LOGIN"Yang bohong akan terlihat takut, tapi sebaliknya, yang jujur akan terlihat tenang, Mom."
"Ya, Mommy juga berpikir begitu. Ya sudahlah, Mommy cek cctv dulu." "T-tapi, Nyonya.." Sintia gelagapan, berusaha menghalangi langkah Lucy untuk mengecek cctv. Tapi Ara, masih menundukkan kepalanya. "Kalau gak ngerasa, lawan. Jangan diam-diam aja." "Iya, Tuan muda." "Saya tidak suka perempuan lemah. Ingat itu." Davin pergi meninggalkan dapur setelah mengatakan hal itu. Yang sebenarnya terjadi, kemarin malam Sintia mencuci cangkir kesukaan Lucyana tapi naasnya cangkir itu terjatuh dan pecah berhamburan. Dia tahu cangkir itu berharga, mahal pula harganya. Alhasil, dia berpikir untuk menjebak Ara tapi Davin malah datang dan membuat rencananya gagal total. Tadi pagi, memang Ara yang membuang sisa pecahan itu tapi hanya serpihan kecil, dia tidak tahu menahu itu cangkir atau apa, Sintia yang memintanya membersihkan area itu. Entah apa yang teradi, Ara diminta Davin untuk tenang saja karena Lucyana tidak akan memarahinya. Ara hanya mengangguk, kemudian minta izin ke Davin untuk menjenguk ibunya di rumah sakit. Davin sebenarnya ingin ikut, tapi ada kerjaan yang harus dia lakukan sore itu. Akhirnya, Ara berangkat bersama Ratna, bibinya. Ratna hanya mengantar Ara sampai ke rumah sakit dan kembali menjadi maid karena tugasnya belum selesai. Kini, tinggal Ara sendirian. Pintu dibuka, Ara masuk lalu menutup kembali pintunya rapat-rapat. Gadis itu berjalan pelan, langkahnya terasa berat, kakinya seakan enggan untuk melangkah. Ara duduk di kursi yang telah disediakan. Ara mengusap lembut wajah damai sang ibu, kelopak matanya tertutup rapat, namun terlihat tenang tanpa beban sama sekali, membuat hatinya luluh lantak detik itu juga. "Ibu.." panggilnya lirih. Perlahan, air matanya luruh membasahi wajah cantiknya. "Maaf, empat hari ini Ara gak jenguk Ibu. Soalnya sibuk kerja di rumah Juragan Patra. Gajinya lumayan buat nyicil uang semester sama biaya pengobatan ibu, orang-orang disana juga baik. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir yaa." "Bu, jangan lama-lama tidurnya yaa? Ara rindu sama Ibu, suara ibu, masakan ibu, pelukan ibu, semuanya Ara rindu. Ara sendirian, Bu. Takut. Tapi Ara gak bisa mundur, kan? Ara harus tetep kuat demi Ibu, kan?" Ara menggenggam erat tangan keriput sang ibu. "Ibu boleh istirahat kok, tapi jangan lama-lama yaa, Bu. Soalnya Ara takut gak bisa jalanin semuanya sendirian, Ara butuh tempat bersandar." Malam itu, Ara mencurahkan keluh kesahnya pada sang ibu, dengan derai air mata yang membasahi wajahnya, Ara tetap berada disana, beberapa kali mengecupi punggung tangan sang ibu. Tapi nihil, tak ada respon apapun. Ratih tetap dengan posisinya, masih sama, koma dan terbaring lemah di rumah sakit. Sementara, Davin yang malam ini pergi keluar bersama teman-temannya, sedang perjalanan ke rumah, tepat ketika Ara juga kembali. Davin bukanlah pria yang memiliki banyak teman, dia tipe orang yang tidak pandai berbaur dengan orang lain, apalagi orang asing. Dia sangat pilih-pilih dalam hal berteman. Jadi, bisa dipastikan orang-orang yang dekat dengan Davin itu adalah orang yang sudah lama mengenalnya. Itu orang yang telah lolos seleksi sebagai teman, benar-benar teman. Davin meraih rokok lalu menyalakan pemantik dan menyesap batang bernikotin itu dengan perlahan, asap putih mengepul dari mulutnya. "Masih sama tuh cewek?" tanya Theo, tangannya menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas kecil dan