Home / Urban / Makin Lama Makin Asyik / Bab 5: Peringatan Pak RT

Share

Bab 5: Peringatan Pak RT

Author: mrd_bb
last update publish date: 2026-05-12 16:17:30

Surti tersentak panik setengah mati. Dia buru-buru menarik kembennya yang nyaris lepas. "Mati aku, Bang... Pak RT!" bisik Surti gemetar ketakutan. Tanpa menunggu jawaban Bhaskoro, wanita aduhai itu lari terbirit-birit kabur lewat pintu belakang.

Bhaskoro menghela napas kasar. Kepalanya pening dan sekujur tubuhnya masih terasa dibakar hawa panas dari jamu buatan Surti.

"Hmmm...ganggu saja," gerutu Bhaskoro kesal.

Ia menunduk, menatap celananya yang terasa sangat sesak dan menegang keras di bagian depan. Dengan langkah gontai dan menahan ngilu akibat gairah yang tak tuntas, Bhaskoro membuka pintu depan.

Di teras, Pak RT berdiri dengan raut wajah cemas.

"Ada apa, Pak RT?" tanya Bhaskoro datar, berusaha keras menormalkan suaranya dan menyembunyikan bagian bawah tubuhnya di balik daun pintu.

"Aduh, Nak Bhaskoro. Tadi ada warga lapor melihat keributan antara kamu dan si Kobas di pelataran sebelah. Kamu nggak apa-apa?" tanya Pak RT sambil mengintip agak curiga ke dalam rumah yang sepi.

"Saya tidak apa-apa, Pak. Hanya salah paham biasa, sudah saya usir dia," jawab Bhaskoro tetap dengan wajah datarnya.

Pak RT menghela napas panjang, raut wajahnya makin serius. "Nak Bhaskoro ini kan pendatang baru. Bapak cuma mau ngingetin, jangan sembarangan main-main dengan orang jahat di desa ini. Kobas itu memang preman mabuk, tapi masih ada yang lebih bahaya. Mending kamu hati-hati, Nak."

Bhaskoro mengangguk tipis. "Terima kasih peringatannya, Pak. Saya akan ingat."

Setelah memastikan keadaan aman dan di rumah pria ini tidak ada sesiapa....Pak RT akhirnya pamit. Bhaskoro lekas menutup dan mengunci pintu rapat-rapat.

Begitu membalikkan badan, Bhaskoro langsung menghempaskan dirinya ke kursi kayu. Napasnya memburu. Miliknya di balik celana masih berkedut keras, berdenyut nyeri meminta pelampiasan.

"Jamu sialan!" rutuknya sambil memijat pelipis yang berkeringat. "Bisa meledak kepalaku kalau begini terus," sungut Bhaskoro mangkel sendiri.

Tiba-tiba, suhu ruangan seketika dingin. Hidung Bhaskoro menangkap aroma aneh, campuran wangi melati pekat dan bau anyir yang membuat bulu-bulu halusnya berdiri. Dari sudut ruangan yang remang, segumpal asap hijau pekat muncul berputar-putar.

Bhaskoro tidak terkejut. Dia justru menatap tajam ke arah asap itu dengan rahang mengeras, sorot matanya tajam menatap ke arah asap itu.

Perlahan, sesosok wanita melangkah keluar dari balik kepulan asap. Wajahnya cantik luar biasa dengan sorot mata tajam yang memikat.

Wanita itu mengenakan pakaian serba hijau yang sangat ketat, mencetak jelas lekuk bagian atas tubuhnya yang membusung dan pinggulnya yang bergoyang menggoda. Sebuah jubah tipis transparan bermotif sisik ular menjuntai dari bahunya.

Bukannya senang dengan kehadiran wanita cantik ini, hati Bhaskoro kini kebat kebit. Ada apa si mahluk ini datang saat ini..?

"Wah... masih tegang keras rupanya, Bhaskoro... Sayang sekali perempuan penggoda itu keburu kabur," goda wanita itu. Suaranya mendesah manja, meliuk-liuk meresap ke telinga Bhaskoro.

Inilah rahasia tergelap Bhaskoro. Sosok di depannya adalah siluman ular wanita yang menyandera nyawanya.

Dulu, saat Bhaskoro di ambang kematian dan membutuhkan kekuatan kebal, dia membuat perjanjian maut. Nyawanya diselamatkan, ia juga diberi kekayaan.

Namun sebagai gantinya, dia harus mengabdi dan memuaskan nafsu sang siluman.

