Partager

Empat

Auteur: Rosemala
last update Date de publication: 2026-10-14 16:34:03

“Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”

Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.

“Baiklah. Antar aku ke kamar.”

Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.

“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.

“Apa, Nyonya?”

Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau tidak?

Namun, mengingat betapa mengerikannya sang majikan ketika marah, pelayan itu tidak berani mempertanyakan apa pun. Dia segera mengangguk dan bergegas membimbing Bella menuju kamar.

“Terima kasih.”

Bella mengucapkan kalimat itu dengan santai begitu mereka tiba di depan sebuah pintu putih berukuran besar.

Sang pelayan sontak mengangkat wajah. Matanya membulat, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil keluar dari mulut majikannya. Sayangnya, Bella sama sekali tidak menyadari keterkejutan itu. Perhatiannya sudah tertuju pada pintu kamar di hadapannya.

Tangannya baru saja menyentuh handel pintu ketika sebuah pertanyaan melintas di benaknya.

“Jam berapa Lucian biasanya masuk kamar?”

Sang pelayan mengernyit dalam. Dia bahkan membutuhkan beberapa detik untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.

“Aku hanya ingin bersiap-siap kalau-kalau dia masuk kamar lebih awal malam ini,” kilah Bella ketika menyadari keheranan di wajah wanita muda itu.

Namun, bukannya menjawab, sang pelayan justru tampak semakin kebingungan.

“Tapi, Nyonya ... Tuan tidak tidur di kamar ini.”

Bella spontan menoleh. “Tidak tidur di kamar ini?”

“Bukankah Nyonya sendiri yang meminta pisah kamar sejak enam bulan lalu?” jawab sang pelayan hati-hati.

Bella terpaku.

Untuk beberapa saat, dia hanya bisa mengerjap, berusaha mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Rupanya, masalah rumah tangga Bianca jauh lebih rumit daripada yang dibayangkannya. Tapi bukankah itu lebih baik? Ia tidak perlu mencari alasan untuk menolak jika pria itu meminta dilayani.

"Bilang saja kamu sedang menjalani pengobatan hingga dokter melarang untuk berhubungan badan sementara waktu. Itu alasanmu pergi dua bulan ini."

Begitu jawaban Bianca saat ia bertanya jika Lucian meminta haknya sebagai suami.

Bella mengembuskan napas panjang, lalu segera menyuruh pelayan itu pergi. Dia tidak ingin semakin mempermalukan dirinya sendiri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui Bianca.

Begitu pintu kamar tertutup, Bella mengembuskan napas panjang.

“Aneh. Kenapa sikap Nyonya berubah sekali setelah kepergiannya kali ini?”

Suara pelayan itu terdengar lirih dari balik pintu. Rupanya, dia masih berdiri di sana, menggumamkan keheranannya sendiri.

Sementara itu, Bella menjatuhkan diri di tepi ranjang berukuran king size. Kedua tangannya mengusap wajah dengan kasar.

Sungguh, baginya bertarung di dalam ring jauh lebih mudah daripada menjalani kehidupan sebagai Bianca!

Di atas ring, dia hanya perlu menghadapi lawan, membaca gerakannya, lalu mencari celah untuk menjatuhkannya.

Bella memejamkan mata, berusaha meredam kepenatan yang mulai menggerogoti pikirannya.

Namun, begitu bayangan saudara kembarnya yang terbaring lemah di rumah sakit melintas di benaknya, tekadnya kembali menguat.

Bagaimanapun juga, Bianca adalah satu-satunya keluarga sedarah yang dimilikinya.

Sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia, Bella selalu berusaha menjadi pelindung bagi saudara kembarnya itu. Sebagai kakak yang lebih kuat dan terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan, dia berjanji akan melakukan apa pun agar Bianca tidak perlu merasakan penderitaan yang sama dengannya.

Bella berjalan menuju kamar mandi, tempat bathtub besar yang dipenuhi air hangat, kelopak bunga, dan cairan aromaterapi telah menunggunya.

Sang pelayan rupanya sudah menyiapkan semuanya.