memberikannya pada Davin. Pria itu menerimanya lalu meminumnya sampai habis. "Eitss, santai aja, bro." Theo terkekeh, jarang sekali mereka bertemu, sekalinya bertemu sudah pasti bertemu di club malam seperti ini. "Masih." "Apanya?" "Lu tadi nanya apa?" Balik tanya Davin dengan kening yang berkerut, membuat David tertawa pelan. "Udahan minumnya, udah habis satu botol. Jangan kebanyakan, Vin." Theo berusaha memperingatkan Davin, pasalnya tingkat toleransinya terhadap minuman itu tidaklah sekuat itu. Satu botol, biasanya mampu membuat Davin tumbang. "Pulang ayo.." ajak David. Sebelum Davin semakin menggila, lebih baik membawanya pulang sesegera mungkin. "Males banget di rumah tuh." jawab Davin dengan suara seraknya. Sejak dulu, Davin memang paling tidak betah berada di rumah. Dia lebih suka keluyuran karena berbagai alasan, salah satunya sepi. "Kalo gitu, stop minumnya." "Cerewet." Davin merebut sloki dari tangan Theo dan menuang minumannya lagi, ujung-ujungnya Davin tepar juga dan yaa, teman-temannya juga yang bertanggung jawab membawanya pulang. Theo dan David mengantar Davin ke rumahnnya, bodo amat dengan mobil pria itu, yang jelas sangat tidak mungkin membiarkan Davin mengemudi sendirian dalam keadaan mabuk. Sesampainya di rumah, keduanya berjalan pelan membopong tubuh Davin tapi dia meronta dan akhirnya, berjalan sendiri meski sempoyongan. "Bisa?" "Gue bisa sendiri." Jawabnya. Kedua temannya pasrah dan membiarkan Davin berjalan sendiri. Davin membuka pintu rumahnya pelan, terkunci. Davin menggedor pintu rumahnya sendiri. Di dapur, ada Ara yang sedang mengambil minum. Sepulang dari rumah sakit, entah kenapa dia tidak bisa tidur. Matanya enggan terpejam, rasa kantuk tak kunjung datang. Ada banyak kegelisahan yang menghantuinya. Alhasil, Ara pergi ke depan untuk mengambil minum. Dia memicing saat mendengar pintu rumah di gedor dari luar. Gadis itu berjalan pelan, melupakan niat awalnya untuk mengambil air minum. Ara mengintip dari celah gorden dan ternyata, itu Davin yang terlihat tidak baik-baik saja. Pria itu menyandarkan kepalanya di daun pintu, Ara khawatir dan bergegas membuka pintu. "Tuan muda.." begitu pintu terbuka, tubuh besar itu limbung menimpa Ara. Untung saja, Ara bisa menjaga keseimbangan dirinya. Kalau tidak, sudah pasti mereka berdua akan jatuh dengan posisi yang sangat tidak estetik. Pria itu menatap Ara penuh arti, kedua matanya memerah efek minuman yang ditenggaknya. Perlahan, tangan Davin mengusap wajah Ara dan secepat mungkin gadis itu menghindar, tapi gerakannya kurang cepat dibanding Davin. Pria itu meraih dagunya, mencium bibirnya dengan liar. Ara meronta, memukul-mukul dada bidang Davin, namun jelas tenaganya tak seberapa dibandingkan Davin. Lagi dan lagi, bibir Ara terluka karena ulah Davin. Davin menarik Ara ke pantry dan melancarkan kembali aksi bejatnya, mendudukan Ara di atas meja dan menciumnya dengan liar, kali ini lebih liar, bahkan tangannya mulai tak sopan menjamah bagian tubuh Ara. Prang... Gelas diatas meja itu jatuh, menimbulkan bunyi nyaring, namun itu tak mengganggu aksi Davin. Sampai suara yang familiar terdengar. "Davin.." Klek.. Pintu terkunci. Ara didorong hingga punggungnya membentur tembok. Davin mengikis jarak keduanya, pria itu menatap Ara tajam, menarik kedua tangannya ke atas kepala dan kembali mencium bibir Ara. Ara kembali meronta, tapi dia kalah dari segi kekuatan. Gadis itu memejamkan matanya, air matanya mulai menetes membasahi wajahnya. Tapi, apa Davin iba? Tidak sama