MasukDalawang taong pilit na tinatago ang tunay na nararamdaman, hangang sa di inaasahang pangyayari muling pinagtagpo ang kanilang mga landas. Ngayon paano ipapaliwanag ni Dian kay Fred na nagkaroon sila ng anak matapos ang gabing pinagsaluhan nila anim na taon ang nakalipas.Ano ang gagawin ni Fred para matanggap siya ng kaniyang anak na hindi siya tanggap biglang tatay nito at ano ang gagawin niya kung isang araw dahil sa kagaguhan at pambabae niya ay may bigla nalamang lalapit sa kaniya upang alukin siya na pakasalan ito sapagkat buntis ito at siya ang ama. Paano nila ipagpatuloy ang naudlot nilang pagmamahalan gayong magkakaanak na naman si Fred sa ibang babae. Matatangap ba ni Dian na maging pangalawa na lamang sila ng kaniyang anak sa buhay ni Fred o lalayo siya para hanapin ang lalaking para sa kaniya, at paano kung muli na naman pagtagpuin ng tadhana ang kanilang mga landas, paano kung muli na namang nabuhay ang kanilang nararamdaman para sa isat isa. Magkakaroon na ba sila ng happy ending o may sisira na naman sa happy ending na hinahangad nila?
Lihat lebih banyakSuara tangisan bayi membangunkan Dewi dari tidur lelapnya. Pukul 06.00 WIB! Tak ada waktu untuk bermalas-malasan! Sekilas ia melihat Anton yang masih terlelap. Dewi menarik selimut yang dipakai suaminya itu dengan sekali hentakan.
Anton terlonjak kaget. Dewi mengeraskan rahang dan menatap tajam suaminya namun tidak berkata apa-apa. Ia sudah bosan menasihati suaminya agar mengurangi sifat malasnya itu. Tapi, apa? Sampai saat ini, tidak ada perubahan apapun dari suaminya itu.
***
Aktivitas pagi harinya selalu sama. Dewi akan menghampiri boks bayi dan mengangkat Romeo ke luar kamar. Sambil menggendong anak keduanya yang masih berusia tujuh bulan itu, ia akan menyiapkan MPASI. Makanan pendamping ASI. Sering kali, ia hanya menyajikan bubur instan karena berpacu dengan waktu.
Betul sekali. Ia wajib cepat-cepat, karena setelah makan, bayinya itu harus dimandikan. Di momen tersebut, Dewi berusaha menciptakan senyum pada wajah jagoan kecilnya itu dengan bersenandung. Prinsipnya, suasana boleh sedang susah, tapi anak-anaknya tidak boleh mengetahuinya.
Senyum yang diberikan Romeo adalah penghiburan baginya. Kebahagiaan yang sejenak dapat membuatnya lupa bahwa hari demi hari harus Dewi lewati dengan perjuangan. Giginya gemeretak mengingat apa penyebab hidupnya begitu menderita seperti sekarang ini. Ralat, bukan apa, melainkan siapa. Tidak lain dan tidak bukan adalah Anton yang sekarang terbaring di tempat tidur mereka.
***
Dewi membungkus tubuh Romeo dengan handuk dan membawanya kembali ke kamar. Mulutnya terkatup rapat karena menyaksikan suaminya masih molor. Benar-benar babi pemalas! Ayah dari anak-anaknya tersebut kembali tidur setelah tadi jatuh dari tempat tidur karena Dewi menarik selimut yang Anton pakai. Samar-samar, Dewi mendengar suara dengkuran dari entah mulut atau hidung suaminya. Sudah tidak mau membantu apa-apa, terus membuat polusi suara pula pagi-pagi begini, gerutu Dewi dalam hati.
Dewi mencoba menguasai emosinya. Secara teratur, ia menarik dan mengembuskan napas untuk merasa rileks. Setelah melakukannya sebanyak empat kali repetisi, ia semampunya berusaha mengabaikan hal-hal yang membuatnya kesal pagi ini. Ia masih memiliki tugas mengurus Romeo.
