Share

Bab 8

Author: Otinel
last update publish date: 2026-09-24 07:34:37

Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku.

Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi.

Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu.

Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya.

Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan.

Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan.

"Risa."

Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku.

"Kenapa melamun?"

Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan.

"Tidak ada." Aku menjawab singkat. Namun tak lama kemudian aku menoleh ke arahnya. "Oh, ya. Besok aku mau pulang sama Clara."

Jason diam sebentar. Tidak menoleh ke arahku, sibuk memerhatikan jalanan.

"Mau ke mana?"

"Nonton film. Clara mengajakku dengan teman-temannya."

"Filmnya selesai jam berapa?"

Pertanyaan itu keluar, aku yakin Jason bermaksud ia akan menjemputku sesuai dengan jam film itu selesai. Ia tidak bertanya waktu aku pulang.

"Ah, soal itu, tidak usah jemput aku. Aku akan pulang sama Clara. Dia mau memberiku tumpangan samlai rumah."

Aku berusaha terdengar senatural mungkin.

Jason melirikku sekilas. Lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah."

Sebenarnya, aku berbohong soal tumpangan. Clara hanya mengajakku nonton film. Usai film itu selesai, aku berencana untuk membeli hadiah ulang tahun Jason.

Belakangan ini baru kuketahui dari pelayan di rumah jika ulang tahun Jason sebentar lagi.

Tapi pria itu tidak pernah memberiku kesempatan pergi kemana-mana sendiri. Alasannya karena ia ditugasi mengawasiku sementara orang tua kami tidak ada di rumah.

Aku juga kepikiran dengan kata-kata Clara. Tapi jawaban Jason barusan sudah memgonfirmasinya.

Asumsi Clara berlebihan. Jason tidak seprotektif itu. Ia masih membiarkanku pulang sendirian.

Hal itu sedikit membuatku lega.

Keesokan harinya, sesuai rencana aku pergi bersama Clara dan teman-temanku yang lain. Film dimulai pukul tujuh dan selesai pukul setengah sembilan malam.

Akhir pekan saat itu membuat area mal itu cukup ramai. Setelah berpisah dari Clara dan yang lain, aku menggunakan kesempatan itu untuk membeli hadiah untuk Jason.

Pukul sembilan malam, aku sudah menunggu bus di depan halte. Hal ini baru kurasakan lagi setelah sekian lama. Ternyata, menunggu bus bisa terasa cukup melelahkan.

Tak lama kemudian, hujan turun deras. Bus yang kutunggu tak kunjung datang. Aku duduk sendiri di halte itu, tak sengaja tertidur. Entah sudah berapa lama, tiba-tiba sesuatu menepuk bahuku.

Saat aku membuka mata, aku melihat Jason. Dia menarikku berdiri, tapi tubuhku terasa lemas.

Aku terhuyung dan menabrak tubuhnya. "Aduh..." gumamku saat kepalaku membentur dada bidangnya.

Jason berdiri tercenung. Ia langsung menempelkan satu tangan ke dahiku.

"Dasar..." ia menggumam. Tiba-tiba, badanku sudah berada dalam gendongannya, dan ia membawaku masuk ke mobil.

Kepalaku terasa sakit dan berputar, aku tidak bisa memahami detailnya. Tapi, aku bisa merasakan tatapan tajam Jason yang berucap rendah di telingaku.

"Sudah berbohong, sekarang berbuat ceroboh hingga sakit. Kau benar-benar minta dihukum, anak nakal."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 8

    Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 7

    Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 6

    “Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 5

    "Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 4

    Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 3

    Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status