LOGINSabtu ini, Rena harus terima kalau Mama dan Tisa pergi liburan ke rumah Tante Olin, Adik Mama, yang berada di Bandung. Yang artinya beberapa hari ke depan Rena akan sendirian di rumah.
"Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Mama sebelum masuk ke mobil yang dikirimkan Tante Olin untuk menjemput. "Iya, Ma." "Dadah, Kakak." Tisa melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil. Begitu mereka pergi, Rena juga bersiap pergi ke kantor. Tak lupa ia membeli sarapan pagi sebelum tiba di kantor. Tampak Manda telah sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya, hingga wajahnya tak terlihat lagi. "Ngapain sih pagi-pagi sudah makan kertas?" Rena meletakkan tasnya di meja. "Kerjaan kamu nih, Ren," ucap Manda. "berkas yang kemarin kecampur sama berkas yang sudah beres. Jadinya kan harus dipilih lagi." "Aduh maaf ya, Nda. Aku kirain kemarin berkas yang di meja kamu itu sama kayak berkas yang aku kerjain. Jadinya aku gabung. Ntar aku makan sebentar ya, nanti aku pisahin lagi." Rena membawa sarapannya ke dapur. *** Di rumah, Alex dan Ira baru saja selesai sarapan, sementara Putri masih tertidur di kamarnya. "Lex, akhir-akhir ini Mama lebih cepat capek deh. Keringat dingin, terus dada Mama suka nyeri," ucap Ira seraya mengelus dadanya. "Mama jangan capek-capek dong. Jantung Mama nanti kumat lagi," sahut Alex. "Perasaan Mama gak pernah kerja berat," kilah Ira. "Alex ada rencana mau masukin Putri ke PAUD, Ma. Biar dia belajar mandiri. Sudah ada beberapa PAUD yang Alex survey. Jadi Mama bisa istirahat juga, gak terlalu capek jaga Putri di rumah." Ira menghela nafas. "Mama setuju sama rencana kamu, tapi Mama lebih setuju kalau kamu mencari ibu buat Putri. Dia lebih butuh kasih sayang orang tua dan keluarga, daripada kamu sekolahin. Mama yakin Putri pasti berontak kalau kamu sekolahin." "Ma, Alex pasti nyari ibu buat Putri, tapi gak sekarang." "Sampai kapan, Lex? Tunggu Putri besar dulu? Yang ada dia gak bakal mau punya ibu tiri." "Pokoknya Alex mau nyoba masukin Putri ke PAUD dulu," ucap Alex tetap bersikeras. "Kamu jangan terlalu keras sama Putri. Semakin kamu keras, dia juga pasti lebih keras. Kalian berdua sama keras kepalanya.” Alex tak berkomentar, karena apa yang dikatakan Ira itu benar. Sifat keras kepalanya turun kepada Putri. Tepat jam sepuluh pagi, saat Putri telah beres mandi dan sarapan, Alex mengajaknya keluar. Putri tampak sumringah karena mengira mereka akan pergi ke kantor. "Ini bukan kantor Papa," ucap Putri saat Alex menghentikan mobilnya di salah satu bangunan yang di halamannya cukup banyak permainan. "Kita masuk dulu ya, Sayang. Kamu juga bisa main di sana. Ada banyak temen lo," ajak Alex seraya melepas sabuk pengaman yang dikenakan Putri. Permainan yang cukup beragam dan beberapa anak seumuran dengannya, yang tengah bermain, membuat Putri lupa dengan kantor Papanya. Rasa penasaran, membawanya untuk mencoba beberapa permainan yang ada. "Selamat pagi, Pak Alex." Seorang wanita seumuran Ira datang dan menyapa. "Pagi, Bu. Hari ini saya coba titip anak saya di sini ya, Bu." "Baik, Pak Alex. Semoga Putri suka tempat ini ya," sahut wanita