MasukSaat melihat Runi telah pingsan dengan kondisi bagian bawah tubuhnya terus menerus mengucurkan darah bahkan darah itu kini telah mengenai ujung pakaian yang dikenakan Yanto, membuat pria itu menjadi sangat panik. Dia lalu meminta bantuan Karina, Silvia dan Mayra untuk membawa Runi ke rumah sakit. Meski enggan, Mayra dan Karina tetap mau menolong Runi dengan alasan kemanusiaan. Sedangkan Silvia, dia lebih memilih mengikuti petugas sekuriti hotel yang diperintahkan Mayra untuk membawa Aldo ke k
Viana mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah si satpam.“Bapak bicara sama saya?” tanya Viana seraya menunjuk dirinya.“Benar, Mbak. Bisa ikut saya sebentar?” ulang satpam tadi.“Tunggu dulu, Pak. Ini ada apa? Kenapa saya harus ikut Bapak? Memangnya saya salah apa?” tanya Viana bertubi-tubi.“Saya mendapatkan laporan bahwa Mbak telah mencuri di toko ini. Untuk itu saya minta kerjasamanya supaya masalah ini menjadi jelas.”“Saya mencuri?” Viana terbengong mendengar penjelasan pak satpam.Satpam tersebut menganggukkan kepalanya.“Siapa yang melaporkan saya? Apa dia punya bukti kalau saya mencuri di sini?” tukas Viana kesal.“Kami yang melaporkanmu! Dasar pencuri, tidak tahu malu kau! Sebegitu parahnya kah hidupmu sekarang ini? Apa gajimu sebagai karyawan minimarket tidak mencukupi sehingga kau nekat mencuri di toko orang? Sungguh, aku sangat mal
Lima bulan kemudian.Tiga orang wanita berpenampilan modis terlihat keluar dari sebuah toko perhiasan yang berlokasi di mall besar yang ada di kota itu. Sembari melangkah, mereka terus bercakap-cakap“Omset kita semakin hari semakin meningkat, Bu. Ini hal yang menggembirakan sekali,” ucap salah seorang wanita berbaju merah maroon.“Benar Ayu dan ini semua berkat Viana. Desain yang dibuatnya sangat indah dan menarik ketika diaplikasikan ke dalam bentuk perhiasan. Hal itulah yang menarik minat orang-orang untuk membelinya terutama dari kalangan ibu-ibu sosialita.”“Bukan Bu Julia, ini bukan sepenuhnya karena saya. Teman-teman yang lain ada juga yang memberi masukan sehingga hasilnya menjadi bagus dan sempurna.”“Ha ha ha....kamu terlalu merendah Viana. Padahal semua orang di perusahaan tahu kalau hampir sembilan puluh persen hasil desain itu merupakan ide dari kamu.”“Iya nih, Kak Viana mem
Tania yang dihubungi oleh Viana sangat senang mendengar berita ini. Segera dia menyampaikan hal tersebut kepada Nyonya Julia dan oleh atasan Tania itu, Viana besok diminta datang ke kantor perusahaan yang alamatnya sudah diberitahukan oleh Tania melalui chat di ponsel Viana.Keesokan harinya Viana mendatangi alamat yang dimaksud dan betapa kagumnya dia melihat bangunan gedung kantor yang berdiri megah dan menjulang di hadapannya.Seketika itu juga rasa percaya dirinya yang sempat ada mendadak luruh melihat kemegahan gedung tersebut. Perasaan insecure melandanya, dia merasa tidak pantas berada di sana mengingat dia hanyalah orang biasa saja.Viana menghembuskan napasnya berkali-kali, mencoba memompa kembali rasa percaya dirinya. Setelah merasa dirinya cukup tenang, Viana segera berjalan memasuki gedung. Oleh satpam yang berjaga di pintu depan, Viana diantar menuju ke meja resepsionis.Kepada petugas resepsionis yang sedang bertugas saat itu, Viana memberit
