LOGIN
Bau vanila dan cinnamon yang biasanya menenangkan indraku kini berganti aroma cologne mahal dan alkohol. Aku membuka mata.
Bukan dinding pastel kamarku yang menyambut. Melainkan langit-langit setinggi tiga meter berhiaskan lampu kristal Baccarat, memancarkan cahaya redup di pagi buta. Sprei yang membalut tubuhku terasa selembut sutra, tetapi menusuk. Seketika, seluruh kenangan buruk menyerbu kepalaku—seperti pecahan kaca yang menyakitkan. Malam perpisahan dengan mantan brengsek. Bar gelap di sudut kota. Satu gelas wiski terlalu banyak. Dan yang paling buruk: Pria itu. Pria dengan mata perak setajam pisau, rahang tegas seperti pahatan, dan sentuhan yang membuatku melupakan semua kesedihan, semua harga diri. Sentuhan yang seharusnya tidak pernah ada. Jantungku memompa gila-gilaan, menghasilkan suara yang nyaris menenggelamkan heningnya ruangan mewah ini. Aku menoleh ke samping. Bantal beludru hitam itu, menampilkan selembar kertas putih yang tergeletak di atasnya, tepat di tempat kepala pria itu seharusnya berada. Aku meraihnya dengan tangan gemetar. Itu bukan surat, bukan janji, melainkan sebuah Cek Bank. Angka yang tertera di sana membuat mataku terbelalak lebar: $50.000. Cek ini bukan uang ucapan terima kasih. Ini adalah harga dari kehormatanku. Aku sudah menjadi seorang escort bayaran. Keisha Auristela, si Baker yang baru saja memenangkan kompetisi kue lokal, kini hanya seharga lima puluh ribu dolar. “Sial!” Aku melompat turun dari kasur, mencari pakaianku yang tergeletak berantakan di dekat karpet wol tebal. Aku harus pergi. Sekarang. Sebelum pria itu bangun dan membuat situasi ini semakin memalukan. Napas terengah, aku mengenakan gaun malamku yang telah kusut. Sambil meraba-raba di lantai mencari ponsel, mataku menangkap dompet kulit hitam tanpa nama yang tersembunyi di bawah meja samping. Dompet yang pasti milik pria itu. Di dalamnya, terselip sebuah kartu platinum yang hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat di negara ini. Di sudut kartu, tercetak jelas: Montevista Group. Kepalaku langsung pening. Montevista. Satu nama yang identik dengan kekayaan tak terbatas dan kekuasaan absolut. Nama yang dipimpin oleh seorang pria yang fotonya—selalu tanpa senyum—sering menghiasi sampul majalah bisnis. Dia bukan pria asing. Dia adalah Axel Mardon Montevista. Billionaire dingin yang dikenal kejam dan tak tersentuh. Brak! Pintu kamar mandi terbuka. Aku membeku, seluruh darahku terasa dingin. Pria itu berdiri di sana. Hanya dibalut handuk putih. Wajahnya terukir sempurna, namun sorot mata peraknya kini tajam, menusuk, dan penuh penghakiman. Dia baru selesai mandi, tetapi auranya malah terasa semakin berbahaya. “Lari dariku? Itu rencanamu sekarang?” Suaranya berat, dalam, menusuk, menghentikan gerakanku. Axel sama sekali tidak terlihat panik atau menyesal, melainkan terlihat seperti predator yang baru saja selesai menjebak mangsanya. “A-aku minta maaf, Tuan Montevista. Aku tidak bermaksud lancang,” jawabku tergagap. “Tidak bermaksud lancang, tapi kau sudah mencuri barang paling berharga milikku?” Dia melangkah maju. Setiap langkahnya memancarkan otoritas yang membuat lututku gemetar. “Kau ambil uangku, kau pakai ranjangku, dan sekarang kau mau pergi begitu saja?” Axel kemudian tersenyum. Senyum tipis yang bukan ramah, melainkan janji bencana. Dia berjalan ke meja rias, mengambil sebuah kotak perhiasan kecil. “Aku sudah memutuskan untuk memberimu pelajaran tentang tanggung jawab,” katanya, melempar kotak itu ke atas kasur. Isinya? Pil kontrasepsi darurat yang bahkan belum sempat