Pada awal pernikahan mereka, Dewi tidak akan membiarkan kejadian itu begitu saja. Ia menjelma menjadi istri paling cerewet sedunia. Ia memarahi Anton bila tidak bertindak seperti yang ia mau. Tidak mencuci piring setelah makan, Dewi akan meneriakinya. Tidak meletakkan baju kotor di keranjang cucian, Dewi akan memungut dan melemparkan baju kotor itu kembali ke wajah Anton. Jangan coba-coba bersikap manja dan meminta dilayani bak raja! Akibatnya Dewi tidak segan-segan mendaratkan cubitan ganas yang bekasnya tidak akan hilang selama sebulan. Namun, karena itu tidak membuat Anton berubah menjadi lebih baik, Dewi menjadi tidak acuh.
Jika tidak karena kehadiran kedua anaknya; Odetta dan Romeo, Dewi tidak tahu apa yang akan ia lakukan terhadap suaminya itu. Ia ingin anak-anaknya tetap merasakan kehangatan kasih sayang seorang ayah. Itu sebabnya ia bertahan dalam pernikahan ini.
Penipu, ujarnya dalam hati. Celetukan itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri karena pandai berpura-pura. Tapi kalau Dewi pikir-pikir lagi, semua hal tentang pernikahan ini juga merupakan penipuan.
Mendadak, kamar tidur mereka dipenuhi dengan gema riang dari celoteh seorang anak kecil. Anak perempuan berambut ikal panjang dan berpipi montok menggelayuti kaki sambil sesekali menunjukkan kertas yang ia bawa. Ganjalan hati Dewi tentang suaminya yang mengawang-awang di kepalanya tadi pun terhenti untuk sejenak.
“Mama! Mama!”
Dewi tidak dapat mengangkat anak perempuannya itu karena sedang menggendong bayi laki-lakinya.
“Lihat gambar Odet deh, Ma!” pinta Odetta yang sekarang berdiri di hadapannya sambil melambai-lambaikan kertas lusuh.
“Wah bagus sekali, sayang!” Dewi memuji sambil lalu. Di kepalanya sama sekali tidak ada imaji gambar yang baru saja ditunjukkan oleh Odetta. Penipu lagi, ujarnya dalam hati.
“Bener, Ma?”
Dewi sedang membaringkan Romeo ke dalam boks bayi sehingga ia hanya mengangguk asal-asalan. Tidak ada sedikit pun usahanya untuk menebak gambar apa yang ditorehkan oleh Odetta di kertas tersebut. Ia malah memikirkan apa saja yang harus dilakukannya hari ini. Yang jelas, sudah waktunya membayar tunggakan tagihan kartu kredit.
Dewi sebenarnya bukan tipe yang senang menggunakan kartu kredit. Tapi, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga setiap bulannya, wanita itu masih mengandalkan fasilitas utang tersebut. Walaupun pada akhirnya ia sendiri yang akan kelimpungan memikirkan cara untuk membayar cicilannya. Dewi menarik dan mengembuskan napas perlahan-lahan agar emosinya tidak semakin membara.
“Kan bagus, jadi Odet udah bisa masuk sekolah?”
Dewi yang sedang mencari-cari busana kerja menghentikan aksinya. Ia tahu kalau anaknya itu sudah berusia tujuh tahun. Sudah waktunya masuk SD. Ia juga tidak lupa kalau Anton yang berjanji untuk mendaftarkan Odetta. Namun, lihat apa yang terjadi sekarang? Suaminya itu bersuka ria di alam mimpi, cibirnya melirik Anton yang tahu-tahu tersenyum dalam tidurnya.
