Partager

Lima

Auteur: Rosemala
last update Date de publication: 2026-10-14 16:34:51

Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.

“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.

Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.

“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”

“Laura bukan orang asing!”

Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.

“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu!” lanjut wanita yang diyakini Bella sebagai adik perempuan Lucian.

Oh, jadi dia sekretaris Lucian, pikir Bella.

Lalu, apakah wajar seorang sekretaris sudah duduk sarapan bersama keluarga atasannya sejak pagi-pagi begini?

Sebenarnya, bukan hanya itu yang mengusik perasaan Bella. Saat pertama kali memasuki ruang makan, ia melihat Laura berusaha menarik perhatian Clara dengan menyuapi gadis kecil itu. Gerak-geriknya begitu kentara, seolah-olah wanita itu sedang berusaha mengambil hati putri sulung Lucian.

“Asal kamu tahu, Bianca. Sejak kepergianmu dua bulan lalu, Laura rajin mengunjungi Kak Lucian dan anak-anaknya.”

Seolah belum puas menebarkan kebencian, adik Lucian itu kembali melontarkan kalimat penuh provokasi.

“Dia bahkan lebih perhatian daripada kamu sebagai ibu kandung mereka!”

“Cukup, Vivian!” Suara berat Lucian akhirnya menggema, menghentikan serangan adiknya. “Lanjutkan sarapannya!”

Sunyi.

Tak seorang pun berani kembali membuka suara setelah kepala keluarga itu angkat bicara. Denting alat makan menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan, sementara tatapan semua orang seolah masih tertuju pada Bella.

Namun, wanita itu sama sekali tidak berselera menyentuh makanannya. Pandangannya beredar ke seluruh penghuni ruang makan sebelum sebuah kesimpulan terbentuk dalam benaknya.

Laura. Sekretaris Lucian yang rajin mengunjungi rumah ini.

Senyum miring perlahan terukir di bibir Bella.

Lucian ingin menceraikan Bianca dengan alasan perselingkuhan. Namun, bukankah pemandangan yang tersaji di hadapannya justru menunjukkan hal sebaliknya?

Jangan-jangan, Lucian sendiri yang sedang bermain api. Pria itu berselingkuh, tetapi justru melemparkan tuduhan kepada Bianca.

“Maaf.” Suara lembut Laura memecah kesunyian ruang makan. “Seharusnya saya tidak datang sampai membuat keluarga ini merasa tidak nyaman. Seharusnya saya menunggu Tuan Sinclair di kantor saja untuk menyerahkan dokumen rapat pagi ini.”

Bella menajamkan pandangan pada wanita yang berbicara sambil menunduk dengan raut penuh penyesalan itu. Di mata Bella, sikap polos Laura justru tampak seperti kepura-puraan yang dibungkus begitu rapi.

“Kamu tidak salah, Laura. Tidak perlu meminta maaf.” Vivian kembali menjadi orang pertama yang membela sekretaris kakaknya. “Kamu hanya melakukan pekerjaanmu. Yang salah adalah wanita yang meninggalkan keluarganya selama dua bulan, lalu tiba-tiba kembali dan menganggap dirinya sebagai nyonya besar yang berhak mengatur rumah ini.”

Vivian bahkan tidak berusaha menyembunyikan kebenciannya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa tajam, seolah sengaja dirancang untuk melukai Bella.

Oh, jadi begitu?

Bella sedikit memundurkan bahunya. Ia tak menyangka adik Lucian akan seberani itu melontarkan penghinaan di depan kakaknya sendiri, terlebih ketika pria itu sejak tadi hampir tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Oh, ralat. Lucian bukan sekadar diam. Sejak awal, pria itu membiarkan adiknya menyerang Bella tanpa berusaha menghentikannya.

Apa Bianca juga selalu diperlakukan seperti ini?

