Home / Romansa / Mainan Baru Tuan Montevista / 75: Cepat Sembuh Jagoanku...

Share

75: Cepat Sembuh Jagoanku...

Author: Ana_miauw
last update Last Updated: 2025-12-24 08:34:22

Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar utama dengan begitu cerah, namun hatiku justru diselimuti mendung kegelisahan.

Aku terbangun dengan rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam dada.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku begitu terfokus pada Ellys dan amarahku pada Axel hingga aku melupakan keberadaan putra sulungku sendiri sejak aku tiba kemarin?

Mansion ini memang terlalu luas, terlalu megah hingga menyerupai istana yang dingin. Letak kamar utama di sayap kanan dan kamar anak-anak di sayap kiri membuat jarak di antara kami terasa berkilo-kilometer. Ditambah lagi dengan absennya Axel yang membuat suasana rumah ini terasa asing dan canggung.

Setelah memastikan Ellys masih terlelap dengan nyenyak di balik selimut tebalnya, aku berjingkat keluar. Aku harus melihat Alexander. Aku merindukannya, meskipun kemarin dia menolakku dan memanggilku “Tante”.

Aku menyusuri koridor panjang dengan langkah kaki yang sengaja dipelankan. Aku tidak ingin para pelayan atau nanny heboh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mainan Baru Tuan Montevista    115: Tangki Cinta Untuk Alex

    POV AxelSuaranya Alexander datar, namun ada nada getir yang terselip di sana. Pertanyaannya bukan sebuah sorakan bahagia, melainkan sebuah konfirmasi yang terdengar seperti vonis.Aku sempat tertegun, namun aku tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. Aku harus menjawabnya sekarang juga, "Iya, Al. Mommy sedang mengandung adikmu. Kita baru saja dari dokter."Alexander terdiam cukup lama. Dia melepaskan pandangannya dariku dan beralih ke arah Keisha yang kini berjalan mendekat dengan langkah ragu--setelah dia melepaskan Ellys ke kamarnya agar dia segera mengganti pakaiannya. Mata Al jatuh pada perut ibunya yang masih rata, tempat di mana makhluk kecil yang baru saja kami lihat di layar USG itu bersemayam."Lalu bagaimana dengan Al?" tanyanya lirih. Kali ini setetes air mata jatuh di pipinya yang putih. "Mommy baru saja kembali ke sini. Al baru saja bisa memeluk Mommy setiap malam tanpa merasa takut Mommy akan hilang lagi. Kalau nanti adik lahir ... apa Mommy akan sibuk dengan ba

  • Mainan Baru Tuan Montevista    114: Pengikat

    POV: Axel Montevista Ada sebuah rasa hangat yang membuncah di dadaku, sebuah euforia yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Aku, Axel Montevista, pria yang biasanya menghitung segala sesuatu dengan logika dan angka, kini merasa seperti remaja yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Aku melirik Keisha yang tampak kelelahan di sampingku. Wajahnya masih pucat, namun ada binar berbeda di matanya. Ya, status kami saat ini memang masih menggantung di mata hukum. Kami belum meresmikan kembali pernikahan kami sejak pengkhianatan dan kebohongan besar tiga tahun lalu terungkap. Kami bahkan belum sampai ke tahap suami istri yang sesungguhnya secara batin sejak dia kembali ke mansion ini—selain ‘hari itu’. Aku masih tidur di sisi ranjang yang dibatasi oleh rasa segan, dan dia masih menatapku dengan sisa-sisa kewaspadaan. Namun, kehadiran makhluk kecil di dalam perutnya ini mengubah segalanya bagiku. Anak ini adalah pengikat. Jika sebelumnya aku harus memutar otak, me

  • Mainan Baru Tuan Montevista    133: Berbahagialah. Kau Tak Akan Kurang

    Setelah tenang, semua anak-anakku aman terkendali—Axel akhirnya berhasil membujuk putih kecilnya itu untuk berangkat sekolah, tentunya dengan janji-janji manis sepulang sekolah nanti. Axel langsung mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Dokter Yan, dokter pribadi baru, kepercayaan keluarga Montevista.Namun kali ini, pembicaraan mereka rupanya tidak berakhir dengan kedatangan dokter ke rumah. Kepadaku, Axel menjelaskan,“Dokter Yan menyarankan kita langsung ke rumah sakit saja, Keisha. Dia bilang, kalau memang benar dugaannya adalah kehamilan, alat di rumah sakit jauh lebih lengkap untuk USG awal. Itu lebih baik.”“Bolehkah aku memastikannya dulu dengan test alat kehamilan?” pintaku. “Apa itu perlu, Keisha? Kehamilanmu sudah pasti.”“Belum pasti...” cicitku.“Maka dari itu kita langsung pastikan saja ke tempatnya.”“Kalau kita salah bagaimana? Kau bisa kecewa.”“Kenapa harus kecewa? Aku tinggal membuatnya lagi yang lebih serius.”“Ya ampun, Axel,” Aku sampai geleng-geleng k

