Share

Bab 2

Author: Lee Sizunii
last update Last Updated: 2025-03-07 21:03:35

Yara merasa seolah seluruh dunia berhenti berputar saat semua mata di pesta itu beralih ke arahnya. Dia bisa merasakan panas di wajahnya, seakan pipinya terbakar.

"Apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa aku harus menunjuk pria asing itu?!" pikirnya dengan frustasi.

Wajahnya memerah, tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Yara ingin mengubur dirinya di tempat yang sangat jauh.

Tapi, detik-detik yang terasa seperti seabad itu terhenti saat pria yang dia tunjuk tadi akhirnya bergerak. Pria itu menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi matanya tampak seperti sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.

Tatapan tajam itu menusuk, membuat seluruh tubuh Yara diserang rasa cemas. "Oh tidak, dia pasti marah. Aku bisa mati sekarang juga," pikirnya dalam hati.

Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tanpa memberi petunjuk lebih lanjut, pria itu tersenyum samar, seolah tersadar dari lamunannya, dan seketika dia melangkah mendekati Yara.

Dengan gerakan yang sangat terkontrol dan elegan, dia meraih pinggang Yara, menarik tubuhnya lebih dekat ke arahnya. Yara terkejut dan langsung kaku, merasakan jantungnya berdebar hebat.

"Apa yang dia lakukan?!" batinnya panik.

Namun, pria itu tetap tenang, seolah tidak ada yang aneh sama sekali. Semua mata masih tertuju pada mereka, dan Yara bisa merasakan semuanya mengawasi setiap gerak-geriknya.

Dengan suara dalam dan lembut, pria itu berkata, "Sayang, aku pusing. Bisakah kita pulang saja?"

Ucapan itu begitu santai, seolah dia sudah lama mengenal Yara. Seolah mereka benar-benar pasangan yang terbiasa menunjukkan kemesraan di depan umum.

Yara hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Oh Tuhan, dia ..., dia ikut bermain sandiwara!" pikirnya, kaget sekaligus bingung. Tapi rasa malu masih menghantui, dan dia tahu dia harus ikut bermain.

Dengan suara sedikit tergetar, Yara menjawab, "Iya, sayang. Aku juga nggak enak di sini."

Pria itu tersenyum lebih lebar—senyum yang penuh ketenangan, seolah dia mengendalikan segalanya. Ia merangkul Yara lebih erat, memeluknya di pinggang dengan cara yang tampak alami.

Sambil tetap berpegangan erat, pria itu mulai berjalan menuju pintu keluar, membawa Yara bersamanya. Di belakang mereka, suasana pesta berubah hening. Para tamu yang tadinya ingin menertawakan Yara kini terdiam, tercengang.

"Apa aku tidak salah dengar? Sayang? Jadi Tuan Muda Liu punya pacar?" bisik salah satu orang.

"Gila! Dia benar-benar gila!"

Begitu mereka keluar dari hotel, Yara langsung melepaskan diri. Tubuhnya masih terasa kaku, dan seluruh perasaannya campur aduk.

Dia terkesan karena pria itu telah membantunya keluar dari masalah besar, tetapi juga merasa risih dengan kedekatan yang dipaksakan tadi.

"Terima kasih banyak," kata Yara dengan canggung, menundukkan kepala, berharap bisa mengakhiri interaksi ini dengan cepat.

Namun, tak disangka, pria itu justru menatapnya dengan ekspresi tajam. "Terima kasih?" ulangnya. Suaranya terdengar tegas, hampir seperti perintah.

Yara mendongak, terkejut dengan perubahan sikap pria tersebut. Wajahnya yang penuh wibawa kini tampak lebih serius, bahkan mengintimidasi.

"Kamu pikir aku hanya membantu tanpa alasan? Apa balasan kamu untuk itu?" tanyanya.

Yara terhuyung mendengar pertanyaan itu. Balasan? Maksudnya apa? pikirnya bingung.

"Aku nggak paham maksudmu," katanya, suaranya sedikit gemetar.

Pria itu melangkah lebih dekat, menatap Yara seolah ingin menembus pikirannya. "Ulahmu tadi mencoreng nama baikku. Apakah kamu tahu siapa aku?"

Yara terdiam. Nama baik? Apa yang dia bicarakan?

"Aku ..., aku nggak tahu siapa kamu," jawabnya jujur.

