LOGINSurti tersentak panik setengah mati. Dia buru-buru menarik kembennya yang nyaris lepas. "Mati aku, Bang... Pak RT!" bisik Surti gemetar ketakutan. Tanpa menunggu jawaban Bhaskoro, wanita aduhai itu lari terbirit-birit kabur lewat pintu belakang.
Bhaskoro menghela napas kasar. Kepalanya pening dan sekujur tubuhnya masih terasa dibakar hawa panas dari jamu buatan Surti.
"Hmmm...ganggu saja," gerutu Bhaskoro kesal.
Ia menunduk, menatap celananya yang terasa sangat sesak dan menegang keras di bagian depan. Dengan langkah gontai dan menahan ngilu akibat gairah yang tak tuntas, Bhaskoro membuka pintu depan.
Di teras, Pak RT berdiri dengan raut wajah cemas.
"Ada apa, Pak RT?" tanya Bhaskoro datar, berusaha keras menormalkan suaranya dan menyembunyikan bagian bawah tubuhnya di balik daun pintu.
"Aduh, Nak Bhaskoro. Tadi ada warga lapor melihat keributan antara kamu dan si Kobas di pelataran sebelah. Kamu nggak apa-apa?" tanya Pak RT sambil mengintip agak curiga ke dalam rumah yang sepi.
"Saya tidak apa-apa, Pak. Hanya salah paham biasa, sudah saya usir dia," jawab Bhaskoro tetap dengan wajah datarnya.
Pak RT menghela napas panjang, raut wajahnya makin serius. "Nak Bhaskoro ini kan pendatang baru. Bapak cuma mau ngingetin, jangan sembarangan main-main dengan orang jahat di desa ini. Kobas itu memang preman mabuk, tapi masih ada yang lebih bahaya. Mending kamu hati-hati, Nak."
Bhaskoro mengangguk tipis. "Terima kasih peringatannya, Pak. Saya akan ingat."
Setelah memastikan keadaan aman dan di rumah pria ini tidak ada sesiapa....Pak RT akhirnya pamit. Bhaskoro lekas menutup dan mengunci pintu rapat-rapat.
Begitu membalikkan badan, Bhaskoro langsung menghempaskan dirinya ke kursi kayu. Napasnya memburu. Miliknya di balik celana masih berkedut keras, berdenyut nyeri meminta pelampiasan.
"Jamu sialan!" rutuknya sambil memijat pelipis yang berkeringat. "Bisa meledak kepalaku kalau begini terus," sungut Bhaskoro mangkel sendiri.
Tiba-tiba, suhu ruangan seketika dingin. Hidung Bhaskoro menangkap aroma aneh, campuran wangi melati pekat dan bau anyir yang membuat bulu-bulu halusnya berdiri. Dari sudut ruangan yang remang, segumpal asap hijau pekat muncul berputar-putar.
Bhaskoro tidak terkejut. Dia justru menatap tajam ke arah asap itu dengan rahang mengeras, sorot matanya tajam menatap ke arah asap itu.
Perlahan, sesosok wanita melangkah keluar dari balik kepulan asap. Wajahnya cantik luar biasa dengan sorot mata tajam yang memikat.
Wanita itu mengenakan pakaian serba hijau yang sangat ketat, mencetak jelas lekuk bagian atas tubuhnya yang membusung dan pinggulnya yang bergoyang menggoda. Sebuah jubah tipis transparan bermotif sisik ular menjuntai dari bahunya.
Bukannya senang dengan kehadiran wanita cantik ini, hati Bhaskoro kini kebat kebit. Ada apa si mahluk ini datang saat ini..?
"Wah... masih tegang keras rupanya, Bhaskoro... Sayang sekali perempuan penggoda itu keburu kabur," goda wanita itu. Suaranya mendesah manja, meliuk-liuk meresap ke telinga Bhaskoro.
Inilah rahasia tergelap Bhaskoro. Sosok di depannya adalah siluman ular wanita yang menyandera nyawanya.
Dulu, saat Bhaskoro di ambang kematian dan membutuhkan kekuatan kebal, dia membuat perjanjian maut. Nyawanya diselamatkan, ia juga diberi kekayaan.
