Share

Bab 4

Author: Hes
Setelah siaran langsung dimulai, aku dihalangi di koridor lantai dua.

Ruang perjamuan di lantai bawah terang benderang, dan Reza berdiri di tengah sorotan kamera, dengan ekspresi wajah yang lembut.

Pembawa acara bertanya sambil tersenyum.

"Malam ini Anda berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Terbaik, dan begitu banyak orang menunggu tanggapan Anda. Pak Reza, apa ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?"

Reza menerima mikrofon.

"Pertama-tama, terima kasih kepada semua orang yang sudah menyukaiku."

Komentar di layar bergulir dengan sangat cepat.

[Kakak pantas mendapatkannya!]

[Malam ini harus memberikan jawaban untuk Keira!]

[Jangan biarkan orang yang menunggumu menangis lagi!]

Aku berpegangan pada pagar pembatas, melihat Keira dipandu staf naik ke atas panggung.

Saat Reza melihatnya, tatapannya menjadi jauh lebih lembut.

"Ada seseorang yang telah menemaniku melewati masa yang sangat sulit."

Keira menutup mulut, air matanya jatuh.

Suasana langsung dipenuhi suara godaan dan sorakan.

Aku berdiri di dalam bayangan, perutku terasa sakit berulang kali.

Tepat saat itu, manajer berjalan cepat naik ke lantai dua sambil membawa selembar pernyataan.

"Nara, tanda tangan di sini."

Aku menunduk untuk melihatnya.

Di dalam pernyataan itu tertulis:

[Saya, Nara Maheswari, hanya merupakan salah satu staf yang bekerja bersama Reza Mahardika pada masa awal karirnya ….]

Setelah membacanya, aku tiba-tiba tersenyum.

"Siapa yang menulis ini?"

Manajer itu menghindari tatapanku.

"Itu keinginan Reza."

"Dia yang menyuruhku menandatangani ini?"

"Reza bilang kau membuat keributan sekarang karena sedang kesal. Selama kau bisa melewati masa ini, dia tidak akan mempermasalahkannya denganmu."

Tidak akan mempermasalahkannya denganku.

Betapa pemaaf dan bermartabatnya dia.

Aku mengembalikan surat pernyataan itu.

"Aku tidak akan menandatanganinya."

Wajah manajer terlihat tidak senang.

"Nara, jangan bertindak bodoh. Kau tahu berapa banyak kamera yang mengarah padanya sekarang? Apa kau benar-benar ingin menghancurkannya?"

Aku melihat ke arah lantai bawah.

Reza sedang menyeka air mata Keira.

Gerakannya begitu lembut, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.

Sementara ujung selendang peninggalan ibuku terseret di lantai dan terinjak hingga kotor.

Aku berkata.

"Aku tidak bisa menghancurkannya."

"Kalau begitu, tanda tangani."

"Tapi aku juga tidak akan menyelamatkannya lagi."

Manajer akhirnya panik dan langsung meraih pergelangan tanganku.

"Nara, jangan lupa dulu kau pernah menandatangani surat kuasa. Kalau kau tidak mau tanda tangan, kami tetap bisa mempublikasikannya."

Hatiku tiba-tiba terasa berat.

Itu adalah surat kuasa kosong yang kutinggalkan ketika Reza diboikot oleh seluruh internet.

Aku takut dia melewatkan waktu terbaik untuk klarifikasi, takut pria itu ditinggalkan oleh investor, takut usaha bertahun-tahunnya hancur seketika.

Tak kusangka, pisau yang kuberikan padanya, pada akhirnya justru digunakan untuk menusuk diriku sendiri.

Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari lantai bawah.

Suara Reza terdengar dari pengeras suara.

"Adapun soal Nara, dia adalah mantan rekan kerja yang sangat aku hargai. Dulu Nara banyak membantuku, tapi karena sudah melewati batasan kerja, maka muncul beberapa kesalahpahaman."

Seluruh tubuhku langsung membeku.

Lampu sorot tiba-tiba menyapu lantai dua.

Semua kamera serentak mengarah kepadaku.

Pembawa acara berkata dengan terkejut.

"Bu Nara juga ada di sini? Kalau begitu, kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita juga meminta Bu Nara memberikan tanggapannya secara langsung?"

