Teilen

Permintaan Bik Imah

last update Veröffentlichungsdatum: 21.03.2026 11:05:33

"Aduh mamaku sayang, aku kan sudah bilang kalau aku gak tertarik sama cewek seperti itu. Aku memang nggak terlalu kenal sama dia walaupun aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dia adalah tetangga Mika dan aku ketemu dengan dia waktu aku menginap di rumah Mika. Memang dia itu agak sedikit kegenitan juga, soalnya dia pernah nyamperin aku di rumah Mika dan minta kenalan sama aku secara langsung," jelas Jimmy

"What? Jadi dia tinggal di dekat rumah Mika? Wah, bahaya nih. Kalau gitu lebih baik
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Madu Pemberian Ipar    Persidangan Pertama 

    Di siang hari yang terik itu, sebuah mobil mewah berwarna merah metalik memasuki halaman luas sebuah gedung. Mobil tersebut terus meluncur menuju area parkiran. Setelah menemukan tempat parkir yang pas, mobil pun berhenti dan dari dalam turunlah dua orang pria dan wanita. Keduanya berjalan menuju gedung dengan langkah lebar.Ketika hendak memasuki area dalam gedung, tiba-tiba langkah si pria terhenti dan itu membuat wanita yang berjalan di sampingnya menjadi heran dan bertanya-tanya."Bang, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya si wanita.Si pria tidak menjawab. Dia malah menatap nanar bangunan bercat putih yang berdiri kokoh di hadapannya, mulai dari bagian atas gedung hingga ke bawahnya."Bang!" tegur si wanita sekali lagi.Si pria memandang si wanita lalu menghembuskan napas berat."Abang kenapa sih? Kok jadi galau kayak gini?" protes si wanita."Apakah ini akhirnya, Run? Apa memang harus begini nasib pernikahanku dengan Viana?""Ish, Abang ini gimana sih, tadi sebelum datang ke sini, A

  • Madu Pemberian Ipar    Kegalauan Riani.

    Tok tok tok.Suara ketukan di pintu kamarnya mengalihkan atensi Bayu yang semula fokus pada layar televisi di depannya."Siapa?" tanyanya seraya beringsut turun dari ranjang."Ini Riani, Pa," sahut orang di balik pintu.Refleks Bayu menolehkan kepalanya menatap jam pada dinding kamarnya."Sudah jam sepuluh malam. Tidak biasanya Riani belum tidur jam segini. Ada apa, ya?"Dengan rasa penasaran yang cukup besar, Bayu berjalan ke pintu kamar lalu membukanya."Riani? Ada apa, Nak?""Papa...aku boleh masuk ke dalam? Ada yang ingin Yani tanyakan sama Papa.""Tentu saja boleh, ayo masuk Sayang."Keduanya lalu berjalan beriringan masuk ke dalam kamar Bayu dan duduk di pinggir ranjang. Bayu mengambil remote TV lalu dengan sekali pencet, layar TV langsung berubah gelap."Nah Riani, sekarang apa yang mau kamu tanyakan?"Riani terlihat ragu sejenak, tetapi sejurus kemudian gadis cilik itu memberanikan dirinya."Pa...apa benar tante Viana tidak mau jadi mamanya Yani?" tanyanya dengan suara lirih.

  • Madu Pemberian Ipar    Permintaan Maaf Berujung Hinaan.

    Bu Ajeng memasuki rumah dengan langkah gontai. Setibanya di dalam rumah, dia melemparkan tas nya begitu saja di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Peristiwa tadi masih membayang di pelupuk matanya membuat rasa geram di hatinya kembali membuncah."Kurang ajar perempuan itu! Aku ditipunya mentah-mentah. Di depanku berlagak seperti perempuan baik dan anggun, tetapi di belakangku dia tak ubahnya seperti perempuan murahan yang tidak ada harga dirinya bahkan kini dia sedang mengandung anak haram dalam perutnya. Benar-benar menjijikkan. Untung Bayu bersikeras menolak, kalau sempat Bayu juga tertarik padanya, mau dikemanakan mukaku ini, punya menantu yang kelakuannya kayak pelacur!" umpat Bu Ajeng dengan suara lirih."Apa Nek? Nenek ngomong apa?" tanya Riani yang mendengar suara gumaman neneknya."Hah? Oh...eh...nenek tidak ngomong apa-apa, kok," bohong Bu Ajeng."Masak sih, Nek? Tadi Riani dengar Nenek kayak bicara-bicara sendiri, kayak ngomel-ngomel gitu," cecar Riani dengan dah

