Mag-log inSetelah tenang, semua anak-anakku aman terkendali—Axel akhirnya berhasil membujuk putih kecilnya itu untuk berangkat sekolah, tentunya dengan janji-janji manis sepulang sekolah nanti. Axel langsung mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Dokter Yan, dokter pribadi baru, kepercayaan keluarga Montevista.Namun kali ini, pembicaraan mereka rupanya tidak berakhir dengan kedatangan dokter ke rumah. Kepadaku, Axel menjelaskan,“Dokter Yan menyarankan kita langsung ke rumah sakit saja, Keisha. Dia bilang, kalau memang benar dugaannya adalah kehamilan, alat di rumah sakit jauh lebih lengkap untuk USG awal. Itu lebih baik.”“Bolehkah aku memastikannya dulu dengan test alat kehamilan?” pintaku. “Apa itu perlu, Keisha? Kehamilanmu sudah pasti.”“Belum pasti...” cicitku.“Maka dari itu kita langsung pastikan saja ke tempatnya.”“Kalau kita salah bagaimana? Kau bisa kecewa.”“Kenapa harus kecewa? Aku tinggal membuatnya lagi yang lebih serius.”“Ya ampun, Axel,” Aku sampai geleng-geleng k
Hari pertama, adalah di mana aku merasakan keanehan di pagi hari, dan aku menolak diperiksa. Hari kedua pun masih begitu. Hari ketiga, masih sama. Dan lebih aneh lagi ini hanya terjadi saat pagi, begitu siang menjelang, kondisi tersebut menguap begitu saja. Aku kembali sehat, nafsu makanku kembali normal, dan aku bisa beraktivitas seperti biasa. Menemani anak-anakku bermain, belajar dan mendengarkan mereka bercerita.Saat itu, lagi-lagi aku masih bisa meyakinkan Axel bahwa ini mungkin hanya virus lambung yang sedang populer. Tapi tidak dengan hari ke empat, di Pagi yang sama. Jam yang hampir sama. Dan rasa mual yang identik.“Sudah sampai begini dan kamu masih ngeyel?” Ujar Axel berdiri mematung di samping tempat tidur. Dia tidak lagi bersiap-siap memakai kemejanya. Dia diam, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam.“Kau hamilkah, Keisha?”Aku seketika terpaku. Memoriku berputar pada momen beberapa minggu lalu. Momen di mana tembok pertahanan Axel benar-benar runtuh, di mana
Setelah deru mobil Axel menjauh meninggalkan pelataran mansion, suasana kamar kembali hening. Teh herbal hangat buatan Rina memang sedikit menenangkan perutku, tapi rasa “aneh” di sekujur tubuhku tidak benar-benar hilang. Ada sensasi geli yang asing di area perut bawah, dan indra penciumanku mendadak menjadi sepuluh kali lipat lebih sensitif. Karena semua aroma bau menjadi lebih jelas kurasakan.Aku bangkit dari ranjang, berniat untuk mandi air hangat agar tubuhku terasa lebih bertenaga—yang untungnya, bisa sedikit meredakan rasa tak nyaman itu.Namun tetap, aku meminta pelayan untuk membawakan makananku ke kamar saja. Persis seperti yang kukatakan pada Axel, karena aku akan full beristirahat hari ini. Sampai aku merasa kondisiku benar-benar membaik.Sorenya, akhirnya tubuhku yang tadinya terasa remuk merosot ke titik normal. Aku bahkan sudah bisa duduk di ruang tengah, menemani Al dan Ellys yang sedang sibuk mewarnai buku gambar mereka dengan krayon yang bertebaran di lantai marmer.
POV Keisha Keesokan paginya, Axel benar-benar membuktikan ucapannya. Sang CEO Montevista itu mengosongkan jadwal rapat paginya hanya untuk mengantar Alexander dan Ellys.Pemandangan itu langsung menjadi santapan empuk media. Foto Axel yang menggandeng Alexander di satu tangan dan menggendong Ellys di tangan lainnya, dengan aku yang berjalan di sampingnya, meledak di internet. Judul-judul berita seperti “Kembalinya Sang Ratu Montevista” atau “Potret Keluarga Sempurna Abad Ini” menghiasi layar ponsel setiap orang.Namun, kami tidak peduli.Karena yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak kami. Demi mereka dan untuk mereka, akan kami lakukan semuanya. Untuk membayar semua kebahagiaan yang pernah terenggut selama tiga tahun terakhir ini.Minggu-minggu berikutnya pun berlalu seperti mimpi yang penuh warna. Batasan yang kubuat—tembok tinggi yang kupasang dengan semen rasa benci—perlahan mulai terkikis oleh perhatian kecil Axel. Bukan dengan kemewahan, tapi dengan caranya yang kini lebi
POV: Axel MontevistaMansion akhirnya kembali tenang. Setelah keriuhan di meja makan yang penuh dengan drama “perebutan suapan,” kedua buah hatiku akhirnya menyerah pada kantuk. Aku baru saja keluar dari kamar Alexander. Anak itu tertidur dengan senyum tipis di bibirnya, tangannya masih memegang erat bantal guling seolah itu adalah pengganti pelukan Keisha yang menemaninya hingga terlelap tadi.Aku melangkah menuju balkon besar yang menghubungkan kamar utama dengan ruang santai. Di sana, aku melihat sosok yang sedari tadi memenuhi pikiranku. Keisha berdiri bersandar pada pagar balkon, menatap kerlip lampu kota yang tak pernah tidur. Angin malam memainkan helai rambutnya, dan siluetnya di bawah cahaya bulan tampak begitu rapuh namun kuat di saat yang bersamaan.Aku berjalan pelan, mencoba tidak mengejutkannya, lalu berdiri di sampingnya dengan jarak yang cukup sopan.“Sudah aman semua anak-anak?” tanyaku.Keisha menoleh sedikit, lalu mengangguk. “Al tidur nyenyak sekali. Dia benar-ben
POV: KeishaDi dalam gudang yang sempit itu, tangisan Alexander perlahan mereda menjadi sedu sedan yang letih. Kepalanya masih bersandar di bahuku, dan tangan kecilnya masih meremas ujung bajuku seolah takut aku akan menguap jika ia melepaskan genggamannya. Axel masih berada di sisi kami. Telapak tangan besarnya mengusap punggung Al dengan ritme yang menenangkan—sebuah gestur canggung namun penuh usaha dari seorang ayah yang baru menyadari luka anaknya.Aku merenggangkan pelukan sedikit, hanya untuk menangkup wajah kecil Alexander dengan kedua tanganku. Aku mengusap air mata dan debu yang bercampur di pipinya dengan ibu jariku.“Sudah ya? Kita masuk sekarang?” bisikku lembut. “Di sini gelap sekali, Al. Memangnya kamu tidak takut di sini ada tikusnya?”Al menatapku dengan mata yang masih merah dan bengkak. “Mommy tidak akan pergi ke kamar Ellys saja kan kalau sudah di dalam?” tanyanya dengan suara serak yang sangat polos.Hatiku perih mendengarnya. “Tidak, Sayang. Malam ini, Mom







