Home / Romansa / Mainan Baru Tuan Montevista / 122: Restu yang Tersirat di Balik Kecerewetan Seorang Nenek

Share

122: Restu yang Tersirat di Balik Kecerewetan Seorang Nenek

Author: Ana_miauw
last update Last Updated: 2026-01-10 08:17:53

POV: Axel Montevista

Aku berdiri di ambang pintu ruang tengah, menyandarkan bahuku pada kusen kayu jati yang kokoh sembari memperhatikan pemandangan di depanku.

Di sana, di atas karpet bulu yang tebal, Alexander dan Ellys duduk bersila dengan mata yang tak berkedip. Di depan mereka, Nenek sedang bercerita dengan gerakan tangan yang ekspresif, sesekali mengubah suaranya menjadi berat atau melengking demi menghidupkan karakter dalam dongengnya.

Melihat Nenek ada di sini, di dalam rumahku, rasanya ada beban besar yang terangkat dari pundakku. Aku tahu dia masih marah. Aku tahu dia masih mendongkol padaku. Namun, saat tadi aku membawakan tas jinjingnya yang berat dan dia tidak menolaknya—meski dibarengi dengan gumaman “dasar sialan”—aku tahu bahwa pintu maaf itu sebenarnya sudah terbuka sedikit. Dan bagi wanita sekeras Nenek, tidak menolak bantuan adalah bentuk penerimaan yang paling nyata.

“Baiklah, anak-anak,” aku melangkah mendekat untuk memecah konsentrasi mereka. Sebab ada hal y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mainan Baru Tuan Montevista    125: Pengesahan

    Sejak pagi buta, suasana di mansion sudah terasa ganjil. Axel menghilang bahkan sebelum aku sempat membuka mata, hanya menyisakan sebuah pesan pendek yang ditulis dengan tergesa: “Pakailah gaunmu pukul empat sore nanti. Sopir akan menjemputmu. Aku menunggumu di tempat tujuan.”Tak hanya itu, Nenek pun tampak jauh lebih sibuk dari biasanya, membantu para pelayan menyiapkan pakaian Alexander dan Ellys. Berkali-kali aku bertanya apa yang sebenarnya direncanakan Axel, namun Nenek hanya menjawab dengan satu kalimat yang sama: “Duduk manis saja, jangan sampai mualmu kambuh karena terlalu banyak berpikir.”Namun, yang membuatku paling curiga adalah kehadiran tiga orang asing di depan pintu kamarku tepat pukul dua siang. Dua orang wanita membawa koper besar berisi peralatan kosmetik, dan seorang pria dengan sisir yang terselip di saku jasnya.“Maaf, kalian siapa ya?” tanyaku bingung.“Kami tim yang dikirim Tuan Axel, Nyonya,” jawab salah satu dari mereka dengan sopan. “Tuan berpesan aga

  • Mainan Baru Tuan Montevista    124: Selamat Bekerja, Daddy!

    Riuh di Tengah Tumpukan BelanjaanPOV: KeishaMansion yang biasanya rapi kini mendadak penuh sesak. Beberapa pelayan tampak mondar-mandir mengangkut kotak-kotak besar dan tas belanja bermerek dari bagasi mobil ke ruang tengah. Axel benar-benar kehilangan kendali diri di toko tadi. Seakan seluruh isi toko bayi ingin ia pindahkan ke rumah ini dalam satu hari.Alexander dan Ellys yang sedang bersantai di sofa ruang tengah langsung berdiri tegak, menatap tumpukan barang itu dengan dahi berkerut. Dan beberapa saat kemudian ikut memeriksa semua isi-isinya.“Kenapa bajunya kecil-kecil semua, Daddy? Buat siapa? Itu baju boneka ya?” Ellys bertanya dengan wajah polos, jemari mungilnya kini menyentuh satu set baju bayi berbahan kasmir yang masih tergantung.Axel berlutut di depan putri kecilnya, mencoba memberikan pengertian untuk kesekian kalinya. “Bukan buat boneka, Sayang. Ini baju buat adik bayi nanti.”Wajah antusias Ellys seketika berubah. Ia menarik tangannya kembali. “Tapi aku ti

