LOGINMobil sedan hitam Nathan berhenti dengan anggun di depan port-cochère sebuah hotel bintang lima yang menjadi tempat pertemuan klien besar hari ini. Di dalam kabin yang senyap, Nathan baru saja menutup sambungan telepon dengan Adrian. Wajahnya yang semula datar kini berubah menjadi lapisan es setelah mendengar laporan singkat tentang kunjungan tak diundang Clara ke apartemennya tadi pagi.Ia menatap lurus ke depan, matanya tajam seperti elang yang siap menerkam, saat melihat sosok Clara berjalan turun dari mobil lain, diikuti oleh asistennya yang membawa tumpukan dokumen desain."Sudah kubilang jangan pernah menyentuh kehidupanku, Clara. Apa kau sudah lupa?" gumam Nathan dengan nada rendah yang penuh ancaman. Ia menatap punggung Clara dengan tatapan seolah sedang menatap mangsa yang siap untuk dicabik. "Mari, akan kupastikan kau ingat persis siapa dirimu di hidupku."Nathan turun dari mobil, diikuti oleh barisan staf dan asisten dari mobil-mobil di belakangnya. Mereka bergerak seperti
Pagi itu, suasana di apartemen terasa lebih ringan setelah Nathan berangkat ke kantor. Sebelum melangkah pergi, ia sempat mengecup kening Yara—sebuah gestur yang masih membuat jantung Yara berdegup kencang meski pria itu sudah menghilang di balik pintu lift. Nathan sempat berpesan bahwa ia mungkin akan pulang agak larut karena urusan audit mendadak yang harus ia selesaikan, dan Yara hanya mengangguk patuh.Yara merasa bosan. Kehidupan "simpanan" yang ia jalani ini ternyata lebih banyak diisi dengan menunggu daripada berpetualang. Ia memutuskan untuk mengeluarkan laptop yang dihadiahkan Nathan beberapa waktu lalu. Dengan secangkir smoothie dingin dan sepiring cookies cokelat di sampingnya, ia memposisikan diri di meja ruang tengah. Suasana hatinya sedang cukup baik untuk menuangkan imajinasi ke dalam naskah novel barunya. Jari-jarinya menari di atas keyboard, tenggelam dalam dunia fiksi di mana ia memiliki kendali penuh atas nasib setiap karakternya.Namun, ketenangan itu terusik saat
Pintu kamar mandi terbuka, menyebarkan uap hangat ke seluruh ruangan. Yara melangkah keluar dengan piyama satin berwarna dusty rose yang lembut, memeluk tubuhnya sendiri karena merasa sedikit canggung. Di luar dugaan, pemandangan yang menyambutnya bukanlah Nathan yang sedang sibuk dengan ponsel atau dokumen kerja, melainkan Nathan yang sudah mengenakan piyama pria berwarna biru tua, duduk santai di sisi ranjang. Pria itu tampak jauh lebih manusiawi, jauh dari kesan kaku yang biasanya melekat pada sosok miliarder angkuh."Sini," ucap Nathan singkat, menepuk ruang kosong di sampingnya.Yara mendekat seperti anak kecil yang tertangkap basah bermain hujan—malu-malu namun penasaran. "Duduk," perintah Nathan lagi, kali ini nada suaranya lembut, tidak ada perintah mutlak yang biasa ia gunakan.Yara duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba, Nathan mengambil sebuah hairdryer dari atas nakas. Yara tertegun. "A-apa yang kau lakukan?""Rambutmu masih basah. Nanti kau sakit kalau tidur dengan rambut seper
Suasana apartemen yang biasanya terasa sunyi dan dingin, kini mendadak terasa menyesakkan. Nathan melangkah lebar masuk ke dalam, menarik Yara dengan lembut namun tegas. Topeng-topeng kristal dan logam yang mereka kenakan di pesta tadi sudah dibuang begitu saja ke kursi mobil; benda-benda itu tidak lagi berguna setelah sandiwara di lantai dansa berubah menjadi tragedi kecil yang memuakkan.Nathan langsung membawa Yara ke kamar tidurnya. Ia mendudukkan wanita itu di tepi ranjang yang empuk. Gaun ungu tua yang tadi terlihat sangat mewah kini tampak menyedihkan dengan noda anggur merah yang sudah mulai mengering dan lengket."Tunggu di sini," perintah Nathan, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu."Tanpa menunggu jawaban, Nathan langsung berbalik menuju kamar mandi. Suara gemericik air yang mengisi bathtub mulai terdengar, memecah keheningan di dalam kamar.Yara terduduk diam, menatap ujung kakinya yang masih terbalut sepatu hak tinggi. Berat. Rasa