Tiga hari kemudian.Bak seorang peramal, ucapan Rita menjadi kenyataan. Nyonya Julia kembali mendatangi Viana di rumah Bu Nining. Hanya saja kali ini kedatangannya diwakili oleh seorang wanita cantik bernama Tania yang merupakan salah satu orang kepercayaan Nyonya Julia dan entah bagaimana caranya, Nyonya Julia berhasil mendapatkan alamat rumah Bu Nining dan segera memerintahkan Tania untuk pergi ke sana.“Perkenalkan Bu, nama saya Tania. Saya salah seorang karyawan di toko perhiasan milik Nyonya Julia, Sparkle n’ Shining Diamond.” Tania memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya terlebih dulu. Saat ini dia tengah duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Bu Nining dan Viana.“Salam kenal, Mbak Tania. Nama saya Nining dan ini Viana. Kalau boleh kami tahu, kedatangan Mbak ke rumah kami ini ada tujuan apa ya?”Tania mengulas senyum ramah di bibirnya yang dipoles lipstik nude. Sekilas dia melirik ke arah arloji yang melingka
Viana mengerutkan dahinya, merasa heran dengan sikap wanita yang ada di hadapannya saat ini.“Siapa yang membuat sketsa ini? Apa kamu tahu orangnya?” desak wanita itu tidak sabaran.Viana semakin bertambah heran melihat tingkah wanita itu. Dengan nada ragu, Viana akhirnya menjawab.“Saya, Bu.”Sepasang netra wanita itu membola, tatapannya langsung menelisik sosok Viana dari atas hingga ke bawah.“Kamu?” ulangnya setengah tak percaya.Viana mengangguk.Wanita itu terdiam sejenak, terlihat sedang memikirkan sesuatu kemudian dia buru-buru mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar belanjaannya. Setelah itu dia menatap Viana dan berkata, “Nona, bisakah ikut saya ke sana sebentar?” Satu jari telunjuknya menunjuk ke arah luar minimarket tepatnya ke deretan kursi yang ada di teras minimarket.Dahi Viana berkerut dan dia mulai merasa tidak nyaman.“Maaf, untuk apa ya, Bu? Soal
Penolakan Viana telah membangkitkan emosi yang selama ini Heru tahan sehingga tanpa dapat dikontrolnya, umpatan dan ucapan kasar terlontar dari bibirnya.“Kau jangan belagu, Viana! Dengan wajahmu yang pas-pasan itu kau mau mengharapkan apa? Apa kau berharap akan ada seorang pangeran tampan yang datang melamarmu? Heh, sadar diri dong! Kau itu sama sekali tidak menarik. Bahkan jadi seorang pelacur pun kau belum tentu laku!”PlakPlakDua buah tamparan dengan kekuatan penuh, Viana layangkan bertubi-tubi ke wajah Heru sebagai konsekuensi dari perkataan kurang ajarnya itu.“Perempuan brengsek! Beraninya kau menamparku!” umpat Heru dengan sepasang bola mata yang melotot tajam ke arah Viana.Viana bergeming, tetapi dari wajahnya dan gestur tubuhnya sangat terlihat jelas bahwa perempuan berambut sebahu itu tengah menahan amarah yang amat sangat.Wajah Viana tampak merah padam, sepasang matanya menatap Heru dengan sorot
Hari demi hari berganti dan akhirnya tiba lah hari yang sangat dinantikan oleh Feyla yaitu hari pernikahannya dengan Yanto.Dengan mengusung konsep pernikahan simple tapi elegan, ballroom hotel disulap menjadi tempat yang cantik dengan nuansa putih dan hijau.Di atas pelaminan, tampak sepasang peng
"Hei Runi! Kamu lagi ngelamunin apa? Kok senyum-senyum sendiri kayak gitu?" seru Feyla menatap keheranan kepada calon adik iparnya itu.Mendengar seruan Feyla, Runi menjadi gelagapan."Ah..eh...ini Kak, aku lagi membayangkan betapa meriahnya nanti pesta pernikahan Kakak. Pasti nanti Kakak akan menj
Serentak semua mata mengarah kepada Joni."Kenapa Lo bisa berkata begitu? Apa Yanto sudah pernah cerita ke Lo sebelumnya kalau dia akan nikah dengan bu Feyla?" tanya Risky kepo."Yaelah Ris, pertanyaan macam apa itu. Ya gak mungkinlah dia sebar cerita yang akan memalukan dirinya sendiri. Kalian ini
Viana terdiam, dia mencoba mempertimbangkan saran dari Mika itu.'Bagaimana ya, apa aku harus menerima saran dari mbak Mika itu? Apakah aku sanggup bertahan jika melihat mereka bermesraan di depan mataku? Tapi jika tidak dengan cara ini, aku tidak bisa mendapatkan bukti yang kuinginkan. Mbak Mika b