  • Mainan Baru Tuan Montevista    123: Semburat Sedih di Tengah Kemewahan

    POV: KeishaBegitu berat rasanya kelopak mataku saat kupaksakan diriku untuk bangun. Namun sentuhan lembut di pipiku dan suara bariton yang rendah terus memanggil namaku, memaksaku untuk kembali ke dunia nyata.“Bangun, Sayang. Ini sudah siang sekali. Kau melewatkan makan malam, jangan sampai kau melewatkan sarapan juga,” bisik Axel.Aku mengerang pelan, menarik selimut hingga menutupi hidung. “Masih mengantuk, Axel...”“Tidak bisa. Aku khawatir kondisimu drop. Kita harus mengejar asupan protein untuk bayi kita, dan kau tahu sendiri betapa sulitnya kau makan akhir-akhir ini,” bujuknya lagi, kini ia duduk di tepi ranjang dan menarik selimutku.Jujur saja, memasuki usia dua bulan ini, rasa mual dan pusingku bukannya membaik malah bertambah parah. Ditambah lagi, aku sedang berada di fase malas makan yang luar biasa. Baru membayangkan aroma makanan saja terkadang sudah membuat perutku bergejolak.“Ayolah, Nenek sudah membuatkan masakan yang enak untukmu,” Axel memberikan jurus terak

  • Mainan Baru Tuan Montevista    122: Restu yang Tersirat di Balik Kecerewetan Seorang Nenek

    POV: Axel MontevistaAku berdiri di ambang pintu ruang tengah, menyandarkan bahuku pada kusen kayu jati yang kokoh sembari memperhatikan pemandangan di depanku. Di sana, di atas karpet bulu yang tebal, Alexander dan Ellys duduk bersila dengan mata yang tak berkedip. Di depan mereka, Nenek sedang bercerita dengan gerakan tangan yang ekspresif, sesekali mengubah suaranya menjadi berat atau melengking demi menghidupkan karakter dalam dongengnya.Melihat Nenek ada di sini, di dalam rumahku, rasanya ada beban besar yang terangkat dari pundakku. Aku tahu dia masih marah. Aku tahu dia masih mendongkol padaku. Namun, saat tadi aku membawakan tas jinjingnya yang berat dan dia tidak menolaknya—meski dibarengi dengan gumaman “dasar sialan”—aku tahu bahwa pintu maaf itu sebenarnya sudah terbuka sedikit. Dan bagi wanita sekeras Nenek, tidak menolak bantuan adalah bentuk penerimaan yang paling nyata.“Baiklah, anak-anak,” aku melangkah mendekat untuk memecah konsentrasi mereka. Sebab ada hal y

  • Mainan Baru Tuan Montevista    121: Itu Namanya Keenakan, Bukan Kecelakaan!

    POV: KeishaSuasana meja makan yang tadinya hanya diisi oleh suara denting sendok dan candaan kecil keluarga kami, tiba-tiba terusik oleh keributan di depan pintu utama. Suara langkah kaki yang mantap diikuti dengan omelan khas yang sangat kukenal membuatku refleks menoleh.“Mana mereka?! Apa mereka pikir setelah tinggal di istana besar ini, mereka bisa melupakan wanita tua ini?!”Mataku membelalak. Itu suara Nenek!Belum sempat aku berdiri, sosok wanita tua dengan pakaian sederhana namun tetap terlihat gagah itu muncul di ambang pintu ruang makan. Ellys, yang memang paling dekat dengannya selama kami di desa, langsung melompat dari kursinya.“Neneeeek!” Ellys berlari secepat kilat, menabrak kaki wanita tua itu dan memeluknya erat. “Eyis kangen! Nenek kenapa lama sekali datangnya?”Wanita tua itu menunduk, wajahnya yang tadi sangar seketika melunak saat menatap cucu kesayangannya. “Oh, cucu pinguinku... kau sudah tambah bulat saja di sini, ya?” Nenek membalas pelukan Ellys, menc

  • Mainan Baru Tuan Montevista    120: Harapan di Balik Gaun Spesial

    POV: KeishaDunia memang cepat berputar. Siang ini, sisa-sisa kemarahan dan isak tangis di kamar mandi tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh suasana ruang makan yang jauh lebih hangat. Mungkin benar kata orang, hormon kehamilan bisa mengubah singa betina menjadi kucing kecil dalam hitungan jam. Sekarang, aku justru duduk merapat di samping Axel, seolah tidak mau ada jarak satu senti pun di antara kami. Sungguh aneh, bukan?“Lagi?” tanya Axel lembut sambil mengarahkan sendok berisi sup ayam jahe ke arah mulutku.Aku mengangguk manja, menerima suapan itu dengan perasaan puas. Rasanya jauh lebih enak jika Axel yang menyuapiku. Entah kenapa, aku merasa seperti bayi yang benar-benar ingin dilayani olehnya hari ini.Axel terkekeh pelan, lalu melirik ke arah Ellys yang sedang asyik dengan nugget pinguinnya. “Mommy manja ya, El? Makan saja maunya disuapi terus oleh Daddy,” goda Axel sambil mencubit kecil pipiku.Ellys berhenti mengunyah, dia menopang dagunya dengan kedua tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status