Share

Tugas Baru

Author: Lystania
last update Last Updated: 2026-01-08 17:22:23

Sabtu ini, Rena harus terima kalau Mama dan Tisa pergi liburan ke rumah Tante Olin, Adik Mama, yang berada di Bandung. Yang artinya beberapa hari ke depan Rena akan sendirian di rumah.

"Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Mama sebelum masuk ke mobil yang dikirimkan Tante Olin untuk menjemput.

"Iya, Ma."

"Dadah, Kakak." Tisa melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil.

Begitu mereka pergi, Rena juga bersiap pergi ke kantor. Tak lupa ia membeli sarapan pagi sebelum tiba di kantor.

Tampak Manda telah sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya, hingga wajahnya tak terlihat lagi.

"Ngapain sih pagi-pagi sudah makan kertas?" Rena meletakkan tasnya di meja.

"Kerjaan kamu nih, Ren," ucap Manda. "berkas yang kemarin kecampur sama berkas yang sudah beres. Jadinya kan harus dipilih lagi."

"Aduh maaf ya, Nda. Aku kirain kemarin berkas yang di meja kamu itu sama kayak berkas yang aku kerjain. Jadinya aku gabung. Ntar aku makan sebentar ya, nanti aku pisahin lagi." Rena membawa sarapannya ke dapur.

***

Di rumah, Alex dan Ira baru saja selesai sarapan, sementara Putri masih tertidur di kamarnya.

"Lex, akhir-akhir ini Mama lebih cepat capek deh. Keringat dingin, terus dada Mama suka nyeri," ucap Ira seraya mengelus dadanya.

"Mama jangan capek-capek dong. Jantung Mama nanti kumat lagi," sahut Alex.

"Perasaan Mama gak pernah kerja berat," kilah Ira.

"Alex ada rencana mau masukin Putri ke PAUD, Ma. Biar dia belajar mandiri. Sudah ada beberapa PAUD yang Alex survey. Jadi Mama bisa istirahat juga, gak terlalu capek jaga Putri di rumah."

Ira menghela nafas. "Mama setuju sama rencana kamu, tapi Mama lebih setuju kalau kamu mencari ibu buat Putri. Dia lebih butuh kasih sayang orang tua dan keluarga, daripada kamu sekolahin. Mama yakin Putri pasti berontak kalau kamu sekolahin."

"Ma, Alex pasti nyari ibu buat Putri, tapi gak sekarang."

"Sampai kapan, Lex? Tunggu Putri besar dulu? Yang ada dia gak bakal mau punya ibu tiri."

"Pokoknya Alex mau nyoba masukin Putri ke PAUD dulu," ucap Alex tetap bersikeras.

"Kamu jangan terlalu keras sama Putri. Semakin kamu keras, dia juga pasti lebih keras. Kalian berdua sama keras kepalanya.”

Alex tak berkomentar, karena apa yang dikatakan Ira itu benar. Sifat keras kepalanya turun kepada Putri.

Tepat jam sepuluh pagi, saat Putri telah beres mandi dan sarapan, Alex mengajaknya keluar. Putri tampak sumringah karena mengira mereka akan pergi ke kantor.

"Ini bukan kantor Papa," ucap Putri saat Alex menghentikan mobilnya di salah satu bangunan yang di halamannya cukup banyak permainan.

"Kita masuk dulu ya, Sayang. Kamu juga bisa main di sana. Ada banyak temen lo," ajak Alex seraya melepas sabuk pengaman yang dikenakan Putri.

Permainan yang cukup beragam dan beberapa anak seumuran dengannya, yang tengah bermain, membuat Putri lupa dengan kantor Papanya. Rasa penasaran, membawanya untuk mencoba beberapa permainan yang ada.

"Selamat pagi, Pak Alex." Seorang wanita seumuran Ira datang dan menyapa.

"Pagi, Bu. Hari ini saya coba titip anak saya di sini ya, Bu."

"Baik, Pak Alex. Semoga Putri suka tempat ini ya," sahut wanita itu.

Alex kemudian mendekati Putri yang telah asyik bermain dengan teman sebayanya.

"Sayang, Papa jalan dulu ya. Nanti Papa jemput lagi. Putri main dulu di sini sama temennya ya," pamit Alex. Tak ada bantahan dari Putri. Ia malah melambaikan tangan saat Alex telah berada dalam mobil. Ia menarik nafas lega, karena Putri tampak senang berada di sana. Tidak ada drama tangisan.

Setibanya di kantor, pria itu langsung masuk ke dalam ruangan. Hanya senyum alakadar yang ia lemparkan pada karyawannya.

"Tegang gitu muka Pak Alex."

