Home / Romansa / MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA / Bab 14. Mega Rismanda

Share

Bab 14. Mega Rismanda

last update publish date: 2026-02-06 01:12:12

Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot.

Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia mengikuti di belakangnya.

Tepat di ruang tengah, Awan menghentikan langkah kakinya, "kita bicara disini saja!" pungkasnya.

******

Di kamar Mega

Merasa suasana hatinya sudah lebih baik, Mega pun b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 62. Bahaya

    Mega dan Amelia saling beradu pandang, hingga tanpa keduanya sadari Awan telah bangkit dari duduknya dan telah mendekati mereka.Yang lebih membuat Amelia dan Mega terkejut adalah saat tiba-tiba saja Awan mengulurkan tangannya pada Amelia, "mari kita duduk, aku sudah menunggumu sejak tadi," ucap Awan, nada suaranya terdengar begitu lembut.Awan menuntun tangan Amelia sampai kembali ke tempat duduknya semula sementara Mega masih mematung terdiam menatap perlakuan manis Awan pada Amelia."Loh, Mega ... cepat duduk ayo kita makan malam sama-sama," ajak Amelia yang seketika membuat Mega terhenyak."I ... iya, Bu," jawab Mega tergagap yang kemudian berjalan menuju meja makan, Mega mengambil posisi duduk berhadapan dengan Awan."Sudah lengkap, ayo kita makan aku sudah lapar," ucap Awan.Awan lalu bengkit berdiri, Awan tampak begitu pengertian dengan lembut Awan mengambil piring milik Amelia. Awan menyendokkan nasi lengkap dengan lauk pauk dan kemudian ia letakkan kembali tepat di hadapan Ame

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 61. Sayang

    Baru saja Awan bangkit, namun Mega segera menangkap tangan Awan membuat Awan lebih dulu menoleh padanya. "Itu obat apa?" tanya Mega. Awan kembali duduk, "itu obat penguat kandungan," jelas Awan. Mega terhenyak sesaat, lalu menatap Awan dengan lekat. "Kenapa?" Awan membalas tatapan Mega. "Walau kamu masih ragu tapi aku yakin di dalam perutmu sudah ada anakku, jadi kamu harus meminum obat agar dia bertumbuh sehat disini," Awan kembali memeluk pinggang Mega lalu mengelus perut Mega yang masih rata itu. Wajah Mega seketika tampak murung, ada di dilema dalam hatinya, satu sisi ia merasa bahagia atas kabar kehadiran buah hatinya, namun disisi lain ia juga merasa sedih karena anak yang di kandungnua kelak tidak akan menjadi miliknya. "Bu Amelia sudah pulang, lebih baik Pak Awan kembali kerumah utama saja," pinta Mega. Seketika itu juga Awan melepaskan pelukannya pada tubuh Mega, "justru Amelia yang menyuruhku kesini, dia menyuruh aku menemani kamu," jawab Awan. Jawaban Awan

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 60. Obat 2

    Amelia membulatkan kedua bola matanya, "lalu?" Amelia tampak penasaran. "Sudahlah, kamu tidak perlu tau. Nanti aku beri obatnya. Dan tugasmu memberikan obat itu pada madumu itu," perintah Aditya. "Tapi reaksi obat itu bagaimana? kalau langsung berreaksi pasti Awan akan curiga dan dia pasti menyadari kalau itu ulah kita?" Aditya menyentil lembut kening Amelia, "jangan khawatir, asal madumu itu rajin meminum obat, maka janin di dalam perutnya tidak akan berkembang," bisik Aditya. Wajah Amelia seketika sumringah, "kamu memang pintar," puji Amelia memeluk erat tubuh kekasih gelapnya itu. ****** Di Rumah Awan Awan berjalan melewati depan mobilnya, ia buka pintu mobil lalu membantu Mega turun dari mobil miliknya itu. "Pelan-pelan," ucap Awan. Mega menerima uluran tangan Awan, dan segera keluar. "Ayo kita masuk!" ajak Awan, namun seketika Mega menepis tangan Awan dari lengannya. "Biar saya pulang ke paviliun saja. Sesuai kesepakatan yang Bapak bilang pada Bu Amelia kala

