LOGINMama yang sedang menyelesaikan pesanan kue bolu di rumah, dibuat hilang konsentrasi karena pikirannya terbagi. Memikirkan Rena di rumah sakit dan menyelesaikan pesanan bolu yang masih ada lima loyang lagi.
"Tisa," panggil Mama, "sudah selesai masukin pakaian Rena ke dalam tas?""Iya, Ma. Ini baru selesai," sahut Tisa yang kemudian keluar dari kamar Rena dengan membawa satu tas tenteng berwarna hitam."Ini gimana ya? Mama masih harus ngerjain lima loyang lagi," ucap Mama dengan wajSejak pagi Tisa sudah meninggalkan rumah untuk pergi ke kampus, agar skripsi lekas selesai. Sementara Rena masih bermalas-malasan di kamar memikirkan menu sarapan paginya apa. TingTingTingNada pesan masuk berkali-kali di ponsel yang baru saja ia nyalakan."Masih pagi lo ini,” ucap Rena membaca pesan yang Alex kirimkan. Tak berselang lama terdengar suara ketukan dari pintu depan. Makin lama suara ketukan itu makin intens dan bertambah nyaring. Mengambil langkah seribu, gadis itu menuju pintu depan. Salah ia tak mengintip dulu dari balik jendela tapi malah langsung membuka pintu rumah. Di depannya Alex dibuat bengong sesaat melihat penampilan Rena pagi itu. "Kamu tidur kaya gini?" Alex memperhatikan Rena dari atas kepala hingga ujung kaki. Gadis itu mengenakan kaos oblong longgar celana diatas lutut serta kaos kaki. Kaos oblong tipis yang digunakannya pagi ini sedikit menerawang hingga Alex bisa melihat bayangan bagian tubuh Rena di balik ba
"Saya ikut masuk juga kan?" tanya Alex dengan senyum mengambang di bibirnya saat tiba di depan rumah Rena."Masuk aja, Pak."Berjalan beriringan dengan Rena, Alex menyapa mereka semua yang sedang berkumpul di ruang tamu."Mama jadi ikut sama Tante Bunga ke Bandung?" tanya Rena."Gapapa kan, Sayang? Supaya Tante Bunga ada teman di rumah. Sepupu kamu harus sudah balik ke kampus lagi," ucap Om Arsyad meminta izin."Gapapa, Om, " sahut Rena."Tapi aku gak bisa ikut," rengek Tisa dengan wajah sedih."Nanti kalau sudah selesai konsul bilang aja sama, Om. Biar kamu di jemput sama supir," ucap Om Arsyad tak ingin Tisa sedih.Mengingat waktu yang semakin sore, mereka lantas pamit dan pergi."Hati-hati di jalan ya, Om." Mereka melambaikan tangan.Tisa masuk ke dalam rumah dengan ekspresi wajah yang masih merengut."Mau ikut ke Bandung, suntuk banget ngerjain skripsi. Kenapa juga harus konsul minggu ini,” cerutu Tisa menjatuhkan diri di sofa. "G
Mengusut kejadian tempo lalu yang terjadi di proyek pembangunan apartemen, orang suruhan Pak Jon menemukan hal ganjil. Tanpa ada yang tahu, orang suruhan Pak Jon telah merekam pembicaraan Pak Rudi dengan Desita. "Astaga, kenapa Desita bisa seperti itu? Padahal meski apartemen ini belum selesai, ia sudah mendapatkan pembagian keuntungan," ucap Pak Jon tak habis pikir dengan tindakan Desita yang di luar dugaan."Setelah tahu fakta ini, saya lalu mencari tahu keadaan perusahaan milik Desita dan keluarganya, Pak.""Lalu hasilnya, apa?" Pak Jon penasaran. Setaunya perusahaan milik keluarga Desita merupakan salah satu perusahaan yang cukup besar. Tidak hanya properti, tapi juga menangani ekspor impor."Mereka lagi kesulitan keuangan, Pak. Selain karena Desita yang hobi belanja barang-barang branded, ibunya Desita sedang apes karena uang yang diinvestasikan pada salah satu trading, ternyata bodong.""Astaga." Pak Jon menghela nafas. Tak menyangka perusahaan Desita seda