Namun sebagai gantinya, dia harus mengabdi dan memuaskan nafsu sang siluman.
"Waktu terus berjalan, Bhaskoro. Kamu ingat janjimu, kan?" Siluman itu melangkah maju, wangi melatinya kian menyengat. "Kamu harus memuaskanku. Dan untuk bisa melayaniku tanpa mati lemas kehabisan napas, kamu butuh energi besar, pahamkan darimana kamu dapat energy besar itu...?"
"Aku tahu," desis Bhaskoro menahan amarah dan gairahnya yang makin kacau akibat kedatangan wanita jadi-jadian tanpa di undang ini.
"Kamu harus mengumpulkan energi dari perempuan-perempuan yang terpincut padamu. Bukan minum jamu, apalagi obat kuat hik-hiks....!" sambung siluman itu ejek Bhaskoro, jari lentiknya yang berkuku panjang kini mengusap pelan dada bidang Bhaskoro.
"Semakin sering kamu berhubungan dengan mereka, energimu akan makin meningkat tajam. Tapi ingat syaratnya, tampan... hanya boleh wanita yang melakukannya atas dasar keinginan mereka sendiri. Mereka yang harus menyerahkan tubuhnya. Kamu tidak boleh memaksa. Mengerti?"
Bhaskoro menepis tangan siluman itu. Harga dirinya sebagai lelaki tersinggung. Ditambah efek jamu perangsang Surti yang masih menggelegak di nadinya, Bhaskoro merasa sanggup melakukannya dengan siluman itu saat ini juga.
Tapi...apa mungkin?
"Aku tidak butuh energi tambahan dari para wanita itu untuk menaklukkanmu," geram Bhaskoro dengan tatapan berapi-api, menatap belahan gundukan kembar sang siluman.
"Kenapa tidak melakukan penebusannya sekarang? Ku lihat rudal gede kamu sudah butuh penyaluran saat ini juga," ejek wanita ini.
Siluman ular itu tertawa pelan, tawanya terdengar seperti desisan liar yang merangsang. Matanya menatap tepat pada milik Bhaskoro yang menonjol keras di balik celana. Dia menjilat bibir merahnya perlahan.
"Huhhh...!"dengus Bhaskoro menahan emosinya.
"Kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang," tantang sang siluman dengan nada meremehkan sekaligus memancing. "Aku penasaran, sudah seberapa kuat sejak pertemuan kita terakhir!"
Tantangan itu memutus sisa kesabaran Bhaskoro. Darahnya mendidih oleh nafsu dan kekuatan jamu yang menggila. Tanpa banyak bicara, Bhaskoro langsung menyergap pinggul sang siluman.
Wanita hijau itu memekik tertahan saat Bhaskoro dengan kasar mengangkat tubuhnya. Pria itu menggendongnya erat, tak memedulikan desahan napas panas siluman itu di ceruk lehernya.
Dengan langkah lebar dan napas memburu, Bhaskoro membawa sang siluman masuk ke dalam kamar tidur. Berbekal jamu Surti yang masih membakar uratnya, Bhaskoro yakin malam ini dialah yang akan menaklukkan makhluk ini!
Bhaskoro melempar tubuh padat siluman wanita itu ke atas ranjang hingga ranjang berderit keras. Efek jamu Surti membuat adrenalinnya terpacu hebat.
Namun, tepat saat Bhaskoro hendak menindihnya dan melucuti pakaian hijaunya, sepasang mata cantik siluman itu mendadak berubah menjadi kuning terang dengan pupil vertikal layaknya ular berbisa, dan lidahnya menjulur panjang menyentuh bibir Bhaskoro.
Untung Bhaskoro seakan familiar dengan perubahan ini, dia tidak kaget lagi. Andai orang biasa atau pertama kali, pasti pingsan!
"Tunjukkan jantanmu, Bhaskoro... atau malam ini darahmu yang kuhisap habis!" ucapnya, diiringi dengan desisan yang menyeramkan.
