Share

Bab 7

Author: Otinel
last update publish date: 2026-09-24 03:39:53

Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak.

Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang.

"J-Jason..."

Suaraku terdengar kecil.

Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku.

Kemudian dia mengangkat satu alis.

"Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?"

Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!"

"Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak.

"Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku."

Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku.

Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini.

"Lepaskan, Jason!"

Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat. "Kamu yang masuk kamarku tengah malam. Kamu tidak berpikir apa konsekuensinya?"

Mendengar itu, tatapanku jatuh pada tanganku yang bertumpu di dada bidangnya.

Jason sedang tidak berpakaian. Aku bisa merasakan kulitnya di bawah sentuhan tanganku. Kedekatan ini membuatku berdebar.

Ini kan tidak pantas!

"A-aku cuma mau mengambil charger!" seruku beralasan.

"Charger?"

Aku menunjuk meja di samping ranjang. "Itu... aku mau pinjam. Soalnya punyaku tidak ada."

Jason mengikuti arah pandanganku. "Oh."

Dia melepaskan tanganku. Aku buru-buru bangkit dan mengambil charger itu.

"Tidak usah beralasan. Kalau kau minta dengan baik, aku akan bolehkan tidur denganku di sini."

Aku tersentak. Kepalaku menoleh dengan cepat ke arahnya dengan tatapan mata syok. Pria ini mengatakan itu dengan wajah yang terlalu tenang.

"Bukankah itu alasanmu ke sini?" godanya lagi. "Mukamu sampai merah. Pasti isi kepalamu mesum."

Aku tahu, Jason menemukan kesenangan dari menggodaku dan menjahiliku. Ia akan merasa puaa begitu mendapatkan reaksi dariku.

Sejak dulu, meski sudah menyadari hal itu, aku tetap tidak bisa menahan emosi.

Aku tidak menyangka, sekarang aku masih tetap harus menghadapi perilaku menjengkelkan pria ini setelah sekian lama!

"Kamu yang mesum!" balasku kesal. "Jangan menuduh orang lain, kamu sendiri kenapa tidur tidak pakai baju?"

Jason tertawa pelan. Seperti yang kuduga, dia mendapatkan kepuasan dari menggodaku!

"Risa, ini kamarku, aku bebas melakukan apapun yanh kumau di sini," jawabnya dengan penekanan. "Coba kau ingat-ingat lagi, siapa yang melanggar privasi di sini?"

Aku kehilangan kata-kata.

Tanpa menatapnya lagi, aku keluar dari kamar itu sambil membawa charger.

Begitu pintu tertutup, aku bersandar di dinding di lorong rumah yang sepi.

Jantungku masih berdetak kencang. Aku memejamkan mata.

Kenapa aku harus jatuh tepat di atasnya?

Dan kenapa... Wangi tubuh Jason masih tercium jelas? Aroma itu masih sama seperti aromanya dulu ketika...

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Beruaaha mengusir pikiran itu.

Tidak.

Aku tidak boleh memikirkan hal-hal aneh.

Dia adalah Jason.

Jason yang sama dari SMA. Jason yang menyebalkan, yang suka menggangguku.

Jason yang sekarang... adalah kakakku.

Aku langsung masuk kamar.

-

Aku mulai memiliki seorang teman di kampus. Namanya Clara.

Kami tidak langsung menjadi dekat. Awalnya kami hanya sering duduk bersebelahan saat kelas karena kebetulan mendapat kelompok yang sama.

Clara adalah salah satu dari sedikit orang di kampus yang tidak terlalu peduli dengan nama belakangku.

Ia tahu aku adalah anak tiri Robert Calloway. Ia juga tahu Jason adalah kakak tiriku. Tetapi ia tidak pernah memperlakukanku berbeda karena hal itu.

Misalnya, siang itu, setelah kelas selesai, aku dan Clara duduk di sebuah kafe kecil di dalam gedung fakultas.

"Omong-omong, Ris, tentang Jason ..."

Tanganku berhenti mengetik di laptop. "Lagi?"

Clara tertawa kecil. Ia tahu aku tidak terkejut. Sudah jadi makanan sehari-hari orang-orang di sekitarku membicarakan Jason.

"Sebenarnya... hubunganmu dengannya itu gimana?"

"Uhuk—" Aku terbatuk keras, tersedak minuman.

Aku menatap dengan mata lebar Clara yang masih menyaksikanku, menungguku bicara.

"Apa maksudmu? Dia ya... kakakku."

Clara mengangkat alis. "Kakak tiri. Tapi kenapa dia memperlakukanmu seperti itu?"

"Seperti apa maksudnya?"

Sebelum Clara menjawab, ia menoleh keluar jendela kaca cafe yang transparan. Di luar sana, terparkir mobil milik Jason.

Pria itu sendiri turun tak lama kemudian, lalu menunggu di sana sambil menyender ke mobil dan memainkan ponselnya.

"Maksudku, begitu," lanjut Clara. "Benar-benar protektif. Pacarku saja tidak memperhatikanku sebegitunya."

Ia lalu menoleh ke arahku lagi. "Bukannya kamu bilang, di sekolahmu ada rumor bahwa kalian cukup dekat? Kamu yakin sebelum kalian jadi saudara, di antara kalian tidak ada apa-apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 8

    Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 7

    Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 6

    “Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 5

    "Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 4

    Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 3

    Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status