"Waktu terus berjalan, Bhaskoro. Kamu ingat janjimu, kan?" Siluman itu melangkah maju, wangi melatinya kian menyengat. "Kamu harus memuaskanku. Dan untuk bisa melayaniku tanpa mati lemas kehabisan napas, kamu butuh energi besar, pahamkan darimana kamu dapat energy besar itu...?"

"Aku tahu," desis Bhaskoro menahan amarah dan gairahnya yang makin kacau akibat kedatangan wanita jadi-jadian tanpa di undang ini.

"Kamu harus mengumpulkan energi dari perempuan-perempuan yang terpincut padamu. Bukan minum jamu, apalagi obat kuat hik-hiks....!" sambung siluman itu ejek Bhaskoro, jari lentiknya yang berkuku panjang kini mengusap pelan dada bidang Bhaskoro.

"Semakin sering kamu berhubungan dengan mereka, energimu akan makin meningkat tajam. Tapi ingat syaratnya, tampan... hanya boleh wanita yang melakukannya atas dasar keinginan mereka sendiri. Mereka yang harus menyerahkan tubuhnya. Kamu tidak boleh memaksa. Mengerti?"

Bhaskoro menepis tangan siluman itu. Harga dirinya sebagai lelaki tersinggung. Ditambah efek jamu perangsang Surti yang masih menggelegak di nadinya, Bhaskoro merasa sanggup melakukannya dengan siluman itu saat ini juga.

Tapi...apa mungkin?

"Aku tidak butuh energi tambahan dari para wanita itu untuk menaklukkanmu," geram Bhaskoro dengan tatapan berapi-api, menatap belahan gundukan kembar sang siluman.

"Kenapa tidak melakukan penebusannya sekarang? Ku lihat rudal gede kamu sudah butuh penyaluran saat ini juga," ejek wanita ini.

Siluman ular itu tertawa pelan, tawanya terdengar seperti desisan liar yang merangsang. Matanya menatap tepat pada milik Bhaskoro yang menonjol keras di balik celana. Dia menjilat bibir merahnya perlahan.

"Huhhh...!"dengus Bhaskoro menahan emosinya.

"Kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang," tantang sang siluman dengan nada meremehkan sekaligus memancing. "Aku penasaran, sudah seberapa kuat sejak pertemuan kita terakhir!"

Tantangan itu memutus sisa kesabaran Bhaskoro. Darahnya mendidih oleh nafsu dan kekuatan jamu yang menggila. Tanpa banyak bicara, Bhaskoro langsung menyergap pinggul sang siluman.

Wanita hijau itu memekik tertahan saat Bhaskoro dengan kasar mengangkat tubuhnya. Pria itu menggendongnya erat, tak memedulikan desahan napas panas siluman itu di ceruk lehernya.

Dengan langkah lebar dan napas memburu, Bhaskoro membawa sang siluman masuk ke dalam kamar tidur. Berbekal jamu Surti yang masih membakar uratnya, Bhaskoro yakin malam ini dialah yang akan menaklukkan makhluk ini!

Bhaskoro melempar tubuh padat siluman wanita itu ke atas ranjang hingga ranjang berderit keras. Efek jamu Surti membuat adrenalinnya terpacu hebat.

Namun, tepat saat Bhaskoro hendak menindihnya dan melucuti pakaian hijaunya, sepasang mata cantik siluman itu mendadak berubah menjadi kuning terang dengan pupil vertikal layaknya ular berbisa, dan lidahnya menjulur panjang menyentuh bibir Bhaskoro.

Untung Bhaskoro seakan familiar dengan perubahan ini, dia tidak kaget lagi. Andai orang biasa atau pertama kali, pasti pingsan!

"Tunjukkan jantanmu, Bhaskoro... atau malam ini darahmu yang kuhisap habis!" ucapnya, diiringi dengan desisan yang menyeramkan.

**

mrd_bb

bersambung

| 11
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Doni Gunawan
lanjut kan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 272: Keluarga Lintang Mirip Klub Bola