"Muka Pak Alex kan emang selalu tegang, Nda." Rena menggeser berkas yang baru saja selesai ia pisahkan.

"Eh, aku aja yang antar berkas-berkas ini ke bank ya?" tanya Rena.

"Oke. Ntar aku telpon Mas Adi biar bawain berkas ini ke mobil," ujar Manda seraya mengangkat gagang telepon.

Pamit dengan Manda dan Bu Ria, Rena pergi ke bank dengan diantar Adi, supir kantor.

“Tumben Putri gak ikut ke kantor sama Pak Alex,” gumam Rena seraya berselancar di dunia maya.

“Eh, kenapa jadi kepikiran Putri,” gumamnya lagi bingung.

Sekitar satu jam setengah ia berada di bank, menyerahkan berkas pengajuan kredit nasabah, ia berniat untuk mengajak Adi makan siang sebelum kembali ke kantor. Namun, baru saja masuk ke dalam mobil, panggilan dari Alex membuat moodnya sedikit memburuk.

"Bentar, Mas. Pak Alex telepon nih," ucap Rena.

"Hah, PAUD Cahaya Bintang, Pak?" ulang Rena di ujung telepon.

"Cepat kamu ke sana," perintah Alex seraya memutus sambungan teleponnya.

"Mas, kita ke PAUD Cahaya Bintang. Jemput anak Pak Alex dulu," ucap Rena seraya menutup pintu mobil.

Sementara itu, di sekolah Putri terus menangis meminta untuk pulang. Beberapa guru sudah berusaha menenangkan, tapi tak berpengaruh. Putri tetap menangis sesenggukan.

"Putri sayang, kan di sini banyak mainan, banyak teman juga, kita di sini aja ya." Beberapa guru mencoba membujuk Putri.

"Putri mau pulang. Oma, Papa." Begitu ia memanggil orang terdekatnya dalam tangisan. Saat melihat Rena berdiri di depan pintu, Putri langsung menghapus air matanya.

"Mama!" serunya nyaring membuat guru-guru di sana bingung. Karena menurut cerita Alex pada guru-guru di sana, Ibunya Putri telah meninggal karena sakit. Rena yang mendengar teriakan Putri menyebutnya sebagai mama, menjadi salah tingkah.

"Maaf, Ibu ini siapanya Putri?" tanya salah satu guru yang merupakan ketua yayasan.

"Saya, Rena. Karyawan di kantor Papanya Putri, Bu. " Rena memperkenalkan diri.

"Bukan, Ibunya?" Mereka berdua memandang Putri bergantian.

"Bukan, Bu. Saya tadi di telepon Pak Alex, untuk jemput Putri di sini."

Rena kemudian diajak masuk menemui Putri. Ketua yayasan, memastikan lagi pada Alex bahwa Rena adalah orang yang disuruh untuk menjemput Putri.

"Bu Rena, tadi sudah saya konfirmasi ke orang tua Putri. Silahkan Putri dibawa pulang dulu," ucap Ketua yayasan.

"Makasih ya, Bu," sahut Rena seraya menggandeng tangan Putri.

"Nanti, Putri main ke sini lagi ya," ucap salah satu guru ramah. Putri hanya tersenyum kecil.

Di perjalanan menuju kantor, Putri terus bicara tak henti, menceritakan sekolahnya tadi.

"Terus Putri kenapa nangis? Kan di sana banyak mainan, banyak teman juga," kata Rena.

"Tapi Putri mau main sama Tante Rena di kantor," ucapnya polos.

Rena memandang wajah Putri. Iba. Anak sekecil ini sudah ditinggal ibunya.

Setibanya di kantor, Putri membuntuti Rena menuju mejanya.

"Putri, ke ruangan Papa dulu. Bilang kalau sudah sampai," ujar Rena seraya berjongkok di depan gadis kecil itu.

Putri menggeleng. "Mau main sama Tante Rena."

"Anterin aja ke ruangan Bos. Tugas sekretaris kan ngurusin Bos, juga anaknya," celetuk Manda. Rena mendengus kesal, tapi mengikuti saran Manda juga. Ia menggandeng tangan Putri dan mengantarkannya ke ruangan Alex.

Alex menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Putri dan Rena berjalan masuk.

"Kamu keluar dulu," perintah Alex pada Rena. Putri malah ikutan mau keluar bersama Vina.

"Putri, sini sama Papa," ucap Alex tegas membuat langkah kaki Putri terhenti. Ia mendekati putrinya itu saat Rena telah menutup pintu ruangan. Ia menggendong anak perempuannya itu dan mengajaknya duduk di sofa bed.

"Bukannya tadi Putri senang di sekolah? Kenapa malah nangis baru sebentar Papa tinggal?"

