Se connecterPOV: KeishaDi dalam gudang yang sempit itu, tangisan Alexander perlahan mereda menjadi sedu sedan yang letih. Kepalanya masih bersandar di bahuku, dan tangan kecilnya masih meremas ujung bajuku seolah takut aku akan menguap jika ia melepaskan genggamannya. Axel masih berada di sisi kami. Telapak tangan besarnya mengusap punggung Al dengan ritme yang menenangkan—sebuah gestur canggung namun penuh usaha dari seorang ayah yang baru menyadari luka anaknya.Aku merenggangkan pelukan sedikit, hanya untuk menangkup wajah kecil Alexander dengan kedua tanganku. Aku mengusap air mata dan debu yang bercampur di pipinya dengan ibu jariku.“Sudah ya? Kita masuk sekarang?” bisikku lembut. “Di sini gelap sekali, Al. Memangnya kamu tidak takut di sini ada tikusnya?”Al menatapku dengan mata yang masih merah dan bengkak. “Mommy tidak akan pergi ke kamar Ellys saja kan kalau sudah di dalam?” tanyanya dengan suara serak yang sangat polos.Hatiku perih mendengarnya. “Tidak, Sayang. Malam ini, Mom
POV: KeishaLangkahku terasa goyah saat kakiku menyentuh tumpukan daun kering di sudut paling belakang taman. Bangunan kayu itu berdiri di sana—sebuah gudang peralatan berkebun yang sudah tua, terhimpit di antara bayang-bayang pohon kamboja besar yang dahan-dahannya melambai seperti jemari raksasa dalam kegelapan. Tidak ada lampu taman di area ini, hanya pendar cahaya dari kejauhan yang membuat suasana terasa mencekam.“Al? Alexander? Mommy di sini, Sayang,” panggilku. Suaraku bergetar, hampir hilang tertiup angin sore yang menusuk.Aku mencoba memutar kenop pintu kayu yang kasar itu. Terkunci. Aku mengetuknya pelan, lalu lebih keras lagi. “Al, buka pintunya, Nak. Di dalam gelap. Mommy takut Al kenapa-kenapa.”Axel melangkah maju di sampingku. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak seperti pahatan batu yang retak. Rahangnya mengeras, matanya yang tajam menyapu setiap celah bangunan itu.“Alexander! Buka pintunya sekarang!” Axel berseru dengan suara baritonnya
POV: KeishaLangkahku terasa berat saat menyisir area taman belakang yang luas. Cahaya lampu taman mulai menyala otomatis, memberikan pendar kuning yang temaram di antara bayang-bayang pepohonan.Aku memanggil namanya berkali-kali, suaraku mulai serak karena kecemasan yang mencekik tenggorokan.“Alexander! Al! Di mana kau, Nak? Alex? Alex? Al!”Aku memeriksa gazebo, sudut kolam renang, hingga rumah pohon, tapi nihil. Keheningan taman ini justru terasa menakutkan. Hanya ada suara jangkrik dan gesekan daun yang tertiup angin sore. Alexander menghilang begitu cepat. Kemarahannya tadi seakan memberinya kekuatan untuk lari sejauh mungkin dari jangkauanku.Rasa bersalah mulai menggerogoti dadaku. Apa yang salah? Apa yang membuatnya begitu meledak? Aku terus bertanya-tanya, mengulang kembali setiap detik di ruang bermain tadi. Apakah pertanyaanku tentang buku itu menyinggungnya? Ataukah tawaran buah stroberi itu yang membuatnya merasa terhina? Aku benar-benar buta akan apa yang
POV: KeishaAku melangkah masuk ke ruang bermain dengan perasaan yang masih sedikit berdesir akibat interaksi di dapur tadi. Namun, fokus utamaku saat ini adalah anak-anak. Ruangan luas yang dipenuhi mainan edukasi dan perosotan dalam ruangan itu tampak terang benderang, namun entah mengapa, aku merasakan ada dua kutub energi yang berbeda di dalamnya.Di tengah karpet bulu, Ellys sedang duduk dikelilingi boneka dan balok kayu. Gadis kecilku itu tampak sangat ceria. Begitu melihatku, dia langsung menjatuhkan bonekanya dan merentangkan tangan. “Mommy! Sini! Lihat, Eyis buat menara tinggi sekali!”Aku tersenyum lebar, rasa lelahku seakan menguap melihat binar matanya. Aku menghampirinya, duduk bersimpuh di sampingnya, lalu menariknya ke dalam pelukanku. “Wah, hebat sekali anak Mommy. Bagus sekali menaranya.”Aku menciumi pipinya yang harum bedak bayi, lalu mengusap rambutnya dengan penuh kasih. Bagiku, Ellys adalah pengobat luka selama tiga tahun pelarianku. Tanpa ragu, aku menun
Mendung tipis menggelayut di langit kota sore hari ini, hingga membawa udara sejuk yang jarang terjadi. Ellys dan Alexander sedang berada di ruang bermain bersama suster, meninggalkan keheningan yang cukup di lantai bawah. Aku berdiri di dapur, menatap mesin espresso yang berkilau di atas meja marmer hitam.Perdebatan pagi tadi dan bisikan Axel di telingaku sebelum dia berangkat terus terngiang-ngiang. “Kopi buatanmu nanti sore ya, Mommy, atau aku akan mencuri lebih dari sekadar kening besok pagi.”Pria itu benar-benar menguji kesabaranku. Aku ingin sekali mengabaikannya, membiarkan pelayan saja yang membuatkannya kopi pahit tanpa gula. Tapi bayangan kelakuannya yang bisa lebih nekat di depan anak-anak membuatku menyerah. Aku tidak ingin Ellys melihat sesuatu yang belum saatnya dia lihat hanya karena ayahnya sedang dalam mode “pemburu”.Dengan helaan napas panjang, aku mulai menakar biji kopi pilihan. Aku memilih biji Arabica yang memiliki sedikit aroma buah dan cokelat—jenis y
POV: KeishaKetahuilah, kontras dengan badai argumen yang baru saja terjadi di dalam kamar antara aku dan Axel. Di mata anak-anak, kami tetap potret keluarga yang kembali utuh dan sempurna. Hingga demikianlah hal yang kami lakukan di depan mereka. Menjadi orang tua yang dekat dan bahagia.Ellys dan Alexander sudah berdiri rapi di lobi, mengenakan seragam mereka dengan semangat yang meluap-luap. Ellys bahkan sesekali melompat kecil, memastikan tas pinguinnya sudah terpasang dengan benar di bahunya.Aku berdiri di samping mereka, memasang wajah setenang mungkin meskipun sisa kejengkelan akibat perdebatan “pencurian dada” tadi pagi masih membuat dadaku berdenyut kesal.Aku menatap Axel yang keluar dari kamarnya dengan setelan jas hitam yang sangat formal. Dia tampak berwibawa, dingin, dan sangat berkuasa—citra yang selalu dia banggakan di depan dunia bisnis.Namun, begitu matanya bertemu dengan mataku, seringai menyebalkan itu kembali muncul. Sebuah seringai yang hanya ditujukan pad







