MasukDerit pintu terdengar halus ketika Viana membuka dan mendorong daunnya ke samping. Sambil menenteng tas yang berisi barang-barangnya, Viana melangkah masuk dengan pelan."Hm...suasana kamar ini masih sama seperti waktu ku tinggalkan dulu. Ternyata ibu masih rajin merawat dan membersihkannya."Seketika itu juga timbul rasa bersalah dalam hati Viana karena selama ini terkesan mengabaikan ibu angkatnya itu."Ibu... maafkan aku karena selama ini tidak pernah menghubungimu," ucapnya lirih.Viana lalu membongkar isi tas nya dan meletakkan barang-barang bawaannya pada tempat yang semestinya. Kegiatan itu ternyata cukup menguras tenaganya sehingga Viana memutuskan untuk beristirahat sebentar.Viana membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Kilas balik kenangan saat dia masih hidup berumah tangga dengan Yanto dan bayang-bayang pengkhianatan Yanto berputar dan bermain-main di benaknya, menciptakan perasaan rindu dan benci dalam waktu yang
"Ayahmu kan sedang di toko. Jam-jam segini biasanya orang rame belanja, jadi dia tidak bisa pulang," jawab Bu Resti."Di toko? Maksudnya, Bu?" tanya Viana dengan heran karena sepengetahuannya ayahnya itu berjualan secara online dari rumah.Bu Resti malah balik menatap Viana dengan heran. Namun, sejurus kemudian, dia menepuk keningnya sambil tertawa kecil."Owalah, pikunnya ibumu ini, Res. Kamu kan belum tahu kalau ayahmu udah punya toko. Jadi gini, dua tahun setelah kamu pergi ke Kota U ikut suamimu, ayahmu dapat warisan dari orang tuannya di kampung. Jumlahnya lumayan besar dan dari warisan itulah, ayahmu memutuskan untuk membeli sebuah ruko dan berjualan sembako di sana karena omset penjualan onlinenya makin lama makin berkurang seiring dengan masuknya pesaing baru. Awal mulanya ya...masih sepi gitu, belum banyak pembelinya. Tapi untungnya ayahmu itu orang yang gigih dan tidak mudah putus asa. Dia melakukan berbagai cara supaya toko itu dikenal banyak orang termasuk promosi baik mel
"Apa? Jadi Yanto telah menikah lagi dengan wanita lain?" seru Bu Resti usai Viana menceritakan prahara dalam rumah tangganya.Viana mengangguk pelan, membenarkan pertanyaan ibunya."Benar, Bu dan karena itulah aku memutuskan untuk pulang kembali ke sini. Aku nggak mau dimadu, Bu. Aku tidak sanggup menjalani rumah tangga seperti itu," ucap Viana dengan suara lirih.Betapa geramnya hati Bu Resti kala mengetahui putri angkatnya itu dimadu oleh suaminya."Kurang ajar sekali si Yanto itu! Beraninya dia menikah lagi dengan perempuan lain disaat kau masih berstatus sebagai istrinya. Menyesal dulu ibu telah memberi restu kepadanya. Dulu dia berjanji akan selalu setia kepadamu baik susah maupun senang, dulu dia juga bilang tidak akan menduakanmu dan akan selalu membuatmu bahagia. Nyatanya apa? Dia mengingkari semua janjinya itu. Benar-benar manusia tidak tahu diri dia itu!" umpat Bu Resti dengan emosi.Viana terdiam, membiarkan ibunya meluapkan semua kekesalannya.Setelah puas mengomel – omel
Setelah memantapkan hati untuk memilih Feyla, Yanto pun beringsut mendekati meja kecil yang tadi sempat dijungkirbalikkannya karena emosi dengan kepergian Viana yang secara diam-diam, tapi sekarang sudah ditegakkan lagi oleh Runi.Di atas meja itu terdapat sebuah kotak berisi makanan yang tadi dipesan oleh Runi dan sebotol air mineral berukuran sedang. Yanto membuka kotak makanan itu. Aroma makanan yang harum langsung menyerbu indra penciumannya dan membuat cacing dalam perutnya meronta-ronta.Yanto segera menyantap makanan itu dengan lahap. Akan tetapi, disaat dia sedang mengunyah makanannya, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di benaknya.'Tapi nanti kalau Viana bercerai dariku, itu berarti dia akan jadi janda dan tidak tertutup kemungkinan dia akan menikah lagi dengan pria lain suatu saat nanti. Tidak, aku tidak boleh membiarkan hal itu sampai terjadi. Aku tidak rela Viana dimiliki pria lain. Selamanya Viana harus tetap menjadi milikku. Aku harus mencarinya sampai ketemu dan memba
