MasukDengan rasa terpaksa, Runi akhirnya mengikuti perintah Yanto. Dia berjalan ke kamarnya dengan langkah kaki yang dihentakkan ke lantai untuk memperlihatkan kekesalannya.
Setelah Runi menghilang di balik pintu, Yanto berbalik menatap ke arah Viana.
"Dek, kenapa tadi kamu ladeni Runi? Kamu kan tau kalau setiap kali kalian bicara ujung-ujungnya akan seperti tadi jadinya. Pusing kepala mas melihatnya. Mas baru pulang kerja, malah disuguhi dengan pertengkaran kalian. Seharusnya tadi i
Dua orang secara serentak menyerukan nama Feyla dengan nada penuh kepanikan.Orang itu adalah Runi dan Yanto yang baru kembali dari toilet. Yanto sangat terkejut bukan main melihat kondisi istrinya yang berlumuran darah.“Kak Feyla!”“Feyla, Sayang....Kamu...kamu berdarah!” seru Yanto panik.Keduanya kini sudah berada di samping kiri dan kanan Feyla. Yanto memeluk dan memangku tubuh Feyla yang mulai terasa dingin.Saking paniknya, Yanto bahkan sampai tidak menyadari bahwa Viana, mantan istrinya berada tidak jauh dari tempatnya saat ini.Feyla yang masih setengah sadar dan melihat suaminya sudah datang segera mencengkram kuat lengan Yanto, wajahnya pucat pasi dan jari jemarinya terlihat bergetar menahan rasa sakit yang melilit perutnya.“M-mas... tolong. Tolong selamatkan anak kita. Aakkh... Sakitttt...” rintih Feyla dan setelah itu tiba-tiba saja dia pingsan.“Feyla....Feyla... Bangun,
“Benar. Kau kaget mendengarnya, bukan?” jawab Viana dengan senyuman sinis.“Tidak mungkin! Kau pasti bohong. Mana mungkin Nyonya Julia mau merekrut orang sepertimu. Ini semua pasti akal – akalan mu saja supaya kau bisa bebas dari hukuman. Dasar licik dan pembohong!” cerca Feyla dengan raut wajah marah.“Ya ya ya... terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas aku telah berkata sejujurnya.”“Aku tidak percaya! Kau pasti bohong!” tunjuk Feyla di depan wajah Viana.“Ya benar, dia pasti bohong, Kak. Mana mungkin wanita seperti dia bisa bekerja di perusahaan bonafit,” timpal Runi yang diam-diam mencari informasi tentang PT. Cindera Kilau Murni di ponselnya dan dia begitu terkejut saat mendapati kenyataan bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan besar yang jangkauan pasarnya sudah merambah skala internasional.“Sudahlah Feyla, Runi. Jangan membuat masalah lagi. Pergilah segera
Viana mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah si satpam.“Bapak bicara sama saya?” tanya Viana seraya menunjuk dirinya.“Benar, Mbak. Bisa ikut saya sebentar?” ulang satpam tadi.“Tunggu dulu, Pak. Ini ada apa? Kenapa saya harus ikut Bapak? Memangnya saya salah apa?” tanya Viana bertubi-tubi.“Saya mendapatkan laporan bahwa Mbak telah mencuri di toko ini. Untuk itu saya minta kerjasamanya supaya masalah ini menjadi jelas.”“Saya mencuri?” Viana terbengong mendengar penjelasan pak satpam.Satpam tersebut menganggukkan kepalanya.“Siapa yang melaporkan saya? Apa dia punya bukti kalau saya mencuri di sini?” tukas Viana kesal.“Kami yang melaporkanmu! Dasar pencuri, tidak tahu malu kau! Sebegitu parahnya kah hidupmu sekarang ini? Apa gajimu sebagai karyawan minimarket tidak mencukupi sehingga kau nekat mencuri di toko orang? Sungguh, aku sangat mal
