Masuk
"Eh, kok mogok?” Gadis berkemeja pink itu menepikan motornya yang tiba-tiba saja mati mesin. Rena Miranda nama gadis itu, yang kemudian sibuk mengecek tangki bahan bakar motor maticnya. Rena tertawa kecil menyadari kalau tangki motornya kosong. Cepat ia mendorong motornya menuju lapak pedagang yang berada tidak jauh darinya.
"Dua liter ya, Pak, " ucap Rena sambil membuka jok motor lantas melirik jam di tangannya yang hampir menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Untung saja kantornya sudah terlihat dari tempat ia mengisi bahan bakar. Reflek Rena menatap seorang anak kecil perempuan yang berjalan sendirian menuju kulkas yang berisi minuman dingin. "Anak cantik mau beli apa?" tanya Rena ramah mengelus rambut hitam anak itu. Ia melihat anak kecil itu memegang dua lembar uang dua ribuan. “Mau itu. Putri mau itu,” kata gadis kecil itu menunjuk salah satu minuman susu dalam kemasan. Rena tersenyum kecil sambil melihat ke sekitarnya, barangkali anak di depannya itu bersama seseorang, tapi ternyata tidak. Hatinya berdecak kesal karena bisa-bisanya anak sekecil ini lepas dari pengawasan orang tua. “Uangnya simpan aja ya. Tante beliin,” kata Rena menyimpan uang kertas yang dipegang gadis kecil itu ke dalam saku celana. “Uang yang Putri bawa gak cukup ya, Tante? Nanti Tante minta sama Papanya Putri ya, uang Papa banyak kok,” ucap Putri begitu lucu sambil menerima susu kemasan yang Rena belikan dan mengucapkan terima kasih. Rena cepat merogoh uang dari saku celana dan memberikannya pada pedagang itu, karena ingin mengejar gadis kecil tadi yang sudah berjalan seorang diri. Mengendarai motornya, Rena berhenti di depan gadis kecil itu. “Putri mau kemana? Tante anterin ya? Takut nanti ada apa-apa sama Putri,” kata Rena yang langsung disambut dengan anggukan kepala Putri. Gadis kecil itu kemudian naik dan berdiri di depan Rena yang mengemudikan motor. Betapa terkejutnya Rena saat Putri minta berhenti dan menunjuk sebuah gedung yang merupakan tempat ia bekerja. “Hah? Anak siapa nih Putri? Kok aku gak pernah lihat?” gumam Rena dalam hati. Ia jadi agak kikuk saat memarkirkan motornya di halaman kantor karena melihat beberapa orang tampak berdiri kebingungan di depan kantor, termasuk bosnya, Alex. “Makasih ya, Tante,” ucap Putri tersenyum manis lantas turun dari motornya. Gadis kecil itu berjalan menaiki anak tangga kemudian memeluk seorang pria yang tak lain adalah Alex. “Papa, Putri beli ini,” ucapnya penuh semangat tanpa tahu bahwa dari tadi Alex mencarinya ke mana-mana. Meski masih kesal, Alex sudah tenang karena Putri sudah kembali. Netra pria itu kemudian menatap ke arah depan tempat Rena berdiri, membuat gadis itu mematung. “Telat lagi? Sudah jam berapa ini?” Alex melotot. Menelan salivanya, Rena menjelaskan penyebab ia jadi terlambat. “Tante di sini?” Celetuk Putri yang telah menghabiskan minumannya. Rena hanya tersenyum tipis. “Papa, Putri minta uang. Uang ini gak cukup tadi Putri beli jajan,” ucap Putri mengeluarkan uang dari sakunya. “Terus yang bayar siapa?” Alex menoleh ke arah Putri. “Tante itu yang bayarin,” ucap Putri kemudian melambaikan tangan pada Rena, kemudian berbalik masuk ke dalam kantor meninggalkan Alex dan Rena yang masih berada di luar. "Sudah datang telat, terus bawa anak saya tanpa izin!" seru Alex