Pria itu mendengus pelan, seolah sudah menduga jawabannya. Sebuah senyum samar muncul di bibirnya, tetapi tak ada kehangatan di sana.

"Ada konsekuensi yang harus kamu tanggung."

Yara menelan ludah. "Konsekuensi? Aku cuma bercanda tadi! Kenapa jadi serius begini? Lagian dia juga ikut berakting!" batin Yara.

Melihat kebingungan Yara, pria itu berjalan lebih dekat, hingga jarak mereka hanya sejengkal. "Aku akan jelaskan," katanya dengan dingin. "Apa yang kamu lakukan tadi, meskipun tidak sengaja, telah mempengaruhi reputasiku. Dan itu bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja."

Yara merasa lidahnya kelu. "Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaikinya?" tanyanya hati-hati.

Pria itu menjawab dengan santai, tetapi kata-katanya menghantam Yara seperti petir di siang bolong.

"Kamu harus benar-benar menjadi pacarku."

Mata Yara melebar. "Apa?"

"Ya. Seperti yang kamu katakan tadi di pesta."

"Tapi itu cuma lelucon!" seru Yara, hampir putus asa.

Pria itu mengangkat alis. "Aku tidak bercanda."

Yara mundur selangkah, terhuyung oleh kata-kata itu. "Tapi ...."

"Tiga bulan, hanya tiga bulan, dan kamu akan mendapatkan satu miliar."

Dunia Yara seakan berhenti berputar. "Satu miliar? Apa dia serius?" batin Yara kembali berteriak. Dia sangat butuh uang. Satu miliar sangat amat banyak baginya.

Pria itu tetap tampak tenang, seolah ini hal biasa baginya. "Tiga bulan, dan kamu bisa pergi dengan uang itu."

"Tapi-"

"Kamu pikir kamu bisa menghindarinya?" potong pria itu. "Mau kamu tolak atau tidak, wartawan akan tetap mengejarmu mulai besok."

Yara terdiam. Kepalanya berputar.

Ini gila. Sungguh gila.

Tapi ..., bisakah dia benar-benar menolaknya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 67

    Malam yang dinanti—atau lebih tepatnya, malam yang ditakuti Yara—akhirnya tiba. Di dalam pantulan kaca mobil yang melaju membelah dinginnya London, Yara nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajah yang dipoles oleh penata rias profesional pilihan Nathan sejak sore tadi benar-benar mengubahnya. Ia terlihat elegan, mahal, namun ada aura sensualitas yang memancar dari gaun ungu tua yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.Yara tidak berhenti memainkan kuku jarinya. Ia menunduk, menatap nail art yang baru saja selesai dipoles dengan warna senada dengan gaunnya. Kegugupan itu nyata, terasa seperti ribuan jarum yang menusuk ujung jarinya.Nathan, yang sejak tadi duduk diam sambil menatap layar ponsel di sampingnya, akhirnya mengalihkan pandangan. Ia melirik Yara, memperhatikan bagaimana bahu wanita itu tampak tegang."Gugup?" suara Nathan rendah, memecah kesunyian di dalam kabin mobil.Yara tidak menoleh. Ia tetap menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang mengabur karena

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 66

    Lampu meja kerja yang terang menyinari butiran debu yang menari di atas layar tablet milik Clara. Ia sedang berada di dunianya sendiri, sebuah pelarian yang ia bangun dengan garis, warna, dan tekstur kain.Jemarinya yang ramping menggerakkan pena digital dengan lincah, mencoba menyelesaikan desain gaun utama untuk fashion show yang akan digelar beberapa bulan lagi. Di balik kacamata berbingkai tipis itu, mata Clara terlihat merah karena kelelahan, namun ia terus memaksakan fokusnya.Hanya di sini, dalam goresan sketsa, Clara merasa memiliki kontrol penuh atas hidupnya.Namun, kendali itu hancur seketika saat ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama "Mama" muncul di layar, seperti sebuah vonis yang tak bisa dihindari. Clara menghela napas panjang, menekan tombol hijau dengan enggan tanpa mengalihkan pandangan dari desainnya."Ya, Ma?" suara Clara terdengar datar, nyaris tak bernyawa."Clara! Kau sudah mendapatkan undangannya, bukan? Pesta topeng malam ini. Kau harus hadir di sana bersa

