Share

Bab 6

Author: Otinel
last update publish date: 2026-09-24 03:13:32

“Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason.

Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya."

Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit.

Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas.

"Bagus."

Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang.

Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu.

Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman.

Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku padanya.

Sampai suatu hari, Jason datang kepadaku.

Aku masih ingat bagaimana wajahnya waktu itu. Serius dan datar seperti biasanya. Tapi ia bicara terus terang bahwa David selingkuh.

Aku tidak percaya. Aku bahkan marah kepada Jason, berpikir dia hanya ingin merusak hubunganku. Apalagi, waktu itu rumor bahwa aku berpacaran dengan Jason sedang beredar.

Namun, beberapa hari kemudian, David sendiri yang datang padaku dan memutuskan hubungan kami.

Dia tidak pernah mengaku berselingkuh. Alasan di memutuskanku adalah karena dia mempercayai rumor bahwa aku justru memiliki hubungan dengan Jason.

Saat itu aku sangat marah kepada Jason. Aku menyalahkannya karena terlalu sering berada di dekatku. Karena kelakuannya membuat teman-teman sekelas mulai bergosip dan kehadirannya membuat hubunganku dengan David semakin rumit.

Namun sekarang, setelah bertemu David lagi, aku justru merasa bodoh.

Bagaimana mungkin aku pernah mencintai laki-laki seperti itu?

Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya bisa melamun dan menghela napas.

Ketika kami sampai di rumah, suasananya jauh lebih sepi dari biasanya. Ruang tengah terasa lengang. Aku tidak melihat Ibu dan Robert di manapun.

Aku baru sadar ada beberapa koper yang sudah tidak ada di dekat kamar utama yang ditempati Ibu dan Robert.

Aku memanggil salah satu pelayan, memintanya menjelaskan tentang kepergian mereka.

"Nona, Tuan dan Nyonya sudah berangkat ke vila keluarga Calloway."

"Vila?"

"Iya. Tuan Robert mengatakan mereka akan tinggal di sana selama beberapa hari."

Aku berkedip. Beberapa hari? Aneh sekali. Hal seperti ini sama sekali tidak memberi kabar pada anak mereka.

Tapi, aku langsung mengerti. Mereka belum lama ini menikah. Pasti sekarang sedang sibuk masa berbulan madu.

Aku menghela napas lega. Ibu benar-benar terlihat bahagia akhir-akhir ini. Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu khawatir tentangnya.

Tapi itu berarti...

Aku menoleh ke arah tangga.

Jason juga baru masuk setelah memarkirkan mobil.

Berarti di rumah besar ini… hanya ada aku dan Jason.

Entah kenapa, aku mendadak merasa tidak tenang.

-

Malamnya, aku duduk di meja belajar.

Aku mencoba mengerjakan tugas kuliah yang diberikan dosen hari ini. Namun, baru setengah jam belajar, ponselku mati.

Aku mengerutkan kening. "Sial. Lupa mengisi baterai,” gumamku.

Aku mencari charger di dalam tas. Tidak ada. Aku membuka laci, tidak ada juga.

Akhirnya aku menghela napas. Kalau begini, tidak ada pilihan lain. Aku mungkin harus pinjam milik Jason sementara waktu.

Aku keluar kamar. Rupanya, jarak dekat cukup efisien. Aku hanya perlu berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti di depan pintu kamarnya.

Aku mengetuk. Tidak ada jawaban.

"Jason?" panggilku sambil mengetuk lagi.

Tetap tidak ada jawaban. Mungkin dia sedang pergi.Aku membuka pintunya sedikit.

"Jason?"

Tidak ada sahutan.

Karena yakin tidak ada orang di kamar aku pun masuk. Pintunya juga tidak terkunci.

Kamar itu gelap. Hanya cahaya lampu dari lorong yang masuk melalui celah pintu.

Aku mengedarkan pandangan. Lalu mataku jatuh pada sosok di ranjang.

Tubuhku langsung membeku.

Jason sedang tidur. Hanya mengenakan celana pendek. Meski di cahaya remang, aku bisa melihat garis otot perut dan dadanya dengan jelas.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan. Kenapa dia tidur tanpa baju?

Aku berusaha tidak peduli. Aku hanya perlu charger.

Mataku melihat kabel di meja kecil di samping ranjang.

Nah, ketemu.

Aku berjalan pelan mendekat ke meja kecil itu, di samping kasur tempat Jason berbaring.

Tanganku hampir menyentuh kabel itu. Tiba-tiba… tangan Jason melesat ke arahku, kemudian menariknya.

"Ah!" aku menjerit kecil.

Tubuhku kehilangan keseimbangan, dan dalam sekejap, aku jatuh ke atas kasur. Tepat di atas tubuh Jason.

Aku membeku, dadaku menumpu di atas dada bidang Jason. Dari jarak ini, aku bisa melihat dengan jelas garis rahangnya yang tegas, alisnya yabg tebal, hidungnya yang mancung ...

Astaga! Aku sedang apa sebenarnya?!

Pria ini sepertinya mengigau dalam tidurnya. Perlahan, aku mencoba melepaskan genggaman tangannya di pergelanganku.

Saat mencoba menjauh, aku malah kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan, dahiku menabrak dahinya.

Detik selanjutnya, pria itu membuka matanya.

Tatapan kami bertemu. Napasnya beradu dengan napasku yang mulai tak beraturan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 8

    Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 7

    Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 6

    “Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 5

    "Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 4

    Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 3

    Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status