Lima bulan kemudian.Tiga orang wanita berpenampilan modis terlihat keluar dari sebuah toko perhiasan yang berlokasi di mall besar yang ada di kota itu. Sembari melangkah, mereka terus bercakap-cakap“Omset kita semakin hari semakin meningkat, Bu. Ini hal yang menggembirakan sekali,” ucap salah seorang wanita berbaju merah maroon.“Benar Ayu dan ini semua berkat Viana. Desain yang dibuatnya sangat indah dan menarik ketika diaplikasikan ke dalam bentuk perhiasan. Hal itulah yang menarik minat orang-orang untuk membelinya terutama dari kalangan ibu-ibu sosialita.”“Bukan Bu Julia, ini bukan sepenuhnya karena saya. Teman-teman yang lain ada juga yang memberi masukan sehingga hasilnya menjadi bagus dan sempurna.”“Ha ha ha....kamu terlalu merendah Viana. Padahal semua orang di perusahaan tahu kalau hampir sembilan puluh persen hasil desain itu merupakan ide dari kamu.”“Iya nih, Kak Viana mem
Tania yang dihubungi oleh Viana sangat senang mendengar berita ini. Segera dia menyampaikan hal tersebut kepada Nyonya Julia dan oleh atasan Tania itu, Viana besok diminta datang ke kantor perusahaan yang alamatnya sudah diberitahukan oleh Tania melalui chat di ponsel Viana.Keesokan harinya Viana mendatangi alamat yang dimaksud dan betapa kagumnya dia melihat bangunan gedung kantor yang berdiri megah dan menjulang di hadapannya.Seketika itu juga rasa percaya dirinya yang sempat ada mendadak luruh melihat kemegahan gedung tersebut. Perasaan insecure melandanya, dia merasa tidak pantas berada di sana mengingat dia hanyalah orang biasa saja.Viana menghembuskan napasnya berkali-kali, mencoba memompa kembali rasa percaya dirinya. Setelah merasa dirinya cukup tenang, Viana segera berjalan memasuki gedung. Oleh satpam yang berjaga di pintu depan, Viana diantar menuju ke meja resepsionis.Kepada petugas resepsionis yang sedang bertugas saat itu, Viana memberit
Tiga hari kemudian.Bak seorang peramal, ucapan Rita menjadi kenyataan. Nyonya Julia kembali mendatangi Viana di rumah Bu Nining. Hanya saja kali ini kedatangannya diwakili oleh seorang wanita cantik bernama Tania yang merupakan salah satu orang kepercayaan Nyonya Julia dan entah bagaimana caranya, Nyonya Julia berhasil mendapatkan alamat rumah Bu Nining dan segera memerintahkan Tania untuk pergi ke sana.“Perkenalkan Bu, nama saya Tania. Saya salah seorang karyawan di toko perhiasan milik Nyonya Julia, Sparkle n’ Shining Diamond.” Tania memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya terlebih dulu. Saat ini dia tengah duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Bu Nining dan Viana.“Salam kenal, Mbak Tania. Nama saya Nining dan ini Viana. Kalau boleh kami tahu, kedatangan Mbak ke rumah kami ini ada tujuan apa ya?”Tania mengulas senyum ramah di bibirnya yang dipoles lipstik nude. Sekilas dia melirik ke arah arloji yang melingka
Malam hari itu di kamar Viana."Mau apa lagi kamu ke sini, Mas? Nanti istri muda mu marah kalau tahu kamu ke sini," ucap Viana dengan nada datar."Jangan begitu, Dek. Bagaimana pun juga kamu masih istri mas dan menjadi tanggung jawab mas untuk memperhatikanmu," ucap Yanto."Sudahlah, jangan bertele
"Aduh mamaku sayang, aku kan sudah bilang kalau aku gak tertarik sama cewek seperti itu. Aku memang nggak terlalu kenal sama dia walaupun aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dia adalah tetangga Mika dan aku ketemu dengan dia waktu aku menginap di rumah Mika. Memang dia itu agak sedikit kege
Runi menepuk pelan keningnya. Saking terburu-burunya ingin pergi dari situ, dia sampai melupakan bahwa dia telah memesan makanan di sana.Namun, sekarang dia tiba-tiba saja tidak berselera lagi dengan makanan itu."Batalin aja, aku lagi buru-buru sekarang. Gak sempat makan," ucapnya sambil bersiap
'Oh, namanya Jimmy toh,' gumam Runi dalam hati.Setelah merasa agak baikan, Jimmy segera menegakkan tubuhnya dan menatap Runi yang ternyata sudah mengambil tempat duduk di dekatnya dengan tatapan nyalang."Mau apa kamu ke sini? Kami tidak pernah mengundangmu. Lebih baik kamu kembali ke tempatmu. Ga