itu. Alex kemudian mendekati Putri yang telah asyik bermain dengan teman sebayanya. "Sayang, Papa jalan dulu ya. Nanti Papa jemput lagi. Putri main dulu di sini sama temennya ya," pamit Alex. Tak ada bantahan dari Putri. Ia malah melambaikan tangan saat Alex telah berada dalam mobil. Ia menarik nafas lega, karena Putri tampak senang berada di sana. Tidak ada drama tangisan. Setibanya di kantor, pria itu langsung masuk ke dalam ruangan. Hanya senyum alakadar yang ia lemparkan pada karyawannya. "Tegang gitu muka Pak Alex." "Muka Pak Alex kan emang selalu tegang, Nda." Rena menggeser berkas yang baru saja selesai ia pisahkan. "Eh, aku aja yang antar berkas-berkas ini ke bank ya?" tanya Rena. "Oke. Ntar aku telpon Mas Adi biar bawain berkas ini ke mobil," ujar Manda seraya mengangkat gagang telepon. Pamit dengan Manda dan Bu Ria, Rena pergi ke bank dengan diantar Adi, supir kantor. “Tumben Putri gak ikut ke kantor sama Pak Alex,” gumam Rena seraya berselancar di dunia maya. “Eh, kenapa jadi kepikiran Putri,” gumamnya lagi bingung. Sekitar satu jam setengah ia berada di bank, menyerahkan berkas pengajuan kredit nasabah, ia berniat untuk mengajak Adi makan siang sebelum kembali ke kantor. Namun, baru saja masuk ke dalam mobil, panggilan dari Alex membuat moodnya sedikit memburuk. "Bentar, Mas. Pak Alex telepon nih," ucap Rena. "Hah, PAUD Cahaya Bintang, Pak?" ulang Rena di ujung telepon. "Cepat kamu ke sana," perintah Alex seraya memutus sambungan teleponnya. "Mas, kita ke PAUD Cahaya Bintang. Jemput anak Pak Alex dulu," ucap Rena seraya menutup pintu mobil. Sementara itu, di sekolah Putri terus menangis meminta untuk pulang. Beberapa guru sudah berusaha menenangkan, tapi tak berpengaruh. Putri tetap menangis sesenggukan. "Putri sayang, kan di sini banyak mainan, banyak teman juga, kita di sini aja ya." Beberapa guru mencoba membujuk Putri. "Putri mau pulang. Oma, Papa." Begitu ia memanggil orang terdekatnya dalam tangisan. Saat melihat Rena berdiri di depan pintu, Putri langsung menghapus air matanya. "Mama!" serunya nyaring membuat guru-guru di sana bingung. Karena menurut cerita Alex pada guru-guru di sana, Ibunya Putri telah meninggal karena sakit. Rena yang mendengar teriakan Putri menyebutnya sebagai mama, menjadi salah tingkah. "Maaf, Ibu ini siapanya Putri?" tanya salah satu guru yang merupakan ketua yayasan. "Saya, Rena. Karyawan di kantor Papanya Putri, Bu. " Rena memperkenalkan diri. "Bukan, Ibunya?" Mereka berdua memandang Putri bergantian. "Bukan, Bu. Saya tadi di telepon Pak Alex, untuk jemput Putri di sini." Rena kemudian diajak masuk menemui Putri. Ketua yayasan, memastikan lagi pada Alex bahwa Rena adalah orang yang disuruh untuk menjemput Putri. "Bu Rena, tadi sudah saya konfirmasi ke orang tua Putri. Silahkan Putri dibawa pulang dulu," ucap Ketua yayasan. "Makasih ya, Bu," sahut Rena seraya menggandeng tangan Putri. "Nanti, Putri main ke sini lagi ya," ucap salah satu guru ramah. Putri hanya tersenyum kecil. Di perjalanan menuju kantor, Putri terus bicara tak henti, menceritakan sekolahnya tadi. "Terus Putri kenapa nangis? Kan di sana banyak mainan, banyak