  • Mainan Baru Tuan Montevista    112: Kita Akan Hadapi Sama-sama

    Hari pertama, adalah di mana aku merasakan keanehan di pagi hari, dan aku menolak diperiksa. Hari kedua pun masih begitu. Hari ketiga, masih sama. Dan lebih aneh lagi ini hanya terjadi saat pagi, begitu siang menjelang, kondisi tersebut menguap begitu saja. Aku kembali sehat, nafsu makanku kembali normal, dan aku bisa beraktivitas seperti biasa. Menemani anak-anakku bermain, belajar dan mendengarkan mereka bercerita.Saat itu, lagi-lagi aku masih bisa meyakinkan Axel bahwa ini mungkin hanya virus lambung yang sedang populer. Tapi tidak dengan hari ke empat, di Pagi yang sama. Jam yang hampir sama. Dan rasa mual yang identik.“Sudah sampai begini dan kamu masih ngeyel?” Ujar Axel berdiri mematung di samping tempat tidur. Dia tidak lagi bersiap-siap memakai kemejanya. Dia diam, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam.“Kau hamilkah, Keisha?”Aku seketika terpaku. Memoriku berputar pada momen beberapa minggu lalu. Momen di mana tembok pertahanan Axel benar-benar runtuh, di mana

  • Mainan Baru Tuan Montevista    111: Itu Saja, Axel

    Setelah deru mobil Axel menjauh meninggalkan pelataran mansion, suasana kamar kembali hening. Teh herbal hangat buatan Rina memang sedikit menenangkan perutku, tapi rasa “aneh” di sekujur tubuhku tidak benar-benar hilang. Ada sensasi geli yang asing di area perut bawah, dan indra penciumanku mendadak menjadi sepuluh kali lipat lebih sensitif. Karena semua aroma bau menjadi lebih jelas kurasakan.Aku bangkit dari ranjang, berniat untuk mandi air hangat agar tubuhku terasa lebih bertenaga—yang untungnya, bisa sedikit meredakan rasa tak nyaman itu.Namun tetap, aku meminta pelayan untuk membawakan makananku ke kamar saja. Persis seperti yang kukatakan pada Axel, karena aku akan full beristirahat hari ini. Sampai aku merasa kondisiku benar-benar membaik.Sorenya, akhirnya tubuhku yang tadinya terasa remuk merosot ke titik normal. Aku bahkan sudah bisa duduk di ruang tengah, menemani Al dan Ellys yang sedang sibuk mewarnai buku gambar mereka dengan krayon yang bertebaran di lantai marmer.

  • Mainan Baru Tuan Montevista    110: Meriang

    POV Keisha Keesokan paginya, Axel benar-benar membuktikan ucapannya. Sang CEO Montevista itu mengosongkan jadwal rapat paginya hanya untuk mengantar Alexander dan Ellys.Pemandangan itu langsung menjadi santapan empuk media. Foto Axel yang menggandeng Alexander di satu tangan dan menggendong Ellys di tangan lainnya, dengan aku yang berjalan di sampingnya, meledak di internet. Judul-judul berita seperti “Kembalinya Sang Ratu Montevista” atau “Potret Keluarga Sempurna Abad Ini” menghiasi layar ponsel setiap orang.Namun, kami tidak peduli.Karena yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak kami. Demi mereka dan untuk mereka, akan kami lakukan semuanya. Untuk membayar semua kebahagiaan yang pernah terenggut selama tiga tahun terakhir ini.Minggu-minggu berikutnya pun berlalu seperti mimpi yang penuh warna. Batasan yang kubuat—tembok tinggi yang kupasang dengan semen rasa benci—perlahan mulai terkikis oleh perhatian kecil Axel. Bukan dengan kemewahan, tapi dengan caranya yang kini lebi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status