Salah besar kalau Dewi tetap mengandalkan suaminya itu. Tidak ada apapun yang beres kalau Anton yang ambil kendali. Mau tidak mau, harus Dewi juga yang turun tangan, termasuk urusan pendaftaran sekolah Odetta. Bagaimana ini, ya? Pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya. Tak mungkin ia bolos hari ini.
Terdengar suara tawa pelan dari suaminya yang cengar-cengir saat tidur. Kembali tenggorokan Dewi terasa seperti dipenuhi batu-batu kerikil yang besar-besar. Kesal luar biasa! Ayah seperti apa yang melupakan urusan pendaftaran sekolah Odetta, putri mereka. Selalu begini! Selalu Dewi yang pontang-panting membereskan keperluan rumah tangga mereka sejak menikah enam tahun yang lalu.
Tidak ada waktu memikirkan itu sekarang! Tidak ada lagi tempat di otaknya untuk masalah yang baru. Nanti saja sepulang kerja! Tidak ada waktu untuk berdiam saja di rumah! Termasuk hari ini, ujar Dewi dalam hati. Ia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya laksana bebek yang sedang dikejar-kejar buaya.
***
Sebenarnya, Dewi bersyukur karena kamar mereka dilengkapi kamar mandi sehingga ia dapat mondar-mandir dengan mengenakan kimono saja. Tapi, kebebasannya terenggut total karena semua anggota keluarganya akan berkumpul dalam satu tempat. Jadi, ia tidak lagi heran kalau melihat Odetta menungguinya di pintu toilet.
Dewi sedang terburu-buru sehingga tidak mengindahkan gadis kecilnya itu. Ia harus memoles wajahnya dengan riasan sebelum berangkat ke tempat kerja. Odetta mengekor di belakangnya dan tak lepas memandanginya. Lagi-lagi Dewi mengabaikannya, meskipun ia dapat melihat anak kecilnya itu dari cermin. Ia memoles pemerah pipi.
Dewi sebenarnya tidak suka berdandan. Akan tetapi, pekerjaannya sebagai staf marketing menuntutnya untuk tampil rapi dan menarik. Sekilas, ia mengamati bentuk tubuhnya yang belum kembali langsing setelah melahirkan. Masih ada sedikit lemak di beberapa tempat. Satu alasan kuat lain untuk tidak melewatkan acara dandan demi mengalihkan perhatian orang-orang dari bentuk tubuhnya yang tidak ideal itu.
Dewi beralih ke lemari untuk mengganti kimononya dengan baju kerja. Ia selalu melakukan hal ini di saat yang paling akhir. Bukan apa-apa, keberadaan dua anak yang masih kecil-kecil akan merusak penampilannya. Mungkin saja bajunya kusut atau kecipratan noda bubur. Jadi, lebih aman apabila ia akan mengenakan busana kerja saat benar-benar sudah akan berangkat.
“Mama…” rengek Odetta.
Di tengah kesibukannya yang berpacu dengan waktu, haruskah ia menghentikan aktivitasnya demi mencari tahu dan memenuhi keinginan Odetta?