berjalan mendekati Rena. Suara Alex yang cukup nyaring membuat beberapa karyawan yang sedang melintas menoleh ke arah mereka. "Saya gak tahu kalau Putri anak Bapak. Tadi saya ketemu sama dia di warung depan Pak. Mau jajan tapi uangnya gak cukup," ucap Rena dengan penekanan pada kalimat terakhirnya. "Banyak duit tapi ngasih jajan anak pelit," ucap Rena dalam hati kesal pada Alex. Sepagi ini sudah marah-marah. “Permisi, saya mau masuk!” balas Rena tak kalah ketus. Semakin hari Rena semakin kesal melihat tingkat bosnya itu. Ada-ada saja kejadian yang membuatnya kena omelan. Kalau bukan karena gaji dan bonus yang besar, mungkin Rena sudah dari dulu berhenti. *** Alex sibuk dengan tumpukan rekening koran di mejanya. Mengecek dan mencocokkan dengan data pengeluaran kantor, sementara Putri berbaring di sofa menonton film kartun dari ponsel. “Putri, duduk. Nanti matanya rusak!” seru Alex membuat Putri kaget, hingga mengakibatkan ponsel yang ia pegang jatuh menimpa wajah. Spontan Putri menangis kencang dan melempar ponselnya ke lantai. Rena yang baru saja membuka pintu ruangan Alex kaget melihat Putri yang tengah menangis. “Putri cantik kenapa?” tanya Rena menghampiri Putri dan mengusap-usap rambutnya. “Papa bikin kaget. Muka Putri sakit kejatuhan ponsel,” kata Putri sambil sesenggukan. “Sini. Air matanya di lap dulu,” kata Rena lembut menarik tisu dan menyeka air mata Putri. Ia juga mengambil ponsel yang ada di lantai dan meletakkannya di atas meja. Begitu tangis Putri mereda, Rena malah mengajak Putri untuk ikut ke mejanya. Tentu saja Putri langsung mengangguk “Laporannya mana?” Suara Alex meninggi, menghentikan langkah Rena dan Putri. Rena membukakan pintu dan membiarkan gadis kecil itu keluar terlebih dahulu, kemudian membalikkan badan, berjalan menuju meja Alex. "Maaf, Pak." Rena nyengir. "Kamu," ucap Alex mengambil kertas dari tangan Rena. "Kamu sebenarnya mau kerja atau mau main-main sih? Sering datang telat, di kantor bukannya kerja. Ini malah main-main, sama anak saya lagi!" "Saya terlambat paling cuma dua atau tiga kali, mana bisa dibilang sering? Iya saya tahu, saya kerja di sini. Tapi saya gak tega lihat anak kecil nangis sendirian. Dicuekin sama orang tuanya," ucap Rena kesal. "Maksud kamu apa?" tanya Alex menatap Rena tajam. "Permisi, Pak." Rena keluar dari ruangan Alex. Gak tahu apa kesalahan yang sudah ia lakukan hingga Alex selalu saja marah padanya. “Sabar. Sabar. Sebentar lagi gajian, Ren,” batin Rena mencoba menenangkan diri. Dari dalam ruangannya, Alex menghela nafas lega. Entah kenapa setiap kali Alex dalam masalah, ia selalu menjadikan Rena tempat pelampiasan emosinya. Jelas terlihat kalau Rena begitu mudah membuat Putri tertawa, padahal mereka baru saja bertemu. Alex meraih selembar kertas usang dari dalam lacinya. Kertas yang berisikan sebuah pesan yang selalu membuat hatinya tidak karuan sejak Rena bekerja di perusahaannya.Pagi ini Alex kembali menjemput Rena. Meski Rena masih terlihat marah, ia sedikit lega karena gadis itu tak mendiamkannya lagi."Hari ini, saya ada janji sama Bunda untuk fitting terakhir baju kebaya," ucap Rena, "tapi saya masih ragu mau ini lanjut atau tidak.""Kamu ngomong apa sih, Sayang? Marahnya udahan dong. Aku harus apa supaya kamu gak marah lagi?" Alex was was mendengar ucapan Rena barusan. Apa jadinya kalau Rena benar-benar ragu dan tak mau lanjut dengan pernikahan mereka yang hanya tinggal hitungan hari lagi."Gak tau," sahut Rena cuek mengangkat bahunya.Alex menyandarkan tangannya seraya menopang kepalanya yang terasa berat."Susah banget kalau kamu sudah marah. Ngebujuknya susah banget," ucap Alex. Kakinya menginjak pedal gas pelan karena lampu lalu lintas telah berubah warna jadi hijau.