    Sofia memeluk leher Lintang, kukunya mencakar punggung suaminya. “Lebih ganas… sayang… seperti di istana dulu… ahh… hancurkan aku…”“Sialan, ini bukan Sofia, ini Maharatu…dasarrrr!” batin Lintang menahan tawa.Lintang lalu menggeram. Ia membalik tubuh Sofia hingga tengkurap, menarik pinggulnya ke atas, lalu menumbuk dari belakang dengan tempo yang semakin liar.Tangan kanannya meraih rambut Sofia, menariknya ke belakang hingga leher ramping itu terekspos.Ia menggigit tengkuk istrinya sambil terus menghentak tanpa ampun.Sofia hanya bisa mendesah dan mengerang, tubuhnya gemetar hebat. Cairan membasahi paha mereka berdua.Setiap hentakan Lintang membuatnya semakin dekat dengan puncak.“Aku… aku mau keluar…” desah Sofia putus-putus.“Keluar bersamaku,” perintah Lintang, tempo hentakannya semakin brutal.Beberapa detik kemudian, Sofia menjerit panjang. Tubuhnya kejang, fefeknya berdenyut hebat mengapit kejantanannya.Lintang ikut meledak di dalamnya, memompa spermanya dalam-dalam sambil te

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 271: Sofia yang Makin Ganas...

    Tubuhnya menegang, dinding dalamnya berdenyut kuat mengapit Lintang, dan ia memejamkan mata sambil mendesah panjang.Sensasi itu menarik Lintang ikut menyusul. Ia menanam dirinya sedalam mungkin dan melepaskan semuanya di dalam, dengan erangan rendah yang serak.Mereka terdiam lama setelahnya. Masih tersambung. Masih saling memeluk. Lintang mengecup peluh di kening Sofia, lalu tersenyum kecil.“Enak banget sayaaang….”Sofia hanya bisa tersenyum lelah dan bahagia, sambil mengusap punggung suami. “Sama, aku jugaaa… suamiku.”Di luar, angin malam Desa Sukarami berhembus pelan, seolah ikut menjaga keintiman mereka yang baru saja utuh kembali.Baru saja keduanya akan terlelap, tiba-tiba suasana kamar berubah.Seekor ular sebesar lengan orang dewasa muncul di tengah lantai kayu.Sisiknya mengkilap di bawah cahaya lampu tidur, dan matanya menyala kuning kehijauan.Sofia langsung melonjak, merebut baju tidurnya yang tergeletak di kursi, lalu buru-buru memakainya sambil mundur beberapa langkah.

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 270: Lepas Kangen

    Setelah meletakkan bayi Banjar dengan hati-hati di tengah kasur yang sudah diberi bantal pengaman, Lintang berbalik menghadap Sofia.Tanpa banyak kata, ia menarik tubuh istri barunya ke dalam pelukan erat. Tangannya merayap pelan di punggung Sofia, menekan lembut seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar ada di pelukannya.Lalu bibirnya turun, melumat bibir Sofia dengan lambat, dalam, dan penuh rindu. “Kangen, sayang…” bisik Lintang di sela ciuman, suaranya serak dan hangat.Sofia menggeliat pelan dalam pelukannya.Tubuhnya yang masih sensitif setelah melahirkan langsung bereaksi. Ia membalas ciuman itu dengan sama laparnya, tangan kecilnya naik memeluk leher suami.“Aku juga…” desahnya pelan di antara bibir yang saling bertemu.“Sudah lama banget… aku nggak merasakan lumatan kamu di sini.”Tangan Sofia mengambil tangan Lintang, lalu membawanya turun pelan-pelan. Melewati perut yang masih agak mulus, lalu lebih bawah lagi, hingga jari-jari Lintang menyentuh area yang sudah sedikit

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 269: Desa Sukarami…Selesaikan Masalah Lama

    Begitu tiba di sebuah rumah yang lumayan bagus di kawasan Bandung, Teh Diana—atau yang biasa dipanggil Tante Diana, ibu Sofia—langsung terkejut.Keterkejutannya semakin menjadi saat mengetahui bahwa pemuda di depannya adalah anak dari Bhaskoro Sanjaya.Dalam hati, wanita paruh baya itu bergumam, “Sejak awal aku sudah curiga. Kenapa Sofia memberi nama Sanjaya di ujung nama bayinya… Kini rasa penasaranku terjawab sudah.”Diana dan Bhaskoro pernah terlibat skandal manis di masa lalu. Kenangan itu sempat melintas di benaknya, membuat dada terasa sesak sesaat.Ia menatap Lintang serius. “Jadi… kamu mau menikahi Sofia, Nak Lintang?”Lintang mengangguk tegas tanpa ragu.“Iya, Tante. Lagipula aku pernah bersumpah akan menikahinya. Ditambah lagi, sekarang kami sudah memiliki anak.”Diana terdiam sejenak, menimbang, lalu menghela napas panjang.“Hmm… baiklah. Tante setuju. Hari ini juga kalian menikah secara siri.”Lintang tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Ia langsung mengangguk setuju.Tan

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 268: Sofia Kaget, Lintang Sudah Miliki Dua Bini!

