LOGIN"Ada gila-gilanya kali Pak Alex ya, Nda?"
Manda tertawa seraya mengaduk minumannya. Mereka tengah menikmati waktu senja di salah satu cafe dekat kantor, setelah pulang kerja. "Jadi pengasuh Putri itu ide bagus kali, Ren." "Aku memang senang bisa main sama Putri, tapi membayangkan akan terus berhadapan sama Pak Alex, aku gak sanggup, Nda." "Siapa tahu upah jadi pengasuh Putri besar, Ren. Lumayan kali buat tabungan. Anaknya Pak Alex kan baik, nurut lagi sama kamu. Pasti gak bakal repot ngurus dia. Lagian pekerjaan jadi pengasuh itu bagus. Bagus untuk mengasah kemampuan mendidik anak." Seraya memakan sosis yang ada di meja, otaknya berpikir. Semua perkataan Manda ada benarnya juga. Untuk anaknya, pasti Alex rela memberikan yang terbaik. Termasuk upah yang setimpal untuk menjadi pengasuh. *** "Tadi Putri main sama Tante Rena lo, Oma," lapor Putri pada Ira sesaat setelah selesai makan malam. "Kata Papa, Putri sekolah. Kok malah main sama Tante Rena?" "Baru sebentar ditinggal, dia sudah nangis, Ma. Jadinya Alex suruh Rena jemput ke sana." "Apa Mama bilang kan, Lex." Ira menatap Alex. "Alex sudah minta Rena untuk jadi pengasuh Putri," ucap Alex memberitahu. "Bukannya kamu gak suka sama karyawan kamu yang satu itu? Kenapa malah minta dia jadi pengasuh Putri? Kamu aneh banget," ujar Ira. "Putri kan cuma mau sama dia, lalu Alex harus apa, Ma?" "Terus dia mau?" tanya Ira lagi. "Belum ada jawaban dari dia. Tapi Alex yakin dia pasti mau, setelah dengar upah yang bakal Alex kasih." “Mama heran sama kamu. Sedikit-sedikit uang, sedikit-sedikit uang,” ucap Ira menggelengkan kepala lantas mengajak Putri masuk ke kamar. Menyandarkan tubuhnya di sofa, Alex menghela nafas panjang. Pria itu menerawang menatap langit-langit rumahnya. Mengingat apa yang mendiang istrinya katakan. Satu nama yang membuatnya selalu emosi, tapi sekarang nama itu malah masuk ke dalam hidupnya. Seolah mendiang istrinya telah memilihkan pengganti dirinya. “Gadis ceroboh kayak dia,” gumamnya kesal dalam hati. Ia meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamar Putri, memberikan kecupan di kening gadis kecil itu lantas masuk ke kamarnya melalui pintu penghubung. Malam yang dingin dan gelap begitu cepat berlalu, kini berganti matahari yang perlahan menampakkan sinarnya. Rena telah siap untuk pergi ke car free day. Suasana pagi yang ramai, menambah semangatnya untuk berolahraga. Setelah sedikit pemanasan, ia mulai berlari bersama pengunjung lainnya. Baru satu kali putaran, seorang lelaki berdiri menghadangnya. Dengan senyuman yang khas lelaki itu menatap Rena. "Sendiri aja, Cinta?" "Rame-rame sama yang lain," jawab Rena dengan tangan yang menunjuk pengunjung di sekitarnya. "Ayo kita lari bareng," ajak Nico yang diiyakan Rena. Setelah beberapa kali putaran, mereka menepi dan menuju beberapa gerobak makanan yang sudah nangkring di sana. Sambil menikmati semangkuk bubur ayam, Nico sedikit bernostalgia dengan hubungan mereka tempo dulu. "Nih, kacangnya," ucap Nico menuangkan sebungkus kecil kacang goreng, "kamu paling suka kan banyak kacangnya?" "Iya, makasih ya." Rena tersenyum. "Kamu masih sendiri kank? Kita balikan yuk," ucap Nico membuat Rena batuk dan hampir mengeluarkan bubur yang ada di dalam mulutnya. Ia mengambil segelas air mineral dan meminumnya. "Balikan? Kamu ada-ada aja, Nic." "Aku serius. Aku sudah capek nyari cewe buat jadi istri, tapi semuanya cuma mau main-main." "Sama kayak kamu, waktu aku serius kamu malah main-main sama aku. Pake acara selingkuh lagi." "Itu cerita lama, Ren. Aku sudah insyaf." "Aku duluan ya. Makasih ya sudah bayarin bubur ayamnya." Rena beranjak dan berjalan dengan langkah cepat. Nico segera meletakkan mangkuk dan selembar uang, kemudian mengejar gadis itu. "Aku antar," ucapnya meraih tangan Rena. Tahu sifat Nico yang suka memaksa, Rena mengikuti langkah kaki Nico menuju