kuminum. Kotaknya kosong, isinya sudah hilang. “Terlalu lambat, Sayang,” bisikannya kini sedekat bisikan Iblis. Dia berdiri sangat dekat, aroma cologne yang manis bercampur maskulinnya terasa mencekik. “Kau tidak akan bisa lepas dariku, Keisha. Kau baru saja meninggalkan kenang-kenangan yang jauh lebih mahal daripada cek konyol ini. Dan aku akan memastikan kenang-kenangan itu lahir sebagai pewaris Montevista.” Jantungku mencelos. Aku menelan ludah. Wajahku memanas, air mata tertahan di pelupuk mata. “Kau gila,” bisikku. “Itu pembunuhan.” “Gila? Mungkin,” terkekeh saat Axel memegang daguku dengan satu tangan kuat. “Tapi kau adalah mainan baruku sekarang. Dan mainanku kupastikan tak akan pernah bisa kabur.” Aku harus segera pergi, tapi aku tahu aku sudah kalah. Aku menatap mata dinginnya. Ada sesuatu yang lain di sana—bukan hanya nafsu atau kekuasaan. Ini adalah keputusasaan yang terbungkus rapi. Mengapa seorang Billionaire begitu mati-matian menginginkan pewaris dariku, seorang baker yang baru ia temui semalam? Aku belum tahu, bahwa kecerobohanku bukan hanya menghasilkan kehancuran, tetapi juga perangkap yang sudah dirancang jauh sebelum aku mabuk di bar itu.POV: KeishaSiang itu, matahari kota bersinar terik menembus jendela kamar, namun hatiku masih sedingin es. Aku sedang duduk di tepi ranjang, mengatur napas yang sesak di dada yang tak kunjung reda.Cklek.Pintu kamar terbuka. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau sabun segar itu sudah sangat kukenal. Axel tidak lagi mengetuk; dia masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah namun penuh determinasi.“Keluar, Axel. Aku sedang ingin sendiri,” ucapku tanpa menatapnya.Bukannya keluar, dia justru melangkah mendekat. Di tangannya, dia menjinjing sebuah kotak besar dengan logo merek desainer ternama. Dia meletakkannya di atas meja rias dengan pelan.“Ini untukmu. Pakailah hari Minggu nanti. Aku sudah mengosongkan jadwal untuk mengajakmu ke suatu tempat yang spesial,” ucapnya membujukku.Aku melirik kotak itu sekilas, lalu mendengus sinis. “Aku tidak butuh itu. Bawa saja pergi. Berikan pada sekretarismu atau siapa pun yan
POV: KeishaHormon kehamilan ini benar-benar membuatku menjadi sosok yang berbeda. Rasa sebal yang menumpuk selama dua hari karena pengabaian Axel meledak menjadi kemarahan yang dingin dan keras kepala. Aku tidak butuh alasan tentang proyek Singapura, aku tidak butuh penjelasan tentang rapat darurat. Yang aku butuhkan adalah kehadirannya di sisiku saat aku merasa duniaku sedang tidak baik-baik saja karena kewalahan yang kualami, lantaran kehamilan muda ini yang membuat seluruh hariku cukup tersiksa.Malam itu, saat kudengar suara langkah kakinya yang berat di koridor menuju kamar kami, aku segera memutar kunci pintu. Cklek. Suara kunci itu terasa sangat memuaskan di telingaku.Tok! Tok! Tok!“Keisha? Kau di dalam? Kenapa pintunya dikunci?” suara Axel terdengar rendah, ada nada kelelahan sekaligus kebingungan di sana.Aku tidak menjawab. Aku merebahkan diri di atas ranjang yang luas, menarik selimut hingga ke dada, dan menatap langit-langit kamar dengan mata yang panas.“Keisha