teman juga," kata Rena. "Tapi Putri mau main sama Tante Rena di kantor," ucapnya polos. Rena memandang wajah Putri. Iba. Anak sekecil ini sudah ditinggal ibunya. Setibanya di kantor, Putri membuntuti Rena menuju mejanya. "Putri, ke ruangan Papa dulu. Bilang kalau sudah sampai," ujar Rena seraya berjongkok di depan gadis kecil itu. Putri menggeleng. "Mau main sama Tante Rena." "Anterin aja ke ruangan Bos. Tugas sekretaris kan ngurusin Bos, juga anaknya," celetuk Manda. Rena mendengus kesal, tapi mengikuti saran Manda juga. Ia menggandeng tangan Putri dan mengantarkannya ke ruangan Alex. Alex menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Putri dan Rena berjalan masuk. "Kamu keluar dulu," perintah Alex pada Rena. Putri malah ikutan mau keluar bersama Vina. "Putri, sini sama Papa," ucap Alex tegas membuat langkah kaki Putri terhenti. Ia mendekati putrinya itu saat Rena telah menutup pintu ruangan. Ia menggendong anak perempuannya itu dan mengajaknya duduk di sofa bed. "Bukannya tadi Putri senang di sekolah? Kenapa malah nangis baru sebentar Papa tinggal?" "Kan Papa bilang mau ke kantor. Putri ikut karena mau main sama Tante Rena, kenapa jadi sekolah? Putri gak mau sekolah, Putri mau Tante Rena," rengek Putri sambil menunjuk keluar, tempat Rena duduk. Dari dalam ruangannya, Alex memandangi Rena. Tak habis pikir apa yang membuat anaknya jadi begitu ingin bersama Rena. “Wanita ceroboh seperti dia,” gumam Alex. "Putri tidur siang dulu ya, biar susunya dibikinin." Alex meninggalkan Putri yang telah berbaring di sofa bed. Ia kemudian menekan tombol angka tiga dan menyuruh Rena ke ruangannya. "Iya, Pak." "Kamu bikin susu buat Putri, setelah itu temani dia tidur siang." "Hah?" Rena melongo. "Tiga sendok dengan air sebanyak dua ratus mili," ucap Alex, "cepat! Kenapa jadi bengong? Semua ada di dalam tas." Rena segera melakukan apa yang diperintahkan Alex tanpa bantahan. Selesai menyeduh susu, ia menghampiri Putri dan membiarkannya meminum habis segelas susu. Sambil mengelus-ngelus rambut gadis mungil itu, Rena akhirnya berhasil menidurkan Putri di menit ke dua puluh. Sedikit aneh ia berada di ruangan Alex dengan kegiatan yang tak biasa. "Putri sudah tidur, Pak. Saya permisi dulu," ucap Rena. "Tunggu dulu," ujar Alex dengan wajah serius. Rena berjalan mendekat. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan dikatakan bosnya itu. "Saya ada tugas tambahan untuk kamu," kata Alex, "menjadi pengasuh Putri." "Pak Alex bercanda?" Rena kaget.Pagi ini Alex kembali menjemput Rena. Meski Rena masih terlihat marah, ia sedikit lega karena gadis itu tak mendiamkannya lagi."Hari ini, saya ada janji sama Bunda untuk fitting terakhir baju kebaya," ucap Rena, "tapi saya masih ragu mau ini lanjut atau tidak.""Kamu ngomong apa sih, Sayang? Marahnya udahan dong. Aku harus apa supaya kamu gak marah lagi?" Alex was was mendengar ucapan Rena barusan. Apa jadinya kalau Rena benar-benar ragu dan tak mau lanjut dengan pernikahan mereka yang hanya tinggal hitungan hari lagi."Gak tau," sahut Rena cuek mengangkat bahunya.Alex menyandarkan tangannya seraya menopang kepalanya yang terasa berat."Susah banget kalau kamu sudah marah. Ngebujuknya susah banget," ucap Alex. Kakinya menginjak pedal gas pelan karena lampu lalu lintas telah berubah warna jadi hijau.***Selesai membereskan laporan, Rema meletakkan semua laporan itu di samping laptop Alex."Eh, mau kemana?" tanya Alex saat melihat Rena berjalan menuju pintu dengan membawa tasnya. "S
