Share

MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)
MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)
Author: Lystania

Pinggir Jalan

Author: Lystania
last update Last Updated: 2025-12-04 17:51:48

"Eh, kok mogok?” Gadis berkemeja pink itu menepikan motornya yang tiba-tiba saja mati mesin. Rena Miranda nama gadis itu, yang kemudian sibuk mengecek tangki bahan bakar motor maticnya. Rena tertawa kecil menyadari kalau tangki motornya kosong. Cepat ia mendorong motornya menuju lapak pedagang yang berada tidak jauh darinya.

"Dua liter ya, Pak, " ucap Rena sambil membuka jok motor lantas melirik jam di tangannya yang hampir menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Untung saja kantornya sudah terlihat dari tempat ia mengisi bahan bakar.

Reflek Rena menatap seorang anak kecil perempuan yang berjalan sendirian menuju kulkas yang berisi minuman dingin. 

"Anak cantik mau beli apa?" tanya Rena ramah mengelus rambut hitam anak itu. Ia melihat anak kecil itu memegang dua lembar uang dua ribuan.

“Mau itu. Putri mau itu,” kata gadis kecil itu menunjuk salah satu minuman susu dalam kemasan. Rena tersenyum kecil sambil melihat ke sekitarnya, barangkali anak di depannya itu bersama seseorang, tapi ternyata tidak. Hatinya berdecak kesal karena bisa-bisanya anak sekecil ini lepas dari pengawasan orang tua. 

“Uangnya simpan aja ya. Tante beliin,” kata Rena menyimpan uang kertas yang dipegang gadis kecil itu ke dalam saku celana.

“Uang yang Putri bawa gak cukup ya, Tante? Nanti Tante minta sama Papanya Putri ya, uang Papa banyak kok,” ucap Putri begitu lucu sambil menerima susu kemasan yang Rena belikan dan mengucapkan terima kasih.

Rena cepat merogoh uang dari saku celana dan memberikannya pada pedagang itu, karena ingin mengejar gadis kecil tadi yang sudah berjalan seorang diri. Mengendarai motornya, Rena berhenti di depan gadis kecil itu.

“Putri mau kemana? Tante anterin ya? Takut nanti ada apa-apa sama Putri,” kata Rena yang langsung disambut dengan anggukan kepala Putri. Gadis kecil itu kemudian naik dan berdiri di depan Rena yang mengemudikan motor. Betapa terkejutnya Rena saat Putri minta berhenti dan menunjuk sebuah gedung yang merupakan tempat ia bekerja.

“Hah? Anak siapa nih Putri? Kok aku gak pernah lihat?” gumam Rena dalam hati. Ia jadi agak kikuk saat memarkirkan motornya di halaman kantor karena melihat beberapa orang tampak berdiri kebingungan di depan kantor, termasuk bosnya, Alex.

“Makasih ya, Tante,” ucap Putri tersenyum manis lantas turun dari motornya. Gadis kecil itu berjalan menaiki anak tangga kemudian memeluk seorang pria yang tak lain adalah Alex. 

“Papa, Putri beli ini,” ucapnya penuh semangat tanpa tahu bahwa dari tadi Alex mencarinya ke mana-mana. Meski masih kesal, Alex sudah tenang karena Putri sudah kembali. Netra pria itu kemudian menatap ke arah depan tempat Rena berdiri, membuat gadis itu mematung.

“Telat lagi? Sudah jam berapa ini?” Alex melotot.

Menelan salivanya, Rena menjelaskan penyebab ia jadi terlambat.

“Tante di sini?” Celetuk Putri yang telah menghabiskan minumannya.

Rena hanya tersenyum tipis.

“Papa, Putri minta uang. Uang ini gak cukup tadi Putri beli jajan,” ucap Putri mengeluarkan uang dari sakunya.

“Terus yang bayar siapa?” Alex menoleh ke arah Putri.

“Tante itu yang bayarin,” ucap Putri kemudian melambaikan tangan pada Rena, kemudian berbalik masuk ke dalam kantor meninggalkan Alex dan Rena yang masih berada di luar.

"Sudah datang telat, terus bawa anak saya tanpa izin!" seru Alex berjalan mendekati Rena. Suara Alex yang cukup nyaring membuat beberapa karyawan yang sedang melintas menoleh ke arah mereka.

"Saya gak tahu kalau Putri anak Bapak. Tadi saya ketemu sama dia di warung depan Pak. Mau jajan tapi uangnya gak cukup," ucap Vina dengan penekanan pada kalimat terakhirnya.

'Banyak duit tapi ngasih jajan anak pelit,' ucap Rena dalam hati kesal pada Alex. Sepagi ini sudah marah-marah. 

“Permisi, saya mau masuk!” balas Rena tak kalah ketus.

Semakin hari Rena semakin kesal melihat tingkat bosnya itu. Ada-ada saja kejadian yang membuatnya kena omelan. Kalau bukan karena gaji dan bonus yang besar, mungkin Rena sudah dari dulu berhenti. 

***

Alex sibuk dengan tumpukan rekening koran di mejanya. Mengecek dan mencocokkan dengan data pengeluaran kantor, sementara Putri berbaring di sofa menonton film kartun dari ponsel. 