Meski demikian, Bella berusaha menjaga ketenangannya. Ia tidak ingin terpancing oleh provokasi Vivian, terlebih Clara berada di sana. Gadis kecil itu tidak seharusnya menjadi saksi pertengkaran orang dewasa yang semakin memanas.

“Oh, jadi begitu?” Bella mengangkat dagu sedikit. “Padahal, seingatku, aku masih Nyonya di rumah ini. Dan sebagai Nyonya Sinclair, sejak awal aku diberi wewenang penuh untuk mengurus rumah ini beserta seluruh penghuninya. Bukankah begitu, Tuan Sinclair yang terhormat?”

Bella menoleh, menatap Lucian secara langsung, seolah menantang pria itu untuk menyangkal ucapannya.

Perubahan pada wajah Lucian terlihat jelas. Rahangnya mengeras, menandakan bahwa perkataan Bella berhasil menyentuh sesuatu yang tidak disukainya.

Bella bukan asal bicara. Semalam, ia telah membaca buku panduan mengenai tugas dan wewenang seorang nyonya di rumah itu. Setelah memahaminya, ia bertekad memperbaiki tatanan rumah tangga yang selama ini berjalan tidak semestinya.

“Vivian, hormati istriku!”

Hanya itu yang keluar dari mulut Lucian. Namun, tanpa banyak orang menyadarinya, kedua tangan pria itu mengepal kuat di bawah meja.

Setidaknya sampai aku menceraikannya, sambungnya dalam hati.

Vivian hendak kembali membuka mulut, tetapi Lucian lebih dahulu mengangkat tangan, menghentikan niat adiknya.

“Daripada berdebat di meja makan, lebih baik mulai pikirkan kapan kamu akan membantuku di perusahaan keluarga. Jangan sampai bagianmu dari peninggalan orang tua kita terkuras hanya untuk menopang seseorang yang bahkan enggan berusaha dengan kedua kakinya sendiri.”

Ucapan Lucian sukses membungkam Vivian. Wajah wanita itu memerah menahan amarah. Namun, Lucian sama sekali tidak memedulikannya. Ia justru menyeka bibir dengan serbet, menandakan bahwa sarapannya telah selesai.

Pria itu kemudian menghampiri Clara, yang masih menyisakan setengah roti isi daging di piringnya.

“Sayang, Papa berangkat ke kantor dulu. Kamu diantar sopir ke sekolah, ya.”

Sebuah kecupan singkat mendarat di pelipis Clara, menjadi penutup interaksi Lucian dengan keluarganya di meja makan pagi itu.

“Ayo, Laura. Jangan sampai kita terjebak macet dan terlambat rapat.”

Sambil berkata demikian, Lucian melangkah meninggalkan ruang makan dengan tubuh tegapnya. Laura segera berdiri, mengangguk singkat sebagai tanda pamit kepada semua orang, lalu bergegas menyusul pria itu.

Setelah kepergian mereka, kekakuan kembali menguasai ruang makan.

Vivian masih menatap Bella dengan permusuhan yang semakin nyata. Sementara itu, pria yang duduk di sebelahnya tetap memasang seringai yang entah mengapa membuat Bella merasa muak.

Bella bangkit dari kursinya tanpa menyentuh sarapan sedikit pun. Ia kemudian menghampiri Clara dan membungkukkan tubuh agar wajah mereka sejajar.

“Sayang, boleh Mama antar Clara ke sekolah?” tanyanya lembut.

Senyum manis tersungging di bibir Bella. Ia berharap gadis kecil itu masih bisa merasakan kehangatan seorang ibu dari sosok yang kini berdiri di hadapannya, meskipun wanita itu bukan ibu kandungnya yang sebenarnya.

Namun, apa yang terjadi sesaat kemudian membuat Bella terperangah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Clara turun dari kursinya. Gadis kecil itu meraih tas sekolah dari tangan pengasuh yang berdiri di dekat dinding, lalu berlari meninggalkan ruang makan dengan raut ketakutan.