Bella perlahan masuk ke dalam bathtub dan menyandarkan punggungnya. Untuk sesaat, dia membiarkan dirinya menikmati kehangatan air yang membalut tubuhnya.

Ah, beginikah rasanya menjadi nyonya besar keluarga Sinclair?

Meskipun hanya bisa menikmati kemewahan melalui kesempatan berendam di kamar mandi, Bella tetap merasa bahwa pengalaman ini cukup menyenangkan.

Sayangnya, dia tidak bisa bersantai terlalu lama. Masih banyak hal yang harus dipelajarinya sebelum benar-benar mampu menjalani kehidupan sebagai Bianca.

**

Pagi hari Bella sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya.

Semalam, dia hampir tidak bisa memejamkan mata karena sibuk mencari tahu segala sesuatu tentang keluarga itu. Namun, kurang tidur bukan alasan untuk tampil berantakan. Pagi ini, dia harus menunjukkan bahwa Bianca telah kembali.

Alih-alih mengenakan salah satu gaun mewah yang memenuhi lemari, Bella justru memilih kemeja berwarna pastel dan celana panjang hitam.

Dia bahkan sempat meringis saat melihat deretan gaun elegan yang tergantung rapi di dalam lemari.

Membayangkan dirinya harus berjalan dengan gaun-gaun itu saja sudah membuatnya tidak nyaman. Seumur hidup, dia lebih terbiasa mengenakan pakaian sederhana yang memberinya keleluasaan untuk bergerak.

Kalau bukan demi menyelamatkan pernikahan Bianca, dia tidak akan sudi menjalani semua kerepotan ini.

Setelah menyisir rambut pendeknya hingga rapi, Bella melangkah menuju pintu kamar.

Pelayan setianya sudah menunggu di sana dan segera mengabarkan bahwa Lucian beserta anggota keluarga lainnya telah berkumpul di ruang makan.

Bella mengangguk, lalu mulai menuruni tangga dengan langkah mantap. Sang pelayan mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Begitu tiba di ruang makan, pandangan Bella langsung menyapu ruangan luas yang dipenuhi perabotan mewah itu.

Lucian sudah duduk tegap di kursi paling ujung meja makan oval, posisi yang menunjukkan kedudukannya sebagai kepala keluarga. Di sebelah kirinya, duduk seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun. Wajah mungilnya terlihat begitu tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kewaspadaan yang membuat hati Bella sedikit mencelos.

Itu pasti Clara, putri sulung Bianca.

Bella ingin menyapanya, tetapi urung ketika menyadari bahwa semua orang sedang memperhatikannya.

Sang pelayan menarikkan kursi kosong tepat di sebelah kanan Lucian. Bella duduk dengan sikap yang berusaha terlihat anggun, meskipun sebenarnya dia merasa canggung. Dia hanya bisa berharap bahwa sikap dan penampilannya tidak terlalu jauh berbeda dari Bianca yang asli.

Pandangan Bella kembali menyapu seisi meja.

Seorang wanita muda yang berpenampilan kolot menatapnya dengan kebencian terang-terangan. Wajahnya cantik, tetapi raut masamnya membuat kesan angkuh semakin kentara. Usianya mungkin tidak terpaut jauh dari Bella, tetapi penampilannya membuatnya terlihat lebih tua.

Di sisi lain, seorang pria yang tampaknya sebaya dengan Lucian justru menatap Bella dengan sorot mata penuh minat. Senyum tipis menghiasi bibirnya, seolah kepulangan Bianca merupakan hiburan yang sudah lama dinantikannya.

Bella berusaha mengabaikan pria itu.

Perhatiannya kemudian beralih kepada seorang wanita muda berpakaian formal yang duduk di sebelah Clara. Bella tidak pernah melihat wanita itu dalam foto-foto keluarga yang dikirimkan Bianca.

Namun, ada sesuatu yang terasa janggal.

Wanita itu duduk begitu santai, seolah kehadirannya di tengah keluarga Sinclair merupakan hal yang sangat wajar. Tidak ada kecanggungan, tidak ada keraguan, bahkan tidak tampak sedikit pun sikap sungkan terhadap Lucian.