Manajer segera menyelipkan surat pernyataan itu ke tanganku dan memperingatkanku dengan suara rendah.

"Baca saja sesuai teks. Jangan membuat Reza berada dalam posisi sulit."

Aku melihat ke bawah.

Reza juga sedang melihatku.

Tatapan itu sangat kukenal.

Dia yakin aku akan mengalah, seperti yang selalu kulakukan selama delapan tahun terakhir.

Selama dia membutuhkan, aku akan mengorbankan diriku sepenuhnya, membukakan jalan yang mulus untuknya.

Aku berdiri diam di tempatku.

Pada saat itu, tiba-tiba aku merasa diriku seperti sebuah lampu tua yang sudah tidak terpakai lagi.

Aku pernah bersinar, bertahan, dan menerangi jalan tergelap untuknya.

Namun begitu hari mulai terang, bahkan saat mencabut sumber dayaku pun, dia masih menganggap keberadaanku sebagai pengganggu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 11

    Pada hari putusan perceraian kami dikeluarkan, salju turun sangat lebat di Nordavia.Bima mengirimkan berkas elektronik itu kepadaku.Aku membacanya cukup lama.[Hubungan pernikahan Nara Maheswari dan Reza Mahardika telah resmi diputuskan.]Hanya satu baris singkat.Delapan tahun masa mudaku seolah dipaku menjadi sebuah arsip lama yang telah disahkan dengan cap resmi.Malam itu, Reza mengirimkan surel terakhir kepadaku.Tanpa sapaan, juga tanpa nama pengirim.[Nara, hari ini aku pergi ke teater tempat ibumu dulu pernah tampil.][Aku duduk di barisan paling belakang dan menonton sebuah drama biasa sampai selesai.][Saat pertunjukan usai, tiba-tiba aku teringat kau pernah berkata bahwa setiap kali ibumu memberi salam penutup, beliau selalu melihat ke sisi kiri kursi penonton terlebih dahulu, karena saat kecil kau selalu duduk di sana menunggunya.][Dulu aku tidak pernah mendengarkannya dengan serius.][Maafkan aku.][Aku sudah menemukan anting itu.][Keira meninggalkannya di ruang rias,

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 10

    Setelah kembali, Reza mengumumkan bahwa dia akan menghentikan sementara aktivitasnya.Saat cuitan itu diposting, seluruh dunia maya pun menjadi heboh.[Karena alasan pribadi, saya akan menghentikan sementara semua kegiatan di dunia hiburan.]Ada yang mengecamnya sebagai orang yang terlalu terpaku pada asmara.Ada pula yang prihatin melihat kondisinya yang kurang baik.Ada juga yang mulai menggali lebih dalam siaran langsung tersebut.Tidak lama kemudian, semua hal tentang diriku yang dulu, seperti menulis pernyataan klarifikasi, menanggung denda pelanggaran kontraknya, dan menjual peninggalan berharga ibuku demi membiayai kelas aktingnya, perlahan-lahan terungkap.Akun rahasia milik Keira juga terungkap.Dia pernah mengunggah sebuah postingan pada tengah malam.[Selama buat dia masih merasa berhutang budi padaku, dia tidak akan pernah benar-benar menjadi milik orang lain.]Kolom komentar pun sepenuhnya berbalik drastis.Manajer Reza pernah meneleponku.Dia berkata. "Nara, kondisi Reza

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 9

    Reza tidak menanggapinya.Dia menatap beberapa kata itu, seolah sedang menatap sesuatu yang mematikan."Aku tidak akan menandatanganinya."Aku meletakkan dokumen itu di tangga batu di samping."Kalau begitu, kita akan lewat jalur hukum.""Nara."Dia tiba-tiba mendongak, matanya penuh dengan urat-urat merah."Delapan tahun kita bersama, apa kau mau membuangnya begitu saja?"Aku menatapnya."Bukan aku yang membuangnya."Aku lanjut berkata. "Kaulah yang sudah membuangnya sedikit demi sedikit."Reza menggeleng, lalu menyangkal."Aku hanya terlalu sibuk.""Sibuk sampai lupa ulang tahunku?""Sibuk sampai membiarkan orang lain memakai cincinku?""Sibuk sampai menggunakan barang warisan ibuku untuk membangun citra orang lain?""Sibuk sampai membuatku menyangkal pernikahan delapan tahun kita di depan umum?"Setiap pertanyaan yang kulontarkan membuat wajahnya semakin pucat.Akhirnya, dia hampir tak mampu berdiri tegak.Aku tak ingin melihatnya lagi.Saat aku berbalik hendak pergi, tiba-tiba dia