Waktu seolah merayap lambat di bawah denting jam besar aula. Sudah lebih dari satu jam Yara berdiri di sisi Nathan, menjadi pusat perhatian sekaligus sasaran bisik-bisik yang tak kunjung reda. Nathan benar-benar menjalankan perannya sebagai pelindung yang posesif; ia tak membiarkan jarak antara tubuhnya dan Yara lebih dari sepuluh sentimeter. Setiap kali ada kolega bisnis yang mencoba mendekat dengan tatapan menilai, Nathan akan membalasnya dengan tatapan tajam yang membungkam mulut mereka."Apa kau lelah?" bisik Nathan rendah. Napasnya yang hangat menerpa telinga Yara, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.Yara mengangguk kecil, mencoba membetulkan posisi kakinya yang mulai berdenyut di dalam sepatu hak tinggi. "Ya, sedikit. Kepalaku juga mulai pening karena aroma parfum yang terlalu pekat di sini.""Bertahanlah sebentar lagi. Kita akan pulang setelah sesi ini," balas Nathan, jemarinya mengusap pinggang Yara dengan gerakan menenangkan yang tidak disadari pria itu sendiri.Tepat saa
Clara Liu menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia berdiri di sudut aula, memegang gelas berisi air mineral dengan jari yang sedikit gemetar. Matanya yang tajam di balik topeng terus bergerak, mencari alasan logis untuk menenangkan jiwanya yang koyak."Tenang, Clara. Dia hanya pelampiasan," bisiknya dalam hati, berulang kali seperti mantra.Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita yang dibawa Nathan malam ini hanyalah boneka baru. Bukan pertama kalinya Nathan melakukan ini. Dulu, Nathan sering tertangkap kamera bersama model atau aktris kelas bawah hanya untuk membuat skandal agar keluarga mereka setuju untuk menyetujui perceraian. Ini adalah pola yang sama. Nathan tidak benar-benar menyukainya. Pria itu hanya menggunakan wanita malang tersebut untuk menghancurkan pernikahan mereka.Namun, saat Clara menegak air putihnya, tatapannya tak sengaja terpaku pada satu pemandangan di seberang aula. Di sana, Nath
Lampu meja kerja yang terang menyinari butiran debu yang menari di atas layar tablet milik Clara. Ia sedang berada di dunianya sendiri, sebuah pelarian yang ia bangun dengan garis, warna, dan tekstur kain.Jemarinya yang ramping menggerakkan pena digital dengan lincah, mencoba menyelesaikan desain
Mobil sedan hitam yang dikemudikan Adrian berhenti dengan halus tepat di depan sebuah butik megah dengan fasad kaca tinggi di kawasan elit London. Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Nathan dengan sikap profesional yang tak cela. Adrian sempat melirik Yara sekilas, memberikan senyum t
Aula besar itu mendadak sunyi, hanya menyisakan bisik-bisik yang merayap di balik pilar-pilar marmer. Fokus para tamu elit London yang tadinya tertuju pada Nathan dan Yara, kini terbelah secara brutal. Di pintu masuk, sosok wanita dengan aura dingin yang menusuk baru saja melangkah masuk."Bukankah
Malam yang dinanti—atau lebih tepatnya, malam yang ditakuti Yara—akhirnya tiba. Di dalam pantulan kaca mobil yang melaju membelah dinginnya London, Yara nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajah yang dipoles oleh penata rias profesional pilihan Nathan sejak sore tadi benar-benar mengubah







