MasukMega dan Amelia saling beradu pandang, hingga tanpa keduanya sadari Awan telah bangkit dari duduknya dan telah mendekati mereka.Yang lebih membuat Amelia dan Mega terkejut adalah saat tiba-tiba saja Awan mengulurkan tangannya pada Amelia, "mari kita duduk, aku sudah menunggumu sejak tadi," ucap Awan, nada suaranya terdengar begitu lembut.Awan menuntun tangan Amelia sampai kembali ke tempat duduknya semula sementara Mega masih mematung terdiam menatap perlakuan manis Awan pada Amelia."Loh, Mega ... cepat duduk ayo kita makan malam sama-sama," ajak Amelia yang seketika membuat Mega terhenyak."I ... iya, Bu," jawab Mega tergagap yang kemudian berjalan menuju meja makan, Mega mengambil posisi duduk berhadapan dengan Awan."Sudah lengkap, ayo kita makan aku sudah lapar," ucap Awan.Awan lalu bengkit berdiri, Awan tampak begitu pengertian dengan lembut Awan mengambil piring milik Amelia. Awan menyendokkan nasi lengkap dengan lauk pauk dan kemudian ia letakkan kembali tepat di hadapan Ame
Baru saja Awan bangkit, namun Mega segera menangkap tangan Awan membuat Awan lebih dulu menoleh padanya. "Itu obat apa?" tanya Mega. Awan kembali duduk, "itu obat penguat kandungan," jelas Awan. Mega terhenyak sesaat, lalu menatap Awan dengan lekat. "Kenapa?" Awan membalas tatapan Mega. "Walau kamu masih ragu tapi aku yakin di dalam perutmu sudah ada anakku, jadi kamu harus meminum obat agar dia bertumbuh sehat disini," Awan kembali memeluk pinggang Mega lalu mengelus perut Mega yang masih rata itu. Wajah Mega seketika tampak murung, ada di dilema dalam hatinya, satu sisi ia merasa bahagia atas kabar kehadiran buah hatinya, namun disisi lain ia juga merasa sedih karena anak yang di kandungnua kelak tidak akan menjadi miliknya. "Bu Amelia sudah pulang, lebih baik Pak Awan kembali kerumah utama saja," pinta Mega. Seketika itu juga Awan melepaskan pelukannya pada tubuh Mega, "justru Amelia yang menyuruhku kesini, dia menyuruh aku menemani kamu," jawab Awan. Jawaban Awan
Amelia membulatkan kedua bola matanya, "lalu?" Amelia tampak penasaran. "Sudahlah, kamu tidak perlu tau. Nanti aku beri obatnya. Dan tugasmu memberikan obat itu pada madumu itu," perintah Aditya. "Tapi reaksi obat itu bagaimana? kalau langsung berreaksi pasti Awan akan curiga dan dia pasti menyadari kalau itu ulah kita?" Aditya menyentil lembut kening Amelia, "jangan khawatir, asal madumu itu rajin meminum obat, maka janin di dalam perutnya tidak akan berkembang," bisik Aditya. Wajah Amelia seketika sumringah, "kamu memang pintar," puji Amelia memeluk erat tubuh kekasih gelapnya itu. ****** Di Rumah Awan Awan berjalan melewati depan mobilnya, ia buka pintu mobil lalu membantu Mega turun dari mobil miliknya itu. "Pelan-pelan," ucap Awan. Mega menerima uluran tangan Awan, dan segera keluar. "Ayo kita masuk!" ajak Awan, namun seketika Mega menepis tangan Awan dari lengannya. "Biar saya pulang ke paviliun saja. Sesuai kesepakatan yang Bapak bilang pada Bu Amelia kala
Awan terhenyak, "kamu sudah pulang, Mel? bukannya kamu bilang akan menginap beberapa hari?" tanya Awan. Amelia seketika melirik tajam pada Awan, "ada apa? dari pertanyaanmu sepertinya kamu tidak suka dengan kepulanganku!" sinis Amelia yang kemudian mengarahkan tatapannya pada mesin pembuat jus yang ada di hadapan Awan. "Kau sedang membuat jus, Wan? tumben ... biasanya tinggal meminta tolong pada Mbak Minah?" tatapan sinis Amelia seketika berubah menjadi tatapan curiga. "Aku membuat ini untuk Mega," jawab Awan singkat. "Mega? ... lalu orang hamil yang kalian bahas!" Amelia seketika terhenyak. "Mega hamil?" tebak Amelia. Hingga tiba-tiba saja suara pintu kamar Awan terbuka. Amelia pun segera menoleh, dan betapa terkejutnya Amelia saat mendapati Mega baru saja keluar dari kamar Awan. "Dia ...?" Amelia menoleh pada Awan. "Kenapa dia keluar dari kamarmu?" "Ooohhhh .... jadi selama kepergianku, kamu menggunakan kesempatan untuk memboyong dia tinggal dirumah ini?" Amelia mu