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 8

    Dia terpaku di tempat. Angin meniup kue di tangannya hingga salah satu sisinya menjadi miring."Nara, aku tahu aku salah."Selama delapan tahun ini, untuk pertama kalinya aku mendengar dia mengakui kesalahannya.Namun, hatiku sama sekali tidak tergugah.Dia melangkah maju dengan tergesa-gesa."Cincinnya sudah kuambil kembali. Selendangnya juga sudah kukirim. Antingnya ... anting itu akan kutemukan. Soal Keira akan kuselesaikan. Aku bisa mengumumkan hubungan kita. Aku bisa mengumumkannya sekarang juga."Dia mengeluarkan ponsel, jari-jarinya kaku karena kedinginan, tetapi tetap membuka aplikasi sosial medianya."Aku akan mengunggahnya sekarang. Nara, sekarang juga akan kuberitahu semua orang bahwa kau adalah istriku."Aku menahan ponselnya.Secercah harapan muncul di sorot mata Reza."Kau tidak ingin aku mengunggahnya?" "Bukan."Aku lanjut berkata. "Sudah tidak perlu lagi."Wajahnya seketika bertambah pucat.Aku mengembalikan ponselnya."Lihat Reza, bahkan sampai sekarang kau masih bel

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 7

    Keesokan paginya, Bima mengirimkan selendang itu ke Nordavia.Saat paket itu dibuka, aku terdiam cukup lama.Kain berwarna putih bulan itu telah dicuci hingga kusut, dan benang merah di sudutnya yang dulu dijahit miring oleh tangan ibuku, kini putus.Bekas putusannya masih sangat baru.Seolah seseorang menariknya dengan tergesa-gesa.Bersama paket itu juga dikirimkan kotak kayu lama tersebut.Di dalamnya ada satu anting yang hilang.Aku menatap tempat yang kini kosong itu, mataku terasa sangat perih.Sepasang anting itu adalah benda yang dikenakan ibuku sebelum terakhir kali tampil di panggung.Kemudian, demi membiayai Reza belajar akting, aku menjual sebagian besar peninggalan ibuku dan hanya menyisakan sepasang anting ini.Sekarang hanya tersisa satu.Aku mengirim pesan kepada Bima. [Yang satu lagi di mana?]Sepuluh menit kemudian, dia membalas. [Pihak Pak Reza bilang kalau Bu Keira tidak sengaja menghilangkannya saat proses rekaman dan saat ini sedang dicari.]Aku menatap baris pe

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 6

    "Nomor yang Anda tuju tidak aktif."Reza berdiri terpaku di ruang kerja, tak bergerak selama beberapa saat.Kemudian, pengacaraku yang bernama Bima memberitahuku bahwa malam itu dia menelepon nomorku sebanyak dua puluh tujuh kali.Dari awalnya hanya bersikap dingin, lalu membanting ponsel, hingga akhirnya berjongkok di depan meja kerja sambil membolak-balik berkas yang kutinggalkan satu per satu.Di laci ruang kerjanya terdapat dokumen serah terima pekerjaan yang telah kususun dengan rapi.Jadwalnya selama enam bulan ke depan, hal-hal yang harus dihindari oleh mitra kerja, sifat beberapa sutradara, potensi risiko terbaru dari komunitas penggemar, hingga hal-hal sensitif yang tidak boleh disentuh terkait pihak sponsor, semuanya telah kutulis dengan rinci.Bahkan hotel mana yang bisa menyiapkan bubur lebih awal karena lambungnya bermasalah pun kutuliskan dengan sangat jelas.Hanya saja, aku tidak meninggalkan satu kalimat pun untuknya.Saat membuka hingga bagian paling akhir, Reza baru m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status