Share

Lelaki Lain

Author: Lystania
last update Last Updated: 2025-12-07 07:24:17

Rena telah tiba di kantor. On time. Tekadnya tak ingin lagi terlambat masuk kantor, agar Alex tidak memiliki alasan untuk mengomeli dan menunda pembayaran gajinya lagi.

"Tumben kamu sudah datang?" tanya Manda yang melihat Rena sudah duduk dibalik layar komputernya.

"Biar bos gak ada alasan buat nunda pembayaran gaji aku."

"Hah!" seru Manda kaget.

“Kesel banget tahu gak sih, sama kelakuan Pak Alex. Rasanya pengen nonjok muka dia.”

“Tapi kalau aku lihat, kayaknya Pak Alex bermasalahnya cuma sama kamu aja deh, Ren.”

“Aku juga gak ngerti. Apa sih, salah aku sama dia? Semua yang aku kerjakan pasti ada aja yang bikin dia ngomel.”

Manda enjentikkan jarinya. “Aku tahu salah kamu apa?”

Rena memasang tampang serius, siap mendengarkan ucapan Manda.

“Salah kamu itu, kamu kurang perhatian sama Pak Alex. Kamu kan sekretaris dia, harusnya kamu lebih perhatian sama dia. Bukannya malah ngejar bonus dari penjualan rumah.”

“Perhatian dari hongkong! Ya kali perhatian sama dia bisa dapat uang. Lebih baik mengejar yang pasti ada uangnya dong," sahut Rena tak terima dengan ucapan Manda, “memangnya dia siapa?”

Rena terus nyerocos, meski Manda telah memberikan kode padanya untuk berhenti ngomong, karena orang yang sedang mereka perbincangkan, telah datang. Sampai suara batuk yang cukup keras membuat Rena berhenti bicara dan berbalik.

“Mampus aku,” batinnya takut.

"Sepagi ini kalian sudah bergosip? Ckck. Kembali kerja!” perintah Alex yang kemudian berlalu masuk ke dalam ruangannya. Tak banyak berkutik, Manda dan Rena kemudian sibuk dengan layar komputer masing-masing.

***

Di kamarnya, Putri baru saja terbangun tepat pukul setengah sembilan pagi. Terlalu capek bermain, sehingga membuatnya bangun kesiangan. Gadis cantik itu membawa boneka beruang berwarna putih, berjalan keluar kamar, memanggil Ira.

“Oma, gak bangunin Putri. Putri kan mau ikut ke kantor Papa,” ujar Putri dengan muka bantal. Ia duduk di kursi teras, memperhatikan Ira yang tengah membenahi bunga-bunga mawarnya.

“Memangnya mau ngapain di kantor Papa, Sayang? Lebih enak di rumah, main sama Oma. Bisa nonton kartun, bebas minta dimasakin makanan sama Bi Siti,” sahut Ira dengan netra yang fokus pada bunga di depannya.

“Putri mau main sama Tante Rena, Oma,” ucap Putri serius.

Mendengar perkataan Putri, Yanti segera menyudahi aktivitas paginya kemudian menghampiri cucunya itu.

“Kantor Papa bukan tempat main, Putri. Di sana tempat orang kerja, termasuk Tante Rena. Dia gak bisa setiap saat temenin Putri main. Kan dia harus kerja,” ucap Ira memberikan pengertian pada cucunya.

“Putri gak ganggu kok, Oma,” ucap Putri seraya menggelengkan kepalanya, “Putri cuma duduk di samping Tante Rena aja. Kalau Tante Rena gak sibuk, baru Putri ajak main.”

Ira menghela nafas panjang, mendengar rengekan Putri yang ngotot ingin ke kantor Alex. Ia memandangi sejenak wajah polos Putri. Cucu perempuan yang sifatnya sama dengan Alex, keras kepala dan harus mendapatkan apa yang di mau.

“Putri pergi mandi dulu, terus sarapan. Nanti kita ke kantor Papa,” ucap Ira yang disambut senyum manis Putri.

“Memangnya Rena ini seperti apa, sampai Putri ingin bertemu setiap hari,” gumam Ira penasaran.