sekali. Pengaruh minuman itu membuatnya kehilangan akal sehat, sisi kemanusiaannya hilang. Davin semakin beringas, dia membanting Ara ke atas kasur. Ara memekik pelan, membuat Davin membungkam mulutnya dengan sebelah tangan begitu suara itu kembali terdengar. "Davin, kamu sudah pulang, Sayang?" Itu Lucyana. Begitu mendengar suara nyaring dari arah dapur, wanita itu segera mengeceknya, namun hanya pecahan gelas berserakan dilantai. "Davin?" Lagi. Tapi hening. Tak ada jawaban sama sekali. Lucyana berpikir, mungkin itu kucing. Setelahnya, Lucyana memutuskan kembali ke kamarnya. Aman. Davin menyeringai, mulai menarik satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Arabella hingga menampilkan lekuk tubuhnya yang molek. Lancang, pria itu menyentuh dada Ara dan membuat gadis itu kembali meronta. Davin geram, dia mengambil semacam tali dari arah nakas lalu mengikat kedua tangan Ara. "T-tuan, tolong jangan lakukan ini.." "Tenang. Kau hanya perlu diam, nikmati permainanku!"Arabella meraba bibirnya, masih terasa basah bekas ciuman Davin beberapa saat yang lalu. Sekarang, dia kembali ke dapur dengan perasaan kesal tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sedikit perasaan suka yang entah dia menyukai apa. Ciuman Davin, mungkin. “Ara, kenapa bengong terus?”“A-aahh, gapapa kok.” Arabella tersenyum kikuk. Ketahuan sudah, untungnya itu Arina bukan orang lain. “Awas lho, jangan kebiasaan bengong, takutnya kesurupan.”“Isshh, jangan nakutin. Lagian, dirumah besar dan mewah seperti ini, mana ada hantunya sih..” Arabella terkekeh pelan, sambil mencuci piring dan peralatan yang dipakainya beberapa saat lalu. “Gimana? Tuan muda mau makan?”“Iya, mau. Udah minum obat juga, kelihatannya sudah sedikit membaik.” jawab Ara sambil tersenyum kecil. Baguslah jika Davin sembuh dengan cepat, artinya dia tidak harus berduaan dengan pria itu dengan modus mengantarkan sarapan, makan siang atau makan malam. Jujur saja, Davin itu tidak bisa ditebak. Dia bisa dengan m
Sintia berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan, tangannya memegangi bagian belakangnya, rasanya lumayan sakit, tapi ada sedikit rasa malu juga. Tanpa sengaja, saat berjalan ke arah dapur, Sintia malah bertemu dengan Arabella yang baru saja kembali setelah mengantar bolu ketan dari pos satpam. Keningnya mengernyit saat melihat Sintia berjalan sedikit tertatih sambil memegangi pinggangnya. Ara menghela nafasnya, ingin sekali rasanya tak peduli tapi naluri kemanusiaannya berkata lain. “Kenapa?” Ara mendekat, lalu membantu Sintia berjalan. “Jatoh.”“Oh.” singkat dan selesai begitu saja, obrolannya terhenti tapi Sintia tidak menolak pertolongan Ara. Keduanya kembali ke dapur. “Lah, kenapa nih orang?” itu suara Arina. Dia heran melihat Sintia meringis dan Ara yang membantunya.“Jatoh, katanya.”“Hadeeuh, padahal gak usah ditolong, Ra. Biarin aja.” celetuk Arina yang membuat Ara terkekeh pelan. “Gapapa, nambah pahala.” “Ckk..” Sintia berdecak sebal, lalu melepas paksa tangan Ar