“Putri, duduk. Nanti matanya rusak!” seru Alex membuat Putri kaget, hingga mengakibatkan ponsel yang ia pegang jatuh menimpa wajah.

Spontan Putri menangis kencang dan melempar ponselnya ke lantai. Rena yang baru saja membuka pintu ruangan Alex kaget melihat Putri yang tengah menangis.

“Putri cantik kenapa?” tanya Rena menghampiri Putri dan mengusap-usap rambutnya.

“Papa bikin kaget. Muka Putri sakit kejatuhan ponsel,” kata Putri sambil sesenggukan.

“Sini. Air matanya di lap dulu,” kata Rena lembut menarik tisu dan menyeka air mata Putri. Ia juga mengambil ponsel yang ada di lantai dan meletakkannya di atas meja.

Begitu tangis Putri mereda, Rena malah mengajak Putri untuk ikut ke mejanya. Tentu saja Putri langsung mengangguk

“Laporannya mana?” Suara Alex meninggi, menghentikan langkah Rena dan Putri.

Rena membukakan pintu dan membiarkan gadis kecil itu keluar terlebih dahulu, kemudian membalikkan badan, berjalan menuju meja Alex. 

"Maaf, Pak." Rena nyengir.

"Kamu," ucap Alex mengambil kertas dari tangan Rena.

"Kamu sebenarnya mau kerja atau mau main-main sih? Sering datang telat, di kantor bukannya kerja. Ini malah main-main, sama anak saya lagi!"

"Saya terlambat paling cuma dua atau tiga kali, mana bisa dibilang sering? Iya saya tahu, saya kerja di sini. Tapi saya gak tega lihat anak kecil nangis sendirian. Dicuekin sama orang tuanya," ucap Rena kesal.

"Maksud kamu apa?" tanya Alex menatap Rena tajam.

"Permisi, Pak." Rena keluar dari ruangan Alex.

Gak tahu apa kesalahan yang sudah ia lakukan hingga Alex selalu saja marah padanya. 

“Sabar. Sabar. Sebentar lagi gajian, Ren,” batin Rena mencoba menenangkan diri. 

Dari dalam ruangannya, Alex menghela nafas lega. Entah kenapa setiap kali Alex  dalam masalah, ia selalu menjadikan Rena tempat pelampiasan emosinya. Jelas terlihat kalau Rena begitu mudah membuat Putri tertawa, padahal mereka baru saja bertemu. Alex meraih selembar kertas usang dari dalam lacinya. Kertas yang berisikan sebuah pesan yang selalu membuat hatinya tidak karuan sejak Rena bekerja di perusahaannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Salah Ruangan

    Hari ketiga Alex tak masuk kantor. Ia tengah berada di rumah sakit, menemani Ira yang sedang dirawat karena sakit jantungnya kumat. Itu artinya, sudah dua malam Rena lembur menjadi pengasuh. Sepulang kerja, ia harus ke rumah Eric untuk menemani dan menidurkan Putri. Meski di rumah Alex ada Bi Siti yang menemani, Putri bersikeras ingin ditemani tidur oleh Rena.Dengan mata yang masih mengantuk, ia berjalan menuju meja kerjanya."Pulang jam berapa dari rumah Pak Alex, Ren?" tanya Manda."Gak tahu, Nda. Gak lihat jam lagi." Rena menyahut dengan mulut menguap lebar."Kamu tidur sana gih di ruangan Pak Alex. Soalnya nanti siang, pesan Pak Alex kamu harus ke rumah sakit, bawain buku cek yang harus ditandatangani dia," ucap Bu Ria."Kenapa gak Manda aja sih yang disuruh," sungut Rena hampir menangis."Pesan Pak Alex gitu, gimana dong," sahut Manda."Yang penting sekarang kamu istirahat aja sana," suruh Bu Ria lagi.Dengan langkah sempoyongan Rena menuju ruangan Alex. Merebahkan diri di atas

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Perseteruan Sepihak

    "Ada gila-gilanya kali Pak Alex ya, Nda?"Manda tertawa seraya mengaduk minumannya. Mereka tengah menikmati waktu senja di salah satu cafe dekat kantor, setelah pulang kerja."Jadi pengasuh Putri itu ide bagus kali, Ren.""Aku memang senang bisa main sama Putri, tapi membayangkan akan terus berhadapan sama Pak Alex, aku gak sanggup, Nda.""Siapa tahu upah jadi pengasuh Putri besar, Ren. Lumayan kali buat tabungan. Anaknya Pak Alex kan baik, nurut lagi sama kamu. Pasti gak bakal repot ngurus dia. Lagian pekerjaan jadi pengasuh itu bagus. Bagus untuk mengasah kemampuan mendidik anak."Seraya memakan sosis yang ada di meja, otaknya berpikir. Semua perkataan Manda ada benarnya juga. Untuk anaknya, pasti Alex rela memberikan yang terbaik. Termasuk upah yang setimpal untuk menjadi pengasuh.***"Tadi Putri main sama Tante Rena lo, Oma," lapor Putri pada Ira sesaat setelah selesai makan malam."Kata Papa, Putri sekolah. Kok malah main sama Tante Rena?""Baru sebentar ditinggal, dia sudah nan