***

Daripada di kantor melihat wajah Alex yang menyebalkan, Rena yang biasanya agak malas berurusan ke bank, kini dengan sukarela menawarkan diri pada Manda agar ia saja yang pergi. Tiga puluh menit perjalanan menuju bank, Rena harus dibuat menunggu lagi dengan beberapa prosedur penarikan.

“Cinta.” Satu kata dengan nada suara yang sangat familiar terdengar tepat di telinga Rena. Ia menoleh pelan ke sebelah kanan, dan melihat orang yang tak asing tengah tersenyum padanya.

"Cintaku, aku kangen kamu,” ucapnya lagi dengan wajah penuh kegembiraan.

”Nico?” Antara kaget dan bingung, Rena tak tahu harus bersikap seperti apa dengan laki-laki itu. Laki-laki yang dengan mudahnya mengkhianatinya dulu. Mendua di belakangnya.

“Kamu ngapain di sini?”

“Kamu lihat aku lagi ngapain di sini?” Rena bertanya balik. Belum sempat Nico menjawab, Rina telah beranjak dari kursi dan menuju loket teller. Di kursinya, Nico masih setia menunggu Rena selesai bertransaksi.

“Uang sebanyak itu buat apa?”

“Uang kantor aku, Nico,” ucap Rena, “aku duluan ya.”

Nico yang masih ingin bernostalgia dengan Rena, mengejarnya hingga parkiran, menawarkan diri untuk mengantarkan Rena ke kantor.

“Aku bisa sendiri, Nic.” Rena menolak tawaran Nico dan berlalu dengan motornya. Tak tinggal diam, ia malah mengikuti Rena. Pria itu sangat ingin minta maaf untuk kesalahannya di masa lalu. Kesalahan bodoh yang membuatnya harus kehilangan Rena yang tulus sayang padanya.

Perlahan mengikuti motor Rena, tiba-tiba gadis itu menepi. Sangat jelas terlihat kepanikan di wajah Rena.

“Kamu kemana saja? Sudah satu setengah jam kamu belum sampai kantor juga?” Alex sedikit berteriak di ujung telepon. Menambah kepanikan Rena yang sedari tadi terus mencoba menyalakan motornya, tapi tetap tak bisa.

“Cepat kamu kembali ke kantor!” seru Alex lagi sambil mematikan sambungan teleponnya.

“Ya ampun. Argh!” umpat Rena kesal.

“Mogok?” tanya Nico mengagetkan.

“Iya,” sahut Rena ketus.

Netra Nico menyusuri setiap sudut jalanan, mencoba mencari bengkel yang ada di sekitar.

“Eh, mau dibawa kemana?”

“Itu ada bengkel di sana,” ucap Nico menunjuk bengkel yang ada di pinggir jalan, “kamu tunggu di sini sebentar ya.”

Pasrah, Rena hanya bisa melihat Nico menuntun motornya lumayan jauh menuju bengkel. Dalam hatinya berharap agar motornya cepat selesai, agar ia bisa cepat kembali ke kantor, sebelum tanduk Alex keluar. Sepuluh menit kemudian, Nico datang sendiri tak membawa motor milik Rena.

“Gak bisa ditunggu antriannya masih banyak. Lagian, kamu motor sudah lama gak di service. Gak ganti oli juga,” ucap Nico seraya menjelaskan penyebab motor Rena mogok. Tak ada pilihan lagi, Rena akhirnya menerima tawaran Nico untuk mengantarkannya ke kantor.

Mobil hitam Nico memasuki halaman kantor. Ira, Alex, dan Putri yang tengah duduk di sofa depan melihat jelas Nico yang membukakan pintu untuk Rena.

“Masih suka berlebihan kamu, Nic,” ucap Rena turun dari mobil, “makasih ya. Maaf merepotkan.”

“Untuk kamu aku selalu ada. Nanti kita ketemu lagi ya,” pamit Nico.

Di depan pintu, Putri sudah berdiri sambil memanggil-manggil nama Rena. Ia langsung memeluk Rena begitu wanita yang ditunggunya telah sampai.