mobilnya. Dengan kecepatan sedang, Nico melajukan mobilnya menuju rumah Rena. "Mama di rumah?" tanya Nico setibanya di depan rumah. "Lagi liburan ke Bandung sama Tisa. Aku masuk dulu ya," ucap Rena. "Aku minta nomor ponsel kamu, Cinta." Nico mengumbar senyum. "Nomorku masih yang dulu. Kan kamu yang blokir aku?" Rena memanyunkan bibirnya. Buru-buru Nico mengecek aplikasi WA dan benar saja nomor ponsel Vina masuk daftar blokir. "Kerjaan Mak Lampir itu," ujar Nico menyebut mantannya. "Mak Lampir tapi kamu cinta juga kan," goda Rena. "Salam sama Mama sama Tisa ya," kata Nico seraya melambai kemudian menghilang di tikungan. *** Pagi ini setelah menggoreng telur mata sapi, Rena berangkat kerja. Otaknya terus berpikir akan menjawab apa saat Alex menanyakan lagi perihal tawaran jadi pengasuh Putri. "Tanyain upahnya dulu aja kali ya. Kalau upahnya oke, bisa dipertimbangkan," ucapnya sambil memarkirkan motornya. Ia menyapa Pak Lukman kemudian masuk ke dalam. Setelah meletakkan tasnya di meja, gadis itu membawa bekalnya ke dapur. Ditemani channel youtube salah satu artis, Rena santai sarapan di dapur. "Pagi, Pak Alex," sapa Pak Lukman. "Pagi, Pak," sahut Alex. Melihat tas Rena tergeletak di meja, sementara orangnya tak ada, pria itu berjalan pelan menuju dapur. Yakin Rena di dapur karena mendengar suara tawanya. "Kamu masih lama?" Mendengar suara Alex spontan Rena mengecilkan volume ponselnya. "Ini sudah selesai, Pak." Rena berdiri dan mencuci kotak makannya. "Setelah ini kamu siap-siap. Temani saya pergi." Alex meninggalkan dapur. Sepeninggal Alex, dengan tergesa-gesa Rena menuju mejanya. "Kok aku takut ya, Nda?" "Takut apa? Ada hantu di dapur?" "Bukan. Biasanya kan kalau ada acara, Bos selalu pergi sendiri. Ini kenapa Bos ngajak aku ya?" "Paling mau ngomong masalah tawaran jadi pengasuh anaknya, Ren. Tanyain dulu upahnya berapa, kalau lumayan kamu terima aja," saran Manda. Percakapan mereka terhenti karena Alex berdiri tak jauh dari mereka, bersiap mengajak Rena pergi. "Pergi dulu ya," pamit Rena pada Manda seraya memakai sepatu hak tingginya. Empat puluh lima menit perjalanan, mereka sampai di salah satu hotel tempat acara diadakan. "Emang acara apa sih, Pak?" "Pertemuan bersama notaris dan perbankan." "Biasanya Bapak pergi sendiri," ucap Rena seraya merapikan rambutnya. Alex tak menjawab, matanya hanya melotot kemudian memberi isyarat untuk masuk ke dalam. “Ya ampun. Punya bos gini-gini amat,” batin Rena. Ia meminta izin Alex untuk duduk bersama beberapa temannya dari perusahan lain, sementara Alex duduk di depan. Sedang asyik bercerita dengan temannya, dua orang yang duduk semeja dengannya tampak berbisik malu-malu. Memberi kode bahwa ada lelaki yang menarik perhatian tengah memperhatikan mereka. "Eh, dia ngeliatin ke sini," ucap salah satu dari mereka. Rena yang penasaran memalingkan wajahnya dan mendapati bahwa lelaki yang di maksud adalah Nico. "Emang dia siapa, Mbak?" tanya Rena pura-pura tak tahu. "Nico Jayandra. Anaknya Pak Irawan. Notaris sama kayak bapaknya." “Notaris? Kirain dia mau jadi pengacara,” gumam Rena. Nico memang mengambil jurusan hukum sewaktu kuliah dulu. Saat coffee break tiba, Nico menghampiri meja Rena, yang disambut riuh oleh teman satu mejanya. Nico memang mudah membaur, apalagi dengan wanita. Pesonanya tak pernah padam. Sementara itu, dari mejanya Alex tampak tak suka dengan kedekatan Rena dan Nico. "Pak, yang duduk di samping Pak Yudi itu siapa? Saya baru lihat," kata Alex basa basi saat Nico telah kembali duduk di kursinya. "Oh itu. Dia notaris, Pak. Anaknya Pak Irawan," sahut orang yang duduk di samping Alex. Sekitar jam setengah dua belas, acara akhirnya selesai juga. Setelah di tutup, semua tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati jamuan makan siang yang sudah disediakan. Bos Alex Setelah ambil makan, langsung ke meja saya. "Aku ke