    Lintang menunggu dengan sabar. Ia bahkan tidak ragu duduk di kursi yang disediakan khusus untuk pembeli di toko oleh-oleh itu. Toko yang namanya sama dengan pemiliknya: Toko Sofia.Walaupun hanya ruko kecil berukuran 4x10 meter dan bertingkat dua, harga sewanya lumayan mahal.Dua pembantu toko terlihat sibuk melayani pembeli di lantai bawah, sementara suasana di dekat kasir terasa semakin sunyi dan kaku.Sofia akhirnya menghela napas pelan. Ia membetulkan posisi bayinya yang masih asyik menyusu, lalu menatap Lintang dengan pandangan yang sulit ditebak.“Lintang… kamu benar-benar ingin tahu siapa ayah dari anakku yang bernama Banjar ini?”Lintang mengangkat alis, mencoba mencairkan suasana dengan candaan. “Banjar…? Kayak nama daerah asal kakekku. Jangan-jangan suamimu berasal dari Kalimantan Selatan, ya?”Senyum kecil sempat muncul di bibir mantan pramugari cantik itu, walaupun saat ini dia tidak berpenampilan berlebihan, bahan cenderung sederhana.Senyum yang getir…“Hmm… aku balik ta

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 267: Bertemu Sofia

    Dan begitulah… kedua Nyonya Lintang Sanjaya ini sangat kompak. Mereka benar-benar bak saudara kandung.Ke mana-mana selalu berdua, curhat bareng, belanja bareng, bahkan rewel bareng.Lintang pun akhirnya membuat jadwal resmi. Dua hari untuk Hana, dua hari untuk Naura.Bergantian, adil, dan tanpa ribut.Namun dua setengah bulan kemudian, setelah Lintang resmi lulus SMA, ia kaget setengah mati.Kedua istrinya kompak… ngidam. Hana ngidam anak kedua, Naura ngidam anak pertama.Bukan itu yang membuat Lintang pusing. Yang membuatnya senewen adalah jatah malamnya berkurang drastis.Kedua istri jelitanya kompak meminta dia membatasi “genjot”. Alasan mereka sama: takut keguguran.“Dueh… gimana ini…” batin Lintang sambil mengucek pelipis. Kepala sudah pusing tujuh keliling.Badan masih muda, nafsu masih menggebu, tapi sekarang harus menahan diri.Yang lucu justru reaksi mertuanya.Bhaskoro dan Dewi Plamita justru senang bukan main mengetahui dua menantu mereka hamil bersamaan.“Bagus, bentar lagi

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 4: Perjanjian Maut…!

    Tanpa rasa keder sedikitpun Bhaskoro keluar dari rumahnya, dan dia melihat seorang pria ngamuk di rumah tetangganya yang berjarak 30 meteran dari rumahnya sendiri.Gigi Bhaskoro seketika gemeletuk menahan marah. Apalagi saat melihat si pemilik rumah tentu saja ketakutan. “Katakan di mana Surti, tadi

  • Makin Lama Makin Asyik    Bab 3: Jamu yang Bikin Cenat Cenut

    “Sial, kalau saja aku tidak mengambil keputusan bodoh itu di masa lalu, kini aku pasti bisa hidup tenang!” keluh Bhaskoro, mirip rintihan, ingat kebodohannya dahulu, tapi inilah syarat berat yang sudah ia setujui dan tak bisa di tarik lagi.Dia tak bisa batalkan perjanjian maut ini sepihak, apa yang

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 2: Bu Kades yang di Demo Warganya

    Besok paginya jelang siang…“Hemm…ada apa ribut-ribut di depan kantor kelurahan itu?” batin Bhaskoro, lalu buru-buru memarkir mobil jadulnya dan mendekat ke arah keributan ini.“Ganti uang kami, panen kami gagal akibat ulah mantan suaminya yang kurang ajar bawa duit kas desa dan kami tak bisa beli p

  • Makin Lama Makin Asyik   Bab 1: Jeritan Bibi Jamu Cantik

    “Tolonggg….!”Sebuah jeritan sudah cukup membangkitkan jiwa kesatria Bhaskoro, sejenak dia hentikan aktivitas di rumah miliknya ini, tak peduli gerimis mulai deras dan agaknya sebentar lagi akan hujan.Bhaskoro bergegas keluar rumah sederhana miliknya dan dia melihat seorang penjual jamu keliling te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status