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 65

    Mobil sedan hitam yang dikemudikan Adrian berhenti dengan halus tepat di depan sebuah butik megah dengan fasad kaca tinggi di kawasan elit London. Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Nathan dengan sikap profesional yang tak cela. Adrian sempat melirik Yara sekilas, memberikan senyum tipis yang sopan—sebuah gestur kecil yang menandakan bahwa ia tidak memiliki niat buruk, meski ia tahu persis posisi Yara dalam drama keluarga Liu ini.Nathan melangkah turun, diikuti Yara yang masih merasa sedikit gamang. Ia menatap papan nama butik yang tertulis dengan huruf emas timbul. Ia tahu tempat ini; hanya orang-orang dengan gelar bangsawan atau saldo bank tak terbatas yang bisa menginjakkan kaki di sini."Apa ini tidak terlalu berlebihan?" bisik Yara sambil merapatkan mantelnya, merasa kecil di bawah bayangan kemegahan butik tersebut.Nathan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Yara, menautkan jemari mereka dengan erat, lalu membawanya masuk. Begitu

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 64

    Pagi itu, London masih diselimuti sisa hujan semalam, namun suasana di dalam kamar apartemen terasa jauh lebih hangat. Cahaya matahari yang masuk malu-malu melalui celah gorden menyinari sosok pria yang masih terlelap di samping Yara.Yara terjaga lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan terdiam dalam posisi miring, menatap wajah Nathan dari jarak yang sangat dekat. Nathan tidur dengan tenang, tubuh bagian atasnya yang atletis tidak tertutup sehelai benang pun, memamerkan otot-otot dada dan lengan yang keras namun tampak nyaman sebagai bantal. Napasnya teratur, menyapu permukaan kulit Yara setiap kali pria itu mengembuskan napas.Yara menatap wajah itu cukup lama. Anehnya, tidak ada lagi kepanikan luar biasa seperti saat pertama kali mereka terlibat dalam kontrak ini. Apakah dia sudah terbiasa? Atau mungkin, benteng pertahanannya sudah mulai retak?Tanpa sadar, jemari Yara bergerak pelan, menyentuh pipi Nathan yang sedikit kasar karena bayangan kumis tipis yang mulai tumbuh.

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 63

    "Mhh... Nathan, geli... ahh!"Suara Yara pecah di udara ruangan yang sunyi. Setiap sentuhan ujung jari Nathan di kulit lehernya terasa seperti percikan api yang membakar sarafnya. Nathan menatap wajah Yara yang memerah di bawah temaram lampu; matanya yang sayu dan bibirnya yang sedikit terbuka membuat akal sehat Nathan seolah ditarik ke dalam kegelapan. Ia tidak pernah merasa seterangsang ini hanya dengan melihat ekspresi seorang wanita.Tanpa berkata-kata, Nathan menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Yara. Ia mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah. Yara yang terkejut secara refleks memeluk leher Nathan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu agar tidak jatuh, sekaligus menyembunyikan rasa malunya yang meledak-ledak.Nathan membawa Yara ke dalam kamar tidur Yara. Dengan gerakan posesif, ia merebahkan tubuh Yara di atas kasur king size yang empuk. Cahaya rembulan dari balik jendela besar apartemen menyinari lekuk tubuh Yara yang sudah setengah terbuka. Nathan seg

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 62

    Suara hujan yang menghantam kaca jendela apartemen lantai atas itu terdengar seperti genderang yang bertalu-talu. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram, Yara meringkuk di sofa panjang. Rasa bosan dan lelah menunggunya membuatnya terhanyut ke dalam tidur yang tidak direncanakan.Namun, tidurnya terusik. Sebuah sentuhan lembut, namun memiliki otoritas yang kuat, terasa merayap di sepanjang garis lehernya. Yara mengerang kecil, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan.Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata gelap yang menatapnya dengan intensitas yang nyaris membakar. Nathan sudah berada di sana, berlutut dengan satu kaki di samping sofa, masih mengenakan kemeja kantornya yang sedikit berantakan di bagian kerah."N-Nathan?" suara Yara parau, khas orang baru bangun tidur. "Kapan kau pulang?"Yara mencoba bangkit untuk duduk, tetapi tangan besar Nathan segera menahan bahunya. Alih-alih membiarkannya bangun, Nathan justru mendorongnya lembut hingga Ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status