***
Fred Pov: Aray ang sakit ng ulo ko, matamlay akung bumangon at palinga linga sapagkat hindi ako familiar kung nasaan ako ngayon, Nasaan na naman ba ako? bakit wala akung maalala tungkol sa nagyari sa akin?nang biglang bumukas ang pinto at iniluwa doon ang anak ni Kaicer."tito tito you wake up na daw sabi ni Dady". nakangiting wika nito sabay hila sa akin.kaya wala akung nagawa kundi bumangon at magpatangay sa hila ng batang paslit na ito."Goodmorning Dude napasarap ata ang tulog mo" bungad na wika ni Kaicer."sakit nga nag ulo ko pre at tika bakit nga pala ako nandito?" naguguluhang tanong ko ang pagkakaalam ko kasi were having a dinner sa bahay nila Dian then I saw her husband kaya umuwi ako kaagad pagkatapos noon wala na akung maalala pa." hay naku dude kung ako sayo tigilan mo na yang pag-inom mo ng alak, bakit di ka tumulad sa akin". wika ni Kaicer habang nakangiti."nagsalita ang mayabang na lalaki". Salubong na wika ni Nasha. " ohhh siya halina kayo at nang makapag almusal
Fred Pov:Umuwi akung gulong gulo, sabagay sino ba kasing mag aakalang hindi niya kasama ang asawa niya diba, at bakit ba kasi ako pumayag at sumama kina Momy ngayon ano na, paano na. I thought magkakabalikan pa kami ni Dian but how? totoo nga ba talagang she already forget me pinagpalit na niya nga ba talaga ako? "Syempre naman Fred Dad nga ang tawag ng anak niya sa lintik na lalaking yon diba kaya ano pang in expect mo?" Para akung tangang kinakausap ang sarili ko, I was talking to my self and maraming what if na gusto kung masagot but how.Ang sakit tanggapin the fact na they are a happy family now but how about me? bakit nakikita ko sa mga mata ni Dian na hindi siya masaya? I know her, hindi man kami ganoon masyado ka close and open to each other but i know her. alam ko kung kailan siya may problema, malungkot at hindi masaya. I feel something strange and I want to know it.Dian POVbalisa ako at hindi ko alam ang gagawin ko, paano kung isipin nga ni Fred na si Felipe ang ama ng
Dian Pov: "Maam gising na po" Nagising ako sa napakalakas na katok galing sa pinto. "Sige po Yaye susunod na ako" "Sige po Maam, nakahanda na po ang pagkain at nandoon na din po si Kian" sigaw nito "Sige po yaye" tugon ko pagkatapos ay dumiritso na ako sa banyo. Inayos ko muna ang sarili ko bago tuluyang bumaba. "Goodmorning Mommy" bati sa akin ng aking anak. "Goodmorning my baby boy" wika ko sabay yakap sa kaniya "Mommy naman di na ako baby, I'm six already ok" tugon nito pagkatapos ay Dali daling humarap sa hapag kainan. "Ohh siya bilisan na natin, darating na sina lolo dady at lola Mommy ngayon" wika ko Hindi ito tumugon, kumain nalang kami ng tahimik. After 2 hours... "Mom welcome back!" bati ko kay Mommy at sinalubong ko siya nga yakap, niyakap ko din si Dad. "Ohh nasaan si Kian bakit hindi mo kasama?" takang tanong ni Momy "Ahh nasa car po Mom ayaw sumama ehh, nalilibang sa paglalaro ng online games". Tugon ko. "Ganoon ba, ahh by the way Felipe is here." Wika ni
Dian Pov:Dinala ako ni Fred sa isang silid. Ano na naman kayang ginagawa ng lalaking ito. "Bitawan mo nga ako, ano bang problema mo ha?" Naiinis na tanong ko sa kaniya "Ikaw ang problema ko, Dian mag sabi ka nga ng totoo sa akin anak ko ba siya?" Biglang tanong ni Fred na siyang ikinagulat ko. "Ha ahh no, hindi hindi mo siya anak, at paano mo naman siya magiging anak." Nabubulol kung sabi. Ano nang gagawin ko? Hindi niya dapat malaman, akin lang ang anak ko. Gusto ko nang umalis kaya humanap ako ng pagkakataon para makaalis dito, Pero hindi talaga ako tinigilan ni Fred. "Paano mo nasabi na hindi ko anak ang batang iyon ehh wala ka namang asawa. Tapatin mo nga ako Dian, kung ako man ang ama ng anak mo karapatan kung malaman kaya pwede ba." Galit na wika niya "Kahit anong sabihin mo hindi mo siya anak, kaya pwede ba tigilan mo na ako."iritang wika ko at kinuha ko ang pagkakataong iyon para maka alis. Bwisit muntik na ako doon ahh. Kahit ano pang sabihin niya wala akung paki. Yes






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.