***Selesai membereskan laporan, Rema meletakkan semua laporan itu di samping laptop Alex."Eh, mau kemana?" tanya Alex saat melihat Rena berjalan menuju pintu dengan membawa tasnya. "S
Hari ini adalah hari kedua Rena tak masuk kantor, karena matanya masih sembab habis menangis setiap malam. Terbayang-bayang dengan foto dan video itu, ia kembali membenamkan diri dalam selimut."Kakak kenapa? Sakit?" tanya Tisa datang menghampiri."Iya nih gak enak badan. Pengen istirahat di rumah aja," sahutnya Rena dari dalam selimut."Ya udah kakak istirahat aja." Tisa berlalu dari kamar kakaknya itu. Ia yakin Rena sedang ada masalah dengan Alex tapi ia tidak mau ikut campur urusan mereka.Tak berselang lama Mama datang ke kamar Rena dan menayangkan keadaan anak sulungnya itu. Ia sudah curiga kalau Rena sedang ada masalah dari gelagatnya beberapa hari ini.“Kalau kamu ada masalah cepat diselesaikan, jangan malah dibiarin. Ayo sekarang cuci muka. Di depan ada Bu Ira sama Putri,” ucap Mama meminta Rena menemui mereka. "Bilang Rena lagi keluar kota aja ya, Ma. Rena lagi pengen sendiri.""Oke tapi masalah kamu harus cepat diselesaikan. Mama sama Tisa
Alex dan Rena pergi ke salah satu toko kue untuk memesan kue ulang tahun untuk Putri. Melihat beberapa kue yang terpajang di etalase, Rena kemudian menunjuk salah satu kue berwarna biru dengan karakter princess."Bagus. Kamu pesan dulu ya, aku angkat telepon sebentar," ucap Alex menjauh dari tempat itu.Agak malas sebenarnya menerima telepon dari Desita, tapi membaca pesannya yang seperti sedang meminta pertolongan, ia jadi tak tega."Ya sudah kita ketemu di kantor aku aja jam setengah delapan," ucap Alex pelan."Makasih ya, Lex," sahut Desita dengan suara sedikit serak.Rena yang telah selesai memesan kue, pergi menghampiri Alex dan mengejutkannya."Telepon dari siapa sih? Serius amat,” kata Rena menepuk pundak Alex."Teman lama ngajak ketemuan. Katanya mau curhat tentang bisnisnya," ucap Alex berdusta. Kenyataannya ia tak terlalu berdusta, karena mengatakan yang sebenarnya. Kurangnya hanya satu, tak menyebutkan nama teman lamanya itu."Oh ya udah. K
"Mas, ini berkasnya sudah siap. Berangkat jam berapa?" tanya Rena yang sedari tadi bolak balik mengecek berkas takut ada yang ketinggalan."Ha?" Alex tak fokus dengan pertanyaan Rena. Ia malah menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan."Mas, nanti ada yang liat," protes Rena."Biarin aja kenapa," sahut Alex, "nanti kamu mau pakai baju apa, kebaya? Atau gaun?" Alex menunjukkan layar laptop."Saya kira Mas Alex ngapain, kelihatan serius. Eh, taunya liatin ini," ucap Rena.Secara tiba-tiba pintu terbuka, tampak Tria berdiri mematung melihat pemandangan yang di depannya."Aduh maaf ganggu, Pak," ucapnya hendak menutup pintu lagi."Gapapa. Ada apa?" tanya Alex santai yang tak membiarkan Rena untuk beranjak dari pangkuannya."Ini, Pak. Laporan dari Bu Een," ucap Tria meletakkan laporan itu di atas meja lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan."Tria," panggil Alex."Iya, Pak.""Jangan kaget kalau nanti kamu bakal sering liat aku m