depan dulu ya. Dipanggil Bos." Rena pamit pada teman semejanya. Membawa piring berisi makanan dan duduk bersebelahan dengan Alex. Saat Rena membalas pesan di ponselnya, Alex memperhatikan Nico yang ternyata juga tengah memegang ponsel. "Makan ya makan. Gak usah sibuk main ponsel." Alex menatap Rena tajam. Tak ingin berdebat dengan Alex di depan umum, Rena meletakkan ponselnya dan meneruskan makannya. Meski dalam hati kesal dengan sikap Alex yang seenaknya. *** Betul saja yang dikatakan Manda, di perjalanan pulang menuju kantor, Alex kembali membahas mengenai tawaran untuk menjadi pengasuh Putri. "Untuk pekerjaan satu ini, kamu tidak boleh menolak," ucap Alex saat Rena menyatakan keberatannya untuk memiliki tugas tambahan. "Saya berhak menolak, Pak. Kalau pekerjaan ini malah menyita waktu saya." "Kamu bukan seperti pengasuh pada umumnya, yang siap dua puluh empat jam. Yang pasti, kamu harus ada saat Putri perlu." "Apa bedanya dengan siap dua puluh empat jam, Pak? Semisal tengah malam Putri perlu saya, saya harus ada di sana?" "Untuk case tertentu saja. Dan saya akan memberikan imbalan, yang tentunya tidak akan kamu tolak. Sama dengan bonus yang kamu terima setiap bulan, bahkan bisa lebih." Mendengar upah yang akan didapatkannya, seketika membuat Rena tergiur. "Satu lagi, kamu harus mengajarkan Putri tentang pengetahuan dasar, baca, dan tulis." "Kenapa gak Pak Alex sekolahin aja?" "Kamu sendiri liat kan, gimana nangisnya dia di sekolah? Kalau dia mau sekolah, saya juga gak akan minta kamu jadi pengasuhnya. Pokoknya mulai hari ini, kamu jadi pengasuh anak saya, titik." Menggaruk-garuk pelipisnya, Rena hanya terdiam mendengar pernyataan sepihak Alex yang tak bisa dibantah.Hari ketiga Alex tak masuk kantor. Ia tengah berada di rumah sakit, menemani Ira yang sedang dirawat karena sakit jantungnya kumat. Itu artinya, sudah dua malam Rena lembur menjadi pengasuh. Sepulang kerja, ia harus ke rumah Eric untuk menemani dan menidurkan Putri. Meski di rumah Alex ada Bi Siti yang menemani, Putri bersikeras ingin ditemani tidur oleh Rena.Dengan mata yang masih mengantuk, ia berjalan menuju meja kerjanya."Pulang jam berapa dari rumah Pak Alex, Ren?" tanya Manda."Gak tahu, Nda. Gak lihat jam lagi." Rena menyahut dengan mulut menguap lebar."Kamu tidur sana gih di ruangan Pak Alex. Soalnya nanti siang, pesan Pak Alex kamu harus ke rumah sakit, bawain buku cek yang harus ditandatangani dia," ucap Bu Ria."Kenapa gak Manda aja sih yang disuruh," sungut Rena hampir menangis."Pesan Pak Alex gitu, gimana dong," sahut Manda."Yang penting sekarang kamu istirahat aja sana," suruh Bu Ria lagi.Dengan langkah sempoyongan Rena menuju ruangan Alex. Merebahkan diri di atas
"Ada gila-gilanya kali Pak Alex ya, Nda?"Manda tertawa seraya mengaduk minumannya. Mereka tengah menikmati waktu senja di salah satu cafe dekat kantor, setelah pulang kerja."Jadi pengasuh Putri itu ide bagus kali, Ren.""Aku memang senang bisa main sama Putri, tapi membayangkan akan terus berhadapan sama Pak Alex, aku gak sanggup, Nda.""Siapa tahu upah jadi pengasuh Putri besar, Ren. Lumayan kali buat tabungan. Anaknya Pak Alex kan baik, nurut lagi sama kamu. Pasti gak bakal repot ngurus dia. Lagian pekerjaan jadi pengasuh itu bagus. Bagus untuk mengasah kemampuan mendidik anak."Seraya memakan sosis yang ada di meja, otaknya berpikir. Semua perkataan Manda ada benarnya juga. Untuk anaknya, pasti Alex rela memberikan yang terbaik. Termasuk upah yang setimpal untuk menjadi pengasuh.***"Tadi Putri main sama Tante Rena lo, Oma," lapor Putri pada Ira sesaat setelah selesai makan malam."Kata Papa, Putri sekolah. Kok malah main sama Tante Rena?""Baru sebentar ditinggal, dia sudah nan