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tugas Baru

    Sabtu ini, Rena harus terima kalau Mama dan Tisa pergi liburan ke rumah Tante Olin, Adik Mama, yang berada di Bandung. Yang artinya beberapa hari ke depan Rena akan sendirian di rumah. "Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Mama sebelum masuk ke mobil yang dikirimkan Tante Olin untuk menjemput. "Iya, Ma." "Dadah, Kakak." Tisa melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil. Begitu mereka pergi, Rena juga bersiap pergi ke kantor. Tak lupa ia membeli sarapan pagi sebelum tiba di kantor. Tampak Manda telah sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya, hingga wajahnya tak terlihat lagi. "Ngapain sih pagi-pagi sudah makan kertas?" Rena meletakkan tasnya di meja. "Kerjaan kamu nih, Ren," ucap Manda. "berkas yang kemarin kecampur sama berkas yang sudah beres. Jadinya kan harus dipilih lagi." "Aduh maaf ya, Nda. Aku kirain kemarin berkas yang di meja kamu itu sama kayak berkas yang aku kerjain. Jadinya aku gabung. Ntar aku makan sebentar ya, nanti aku pisahin

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Lelaki Lain

    Rena telah tiba di kantor. On time. Tekadnya tak ingin lagi terlambat masuk kantor, agar Alex tidak memiliki alasan untuk mengomeli dan menunda pembayaran gajinya lagi."Tumben kamu sudah datang?" tanya Manda yang melihat Rena sudah duduk dibalik layar komputernya."Biar bos gak ada alasan buat nunda pembayaran gaji aku.""Hah!" seru Manda kaget.“Kesel banget tahu gak sih, sama kelakuan Pak Alex. Rasanya pengen nonjok muka dia.”“Tapi kalau aku lihat, kayaknya Pak Alex bermasalahnya cuma sama kamu aja deh, Ren.”“Aku juga gak ngerti. Apa sih, salah aku sama dia? Semua yang aku kerjakan pasti ada aja yang bikin dia ngomel.”Lisa menjentikkan jarinya. “Aku tahu salah kamu apa?”Rena memasang tampang serius, siap mendengarkan ucapan Manda.“Salah kamu itu, kamu kurang perhatian sama Pak Alex. Kamu kan sekretaris dia, harusnya kamu lebih perhatian sama dia. Bukannya malah ngejar bonus dari penjualan rumah.”“Perhatian dari hongkong! Ya kali perhatian sama dia bisa dapat uang. Lebih baik

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tak Sengaja Bertemu

    Dengan sisa gajinya yang ada, Rena membayarkan tagihan listrik dan air melalui aplikasi di ponselnya. Sesuai dengan ucapan Alex, harusnya hari ini gajinya sudah masuk ke rekening."Apa karena hari ini hari sabtu ya?" tanyanya sendiri. Ia berkali-kali mengecek aplikasi mobile banking-nya, tapi saldonya masih tetap sama. Tak ada penambahan, malah kurang karena membayar tagihan tadi. Rena melempar kesal ponselnya ke atas kasur, kemudian melangkah keluar. Untung saja, Mama dan Tisa sudah punya kegiatan masing-masing hari ini, kalau tidak mereka pasti sudah mengajak Rena untuk jalan-jalan. Setelah Tisa dan Mama pergi, Rena juga bersiap, untuk pergi ke mall. Cuci mata untuk menghilangkan penat sejenak.Mengendarai motor maticnya, Rena menuju mall yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Gadis itu benar-benar menjaga pandangan matanya agar tidak melihat barang yang menarik perhatiannya. Ia menaiki eskalator berkeliling tiap lantai, kemudian turun. Bersiap hendak menuruni satu lantai lagi,

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tertunda

    Rena berbaring sembari melepas pelan hansaplast yang menutupi luka di jari telunjuknya. Memorinya memutar ulang kejadian di dapur kemarin."Ada apa dengan Pak Alex ya?" Rena memandangi jari telunjuknya."Kok belum tidur? Sudah jam sepuluh begini," ucap Mama membuat Rena kaget lantas menarik selimutnya.***Tidak ingin terlambat sampai ke kantor, pukul enam gadis itu telah bangun. Setelah mengenakan pakaian dan memoles tipis make up pada wajahnya, Rena menyampirkan tas di baju lantas keluar dari kamar."Kak, Tisa ikut sampai depan ya?""Tapi kamu sudah siap ‘kan?""Sudah dong, kak,” ucap Tisa tersenyum lebar. Begitu menurunkan Tisa di depan komplek, Rena langsung meneruskan perjalanannya menuju kantor. Begitu senangnya Rena saat mendapati kantor masih sepi. Hanya ada ia dan Pak Lukman, lelaki paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan kantor."Pagi banget sudah datang ke kantor, Mbak?""Iya nih, Pak," sahut Rena seraya berjalan menuju mejanya, melewati Pak Lukman yang sedang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status