Share

S2 Bab 60

last update Last Updated: 2026-03-12 16:19:11

"Ya Allah Pak, Bu. Kenapa Ibu dan Bapak bisa mengatakan seperti itu?"

"Laila, Ibu dan Bapak hanya ingin Zain bisa hidup bahagia di tempat kami. Selama ini Hanif tidak bisa menyayangi Zain, kami bisa memberikan apa yang Hanif tidak bisa. Itu saja Laila."

"Bu, Laila mohon, apapun yang terjadi tolong jangan bawa Zain pergi dari sini. Kalau Mas Hanif tidak bisa menyayangi Zain, ada Laila di sini. Laila yang akan memberikan seluruh hati Laila sepenuhnya kepada Zain dan lainnya. Laila akan menjadi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 68

    "Kenapa Bu?" "Sayang, kamu harus janji sama Ibu. Jangan pernah katakan seperti itu lagi sama Ibu," ujar Laila memeluk Zain dengan cepat dan erat."Emm iya," balas Zain tidak mengerti. Namun tetap mengiyakan permintaan Laila. "Zain harus janji sama Ibu," tambah Laila. "Iya, Jen janji." "Zain juga harus janji, tidak akan meninggalkan Ibu sendiri." "Janji." "Kamu harus tumbuh menjadi anak yang besar dan kuat." "Humm," angguk Zain. Laila melepaskan pelukannya. Menatap wajah Zain lalu mencium kening dan pipinya. Kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolah Rauzah. *** "Kalian mau main sampai jam berapa. Ini sudah malam. Sana tidur," suruh Hanif menegur Rauzah, Zain dan Yusuf yang masih bermain. Yusuf dan Rauzah sedang memainkan robot baru yang dibawa pulang oleh Zain. Zain menunjukkan kepada mereka berdua, membiarkan mereka untuk bermain dengan robot tersebut. Sehingga mereka belum mau tidur. Masih ingin bermain. Laila sudah menjelaskan kepada Hanif bahwa Zain mendapatkan mainan

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 67. Pelukannya Beda

    Ruangan rumah sakit itu membisu selama beberapa menit. Setelah Papa Dika sedikit bisa mengobati rasa Rindunya kepada sang anak melalui pelukan Zain, baru dia melepaskan pelukannya. "Om jangan nangis ya," bujuk Zain. "Iya, Om tidak akan menangis lagi," sahut Papa Dika menahan air mata yang ingin keluar kembali. "Jadi Zain, apa Zain mau membawa kembali robot itu," ujar Papa Dika. "Tapi …." "Om juga mau memberikan beberapa boneka milik Dika kepada kamu. Kamu sudah dianggap adik oleh Dika. Mau ya." "Emmm," gumam Zain bingung. "Sebentar." Papa Dika berdiri, lalu berjalan ke arah salah satu mainan milik Dika. Setelah itu berjongkok lagi di depan Zain." "Ini adalah mainan robot yang paling Dika suka. Sekarang dia kesepian, sudah tidak ada Dika. Zain mau bermain dengan robot ini. Dia bisa jadi teman bermain robot yang Zain pegang." Zain menatap antara robot di tangannya dan yang ada di tangan Papa Dika. Dia tidak tega jika robot itu tidak ada teman bermain. Pasti kesepian jika send

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 66

    "Kemarin, tiba-tiba tubuhnya drop. Ini kami mau bereskan semua barang-barang. Kemarin kami tidak sempat membereskannya." "Kak Dika sudah sembuh dong," ujar Zain dengan polos. Zain tidak mengerti sepenuhnya apa yang Laila dan Mama Dika bicarakan. Hanya satu yang dia tangkap, Dika tidak akan sakit lagi. Artinya Dika sudah sembuh. "Zain!" seru Laila. "Jadi Dika ada dimana Tante?" tanya Zain mengabaikan seruan Laila. Papa Dika dengan perlahan berjalan ke arah Zain. Setiap dia mengunjungi anaknya beberapa minggu belakangan ini, Dika sering menyebut dan membahas tentang Zain. Lalu dia berjongkok di depan Zain. Memandang wajah Zain mengingatkannya pada Dika yang sudah pergi. Zain memperhatikan apa yang dilakukan Papa Dika dengan seksama. "Sekarang Dika sudah pergi jauh," sahut Papa Dika dengan sendu menahan tangisan. "Jauh? Ke mana Om? Apa Jen boleh ikut?" "Zain!" seru Laila ingin memeluk Zain. Laila tidak akan membiarkan Zain pergi dari sisinya. Walaupun Zain tidak tahu makna da