**
bersambung
"Luar biasa hebat... Seingatku beberapa tahun lalu perasaan jabatannya masih mentok menjadi seorang lurah biasa. Kemudian dalam waktu singkat, posisinya naik level meroket menjadi Sekretaris Dinas, berlanjut menjadi Kepala Dinas.”“Eeh sekarang tahu-tahu posisinya sudah berhasil menjabat sebagai Sekda saja. Kalau jalurnya semulus ini, jangan-jangan pas momen pemilihan kepala daerah alias pilkada serentak tiga tahun lagi, si Om ini bakalan nekat maju mencalonkan diri menjadi bupati?" batin Lintang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.Namun, di balik kekagumannya tersebut, radar kebatinan manusia harimau Sanjaya milik Lintang justru memberikan sinyal bahaya yang kian curiga.Ia tahu persis di dunia fana ini tidak ada kesuksesan politik yang instan tanpa adanya mahar besar yang wajib dibayar alis nyogok plus ada kekuatan lain bermain.Kilatan energi hitam yang mengalir di bawah kulit Om Zomi seolah mempertegas analisis batinnya, bahwa suksesi jabatan Sekda yang diperoleh dengan
Setelah kedua petugas polisi lalu lintas (polantas) itu berpamitan dengan tubuh yang terbungkuk-bungkuk—karena baru menyadari siapa sebenarnya sosok remaja tampan level sultan yang berdiri di hadapannya—Lintang langsung memberikan instruksi penutup."Tolong amankan mobil milik saudaraku itu ke tempat yang aman. Berikan saja nomor ponsel pribadiku kepada pemilik mobil yang ditabrak tadi. Sampaikan kalau aku siap bertanggung jawab penuh untuk menanggung seluruh kerugian materialnya," kata Lintang dengan nada berwibawa.Kedua polisi itu langsung kompak berseru siap dengan sikap hormat yang teramat takzim.Sikap patuh mereka semakin melesat naik seratus persen setelah Lintang tanpa ragu langsung mentransfer dana segar sebesar lima juta rupiah ke dalam rekening top up dompet digital milik mereka berdua sebagai uang lelah…!"Kalau sudah uang yang berbicara, urusan serumit apa pun di dunia ini pasti akan langsung bisa dibereskan dengan aman dan instan," batin Lintang sembari menyunggingkan se
Sepasang mata biawak Lintang membelalak lebar dengan napas yang mendadak memburu kencang.Begitu kancing mantel putih dokternya dilepas, pandangan Lintang langsung disuguhi pemandangan premium yang teramat menggetarkan iman.Di balik tanktop ketatnya, tampak gundukan sepasang buah melon milik Dokter Tami menyembul montok, padat, kencang, dan sangat menantang nekk….Struktur lekuk tubuh aduhai sang dokter muda ini benar-benar terlihat sangat seksi dan aduhai, seratus persen mirip dengan penampilan selebritas internet terkenal, dokter Amanda Zahra!"Ya sudah, tunggu sebentar ya," ujar Dokter Tami seraya bergerak membuatkan segelas susu instan yang memang tersedia di dalam dispenser ruangan kerjanya ini.Saat melangkah mendekat kembali sembari menyodorkan gelas susu hangat tersebut, keharuman aroma parfum sensual milik si dokter cantik langsung menguar lembut, menyeruak menusuk rongga hidung si mata biawak ini."Kelihatannya enak banget nih?" ceplos Lintang spontan, sukses membuat Dokter
Mendengar kesaksian ganjil mengenai penampakan dua ekor ular kobra misterius di kaca mobil di tengah jalur angker Mantewe tersebut, Lintang, Boma, dan Iful seketika langsung tersentak kaget bukan main.Ruangan Puskesmas mendadak diselimuti atmosfer dingin yang mencekam. Radar kebatinan Lintang bergetar hebat, langsung menyadari bahwa ini bukan kecelakaan biasa.Melainkan serangan teror gaib pemburu tumbal dari sisa-sisa pengikut iblis penguasa kegelapan yang nyata-nyata sudah mulai bergerak aktif mengincar keselamatan orang-orang di sekelilingnya!"Ular...? Bagaimana bisa ada ular merayap di kaca samping, padahal kecepatan laju kendaraanmu kan terhitung lumayan kencang? Jika dianalisis dari skala kerusakan benturan keras yang menimpa mobil sedan mewah kepunyaanmu ini, Hana," sela Boma mulai melancarkan analisis sotoy andalannya."Iya, Hana... Kok bisa sampai ada teror reptil ganjil seperti itu?" Iful tidak mau kalah taktis mengambil kesempatan.Remaja berkacamata minus itu bahkan denga
