menghentikan langkah kakinya namun tanpa menoleh ke Awan. "Kamu juga harus makan!" cegah Awan. "Saya belum lapar, lebih baik Bapak dan Ibu saja yang makan!" tolak Mega sedikit ketus. Awan menarik tangan Mega membuat Mega tersentak dan sontak saja tubuhnya berputar menghadap Awan. Sorot mata Awan tampak tajam me

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 79. Nyeri Hati 2

    Awan mengerutkan kening, sementara Mega menarik tangan hingga terlepas dari genggaman tangan Awan. “Maksudmu?” tanya Awan. Mega menghela nafas, “kemarin Bapak bilang Bu Amelia tidak bisa melayani selayaknya istri pada suaminya, itu alasan Bapak menjadikan saya sebagai penggantinya, bahkan sampai menyiapkan segala keperluan Anda pun juga saya yang lakukan, dan sepertinya sekarang Bu Amelia sudah bisa melayani Anda, jadi hari ini minta tolong pada Bu Amelia saja,” terang Mela yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Awan. Awan terhenyak sesaat, bukannya marah justru Awan mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya. "Sikapnya ... apa itu artinya dia cemburu?!" gumam Awan, dada Awan seketika menghangat dan semburat merah tempak mengembang mewarnai wajah Awan kala itu.Awan lalu meneruska langkahnya, pelan ia susuri langkah demi langkah untuk menyusul Mega dan berutungnya dugaan Awan benar, ia bisa menemukan Mega yang tengah berdiri di tepian sungai buatan.Sebuah senyuma kembali te

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 78. Nyeri Hati

    "Mega!" Awan terkesiap. Awan lalu menoleh padan jam dinding yang ada di kamar Amelia, "sudah pagi ... jangan-jangan semalaman dia menunggu aku?" batin Awan. Awan pun bergegas bangkit dari ranjang Amelia, dan lebih dulu mengemasi pakaiannya untuk kembali ia kenakan. Namun baru saja Awan selesai berpakaian, Amelia yang baru saja keluar dari kamar mandi kembali mencegah langkah Awan. "Loh ... kamu mau kemana, Wan?" tanya Amelia, rambutnya masih tampak basah dengan butiran air yang masih tampak menetes dari ujung rambutnya. Setelah kejadian semalam, bahkan Amelia pun sudah tak merasa malu mengenakan pakaian terbuka di depan Awan. "Sudah hampir siang ... aku harus bekerja," jawab Awan. Sembari menggosok rambutnya dengan handuk, Amelia berjalan mendekati Awan lalu berdiri tepat di hadapannya. "Setelah apa yang kita lakukan semalam, kamu langsung meninggalkan aku begini, Wan," ucap Amelia, wajahnya tampak memelas. "Atau jangan-jangan ....!" wajah yang awalnya memelas kini ber

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 77. Tak Ingat!

    Awan menerima gelas pemberian Amelia lalu duduk di sofa, ia tatapi sejenak hidangan yang tersaji di meja yang ada di depannya, "kalau seperti ini, kenapa tidak makan di bawah saja?" tanya Awan."Aku kan tadi sudah bilang, Wan, aku ingin makan berdua ... kalau di bawah kamu pasti mengajak Mega juga kan!" Amellia memasang wajah cemberut, "tadi kan aku sudah bilang ... aku ingin dekat dengan kamu, kita harus mencoba saling membuka hati kan, Wan. Kamu membuka hati untuk Mega saja bisa masa untuk aku tidak," lanjut Amelia.Awan hanya diam namun tatapan tajamnya terus ia arahkan pada Amelia. Awan lalu menghela nafas, "terserah kamu saja," sahutnya singkat.Amelia tersenyum tipis, "bisa tolong ambilkan aku makanan,Wan, aku sudah lapar!" pinta Amelia dan Awan pun bangkit dari duduknya untuk kemudian mengambilkan makanan untuk Amelia dan juga untuk dirinya sendiri.Setelah memberikan piring berisi makanan itu pada Amelia, Awan pun memilih untuk kemba;li duduk di sofanya semula.Namun tak sepe

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 76. Di Antara 2

    Amelia mengepal geram, "sialan ... dia menolak aku, bahkan bersikap begitu sinis padaku ... tapi dengan perempuan desa itu dia bisa bersikap begitu manis," geram Amelia.Amelia terus mengarahkan tatapannya pada Mega dan Awan yang masih berbincang di pinggir kolam, "aku tidak bisa tinggal diam ... kalau begini terus lama-lama Awan bisa jatuh cinta pada perempuan kampung itu," grutu Amelia.Sementara di tepi kolam, Awan mengulurkan tangannya pada Mega, "ayo ... aku sudah lapar!" tagih Awan.Tanpa ragu Mega meraih tangan Awan dan keduanya pun berjalan bergandengan untuk kembali masuk ke dalam rumah.Dari jendela kamar Awan, Amelia masih begitu betah mengawasi, tanpa Amelia sadari kedekatan Awan dan Mega berhasil membuat hati Amelia memanas. Bahkan beberapa sumpah serapah beberapa kali terdengar keluar dari mulut Amelia. Melihat Mega dan Awan kembali, Amelia pun bergegas keluar dari kamar Awan untuk menyusul Mega dan Awan.Dari tempat Amelia berdiri, ia bisa melihat Awan yang baru saja

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 75. Gila

    Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya. Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis. Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia. "Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan. Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai. "Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan. "Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam. "Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia. Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera m

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 14. Mega Rismanda

    Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 10. Sakit 2

    "Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 6. Kamar Awan

    "GADIS KAMPUNG!" seru Awan lagi. "Temui Tuan dulu, jangan buat Tuan menjadi marah lagi!" perintah Minah. "Tapi, Mbak ....!" Mega tampak ragu. Minah menganggukkan kepalanya, membuat Mega akhrinya mengalah dan kembali menemui Awan. Mega berjalan cepat, saat telinganya masih menangkap suara sang Tu

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 5. Ingin Pulang

    Kekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu. Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram. Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya. "Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega. Awan terkesiap, dan tanpa ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status