POV: KeishaWaktu seolah berjalan dalam putaran yang aneh. Sudah dua bulan sejak aku merasakan mual pertama itu, dan benih di rahimku kini tumbuh dengan pasti. Perutku memang belum menonjol, namun ada getaran kehidupan yang kurasakan setiap kali aku terbangun. Dan seiring dengan tumbuhnya janin ini, tumbuh pula sebuah kegelisahan yang mulai menggerogoti ketenanganku.Aku menatap cermin di kamar mandi, mengusap perutku yang masih rata. Aku bahagia, tentu saja. Tapi ada satu lubang besar yang membuat kebahagiaan ini terasa tidak menapak di bumi.Statusku. Hubunganku dengan Axel.Hingga detik ini, kami masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar selesai. Kami tinggal satu atap, tidur di satu ranjang yang sama, dan berbagi tawa di depan anak-anak. Namun, di atas kertas dan di mata hukum, kami masih bukan siapa-siapa. Pernikahan kami yang dulu telah hancur oleh kebohongan, dan hingga saat ini, Axel belum pernah sekalipun mengucapkan kepastian hubungan kami, apala
Melihat mendung di mata Alexander dan riak cemburu di wajah Ellys, aku sadar bahwa tembok mansion yang megah ini terkadang terasa terlalu sesak untuk sebuah pengakuan besar. Kami butuh udara segar. Kami butuh ruang di mana status “Montevista” bisa dilepaskan sejenak, dan kami hanya menjadi satu keluarga kecil yang sedang mencoba bernapas kembali.Hingga pada sore hari ini, aku pun membuat sebuah rencana yang terbilang mendadak. “Batalkan semua jadwalku sampai malam nanti. Aku tidak menerima alasan apa pun,” perintahku pada sekretarisku lewat telepon singkat.Maka di sinilah kami sekarang. Di sebuah padang rumput hijau yang luas di area privat pinggiran kota, jauh dari kebisingan kota dan kilatan kamera paparazzi. Cuaca hari ini sangat bersahabat—langit biru bersih tanpa awan gelap. Sungguh pemandangan perkotaan yang sempurna.Aku membentangkan kain piknik bermotif kotak-kotak besar di bawah pohon ek yang rimbun. Keisha, yang hari ini tampak lebih segar dengan dress hamil berwarna pa
POV AxelSuaranya Alexander datar, namun ada nada getir yang terselip di sana. Pertanyaannya bukan sebuah sorakan bahagia, melainkan sebuah konfirmasi yang terdengar seperti vonis.Aku sempat tertegun, namun aku tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. Aku harus menjawabnya sekarang juga, "Iya, Al. Mommy sedang mengandung adikmu. Kita baru saja dari dokter."Alexander terdiam cukup lama. Dia melepaskan pandangannya dariku dan beralih ke arah Keisha yang kini berjalan mendekat dengan langkah ragu--setelah dia melepaskan Ellys ke kamarnya agar dia segera mengganti pakaiannya. Mata Al jatuh pada perut ibunya yang masih rata, tempat di mana makhluk kecil yang baru saja kami lihat di layar USG itu bersemayam."Lalu bagaimana dengan Al?" tanyanya lirih. Kali ini setetes air mata jatuh di pipinya yang putih. "Mommy baru saja kembali ke sini. Al baru saja bisa memeluk Mommy setiap malam tanpa merasa takut Mommy akan hilang lagi. Kalau nanti adik lahir ... apa Mommy akan sibuk dengan ba
POV: Axel Montevista Ada sebuah rasa hangat yang membuncah di dadaku, sebuah euforia yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Aku, Axel Montevista, pria yang biasanya menghitung segala sesuatu dengan logika dan angka, kini merasa seperti remaja yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Aku melirik Keisha yang tampak kelelahan di sampingku. Wajahnya masih pucat, namun ada binar berbeda di matanya. Ya, status kami saat ini memang masih menggantung di mata hukum. Kami belum meresmikan kembali pernikahan kami sejak pengkhianatan dan kebohongan besar tiga tahun lalu terungkap. Kami bahkan belum sampai ke tahap suami istri yang sesungguhnya secara batin sejak dia kembali ke mansion ini—selain ‘hari itu’. Aku masih tidur di sisi ranjang yang dibatasi oleh rasa segan, dan dia masih menatapku dengan sisa-sisa kewaspadaan. Namun, kehadiran makhluk kecil di dalam perutnya ini mengubah segalanya bagiku. Anak ini adalah pengikat. Jika sebelumnya aku harus memutar otak, me