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 59. Obat

    Awan terhenyak, "kamu sudah pulang, Mel? bukannya kamu bilang akan menginap beberapa hari?" tanya Awan. Amelia seketika melirik tajam pada Awan, "ada apa? dari pertanyaanmu sepertinya kamu tidak suka dengan kepulanganku!" sinis Amelia yang kemudian mengarahkan tatapannya pada mesin pembuat jus yang ada di hadapan Awan. "Kau sedang membuat jus, Wan? tumben ... biasanya tinggal meminta tolong pada Mbak Minah?" tatapan sinis Amelia seketika berubah menjadi tatapan curiga. "Aku membuat ini untuk Mega," jawab Awan singkat. "Mega? ... lalu orang hamil yang kalian bahas!" Amelia seketika terhenyak. "Mega hamil?" tebak Amelia. Hingga tiba-tiba saja suara pintu kamar Awan terbuka. Amelia pun segera menoleh, dan betapa terkejutnya Amelia saat mendapati Mega baru saja keluar dari kamar Awan. "Dia ...?" Amelia menoleh pada Awan. "Kenapa dia keluar dari kamarmu?" "Ooohhhh .... jadi selama kepergianku, kamu menggunakan kesempatan untuk memboyong dia tinggal dirumah ini?" Amelia mu

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 58. Jahat

    Pertanyaan sang Dokrt berhasil menbuat Awan terhenyak, gugup sekaligus bimbang segera menyergapi hatinya. Tentu saja jika sampai ia salah menjawab akan menjadi masalah besar karena Dokter Mariska juga dokter keluarga dari keedua orang tuanya. "Emm ... dia ... dia!" Awan tampak gugup kebingungan. "Saya teman dari Bu Amelia, kebetulan saya sedang menginap disini," sahut Mega memberi alasan. Namun jawaban Mega justru membuat Awan menoleh padanya. "I ... iya, dia teman Amelia," sahut Awan menimpali. Sang Dokter mengangguk, "baiklah ... kalau begitu lebih baik segera kabari suaminya, kalau perlu segera periksakan ke dokter kandungan agar hasilnya lebih jelas," ucap sang dokter memberikan arahan. "Baik, Dok, terimakasih," jawab Mega. ****** Beberapa Saat Kemudian Di kamar Awan, Mega masih duduk terdiam. Tatapannya tampak kosong sampai Mega tak menyadari jika Awan telah kembali. "Mega!" panggil Awan. Tatapan Mega yang kosong pun kemudian terarah pada Awan. "Maaf ... tad

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 57.

    "Pak Awan tidak mandi atau cuci muka lebih dulu?" tanya Mega.Awan terhenyak, ia segera tersadar jika baru benar-benar terbangun dari tempat tidurnya."Emmm ... sepertinya aku terlalu bersemangat, soalnya baru ini kali pertamanya ada yang membangunkan aku bahkan ini juga kali pertamanya ada yang menyiapkan sarapan tanpa aku minta," jelas Awan.Mega terdiam sesaat, tatapan iba ia arahkan pada Awan. "Untuk sekali ini saja, biarkan aku langsung sarapan!" mohon Awan."Boleh ya!" rengek Awan bak bocah kecil meminta sesuatu pada ibunya.Mega tersenyum gemas, lalu ia pun menganggukkan kepalanya, "Bapak duluan saja, biar saya merapikan tempat tidur lebih dulu."Kamu tidak mau menemani aku sarapan, Mega?" tanya Awan, nada suaranya terdengar lesu.Mega tak segera menjawab, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada ranjang milik Awan dimana ranjang itu tampak tidak terlalu berantakan, dan barulah ia arahkan kembali tatapannya pada Awan, "hanya sebentar, Pak Awan duluan saja, setelah selesai saya

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 30. Syarat

    "Aku sudah pernah bilang, Amelia tidak akan memperdulikan aku!" jawab Awan. Mega terdiam sesaat, ia masih tak mengerti tentang bagaimana hubungan pernikahan yang di bangun oleh Awan dan Amelia. "Lalu makanan ini?" Mega mengangkat piring yang masih bersisi makanan dari pangkuannya. Awan pun ban

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 29. Menginap

    "Tidak usah kaget begitu! Aku akan tidur di sofa itu" Awan menunjuk Sofa yang ada di belakangnya. "Emmm, tidak usah tidak apa-apa, saya tidak apa-apa sendiri!" "Sudahlah, tidur saja sudah malam!" sahut Awan, ia kemudian membantu Mega membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Kini

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 24. Menyusul

    "Kita ke restourand Mbak Rini saja, Pak!" Meg akhuirnya memutuskan. "Neng yakin?" Arman memastikan.Mega menganggukkan kepalanya. "Tapi nanti kalau Pak Bos marah bagaimana?" Arman ragu. "Tidak apa-apa Pak. Kalau Pak Awan marah biar aku yang urus!" jawab Mega. ****** Beberapa waktu kemudia

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 23. Bimbang

    Panggilan dari sang Majikan bergema pada telinga Minah, "i ... Iya, Tuan, Tuan memanggil saya?" Minah tergopoh mendekati Awan. "Tolong panggilkan Mega, suruh dia sarapan disini!" perintah Awan. "Ba ... baik, Tuan!" jawab Minah bergegas undur diri untuk memanggil Mega. ****** Di Paviliun Mega m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status