Pertanyaan sang Dokrt berhasil menbuat Awan terhenyak, gugup sekaligus bimbang segera menyergapi hatinya. Tentu saja jika sampai ia salah menjawab akan menjadi masalah besar karena Dokter Mariska juga dokter keluarga dari keedua orang tuanya. "Emm ... dia ... dia!" Awan tampak gugup kebingungan. "Saya teman dari Bu Amelia, kebetulan saya sedang menginap disini," sahut Mega memberi alasan. Namun jawaban Mega justru membuat Awan menoleh padanya. "I ... iya, dia teman Amelia," sahut Awan menimpali. Sang Dokter mengangguk, "baiklah ... kalau begitu lebih baik segera kabari suaminya, kalau perlu segera periksakan ke dokter kandungan agar hasilnya lebih jelas," ucap sang dokter memberikan arahan. "Baik, Dok, terimakasih," jawab Mega. ****** Beberapa Saat Kemudian Di kamar Awan, Mega masih duduk terdiam. Tatapannya tampak kosong sampai Mega tak menyadari jika Awan telah kembali. "Mega!" panggil Awan. Tatapan Mega yang kosong pun kemudian terarah pada Awan. "Maaf ... tad
"Pak Awan tidak mandi atau cuci muka lebih dulu?" tanya Mega.Awan terhenyak, ia segera tersadar jika baru benar-benar terbangun dari tempat tidurnya."Emmm ... sepertinya aku terlalu bersemangat, soalnya baru ini kali pertamanya ada yang membangunkan aku bahkan ini juga kali pertamanya ada yang menyiapkan sarapan tanpa aku minta," jelas Awan.Mega terdiam sesaat, tatapan iba ia arahkan pada Awan. "Untuk sekali ini saja, biarkan aku langsung sarapan!" mohon Awan."Boleh ya!" rengek Awan bak bocah kecil meminta sesuatu pada ibunya.Mega tersenyum gemas, lalu ia pun menganggukkan kepalanya, "Bapak duluan saja, biar saya merapikan tempat tidur lebih dulu."Kamu tidak mau menemani aku sarapan, Mega?" tanya Awan, nada suaranya terdengar lesu.Mega tak segera menjawab, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada ranjang milik Awan dimana ranjang itu tampak tidak terlalu berantakan, dan barulah ia arahkan kembali tatapannya pada Awan, "hanya sebentar, Pak Awan duluan saja, setelah selesai saya
Namun setelah beberapa saat, Mega masih tetap diam. Hal itu tentu membuat Awan tak sabar, "hah ... sudahlah, aku tidak akan memaksa kalau memang kau belum siap!" Awan mulai kesal. Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu utama. Saat hampir tiba di ambang pintu, Awan
Tok Tok Tok Suara ketukan pada pintu utama sontak saja membuat Mega dan Awan sama-sama terkejut. Awan yang baru saja berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir Mega pun segera melepas dan sedikit menjauh. Debaran nafsu yang sudah menguasai dada keduanya terpaksa tertunda karena datangnya tamu ya
Mega mengangguk, ada binar harapan pada mata Mega kala itu, "apa, Mbak Minah bisa membantu?" tanya Mega. "Mbak punya anak sepertinya usianya tidak jauh dari kamu, dia bekerja di sebuah restouran, nanti biar Mbak suruh dia kesini kalian bicara sendiri ya!" jawab Minah. "Tapi janji, kalau Tuan ma
"Kau cemburu?" cletuk Awan. "Uhukkk!" Ucapan Awan membuat Amelia terkejut hingga tersedak. Buru-buru Awan meraih segelas air putih lalu memberikanya pada Amelia , "minum ini dan makanlah yang benar!" Amelia menerima gelas berisi air putih itu dan segera menenggaknya. "Kenapa sampai seperti it