"Astaga...! Jadi perempuan yang terkapar berdarah ini adalah si Hana?!" seru Boma spontan memekik kaget, sembari kedua belah tangannya terus untuk tetap fokus mencengkeram kendali setir kemudi SUV bongsornya membelah jalanan aspal Mantewe.Sama seperti Boma, Lintang sebenarnya juga dibuat kaget setengah mati di dalam kabin belakang. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa korban kecelakaan lalu lintas alias laka lantas parah yang baru saja mereka tolong di pinggir jalur Gunung Hanggar itu adalah Hana—gadis manis mantan kekasih masa SMP-nya dulu.Lintang tampak dengan sangat sigap memangku dan memeluk erat tubuh lemas Hana di jok baris tengah.Sementara itu, Iful mengalah menggeser pantatnya pindah ke jok baris depan di samping Boma. Lintang terus-menerus memandangi rupa wajah jelita milik Hana yang kini terlihat teramat pucat pasi tanpa ada rona kehidupan."Ya Tuhan... Semoga saja kondisi fisikmu tidak kenapa-kenapa dan tidak ada luka dalam yang membahayakan, Hana," batin Lintang dirundun
"Pantas saja... Si Adon beserta seluruh komplotan geng sekolah, bahkan kawanan begal jalanan yang pernah kamu sikat tempo hari, semuanya langsung keok bergelimpangan dalam sekali hantam! Ternyata sahabat kita ini rekam jejaknya memang sudah jadi jagoan sejak usia dini!" seru Boma terkejut-kejut kagum.Sembari menyenggol lengan Iful yang sibuk membetulkan letak kacamatanya menatap foto seorang gadis berseragam SMP."Lintang... Kalau yang ini siapa, nih? Berpose mesra berdua denganmu di tepi pantai, wajahnya cakep dan bening banget!" serobot Boma kepo, membuat Lintang yang barusan melangkah dari dapur membawakan nampan minuman langsung berjalan mendekat."Hana...?!" gumam Lintang tanpa sadar.Dada remaja itu seketika berdegup samar. Ia cukup kaget karena ternyata foto kenang-kenangan bersama kekasih masa cinta monyetnya saat duduk di bangku SMP dulu masih tersimpan rapi dan dipajang oleh Bik Aluh di jajaran dekorasi foto-fotonya yang lain.Sejak dia pindah ke Jakarta hingga kini, mereka
Besok paginya jelang siang…“Hemm…ada apa ribut-ribut di depan kantor kelurahan itu?” batin Bhaskoro, lalu buru-buru memarkir mobil jadulnya dan mendekat ke arah keributan ini.“Ganti uang kami, panen kami gagal akibat ulah mantan suaminya yang kurang ajar bawa duit kas desa dan kami tak bisa beli p
“Tolonggg….!”Sebuah jeritan sudah cukup membangkitkan jiwa kesatria Bhaskoro, sejenak dia hentikan aktivitas di rumah miliknya ini, tak peduli gerimis mulai deras dan agaknya sebentar lagi akan hujan.Bhaskoro bergegas keluar rumah sederhana miliknya dan dia melihat seorang penjual jamu keliling te
Anthony Johansyah dan Idam Hasibuan saling melempar senyum, menatap sang CEO yang duduk di hadapan mereka.Bhaskoro tetap tampil bersahaja—hanya kaus oblong hitam polos dan jins pudar—namun atmosfer di sekelilingnya kini telah berubah total. Tidak ada lagi sisa-sisa keputusasaan dari masa lalunya ya
Tanpa rasa keder sedikitpun Bhaskoro keluar dari rumahnya, dan dia melihat seorang pria ngamuk di rumah tetangganya yang berjarak 30 meteran dari rumahnya sendiri.Gigi Bhaskoro seketika gemeletuk menahan marah. Apalagi saat melihat si pemilik rumah tentu saja ketakutan. “Katakan di mana Surti, tadi