Siapa dia?

Bella menyimpan pertanyaan itu di dalam hati. Dia tidak ingin membuat kesalahan dengan menunjukkan ketidaktahuannya di depan semua orang. Sebagai gantinya, dia menarik napas dan mencoba mencairkan suasana.

“Selamat pagi, semuanya.”

Keheningan menyambut sapaannya.

Tidak seorang pun menjawab, bahkan Lucian yang duduk tepat di sebelahnya hanya melirik sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada sarapannya.

Bella menahan napas.

Baiklah. Sepertinya, sambutan hangat bukan sesuatu yang bisa diharapkannya di rumah ini.

Hanya pria yang tadi menatapnya penuh minat yang akhirnya membuka mulut.

“Selamat pagi, Kakak ipar. Selamat datang kembali di rumah. Kakak ipar terlihat lebih segar setelah bepergian begitu lama.”

Pria itu tersenyum manis. Namun, entah mengapa, senyum tersebut justru membuat Bella merasakan ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan.

Ada sesuatu di balik tatapan pria itu. Sesuatu yang tidak bisa dibacanya, tetapi cukup untuk membuat nalurinya waspada.

Bella tidak menanggapi senyumnya. Dia justru kembali memusatkan perhatian pada wanita berpakaian formal yang duduk di sebelah Clara.

Setelah memperhatikannya beberapa saat, sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Bella.

“Maaf, apa keluarga ini sudah terbiasa bersedekah sepagi ini pada orang asing?”

**

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Tujuh

    Seringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Enam

    Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?Tidak!Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”“Antarkan aku ke kamarnya!”Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.“Nyonya, ma

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Lima

    Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”“Laura bukan orang asing!”Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Empat

    “Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.“Baiklah. Antar aku ke kamar.”Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.“Apa, Nyonya?”Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Tiga

    “Ini dokumen perceraiannya. Silakan tandatangani agar segera bisa diproses sesuai keinginanmu.”Bella mematung di tempatnya. Gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh menggantung di udara. Tatapannya terpaku pada map tebal berwarna hitam di atas meja yang baru saja diletakkan oleh sebuah tangan kokoh.Napas Bella tertahan. Bahkan belum genap sehari ia berada di rumah ini, sudah mendapat kejutan berupa surat gugatan perceraian.Bella mengerjap. Pandangannya bergeser perlahan dari dokumen tebal itu, menyusuri pemilik tangan yang baru saja meletakkannya. Sepasang tangan kokoh berbalut jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang sudah sedikit longgar. Lalu, tatapannya berhenti pada seraut wajah pria berusia 35 tahun yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Sepasang alis tebal, tatapan elang, dan rahang kokoh. Sayang sekali, ketampanan itu tertutup oleh raut dingin dan rasa lelah yang begitu kentara.Lucian Sinclair.Tentu saja Bella mengenali pria itu. Sejak pertama kali Bianca menyodorka

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Dua

    “Kamu demam?” Bella mengulurkan tangan, menyentuh kening Bianca dengan punggung jemarinya. “Atau obat yang kamu minum membuatmu bicara sembarangan? Bagaimana mungkin kamu memintaku menggantikanmu?”Bianca menepis lembut tangan itu, lalu menggeleng lemah.“Bella, aku sungguh-sungguh.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku punya dua anak. Karena itulah, aku mohon penuhi permintaanku. Tolong gantikan aku merawat mereka.”“Aku tahu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Anak-anakku pasti merindukanku. Tapi lihatlah keadaanku sekarang.” Ia berusaha menelan isakannya, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.”Air mata akhirnya mengalir membasahi pipi Bianca yang pucat.“Aku takut Lucian akan menceraikanku jika melihatku seperti ini. Lalu memisahkan kami. Jadi, aku memilih merahasiakan semuanya. Hanya Kak Justin yang tahu aku dirawat di sini.”Bella terdiam. Ia bisa merasakan betapa dalam rasa sakit yang disembunyikan Bianca di bali

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status