LOGIN"Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."
Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis. Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang lucu. Tatapannya kembali menyapu tubuhku. "Mungkin itu juga sebabnya kamu ... jadi jauh lebih cantik." Aku menahan rasa jijik. Tidak ada gunanya berada di sini. "Minggir, aku mau pergi," ucapku ketus. Aku berbalik dan hendak pergi, lagi-lagi David menarik pergelangan tanganku. "Risa, tunggu. Aku mau mengatakan sesuatu Aku menyesal. Dulu aku terlalu cepat percaya rumor." Aku mengernyit, heran dengan perubahan sikapnya tiba-tiba. "Apa?" "Kau tahu maksudku. Rumormu dengan Jason yang beredar dulu. Aku pikir kamu benar-benar selingkuh dengan Jason. Lagian, dia lengket sekali padamu." Pria ini benar-benar tidak tahu malu. Setelah tiga tahun, dia baru mengangkat kembali hal ini? David mendekat lagi. "Kalau waktu itu aku tahu semuanya akan jadi seperti ini, mungkin aku tidak akan memutuskanmu. Bagaimana ... bagaimana kalau kita mulai lagi?" Aku hampir tidak percaya dengan pendengaranku. Apa pria ini serius? Apa dia pikir aku bodoh? David menatapku dengan tatapan yang membuat kulitku merinding. "Dulu kita belum sempat melakukan banyak hal... Tapi tidak apa-apa, kita bisa mulai lagi." "David." Aku menatapnya tajam. "Aku tidak tertarik. Jangan ganggu aku lagi. Minggir dari hadapanku." Barulah di situ, senyumnya menghilang. "Jangan sok jual mahal." Suaranya berubah menggeram. Benar saja, keramahannya barusan hanyalah topeng. Aku menatapnya tajam. "Justru aku baru sadar kenapa dulu aku mau pacaran denganmu. Aku benar-benar salah pilih." David terlihat tersinggung, tatapannya berubah gelap. Sebelum aku sempat bereaksi, tangannya sudah melesat hendak menyambar wajahku. "Dasar perempuan tidak tahu diri—" Namun, sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah tangan tiba-tiba menarik lenganku. Tangan David pun meleset begitu saja, hanya bisa mengenai udara kosong. Sementara itu tubuhku seketika menjauh dari hadapan David dan menabrak tubuh tegap pria yang membawaku ke belakang punggungnya. Saat aku mendongak, aku mendapati Jason. Dia berdiri di sampingku dengan wajah dingin. "Ayo pulang." Aku belum sempat menjawab ketika Jason sudah menarikku pergi. Aku hanya sempat melihat David yang berdiri terpaku di sana, tapi tidak mengejar atau meneriakiku dan Jason. Bahkan Davis sampai tidak bisa melawan. Apa ini besarnya pengaruh Jason? Pria itu masih menarikku menjauh. Langkahnya begitu cepat dan tegas, aku di belakangnya terseok-seok. "Apa yang kamu lakukan?" Aku menarik tanganku setelah kami cukup jauh dari gedung. Tapi genggaman tangan Jason tidak goyah. Pria itu tidak menjawab. Dia terus berjalan menuju mobil. "Jason!" Begitu membuka pintu penumpang di belakang, ia langsung melempar tubuhku begitu saja hingga aku terjerembab ke kursi mobil yang empuk. Belum sempat bangkit, Jason sudah ikut masuk dan membanting pintu hingga tertutup. Tubuh besar pria itu seolah menutupiku dari atas, ia duduk di antara kedua kakiku yang tertekuk, di dalam ruangan sempit di mobil ini. “Jason, turun sanq! Kamu sedang apa…” Ucapanku terpotong saat dua tangan Jason sudah meraih kedua bahuku, meremasnya dengan tegas. Sorot matanya yang tajam membuatku membeku. "David Ford, serius?" Aku terdiam. "Kamu ketemu dia dan malah berdiri di sana mendengarkan omong kosongnya?" "Aku tidak—" "Kamu dengar aku." Aku tidak berani mendongak. Wajahnya sangat dekat. Dari jarak ini, aku bisa merasakan napasnya beehembus di wajahku. "David Ford itu bukan orang yang seharusnya kamu percaya. Kau yang paling mengerti itu, Risa." Aku membeku. Nada suaranya terdengar jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada candaan. Tidak ada seringai. Hanya kemarahan. "Aku tahu," jawabku pelan. "Kalau tahu, kenapa kamu masih berdiri di sana?" Aku menatapnya beberapa detik. "Karena … aku kaget bertemu dengannya. Dan dia menghalangi jalanku." Jason masih belum melepaskan bahuku. Ekspresi dinginnya masih belum mencair, membuatku kelu di tempat. "Dia bilang apa saja padamu?" Aku menjawab lirih. "Dia ... mengajakku balikan." Rahang Jason mengeras.Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida
Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.
“Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada
"Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc
Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak
Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I







