Share

Bab 27. Rindu

Penulis: ADZWADA_KINAKA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-21 08:04:20

Tak membuang waktu, Mega menekan tombol penerima panggilan dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"(Hallo, Bi!, Bibi apa kabar?)" sapa Mega begitu senangnya saat sang Bibi menghubunginya.

"(Sudahlah, Mega, tidak usah berbasa basi, bagaimana uang untuk pengobatan Nenekmu, kenapa lama sekali?)" tanya sang Bibi.

"(Uang? Emm .... Tunggu ya, Bi, Mega sedang mengusahakannya!)" jawab Mega.

"(jangan buat alasan terus, kalau kamu memang sayang pada nenekmu, segera usahakan uang itu, PAHAM!)" teg
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 48. Tantangan

    Mega terkesiap saat akhirnya pintu kamarnya terbuka, wajahnya tampak menegang, hingga perasaan tegang itu menghilang saat sosok Awanlah yang muncul dari balik pintu. "Pak Awan!" ucap Mega penuh kelegaan. Awan segera mengarahkan tatapannya pada Mega. "Ada apa? kenapa wajahmu begitu sumringah setelah melihat aku?" tanya Awan. Seketika itu juga, wajah sumringah Mega kembali berubah masam. "Ada apa lagi, Bapak kemari? Bukannya saya sudah bilang jangan datang kemari kecuali Bapak ....!" Mega tak melanjutkan ucapannya. Awan tak segera menjawab, ia lebih dulu melangkahkan kakinya lalu duduk tepat di sebalah Mega. Mega pun menggeser duduknya menjauhi Awan. "Kenapa harus membuat aturan seperti itu?" tanya Awan tanpa menoleh pada Mega. Sementara Mega justru mengarahkan tatapannya pada Awan, "saya sudah pernah bilang, saya tidak mau menghancurkan rumah tangga anda dan Bu Amelia," jelas Mega. "Cukup Mega!" Awan menoleh membalas menatap Mega, kini sorot mata keduanya saling ber

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 47. Siapa?

    Di balik pintu, Mega masih terdiam. "Ayolah, Mega, nampan ini berat," keluh Awan dari balik pintu. Akhirny Mega mengalah, ia lalu membuka pintu selebar-lebarnya. Awan menyunggingkan senyum lebar, namun senuman itu tak mendapat balasan dari Mega. Mega lebih dulu memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu di depan Awan. Hingga langkah kaki keduanya tiba di dapur. Awan segera menurunkan nampan di atas meja, dan ia pun menata meja makan Mega yang awalnya kosong menjadi berisi makanan yang lengkap. "Sudah siap ... ayo kita makan!" ajak Awan. Lebih dulu Mega tatapi satu persatu makanan yang sudah tersaji di atas meja makannya, "kenapa, Bapak repot-repot begini, saya sedang tidak berselera," Mega tampak lesu. Awan tak menjawab, ia justru menarik satu kursi di dekat Mega, "duduklah ... walau tidak berselera, kau harus tatap makan, jangan sampai kamu sakit bahkan sampai kurus, nanti apa kata orang?" ucap Awan sengaja membercandai Mega. "Kata orang ... memang siapa yang tau kala

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 46. Pintu Paviliun

    Melihat kehadiran Amelia, Minah seketika menundukkan kepalanya, sementara Awan justru mengarahkan tatapan tajam pada wanita yang masih menyandang setatus istri pertamanya itu. "Memangnya semalam kau pergi kemana?" tanya Awan. Amelia membalas tatapan tajam dari Awan, "setelah perdebatan semalam, aku memilih menenangkan diri dirumah, Mama," sahut Amelia beralasan. "Lain kali jangan keluar rumah tanpa seijinku," sahut Awan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Amelia terdiam, hanya sorot matanya yang mengikuti langkah Awan, sampai Awan masuk ke dalam kamarnya. Lalu perlahan Amelia melangkahkan kakinya menghampiri Minah. Minah yang merasa takut hanya menundukkan tanpa berani menegakkan kepalanya. "Atas dasar apa Mbak Minah mengadu seperti itu?" tanya Amelia. "Maaf, Nyonya, bukan maksud saya mengadu, tapi ...." "Alah ... tidak usah banyak tapi, sudah jelas aku mendengar semuanya dengan telingaku sendiri," potong Amelia sebelum Minah selesai melanjutkan ucap