Mereka tengah menggeser beberapa barang di ruang tamu dan memindahkannya ke kamar agar ruang tamu tampak sedikit luas. "Mbak, Ibu mertua Mbak datang tuh," bisik Tante Bunga.Mama menoleh ke arah pintu depan, ia kemudian meminta Tante Bunga untuk mengawasi petugas katering yang mulai menyiapkan makanan.Mama lalu menemui Oma Ida dan Papi Citra di depan dan menyuruh mereka masuk."Mbak, yang lain sibuk. Jadi saya sama Ibu aja yang datang," ucap Papi Citra memberitahu."Gapapa. Saya tinggal ke dalam dulu ya, Bu. Mau beres-beres.""Iya." Oma Ida memperhatikan beberapa orang berseragam hitam yang lalu lalang membawa kartu wadah makanan.“Dia benar-benar bisa menghandle semuanya sendiri,” gumam Oma Ida memuji Mama dalam hati.Tepat dengan janjinya, Alex datang bersama Ira dan Putri.Gadis kecil itu berbisik pada Alex meminta izin agar bisa bersama dengan Tisa karena tak nyaman berada di keramaian."Iya, Sayang," ucap Alex membintangi putrinya
"Pilih gaun yang oke ya," ucap Alex saat mereka berada di salah satu butik untuk memilih gaun yang akan Rena pakai untuk acara jamuan makan malam. Peresmian ini akan diadakan sebanyak dua kali acara. Pagi peresmian yang akan disiarkan di salah satu stasiun tv karena akan langsung dibuka oleh Gubernur Jakarta sekaligus berkeliling memperlihatkan fasilitas dan benefit yang akan di dapat. Sementara untuk acara malam, khusus untuk rekanan bisnis dan mitra kerja."Oke apanya, Mas? Oke seksinya ya," tebak Rena."Jangan. Nanti kamu banyak yang lirik lagi di sana. Kamu kan datang kesana sebagai calon istri saya, bukan sekretaris," ucap Alex.Rena mengulum senyum. Ia lalu menunjukkan satu gaun tanpa lengan berwarna soft pink dengan panjang di bawah lutut."Coba dulu, kayaknya sih oke," ucap Alex berjalan menuju ruang ganti."Eh, ngapain? Tunggu di luar aja, Mas!" seru Rena kala Alex hendak ikut masuk ke dalam ruang ganti."Bantuin buka resleting," ucap Alex dengan waj
Beruntung sebelum jam makan siang Alex dan Rena telah tiba di kantor. Pertemuan dengan klien tadi berjalan dengan lancar dan cepat. Baru saja akan memesan makan siang untuk Alex, pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba. Desita langsung masuk tanpa aba-aba."Lex, dari tadi aku telepon kamu. Tap
Pagi-pagi sekali Rena telah siap pergi ke kantor. Sebelumnya ia sudah meminta Alex untuk tidak mengantar jemputnya lagi. Mencium punggung tangan Mama, gadis yang mengenakan kemeja biru itu mengendarai motor maticnya pergi bekerja.Ia khusus pagi-pagi sekali pergi ke kantor untuk mencari foto
Niat hati mau bangun pagi dan masuk kerja seperti biasa, pada kenyataannya Rena malah bangun jam setengah delapan. Itu juga karena Mama yang bolak balik ke kamar untuk membangunkannya. "Kayaknya kalau kamu telat, sekarang udah gapapa ya sama Alex?" Mama membuka gorden kamar. "Tetep aja kali, Ma.
Menikmati suasana adem di Bandung, pagi ini mengenakan sepeda tandem, mereka berempat berolahraga berkeliling komplek, sebelum akhirnya mereka keluar menuju salah satu lapangan yang berada di dekat komplek perumahan Tante Bunga. "Om kamu kebapakan anget ya," ucap Alex saat Rena bilang mau makan bu