"Lex, kamu gak sarapan dulu?" tanya Ira saat melihat Alex terburu-buru keluar dari kamar Putri untuk pamit pergi kerja. "Nanti aja, Ma. Ada urusan mendadak," ucap Alex yang kemudian pamit pada Ira."Hati-hati di jalan, kamu gak usah buru-buru," pesan Ira pada Alex yang sudah tancap gas meninggalkan rumah. Ira lalu menghubungi Rena untuk menanyakan urusan mendadak apa yang sedang Alex urus."Iya, Bu. Selamat pagi." Rena menempelkan ponselnya di telinga. "Kamu sudah di kantor?" tanya Ira. "Belum, Bu. Ini baru mau jalan. Ada apa ya, Bu?""Itu tadi Alex pagi-pagi sudah pergi. Gak sempat sarapan, katanya ada urusan mendadak. Urusan apa sih?" Ira penasaran karena wajah Alex terlihat tegang."Pak Alex ke rumah sakit, Bu.""Hah, ngapain?" Ira kaget. Yang tadinya Ia berdiri, kini ia memilih untuk duduk. Takut tambah kaget mendengar jawaban dari Rena."Dapat info dari Pak Jon, kalau proyek pembangunan apartemen yang sedang berlangsung terjadi kecelakaan
Keluar dari rumah sakit Tante Bunga sekeluarga tidak langsung pulang ke Bandung, karena dokter masih harus memantau perkembangan jantung Tante Bunga. Bosan di apartemen mereka semua berkunjung ke rumah Mama."Lagi ada tamu?" tanya Alex melihat ada mobil terparkir di depan rumah Rena saat mengantarnya pulang."Kayak mobil Om Arsyad," ucap Rena memicingkan matanya, “iya itu plat mobil Om Arsyad.”"Tante Bunga sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Alex menghentikan mobilnya.Rena mengangguk sambil melepas sabuk pengamannya, bersiap untuk turun."Kenapa gak bilang?" Alex memundurkan mobilnya kemudian putar balik."Mau kemana, Mas? Kan sudah sampai di rumah?""Beli buah tangan, gak enak tangan kosong banyak orang di rumah kamu," ucap Alex.."Gak usah repot kali, Mas.""Bukan repot. Itu namanya etika bertamu ke rumah orang. Apalagi ada keluarga kamu yang lain.""Mas Alex kan cuma mau antar saya pulan
Melihat Rena tiba di ujung tangga, Manda cepat melambaikan tangan seraya memanggilnya. Melihat itu, Rena yang penasaran mempercepat langkahnya."Ada apa, Nda?" tanya begitu sampai di ruangan."Pak Alex belum datang kan?""Kan kamu duluan yang nyampe kantor, kenapa jadi tanya aku?" ucap Rena, "ruangannya sih masih gelap berarti dia belum datang. Mobilnya juga gak ada di parkiran. Emang ada apa sih?""Nih, coba kamu lihat," ucap Manda menunjukkan layar ponselnya."Ini Pak Alex sama kliennya kan? Klien yang kalau datang gak ada sopan santunnya itu kan?" tanya Manda pada Rena."Iya. Itu kliennya Pak Alex, Desita."“Throwback jaman kuliah,” baca Rena dalam hati pada postingan yang diperlihatkan Manda pagi itu."Postingan siapa sih, Nda? Kenapa bisa ada mereka di situ?" tanya Rena dengan raut wajah yang telah berubah. Tak seceria saat ia tiba di kantor tadi."Tetangga aku, Ren. Mungkin tetangga aku itu temannya Pak Alex atau nggak temannya Desita itu,"