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 45. Hasrat

    Mega tak menerima begitu saja. Ia berusaha membrontak, namun sayang tenaganya yang tidak sepadan dengan Awan disertai tubuh yang belum benar-benar pulih membuat Mega kalah dan hanya bisa menerima apa yang dilakukan Awan padanya. ****** Di Kamar Amelia "Sepertinya Awan tadi tidak menyadari," ucap Amelia sembari menatapi pantulan lehernya yang tampak memerah di beberapa bagian. Cermin besar itu terus ia tatapi, "dasar Adit sialan, bisa-bisanya dia meninggalkan bekas sebanyak ini!" grutu Amelia. Ia lalu meraih sebuah botol berisi cairan bening, lalu ia teteskan pada sebuah kapas tipis. Amelia lalu menggosokkan kapas yang sudah basah itu pada beberapa titik lehernya yang tampak memerah. "Aduuhhh ... kenapa tidak mau hilang?" wajah Amelia tampak kebingungan. "Kalau begini caranya, bagaimana aku bertemu dengan Awan nanti," gumamnya. Merasa kesal karena tak mendapatkan cara menghilangkan bekas merah disekitar lehernya, Amelia memilih bangkit dari duduknya. Ia lalu merebahkan

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 44. Menyalurkan Hasrat

    Sorot mata Amelia segera tertuju pada kedua tangan Mega dan Awan yang tengah saling bergandengan, sontak saja Mega menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Awan. Amelia yang awalnya hendak masuk ke dalam lift pun akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu disusul Mega dan Awan di belakanya. "Aku dengar dari Mbak Minah kalau Mega sakit, makanya aku sengaja datang untuk membesuk. Tapi ternyata seudah sembuh," ucap Amelia ketika telah sampai di depan pintu lobby. "Semalam dia memang sakit, makanya aku langsung membawanya kesini," sahut Awan. Sahutan itu hanya dijawab senyum sinis oleh Amelia, hingga akhirnya mobil yang di kemudikan Pak Arman pun telah datang. Amelia dan Awan duduk di kursi belakang sementara Mega duduk di kursi depan di samping Pak Arman. "Sudah baikan, Neng?" tanya Arman. Mega tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja baik, semalam aku ke paviliun juga dia baik-baik saja," sahut Amelia sedikit sinis. "Atau sakitmu hanya pura-pura, un

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 43. Pulang

    "Sudahlah, Pak!, Saya sudah tau semuanya. Tidak perlu ada yang ditutupi lagi," sahut Mega sinis. Awan mengehela nafas, berusaha meredam gejolak emosinya yang sempat memanas, "jangan mengajak aku berdebat, keadaanmu belum pulih, beristirahatlah," pungkas Awan. Mega kini hanya diam, hal itu membuat suasana ruang perawatannya sejenak terasa sunyi senyap. "Mau makan apa? Biar aku carikan?!" tawar Awan. Namun Mega hanya diam. "Aku bertanya padamu, Mega," Awan sedikit meninggikan suaranya. Hal itu membuat Mega mengarahkan tatapannya pada Awan. "Saya tidak lapar," singkat Mega yang kembali membuang muka ke arah yang lain. "Setidaknya makanlah sesuatu untuk mengisi perutmu," Awan sedikit melembutkan nada bicaranya. "Saya sudah bilang saya tidak lapar, lagi pula nanti pasti mendapat jatah makan dari rumah sakit, saya makan itu saja," sahut Mega lagi. Awan kembali menghela nafas, "dasar keras kepala," gumam Awan mengepal geram. Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di bela

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status