Hari ini adalah hari kedua Rena tak masuk kantor, karena matanya masih sembab habis menangis setiap malam. Terbayang-bayang dengan foto dan video itu, ia kembali membenamkan diri dalam selimut."Kakak kenapa? Sakit?" tanya Tisa datang menghampiri."Iya nih gak enak badan. Pengen istirahat di rumah aja," sahutnya Rena dari dalam selimut."Ya udah kakak istirahat aja." Tisa berlalu dari kamar kakaknya itu. Ia yakin Rena sedang ada masalah dengan Alex tapi ia tidak mau ikut campur urusan mereka.Tak berselang lama Mama datang ke kamar Rena dan menayangkan keadaan anak sulungnya itu. Ia sudah curiga kalau Rena sedang ada masalah dari gelagatnya beberapa hari ini.“Kalau kamu ada masalah cepat diselesaikan, jangan malah dibiarin. Ayo sekarang cuci muka. Di depan ada Bu Ira sama Putri,” ucap Mama meminta Rena menemui mereka. "Bilang Rena lagi keluar kota aja ya, Ma. Rena lagi pengen sendiri.""Oke tapi masalah kamu harus cepat diselesaikan. Mama sama Tisa
Alex dan Rena pergi ke salah satu toko kue untuk memesan kue ulang tahun untuk Putri. Melihat beberapa kue yang terpajang di etalase, Rena kemudian menunjuk salah satu kue berwarna biru dengan karakter princess."Bagus. Kamu pesan dulu ya, aku angkat telepon sebentar," ucap Alex menjauh dari tempat itu.Agak malas sebenarnya menerima telepon dari Desita, tapi membaca pesannya yang seperti sedang meminta pertolongan, ia jadi tak tega."Ya sudah kita ketemu di kantor aku aja jam setengah delapan," ucap Alex pelan."Makasih ya, Lex," sahut Desita dengan suara sedikit serak.Rena yang telah selesai memesan kue, pergi menghampiri Alex dan mengejutkannya."Telepon dari siapa sih? Serius amat,” kata Rena menepuk pundak Alex."Teman lama ngajak ketemuan. Katanya mau curhat tentang bisnisnya," ucap Alex berdusta. Kenyataannya ia tak terlalu berdusta, karena mengatakan yang sebenarnya. Kurangnya hanya satu, tak menyebutkan nama teman lamanya itu."Oh ya udah. K
"Mas, ini berkasnya sudah siap. Berangkat jam berapa?" tanya Rena yang sedari tadi bolak balik mengecek berkas takut ada yang ketinggalan."Ha?" Alex tak fokus dengan pertanyaan Rena. Ia malah menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan."Mas, nanti ada yang liat," protes Rena."Biarin aja kenapa," sahut Alex, "nanti kamu mau pakai baju apa, kebaya? Atau gaun?" Alex menunjukkan layar laptop."Saya kira Mas Alex ngapain, kelihatan serius. Eh, taunya liatin ini," ucap Rena.Secara tiba-tiba pintu terbuka, tampak Tria berdiri mematung melihat pemandangan yang di depannya."Aduh maaf ganggu, Pak," ucapnya hendak menutup pintu lagi."Gapapa. Ada apa?" tanya Alex santai yang tak membiarkan Rena untuk beranjak dari pangkuannya."Ini, Pak. Laporan dari Bu Een," ucap Tria meletakkan laporan itu di atas meja lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan."Tria," panggil Alex."Iya, Pak.""Jangan kaget kalau nanti kamu bakal sering liat aku m