"Kan Papa bilang mau ke kantor. Putri ikut karena mau main sama Tante Rena, kenapa jadi sekolah? Putri gak mau sekolah, Putri mau Tante Rena," rengek Putri sambil menunjuk keluar, tempat Rena duduk. Dari dalam ruangannya, Alex memandangi Rena. Tak habis pikir apa yang membuat anaknya jadi begitu ingin bersama Rena.

“Wanita ceroboh seperti dia,” gumam Alex.

"Putri tidur siang dulu ya, biar susunya dibikinin." Alex meninggalkan Putri yang telah berbaring di sofa bed. Ia kemudian menekan tombol angka tiga dan menyuruh Rena ke ruangannya.

"Iya, Pak."

"Kamu bikin susu buat Putri, setelah itu temani dia tidur siang."

"Hah?" Rena melongo.

"Tiga sendok dengan air sebanyak dua ratus mili," ucap Alex, "cepat! Kenapa jadi bengong? Semua ada di dalam tas."

Rena segera melakukan apa yang diperintahkan Alex tanpa bantahan. Selesai menyeduh susu, ia menghampiri Putri dan membiarkannya meminum habis segelas susu. Sambil mengelus-ngelus rambut gadis mungil itu, Rena akhirnya berhasil menidurkan Putri di menit ke dua puluh. Sedikit aneh ia berada di ruangan Alex dengan kegiatan yang tak biasa.

"Putri sudah tidur, Pak. Saya permisi dulu," ucap Rena.

"Tunggu dulu," ujar Alex dengan wajah serius. Rena berjalan mendekat. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan dikatakan bosnya itu.

"Saya ada tugas tambahan untuk kamu," kata Alex, "menjadi pengasuh Putri."

"Pak Alex bercanda?" Rena kaget.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Salah Ruangan

    Hari ketiga Alex tak masuk kantor. Ia tengah berada di rumah sakit, menemani Ira yang sedang dirawat karena sakit jantungnya kumat. Itu artinya, sudah dua malam Rena lembur menjadi pengasuh. Sepulang kerja, ia harus ke rumah Eric untuk menemani dan menidurkan Putri. Meski di rumah Alex ada Bi Siti yang menemani, Putri bersikeras ingin ditemani tidur oleh Rena.Dengan mata yang masih mengantuk, ia berjalan menuju meja kerjanya."Pulang jam berapa dari rumah Pak Alex, Ren?" tanya Manda."Gak tahu, Nda. Gak lihat jam lagi." Rena menyahut dengan mulut menguap lebar."Kamu tidur sana gih di ruangan Pak Alex. Soalnya nanti siang, pesan Pak Alex kamu harus ke rumah sakit, bawain buku cek yang harus ditandatangani dia," ucap Bu Ria."Kenapa gak Manda aja sih yang disuruh," sungut Rena hampir menangis."Pesan Pak Alex gitu, gimana dong," sahut Manda."Yang penting sekarang kamu istirahat aja sana," suruh Bu Ria lagi.Dengan langkah sempoyongan Rena menuju ruangan Alex. Merebahkan diri di atas

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Perseteruan Sepihak

    "Ada gila-gilanya kali Pak Alex ya, Nda?"Manda tertawa seraya mengaduk minumannya. Mereka tengah menikmati waktu senja di salah satu cafe dekat kantor, setelah pulang kerja."Jadi pengasuh Putri itu ide bagus kali, Ren.""Aku memang senang bisa main sama Putri, tapi membayangkan akan terus berhadapan sama Pak Alex, aku gak sanggup, Nda.""Siapa tahu upah jadi pengasuh Putri besar, Ren. Lumayan kali buat tabungan. Anaknya Pak Alex kan baik, nurut lagi sama kamu. Pasti gak bakal repot ngurus dia. Lagian pekerjaan jadi pengasuh itu bagus. Bagus untuk mengasah kemampuan mendidik anak."Seraya memakan sosis yang ada di meja, otaknya berpikir. Semua perkataan Manda ada benarnya juga. Untuk anaknya, pasti Alex rela memberikan yang terbaik. Termasuk upah yang setimpal untuk menjadi pengasuh.***"Tadi Putri main sama Tante Rena lo, Oma," lapor Putri pada Ira sesaat setelah selesai makan malam."Kata Papa, Putri sekolah. Kok malah main sama Tante Rena?""Baru sebentar ditinggal, dia sudah nan