Sementara itu, Feyla yang kini sudah berada di dalam kamar tampak menggeram kesal akibat Yanto yang berani menamparnya."Mas Yanto sungguh keterlaluan. Teganya dia menamparku seperti ini hanya demi membela perempuan munafik itu," gumamnya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Rasa sakit bekas tamparan itu masih terasa dan hal itu kian menambah kebenciannya kepada Viana."Semua ini gara-garamu, Viana! Aku harus membalasmu, aku tidak rela diperlakukan seperti ini dan aku pastikan kau tidak akan bisa kembali lagi ke sisi mas Yanto. Kau harus enyah dari kehidupan kami," geramnya."Mudah-mudahan perempuan itu tidak akan pernah lagi kembali ke rumah ini dan kalau pun dia balik, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengusirnya dari sini," tekad Feyla sambil sesekali mengusap pipinya yang terasa perih.Kemudian Feyla meraih ponsel yang ada di sampingnya, mengirim pesan kepada Susi agar mengurus Randy dengan baik karena untuk sementara ini dia tidak mau keluar kamar. Dia juga mengirim p
Akhirnya setelah sekian detik mematung, Feyla memberanikan diri untuk bertanya, meski dia tahu saat ini Yanto tengah dikuasai emosi. Sedikit rasa khawatir menyelusup ke dalam hatinya, tetapi rasa penasaran mengalahkan kekhwatirannya itu."Mas...apa yang terjadi?" tanyanya dengan hati-hati sambil melangkah pelan memasuki kamar yang masih dipenuhi dengan pecahan kaca yang berserakan sedangkan Runi lebih memilih tetap berdiri di ambang pintu kamar.Yanto mengangkat wajahnya dan Feyla bisa melihat kilatan emosi dan kecemasan terpatri di wajah itu secara bersamaan."Viana sudah pergi, Fey. Dia benar-benar pergi dari sini, semua barangnya sudah dibawa dan dia meninggalkan sepucuk surat yang memberitahukan kepergiannya," adu Yanto dengan suara serak.Feyla terdiam, dalam hatinya bersorak gembira, tapi tak diperlihatkannya secara terang-terangan. Begitu juga hal nya dengan Runi. Seulas senyuman merekah di bibirnya kala mendengar berita tersebut.'Akhirnya dia pergi juga. Kini aku tidak perlu
Apa sih kelebihan perempuan itu di mata mas Yanto sampai segitunya dia bersikap. Kaya nggak. Cantik? Lebih cantikan aku, bahkan dia itu mandul. Apa lagi yang mau dipertahanin dari perempuan model itu,' gerutunya dalam hati.Namun, tentu saja dia tidak bisa meluapkan semua itu untuk saat ini karena
"Iya, Mbak. Soalnya aku udah blank banget. Bayang-bayang perlakuan Yanto pada diriku terus terbayang-bayang di depan mataku dan ada sebuah dorongan kuat dari dalam diriku untuk segera keluar dari rumah itu.""Lantas kau tidur dimana semalam? Kenapa tidak ke rumahku saja?""Mana berani aku ganggu or
"Papa kok lama kali sih datang ke sini. Randy sudah lapar tau," omelnya dengan mulut manyun."Maafkan Papa, Sayang. Tadi papa ada sedikit urusan. Sekarang kita makan aja, yuk," ajak Randy."Oke, ayok Papa.""Papa aja yang diajak makan. Mama gimana? Mama jadi sedih deh kalau Randy gak ngajakin mama.
"Kenapa harus begitu, Kak? Kan Kakak tau sendiri kalau hubunganku dengan si Viana itu tidak baik. Jadi mana mau dia kalau aku suruh – suruh," ucap Runi kala itu."Ya, itu sih tergantung pandai-pandainya kamu saja. Jika dia tidak mau, ya kamu coba saja kerjakan sendiri atau kalau tidak, kamu pakai j







