LOGINAku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi.
"Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?" "Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini." Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat. Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu. "Dia dulu sekolah di mana?" "Sekolah yang sama dengan Jason, katanya." "Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan. "Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya." "Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?" "Ah. Pantas saja." Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?" Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Aku menatap mereka dengan tenang tapi tegas. "Kalau ada yang ingin dibicarakan, bicarakan saja langsung padaku." Mereka saling pandang. Salah satunya kemudian tersenyum sinis, jelas sekali merendahkanku. "Kami cuma heran. Tidak menyangka kamu bisa masuk sini." "Benar," jawab gadis yang lain. "Universitas ini mahal, kan? Beruntung sekali ibumu dapat suami kaya." Jantungku mencelos. Sebelumnya, aku memang sudah mengira jika keluarga seberpengaruh Calloway akan dibicarakan terus karena reputasi mereka. Tapi aku tidak menyangka jika mereka akan bicara terang-terangan di depanku langsung. Apa ini pengaruh sifat angkuh anak-anak orang kaya? "Aku dengar ibumu memang sengaja mendekati Robert Calloway," lanjut salah satu perempuan itu. "Katanya demi menyelamatkan keadaan ekonomi keluargamu." Mendengarnya, tanganku mengepal di bawah meja. "Jangan sembarangan bicara tentang ibuku." Tiga perempuan itu malah tertawa. "Kenapa? Tersinggung? Kalau ucapan kami tidak benar, harusnya kamu tidak akan tersinggung." Aku ingin sekali membalas, tapi aku berusaha sabar, teringat kata-kata Ibu sebelum aku masuk menjadi bagian dari keluarga baru itu. Aku harus jaga sikap. Sekarang aku membawa nama keluarga Calloway. Aku menarik napas. Ya, aku tidak boleh membuat keributan. Terutama bukan saat baru hari pertama aku berkuliah di tempat baru. Beberapa menit kemudian, dosen masuk. Aku berusaha memusatkan perhatian pada kuliah, tetapi kata-kata orang-orang yang bergosip tadi terus berputar di kepalaku. Aku tahu Ibu menikah dengan Robert karena mereka saling mencintai. Setidaknya, itulah yang dikatakan Ibu kepadaku. Dan aku percaya padanya. Jadi aku tidak peduli apa yang orang lain katakan. Setelah kelas berakhir, aku langsung membereskan buku. Aku ingin pergi secepat mungkin. Berada di kelas ini membuatku tidak nyaman. Apalagi orang-orang terang-terangan menatapku. Namun, baru beberapa langkah keluar dari gedung, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Langkahku berhenti. Itu ... David Ford, mantan kekasihku di SMA dulu. Untuk sesaat, aku hanya bisa menatapnya. Sudah tiga tahun sejak terakhir kali aku melihat wajah itu. Benar-benar sial, sejak masuk ke sini aku terus-terusan bertemu orang-orang yang mengenalku dari SMA. Aku menutup muka dengan buku dan berjalan pelan-pelan. Tapi, belum sempat kabur, David sudah menyadari keberadaanku. "Risa?" Aku membeku. Belum sempat kabur, pria itu sudah menahan lenganku duluan. Buru-buru aku kibaskan lenganku hingga pegangannya terlepas. Matanya melebar sebentar. Kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida
Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.
“Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada
"Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc
Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak
Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I