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tugas Baru

    Sabtu ini, Rena harus terima kalau Mama dan Tisa pergi liburan ke rumah Tante Olin, Adik Mama, yang berada di Bandung. Yang artinya beberapa hari ke depan Rena akan sendirian di rumah. "Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Mama sebelum masuk ke mobil yang dikirimkan Tante Olin untuk menjemput. "Iya, Ma." "Dadah, Kakak." Tisa melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil. Begitu mereka pergi, Rena juga bersiap pergi ke kantor. Tak lupa ia membeli sarapan pagi sebelum tiba di kantor. Tampak Manda telah sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya, hingga wajahnya tak terlihat lagi. "Ngapain sih pagi-pagi sudah makan kertas?" Rena meletakkan tasnya di meja. "Kerjaan kamu nih, Ren," ucap Manda. "berkas yang kemarin kecampur sama berkas yang sudah beres. Jadinya kan harus dipilih lagi." "Aduh maaf ya, Nda. Aku kirain kemarin berkas yang di meja kamu itu sama kayak berkas yang aku kerjain. Jadinya aku gabung. Ntar aku makan sebentar ya, nanti aku pisahin

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Lelaki Lain

    Rena telah tiba di kantor. On time. Tekadnya tak ingin lagi terlambat masuk kantor, agar Alex tidak memiliki alasan untuk mengomeli dan menunda pembayaran gajinya lagi."Tumben kamu sudah datang?" tanya Manda yang melihat Rena sudah duduk dibalik layar komputernya."Biar bos gak ada alasan buat nunda pembayaran gaji aku.""Hah!" seru Manda kaget.“Kesel banget tahu gak sih, sama kelakuan Pak Alex. Rasanya pengen nonjok muka dia.”“Tapi kalau aku lihat, kayaknya Pak Alex bermasalahnya cuma sama kamu aja deh, Ren.”“Aku juga gak ngerti. Apa sih, salah aku sama dia? Semua yang aku kerjakan pasti ada aja yang bikin dia ngomel.”Lisa menjentikkan jarinya. “Aku tahu salah kamu apa?”Rena memasang tampang serius, siap mendengarkan ucapan Manda.“Salah kamu itu, kamu kurang perhatian sama Pak Alex. Kamu kan sekretaris dia, harusnya kamu lebih perhatian sama dia. Bukannya malah ngejar bonus dari penjualan rumah.”“Perhatian dari hongkong! Ya kali perhatian sama dia bisa dapat uang. Lebih baik

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tak Sengaja Bertemu

    Dengan sisa gajinya yang ada, Rena membayarkan tagihan listrik dan air melalui aplikasi di ponselnya. Sesuai dengan ucapan Alex, harusnya hari ini gajinya sudah masuk ke rekening."Apa karena hari ini hari sabtu ya?" tanyanya sendiri. Ia berkali-kali mengecek aplikasi mobile banking-nya, tapi saldonya masih tetap sama. Tak ada penambahan, malah kurang karena membayar tagihan tadi. Rena melempar kesal ponselnya ke atas kasur, kemudian melangkah keluar. Untung saja, Mama dan Tisa sudah punya kegiatan masing-masing hari ini, kalau tidak mereka pasti sudah mengajak Rena untuk jalan-jalan. Setelah Tisa dan Mama pergi, Rena juga bersiap, untuk pergi ke mall. Cuci mata untuk menghilangkan penat sejenak.Mengendarai motor maticnya, Rena menuju mall yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Gadis itu benar-benar menjaga pandangan matanya agar tidak melihat barang yang menarik perhatiannya. Ia menaiki eskalator berkeliling tiap lantai, kemudian turun. Bersiap hendak menuruni satu lantai lagi,

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tertunda

    Rena berbaring sembari melepas pelan hansaplast yang menutupi luka di jari telunjuknya. Memorinya memutar ulang kejadian di dapur kemarin."Ada apa dengan Pak Alex ya?" Rena memandangi jari telunjuknya."Kok belum tidur? Sudah jam sepuluh begini," ucap Mama membuat Rena kaget lantas menarik selimutnya.***Tidak ingin terlambat sampai ke kantor, pukul enam gadis itu telah bangun. Setelah mengenakan pakaian dan memoles tipis make up pada wajahnya, Rena menyampirkan tas di baju lantas keluar dari kamar."Kak, Tisa ikut sampai depan ya?""Tapi kamu sudah siap ‘kan?""Sudah dong, kak,” ucap Tisa tersenyum lebar. Begitu menurunkan Tisa di depan komplek, Rena langsung meneruskan perjalanannya menuju kantor. Begitu senangnya Rena saat mendapati kantor masih sepi. Hanya ada ia dan Pak Lukman, lelaki paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan kantor."Pagi banget sudah datang ke kantor, Mbak?""Iya nih, Pak," sahut Rena seraya berjalan menuju mejanya, melewati Pak Lukman yang sedang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status