“Sama siapa kamu? Motor kamu mana?” cecar Alex jutek.

“Teman, Pak. Tadi motor saya rusak, jadi tinggal di bengkel,” terang Rena sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang kepada Alex.

“Lain kali, kamu hubungi orang kantor. Bukannya malah minta jemput sama teman kamu yang gak jelas itu. Apalagi kamu bawa uang kantor,” ketus Alex yang kemudian berlalu menuju ruangannya.

Menyaksikan tingkah Alex pada Rena, membuat Ira bingung. Sulit membedakan sikap Alex. Apakah Alex memang tidak suka dengan Rena atau hanya mencari-cari alasan saja agar dapat terus bersinggungan dengannya.

“Bukan seperti sifat Alex yang biasanya,” Gumam Ira dalam hati. Yakin sebenarnya Alex memiliki rasa pada Rena.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Cerita Lama Mama

    Selesai makan malam, mereka bertiga santai di ruang tamu sambil menikmati siaran TV. Rena meraih ponselnya lalu membuka galeri fotonya. Ia kaget setengah mati tak menemukan foto keluarga Alex yang di potretnya kemarin. Rena sngat yakin meski fotonya tak jelas, ia sama sekali tak menghapus foto itu. Mencoba mencari di seluruh folder yang ada di ponselnya tapi tetap saja tidak ada. Foto itu menghilang secara misterius. Takut, bingung, gak ngerti, gak percaya, semua rasa itu berkecamuk dalam dirinya. Ia meletakkan ponselnya di meja kemudian mengalihkan fokusnya."Ma," panggil Rena sedikit ragu. "Kenapa, Ren?" sahut Mama tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.Rena terdiam. Bingung mau bicara mulai mana. "Mau nanya apa?" tanya Mama.Terlihat jelas wajah anak gadisnya itu menyimpan sesuatu, hingga Mama yakin pasti ada yang ingin Rena tanyakan."Rena ini benar anak kandung Mama sama Papa kan?" Meski ragu, kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya."Ih, K

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Di Makam

    Beruntung sebelum jam makan siang Alex dan Rena telah tiba di kantor. Pertemuan dengan klien tadi berjalan dengan lancar dan cepat. Baru saja akan memesan makan siang untuk Alex, pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba. Desita langsung masuk tanpa aba-aba."Lex, dari tadi aku telepon kamu. Tapi kamu gak angkat," ucapnya yang kemudian telah berdiri di samping Alex yang tengah menatap layar ponselnya.“Ampun ini mantannya Pak Alex, gak ada sopan-sopannya sih. Bilang salam kek, ini main ngeluyur masuk aja,” gumam Rena dalam hati dongkol. Ia benar-benar tak suka dengan adanya Desita. "Iya tadi lagi rapat sama klien, Des. Ini juga baru sampai," sahut Alex. Desita kemudian menarik manja tangan Alex."Kita makan siang di luar yuk, Lex. Kamu gak boleh nolak. Pokoknya gak boleh."Tak ada pilihan lain, Alex akhirnya mengikuti permintaan Desita juga. Ia malas mendengar rengekan manja Desita."Cuma kita berdua aja ya," ucapnya lagi saat melihat Alex melirik ke arah Rena.

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Buram

    Pagi-pagi sekali Rena telah siap pergi ke kantor. Sebelumnya ia sudah meminta Alex untuk tidak mengantar jemputnya lagi. Mencium punggung tangan Mama, gadis yang mengenakan kemeja biru itu mengendarai motor maticnya pergi bekerja.Ia khusus pagi-pagi sekali pergi ke kantor untuk mencari foto keluarga Alex. Gadis itu masih penasaran dengan wanita di foto itu. Lebih tepatnya penasaran dengan wajah mendiang istrinya Alex. Ia merasakan ada kemiripan dengan wanita yang beberapa tahun lalu ia temui di taman."Pagi banget ngantor, Mbak," sapa Pak Ian."Iya nih, Pak." Rena tersenyum seraya berlalu menuju ruangannya di lantai dua.Melewati beberapa ruangan yang masih kosong, ia sampai juga di ruangan kerjanya. Setelah meletakkan tasnya di atas meja, Rena langsung membuka laci kedua dan ketiga yang kemarin belum sempat diperiksanya."Gak ada juga," ucapnya seraya menghela nafas. Ia kemudian berdiri tepat di belakang kursi Alex memperhatikan meja kerja bosnya. Barangkali ad