Bella membeku di tempatnya.

Ia terlalu terkejut menghadapi reaksi putri sulung Bianca itu. Bahkan sebelum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi, suara Vivian sudah terdengar begitu dekat di telinganya.

“Dasar parasit tidak tahu diri! Kamu bahkan tidak becus menjadi ibu. Anakmu sendiri menolak dekat denganmu!”

Bibir Bella terbuka, tetapi tak ada satu pun kata yang berhasil keluar. Penolakan Clara begitu nyata hingga mustahil untuk disangkal.

Bella hanya mampu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dada, sementara Vivian meninggalkan ruangan dengan langkah angkuh.

Bella kemudian mengalihkan pandangan pada satu-satunya orang yang masih tertinggal di ruang makan. Pria yang sejak awal mengamatinya dengan penuh minat itu kini kembali menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Bella bersiap memasang kewaspadaan, terlebih ketika pria tersebut mulai berjalan ke arahnya.

Namun, bukannya mendekat, pria itu justru buru-buru berbalik dan menyusul Vivian.

“Vivian, tunggu! Kita akan mengaktifkan lagi kartu kreditku, kan?”

Suara memohon pria itu masih terdengar dari luar pintu, bersahutan dengan bunyi langkah sepatunya yang semakin menjauh.

“Oh, suami Vivian,” gumam Bella singkat, akhirnya menarik kesimpulan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Tujuh

    Seringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Enam

    Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?Tidak!Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”“Antarkan aku ke kamarnya!”Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.“Nyonya, ma

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Lima

    Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”“Laura bukan orang asing!”Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Empat

    “Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.“Baiklah. Antar aku ke kamar.”Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.“Apa, Nyonya?”Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Tiga

    “Ini dokumen perceraiannya. Silakan tandatangani agar segera bisa diproses sesuai keinginanmu.”Bella mematung di tempatnya. Gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh menggantung di udara. Tatapannya terpaku pada map tebal berwarna hitam di atas meja yang baru saja diletakkan oleh sebuah tangan kokoh.Napas Bella tertahan. Bahkan belum genap sehari ia berada di rumah ini, sudah mendapat kejutan berupa surat gugatan perceraian.Bella mengerjap. Pandangannya bergeser perlahan dari dokumen tebal itu, menyusuri pemilik tangan yang baru saja meletakkannya. Sepasang tangan kokoh berbalut jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang sudah sedikit longgar. Lalu, tatapannya berhenti pada seraut wajah pria berusia 35 tahun yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Sepasang alis tebal, tatapan elang, dan rahang kokoh. Sayang sekali, ketampanan itu tertutup oleh raut dingin dan rasa lelah yang begitu kentara.Lucian Sinclair.Tentu saja Bella mengenali pria itu. Sejak pertama kali Bianca menyodorka

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Dua

    “Kamu demam?” Bella mengulurkan tangan, menyentuh kening Bianca dengan punggung jemarinya. “Atau obat yang kamu minum membuatmu bicara sembarangan? Bagaimana mungkin kamu memintaku menggantikanmu?”Bianca menepis lembut tangan itu, lalu menggeleng lemah.“Bella, aku sungguh-sungguh.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku punya dua anak. Karena itulah, aku mohon penuhi permintaanku. Tolong gantikan aku merawat mereka.”“Aku tahu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Anak-anakku pasti merindukanku. Tapi lihatlah keadaanku sekarang.” Ia berusaha menelan isakannya, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.”Air mata akhirnya mengalir membasahi pipi Bianca yang pucat.“Aku takut Lucian akan menceraikanku jika melihatku seperti ini. Lalu memisahkan kami. Jadi, aku memilih merahasiakan semuanya. Hanya Kak Justin yang tahu aku dirawat di sini.”Bella terdiam. Ia bisa merasakan betapa dalam rasa sakit yang disembunyikan Bianca di bali

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status