Sabtu ini, Rena harus terima kalau Mama dan Tisa pergi liburan ke rumah Tante Olin, Adik Mama, yang berada di Bandung. Yang artinya beberapa hari ke depan Rena akan sendirian di rumah. "Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Mama sebelum masuk ke mobil yang dikirimkan Tante Olin untuk menjemput. "Iya, Ma." "Dadah, Kakak." Tisa melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil. Begitu mereka pergi, Rena juga bersiap pergi ke kantor. Tak lupa ia membeli sarapan pagi sebelum tiba di kantor. Tampak Manda telah sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya, hingga wajahnya tak terlihat lagi. "Ngapain sih pagi-pagi sudah makan kertas?" Rena meletakkan tasnya di meja. "Kerjaan kamu nih, Ren," ucap Manda. "berkas yang kemarin kecampur sama berkas yang sudah beres. Jadinya kan harus dipilih lagi." "Aduh maaf ya, Nda. Aku kirain kemarin berkas yang di meja kamu itu sama kayak berkas yang aku kerjain. Jadinya aku gabung. Ntar aku makan sebentar ya, nanti aku pisahin
Rena telah tiba di kantor. On time. Tekadnya tak ingin lagi terlambat masuk kantor, agar Alex tidak memiliki alasan untuk mengomeli dan menunda pembayaran gajinya lagi."Tumben kamu sudah datang?" tanya Manda yang melihat Rena sudah duduk dibalik layar komputernya."Biar bos gak ada alasan buat nunda pembayaran gaji aku.""Hah!" seru Manda kaget.“Kesel banget tahu gak sih, sama kelakuan Pak Alex. Rasanya pengen nonjok muka dia.”“Tapi kalau aku lihat, kayaknya Pak Alex bermasalahnya cuma sama kamu aja deh, Ren.”“Aku juga gak ngerti. Apa sih, salah aku sama dia? Semua yang aku kerjakan pasti ada aja yang bikin dia ngomel.”Lisa menjentikkan jarinya. “Aku tahu salah kamu apa?”Rena memasang tampang serius, siap mendengarkan ucapan Manda.“Salah kamu itu, kamu kurang perhatian sama Pak Alex. Kamu kan sekretaris dia, harusnya kamu lebih perhatian sama dia. Bukannya malah ngejar bonus dari penjualan rumah.”“Perhatian dari hongkong! Ya kali perhatian sama dia bisa dapat uang. Lebih baik
Dengan sisa gajinya yang ada, Rena membayarkan tagihan listrik dan air melalui aplikasi di ponselnya. Sesuai dengan ucapan Alex, harusnya hari ini gajinya sudah masuk ke rekening."Apa karena hari ini hari sabtu ya?" tanyanya sendiri. Ia berkali-kali mengecek aplikasi mobile banking-nya, tapi saldonya masih tetap sama. Tak ada penambahan, malah kurang karena membayar tagihan tadi. Rena melempar kesal ponselnya ke atas kasur, kemudian melangkah keluar. Untung saja, Mama dan Tisa sudah punya kegiatan masing-masing hari ini, kalau tidak mereka pasti sudah mengajak Rena untuk jalan-jalan. Setelah Tisa dan Mama pergi, Rena juga bersiap, untuk pergi ke mall. Cuci mata untuk menghilangkan penat sejenak.Mengendarai motor maticnya, Rena menuju mall yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Gadis itu benar-benar menjaga pandangan matanya agar tidak melihat barang yang menarik perhatiannya. Ia menaiki eskalator berkeliling tiap lantai, kemudian turun. Bersiap hendak menuruni satu lantai lagi,
Rena berbaring sembari melepas pelan hansaplast yang menutupi luka di jari telunjuknya. Memorinya memutar ulang kejadian di dapur kemarin."Ada apa dengan Pak Alex ya?" Rena memandangi jari telunjuknya."Kok belum tidur? Sudah jam sepuluh begini," ucap Mama membuat Rena kaget lantas menarik selimutnya.***Tidak ingin terlambat sampai ke kantor, pukul enam gadis itu telah bangun. Setelah mengenakan pakaian dan memoles tipis make up pada wajahnya, Rena menyampirkan tas di baju lantas keluar dari kamar."Kak, Tisa ikut sampai depan ya?""Tapi kamu sudah siap ‘kan?""Sudah dong, kak,” ucap Tisa tersenyum lebar. Begitu menurunkan Tisa di depan komplek, Rena langsung meneruskan perjalanannya menuju kantor. Begitu senangnya Rena saat mendapati kantor masih sepi. Hanya ada ia dan Pak Lukman, lelaki paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan kantor."Pagi banget sudah datang ke kantor, Mbak?""Iya nih, Pak," sahut Rena seraya berjalan menuju mejanya, melewati Pak Lukman yang sedang me