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Mimpi Itu

    Niat hati mau bangun pagi dan masuk kerja seperti biasa, pada kenyataannya Rena malah bangun jam setengah delapan. Itu juga karena Mama yang bolak balik ke kamar untuk membangunkannya. "Kayaknya kalau kamu telat, sekarang udah gapapa ya sama Alex?" Mama membuka gorden kamar. "Tetep aja kali, Ma." Rena bangun dan membereskan tempat tidurnya. "Kamu jangan bikin Mama jadi negatif thinking lagi tentang bos kamu dong." Rena tertawa. "Banyak banget kuenya? Dari Om Arsyad?” "Iya, Ma. Itu juga ada sepatu dari Tante Bunga. Rena taruh di meja ruang tamu," ucap Rena seraya meregangkan badannya. “Mama sudah liat,” sahut Mama yang kemudian menyuruh Rena untuk mandi. *** Tiba di kantor tepat pukul setengah sembilan, Rena tak melihat mobil Alex di parkiran. Gadis itu jadi bisa santai sejenak di ruangan Manda. "Capek banget, Nda. Capek di jalan," ucap Rena meletakkan sekotak kue di meja Manda. "Capek di jalan atau capek dijalani sama Pak Alex?" Manda terkekeh. "Jangan mulai deh

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Jalan Pulang

    Menikmati suasana adem di Bandung, pagi ini mengenakan sepeda tandem, mereka berempat berolahraga berkeliling komplek, sebelum akhirnya mereka keluar menuju salah satu lapangan yang berada di dekat komplek perumahan Tante Bunga. "Om kamu kebapakan anget ya," ucap Alex saat Rena bilang mau makan bubur ayam dan Om Arsyad langsung membelikannya. "Iya. Om orangnya baik banget. Gak pernah marah, apalagi ngancam," ucap Rena sambil menatap Alex dengan mata yang membesar. "Kamu ngeledek saya?" "Bapak ngerasa? Bagus kalo gitu." Rena tertawa. Alex langsung mengalungkan pelukan erat di leher gadis itu. "Putri aja sering Bapak marahin. Jangan anak, karyawan aja juga ikut Pak Alex marahin." "Marahkan ada sebabnya," sahut Alex tak mau kalah. Ia melepaskan Rena saat Om Arsyad datang membawakan bubur ayam untuk mereka. "Ini bubur ayamnya. Oh iya, minumnya mau apa, Sayang?" "Jus aja, Om." "Jus alpukat ya. Tunggu sebentar ya," ucap Om Arsyad yang kemudian menghampiri penjual jus. “A

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Di Sini

    Bingung dengan apa yang dilakukan Alex, Rena mendorong pelan pria itu sambil menggeser duduknya sedikit menjauh."Nanti dikirain orang mesum, Bapak jangan dekat-dekat deh," ucap Rena."Cuma cium kening masa dikira mesum? Terus yang di kamar tadi pagi apa namanya?"Seketika wajah Rena memerah."Emang jablay sih Pak Alex. Udah lama enggak kan?" ledek Rena."Hati-hati ya kamu. Gak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, siapa tau malah kamu yang jablay sama saya," ucap Alex nakal dengan kedua alis terangkat."Jangan sampai ya. Sebelum itu terjadi, saya pasti sudah resign." Gadis itu beranjak dari kursi."Berani kamu resign, lihat aja nanti akibatnya," ucap Alex mengiringi langkah kaki Rena."Sudah galak, suka emosi, sekarang malah suka ngancam."Alex tertawa lantas merangkul pundak sekretarisnya itu.“Rei, wanita yang kamu pilihkan ini memang lain daripada yang lain,” batinnya. Menikmati suasana taman yang rindang hingga waktu menunjukkan puku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status