Saat siang hari, maid senior memerintahkan Ara untuk kembali mengantar makan siang untuk Davin. Tapi, gadis itu tengah kerepotan melakukan pekerjaan lain dan juga seperti biasanya, ada Sintia yang akan dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan makan siang ke kamar Davin. “Maaf, saya gak bisa. Ini gak bisa ditinggal, Bu. Maid lain saja kalau begitu..” ucap Ara dengan sopan. Dia tengah membuat adonan bolu ketan yang tengah viral dan maid lain juga sedang sibuk dengan tugas masing-masing. “Saya aja, Bu.” Sintia mengajukan diri dengan senyuman manisnya. “Yaudah. Bawain ke kamar Tuan muda yaa, ingat jangan bikin huru-hara.”“Huru-hara apa sih, Bu? Giliran aku aja pake peringatan segala, Ara tuh yang gatel gak dikasih peringatan tadi.” ucap Sintia sewot, membuat Ara mengernyitkan keningnya. Masih saja Sintia menuduhnya gatal, padahal tidak sama sekali. “Ngaca!” bukan Ara, tapi Arina. Enek juga lama-lama melihat tingkah Sintia, mulutnya itu benar-benar minta di sambelin. “I
“Ara..” pria itu membulatkan matanya, namun suaranya terdengar begitu lirih. Dia benar-benar merasa pusing, sekujur tubuhnya terasa lemas bukan main. “Maaf saya lancang memasuki kamar anda, Tuan muda. Saya diminta senior untuk mengantar sarapan dan obat.” “Ya, tidak apa-apa.” balasnya pelan. Ara tetap berada di posisi awal, dia tidak berani mendekat. Dia takut. Tentu saja, dia tidak akan pernah lupa saat pertama kali dirinya mengganggu Davin saat pria itu tengah beristirahat.“Kalau begitu, saya permisi.” Ara bersiap pergi, tapi suara lirih Davin membuat gadis itu menghentikan langkahnya. “Bisa bantu aku makan? Kepalaku sakit, pusing juga.” pintanya dengan nada sendu, bahkan matanya sedikit berkaca-kaca, membuat Ara tak tega. Pada akhirnya, dia luluh. Kaki jenjangnya membawa dirinya mendekat ke arah ranjang tempat pria itu tergolek lemah. Ara memilih duduk di sisi kasur, membantu Davin untuk duduk bersandar dengan bantal sebagai penopangnya. Wajahnya terlihat pucat, berkeringat da
Pukul sepuluh malam, Davin memutuskan untuk pulang. Dia tak ingin pulang larut, kepalanya terasa ingin pecah, berat dan tak nyaman. Davin tidak minum, dia seratus persen sadar saat ini. Pria itu mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang terlihat lumayan lengang setelah hujan mengguyur lumayan deras beberapa saat yang lalu. Davin memarkir kendaraannya di garasi, lalu berjalan keluar dengan langkah pelan. Davin membuka pintu utama dan seperti dugaannya, rumahnya telah sepi. “Selamat malam, Tuan muda.” ucap seorang maid sambil menundukkan kepalanya. Davin mengernyitkan keningnya, rasa-rasanya ada sedikit trauma yang membekas dalam ingatannya. “Arina?”“Saya, Tuan muda.”“Arabella kemana? Bukankah hari ini harusnya dia yang berjaga?” tanya Davin. Sedikit banyak, dia mengetahui jadwal gadis itu untuk jaga malam. Harusnya, malam ini bagiannya untuk shift malam. “Ara belum terlalu sehat, jadi saya menggantikannya.” jawab Arina pelan. “Dia masih sakit?”
Wajah Theo memucat, sama pula dengan David. Keduanya sama-sama pucat setelah mendengar penuturan Davin. Tentu saja, mereka tidak menyangka Davin bisa melakukan hal itu. “Gimana ceritanya bisa ons sama maid?” tanya David. Berkali-kali, dia menelan ludahnya kepayahan, sedangkan Davin terlihat datar padahal dalam hati dia juga masih pusing karena Arabella belum memaafkan kesalahannya. “Gak tahu. Tapi pas kalian nganter pulang, ada maid yang bantuin gue kan?”“Jadi, maidnya yang itu?”“Iyee..” balas Davin sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Untungnya, cafe ini memang disediakan smoking room dan tentu saja, ketiganya pasti memilih untuk nongkrong disana. “Tapi maidnya cakep, masih muda juga kelihatannya.”“Itukah poin utamanya, bastard?” tanya Davin tak habis pikir, kedua temannya malah terfokus dengan kecantikan maid di rumahnya. Meskipun memang benar, Ara itu cantik dan Davin tidak menampik hal itu. “Haha, sorry sorry. Jadi, gimana? Jatuhnya pemerkosaan dong?” David bertany