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 65. Kepergian Dika

    Laila tersenyum melihat Zain yang keluar bersama Lisa dari ruangan kelas. Zain bisa mengikuti pembelajaran sampai jam berakhir. Tidak ada kendala. "Sayang, bagaimana sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Laila saat Zain dan Lisa sudah berdiri di depannya. "Seru Tante. Tadi kami disuruh menyanyi dan menari," sahut Lisa, bukan Zain. *Benarkah?" balas Laila tidak mempermasalahkan Lisa yang mewakili Zain untuk menjawab pertanyaannya. "Iya Tante. Tante tau, Minggu depan kami mau ada pentas. Lisa akan menjadi bunga matahari," cerita Lisa dengan semangat. "Wah, pasti sering. Terus Zain jadi apa?" "Zain jadi pohon, Tante. Nanti Lisa mau suruh Papa cariin kostum bunga matahari yang cantik, buat Lisa. Biar Lisa tampil cantik juga." "Berarti Ibu juga harus cari kostum untuk Zain." "Ibu mau beliin?" tanya Zain buka suara. Zain dari tadi berdiri di samping Lisa tanpa bicara. Dia tidak ada kesempatan untuk menjawab pertanyaan Laila. Semua di borong sama Lisa. "Harus dong sayang. Za

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 64

    *** Mereka sudah tiba di sekolah. Keadaan sekolah masih ramai saat mereka turun dari mobil. Bel baru saja dibunyikan tepat mereka datang. "Untung kita tidak telat sayang. Ayo kita ke kelas segera," ajak Laila. "Zain!" teriak Lisa dari dalam gedung sekolah. Lisa dari tadi menunggu Zain datang. Begitu melihat Zain di depan pagar, dia menghampiri Laila dan Zain dengan semangat. "Tumben kamu telat hari ini? Apa kamu sakit lagi? Kok lemes," tanya Lisa memiringkan kepala melihat Zain yang begitu lesu. "Zain kemarin sakit lagi. Jadi hari ini kurang semangat," sahut Laila. "Kalau sakit kenapa sekolah. Kita libur aja yuk. Ayo pulang," ajak Lisa dengan girang. "Jen mau cekolah," balas Zain menghindar Lisa yang ingin menariknya pulang. "Yah," sahut Lisa kecewa gagal pulang. "Lisa, apa boleh Tante minta tolong jagain Zain. Jika terjadi apa-apa kabarin Tante. Tante tunggu di sini," pinta Laila. "Tante tenang saja. Lisa pasti akan jagain Zain dengan baik. Ayo kita masuk ke kelas," ajak

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 63. Menjadi Batu

    "Bu, becok kita ke lumah cakit ya," ujar Zain setelah menelan makanan yang diberikan Laila. "Rumah sakit? Apa Zain sakit lagi? Mana yang sakit," sahut Laila. Laila meletakkan sendok di atas piring. Tangannya menyentuh pipi kiri, kanan dan kening Zain. Mengecek keadaan Zain. "Jen lalu mau kembalikan lobot milik Dika," sahut Zain. "Untuk apa Zain kembalikan robot untuk Dika. kan sudah menjadi milik Zain sekarang." "Jen ndak mau Ayah malah cama Jen gala lobot itu," sahut Zain menunduk. "Ayah tidak benci kamu, sayang," bantah Laila. "Bu, antar Jen ke lumah cakit. Jen ndak mau lobot itu lagi," mohon Zain. "Zain!" Laila terpukul dengan permintaan Zain. Seharusnya Zain merengek ingin dibelikan mainan baru. Bukan mengembalikan mainan yang sudah ada. Laila ingin sekali mengatakan jika Hanif tidak marah sama Zain, namun mulutnya terkunci rapat. Zain tidak akan percaya dengan kata-katanya. Zain lebih mempercayai apa yang dirasakan dan diperlakukan oleh Hanif di depan matanya. "Bu!"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status