  • Madu Pemberian Ipar    Kekecewaan Bu Ajeng

    Meskipun bibirnya menggumamkan beberapa kali kalimat sangkalan, tetapi kenyataan di depan matanya tetap tidak berubah. Sosok wanita berbalut selimut itu masihlah tetap Veby meskipun wajahnya terlihat lebam dan di sudut bibirnya terdapat cairan merah, entah karena apa.Saking syoknya, Bu Ajeng sampai terhuyung mundur dua langkah dan secara tidak sengaja dia menginjak kaki orang yang berdiri di belakangnya."Hei, Bu. Hati-hati, dong! Liat nih, kaki saya keinjek sama Ibu," protes orang tersebut."Ma-maaf, saya tidak sengaja," ucap Bu Ajeng menatap orang itu, tetapi sejurus kemudian dia terperanjat ketika melihat wajah orang yang kakinya dia injak."Lastri?"Wanita yang dipanggil Lastri itu pun menatap Bu Ajeng dengan dahi berkerut, berusaha mengingat siapa orang di depannya ini dan kenapa orang ini bisa tahu namanya."Ajeng? Benar ini kamu, Jeng?" Lastri malah balik bertanya."Iya, benar. Kok kamu bisa ada di sini, Las?" tanya Bu Ajeng."Lah, aku kan tinggal di sini," sahut Bu Lastri."O

  • Madu Pemberian Ipar    Peristiwa Tidak Terduga.

    Siang itu, Bu Ajeng tampak tengah bersiap-siap hendak pergi. Kali ini dia akan membawa Riani ikut serta dengannya berhubung Riani sedang libur sekolah karena guru-guru rapat. Setelah keduanya siap, mereka lalu duduk di teras, menunggu kedatangan taksi online yang sudah dipesan oleh Bu Ajeng"Kita mau kemana, Nek?" tanya Riani. Bocah perempuan itu sudah tampak rapi dan cantik dengan dress selutut berwarna merah muda. Riani memang penyuka warna merah muda sehingga barang-barang kepunyaannya didominasi oleh warna merah muda mulai dari pakaian, aksesoris, hiasan rambut hingga tas sekolahnya juga berwarna merah muda."Kita mau ke rumah Tante Veby," jawab Bu Ajeng singkat sambil matanya menatap ponsel untuk mengetahui posisi driver taksi online yang sudah dipesannya. Ya, Bu Ajeng mengetahui bahwa hari ini Veby tidak masuk kerja karena mengambil cuti dan kesempatan itu digunakannya untuk mendekatkan Veby dengan Riani. Bu Ajeng yang menyadari bahwa Bayu menaruh hati kepada Viana memutuskan un

  • Madu Pemberian Ipar    Membujuk Bayu

    Keesokan siangnya, dengan menumpang mobil travel, Viana berangkat ke Kota M. Sebelum berangkat, dia menerima banyak nasehat dari orang tuanya perihal hidup mandiri di tempat orang dan itu membuat Viana jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan dia tadi seperti anak kecil yang diceramahi saat orang tuanya memberi nasehat.Viana kemudian melemparkan pandangan keluar jendela, memperhatikan deretan bangunan dan pepohonan yang dilewati oleh mobil tersebut. Beberapa saat kemudian, Viana merasakan matanya mulai berat dan pelan-pelan, kedua kelopak mata yang berbulu lentik itu mulai mengatup, mengantarkan empunya ke alam mimpi di tengah gerak mobil yang masih melaju.***Dua hari kemudian pasca berkomunikasi dengan Viana melalui telepon, Bayu kembali dari luar kota dan dia tiba di rumah pada sore hari. Pria berwajah tampan itu melangkah gontai memasuki rumahnya. Perasaannya saat itu sedang tidak baik-baik saja. Kenyataan bahwa Viana menolak lamarannya, resign dari kantor dan memutuskan pinda

  • Madu Pemberian Ipar    Perdebatan Feyla Dan Deon

    "Ngapain kamu di sana? Kenapa pulang malah marah-marah kayak gini?" cecar Yanto ketika Runi sudah tiba kembali di rumah."Sombong banget tuh laki! Masak aku mau kenalan ditolaknya, malah aku diusir pula. Apa matanya buta, gak bisa liat kalau aku ini cantik makanya dia nolak untuk kenalan,"

  • Madu Pemberian Ipar    Mika Membawa Viana

    "Viana apa-apaan kamu ini! Kenapa kau bicara seperti itu," tukas Yanto dengan kesal karena secara blak-blakan Viana membuka aibnya berupa perlakuan kasarnya kepada Viana.Mika mendadak ragu, dia menoleh pada orang yang berdiri di sebelahnya seolah meminta pendapat orang tersebut."Jimmy, bagaimana

  • Madu Pemberian Ipar    Kedatangan Mika

    Viana melirik ke kiri dan ke kanan, memutar otaknya untuk mencari cara bagaimana bisa kabur dari sana.Sejurus kemudian dia mendapatkan sebuah ide. Dengan cepat dia menghampiri lemari kecil yang ada di sudut ruang tamu yang berada di samping tempat Runi berdiri tadi.Dalam lemari ke

  • Madu Pemberian Ipar    Hendak Mengurung Viana

    "Awww....aduh sakit.... dasar perempuan gila!!" umpat Yanto sambil menarik lepas tangannya itu dengan raut wajah terlihat meringis kesakitan.Merasa dirinya telah bebas, Viana lalu berlari menuju ke pintu. Di pikirannya saat itu hanyalah ingin segera keluar dari rumah ini. Melihat sikap Yanto yang

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status