Mereka tengah menggeser beberapa barang di ruang tamu dan memindahkannya ke kamar agar ruang tamu tampak sedikit luas. "Mbak, Ibu mertua Mbak datang tuh," bisik Tante Bunga.Mama menoleh ke arah pintu depan, ia kemudian meminta Tante Bunga untuk mengawasi petugas katering yang mulai menyiapkan makanan.Mama lalu menemui Oma Ida dan Papi Citra di depan dan menyuruh mereka masuk."Mbak, yang lain sibuk. Jadi saya sama Ibu aja yang datang," ucap Papi Citra memberitahu."Gapapa. Saya tinggal ke dalam dulu ya, Bu. Mau beres-beres.""Iya." Oma Ida memperhatikan beberapa orang berseragam hitam yang lalu lalang membawa kartu wadah makanan.“Dia benar-benar bisa menghandle semuanya sendiri,” gumam Oma Ida memuji Mama dalam hati.Tepat dengan janjinya, Alex datang bersama Ira dan Putri.Gadis kecil itu berbisik pada Alex meminta izin agar bisa bersama dengan Tisa karena tak nyaman berada di keramaian."Iya, Sayang," ucap Alex membintangi putrinya
"Pilih gaun yang oke ya," ucap Alex saat mereka berada di salah satu butik untuk memilih gaun yang akan Rena pakai untuk acara jamuan makan malam. Peresmian ini akan diadakan sebanyak dua kali acara. Pagi peresmian yang akan disiarkan di salah satu stasiun tv karena akan langsung dibuka oleh Gubernur Jakarta sekaligus berkeliling memperlihatkan fasilitas dan benefit yang akan di dapat. Sementara untuk acara malam, khusus untuk rekanan bisnis dan mitra kerja."Oke apanya, Mas? Oke seksinya ya," tebak Rena."Jangan. Nanti kamu banyak yang lirik lagi di sana. Kamu kan datang kesana sebagai calon istri saya, bukan sekretaris," ucap Alex.Rena mengulum senyum. Ia lalu menunjukkan satu gaun tanpa lengan berwarna soft pink dengan panjang di bawah lutut."Coba dulu, kayaknya sih oke," ucap Alex berjalan menuju ruang ganti."Eh, ngapain? Tunggu di luar aja, Mas!" seru Rena kala Alex hendak ikut masuk ke dalam ruang ganti."Bantuin buka resleting," ucap Alex dengan waj
Bingung dengan apa yang dilakukan Alex, Rena mendorong pelan pria itu sambil menggeser duduknya sedikit menjauh."Nanti dikirain orang mesum, Bapak jangan dekat-dekat deh," ucap Rena."Cuma cium kening masa dikira mesum? Terus yang di kamar tadi pagi apa namanya?"Seketika wajah Rena
Membersihkan diri dan membereskan pakaian di kamar masing-masing, mereka akan check out setelah sarapan pagi."Lah, masih juga gak dikunci. Ceroboh banget sih dia." Alex kembali masuk ke kamar Rena yang membuatnya terkejut."Kamu ini ceroboh atau memang sengaja!""Astaga" Rena mengelu
Setelah mengantarkan Nico ke mobilnya, Rena kembali masuk ke tempat acara menemui Pak Jon."Dari tadi kamu di sini?" tanya Pak Jon sedikit kaget."Iya, Pak. Dari tadi ngobrol sama Nico." Rena tersenyum."Saya kirain kamu gabung sama Alex dan Desita," ucap Pak Jon yang membuat raut waj
Sampai di hotel pukul setengah tiga, mereka langsung menuju resepsionis untuk mengambil kunci kamar."Atas nama siapa, Pak? Boleh diperlihatkan undangannya?" tanya resepsionis itu ramah."Ini, Mbak." Rena meletakkan dua undangan di atas meja."Pak Alex dan Bu Rena ya. D







