LOGINBadanku merinding hingga ubun-ubun.
Sungguh pria tidak tahu malu! Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya. "Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri." Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas. Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya. Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup. - Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama. "Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu. "Ibu di mana?" tanyaku lagi. "Nyonya berangkat bersama Tuan Robert pagi ini. Beliau juga memenuhi undangan acara pesta perayaan istri kenalan Tuan Robert." Alisku naik sebelah. Baru seminggu menikah, apa dia sudah harus masuk ke dalam lingkaran sosialita? Meski dulu saat kondisi ekonomi keluarga kami belum buruk bisa dibilang hidup kami enak, tapi kalangan yang sekelas Calloway benar-benar ada di level yang berbeda. Dipikir-pikir, aku juga sama, aku akan memasuki tempat sebuah universitas swasta yang terkenal khusus kalangan konglomerat. Baru saja memikirkannya, Jason turun dari lantai dua. Pelayan membungkuk menyambutnya. Pria itu tidak bergabung denganku di meja makan. Ia justru malah mengambil tasku dari kursi di sebelahku dan membawanya pergi keluar. Aku segera menghabiskan sisa minumanku dan berlari mengekorinya ke halaman depan. "Aku sudah bilang aku bisa membawanya sendiri," seruku kesal, tapi Jason tidak menggubris. Sebaliknya, ia dengan santai membuka pintu mobil yang terparkir dan melemparkan tasku ke dalam. Saat aku sampai di belakangnya, pria itu berbalik ke arahku, lalu tanpa aba-aba menaruh telapaknya di atas kepalaku dan mengacak-acak rambutku. "Kenapa berpakaian rapi sekali? Kau mau menggoda siapa di kampus?" singgungnya. Aku menepis tangannya. "Yang jelas tidak ada urusannya dengamu." Jason tidak langsung membalas, tapi alisnya menukik tajam sedikit. "Kau lupa? Kau tanggung jawabku sekarang. Semua hal yang berkaitan denganmu adalah urusanku." Setelah mengatakannya, Jason bergeser sedikit, satu tangannya masih bertengger di pintu mobil bagian penumpang yang terbuka. "Masuk," titahnya singkat. Aku tidak mau berdebat dengannya lagi. Belum lagi, perubahan ekspresi dan sikapnya barusan agak terasa asing, otomatis membuatku waspada. Di dalam mobil yang mulai melaju, keheningan terasa canggung. Jason menyetir di kursi pengendara, sedangkan aku di kursi penumpang di sampingnya. Aku berdeham pelan. "Kalau dari sini, aku sedikit hafal rute transportasi umum. Naik bus dari halte di depan perumahan, lalu turun di depan halte dekat kampus. Mulai besok, aku bisa berangkat sendiri." Jason melirikku sekilas. "Tidak ada yang berangkat sendiri dengan transportasi umum di sini. Kau berniat mempermalukan orang tuamu?" Tegurannya langsung membuatku terdiam. Barulah aku memahami maksudnya saat mobil memasuki area kampus swasta tempatku mulai berkuliah hari itu. Di sepanjang kompleks universitas itu, hanya ada mobil-mobil kelas super yang terlihat. Ternyata kampus ini ... benar-benar di luar perkiraanku. Aku merasa seperti di dunia lain. Saat mobil terparkir di halaman sebuah gedung, Jason keluar duluan. Aku mengikutinya. Aku menatap gedung fakultas di depanku dengan perasaan tidak nyaman. Semuanya terasa terlalu mewah. Bahkan taman di tengah gedung saja terlihat seperti tempat yang biasa kulihat di hotel berbintang. Beberapa mahasiswa berjalan melewatiku dengan pakaian yang terlihat mahal. "Kau mau berdiri di situ sampai sore?" Suara Jason membuatku tersadar. Aku menoleh. Jason sudah berjalan beberapa langkah di depanku. "Aku cuma sedang melihat-lihat." "Kalau sudah selesai, ayo." Aku mendengus pelan, lalu mengejarnya. Begitu masuk ke dalam gedung, Jason menunjukkan arah lift. "Lantai tiga. Ruang kelasmu di sebelah kiri setelah keluar lift," jelasnya. "Jurusanmu beda denganku. Tapi masih satu fakultas." Saat keluar dari lift, ia menunjukkan arah ruang kelasku dengan rinci. Tidak kusangka ia benar-benar melakukan amanah dari ayahnya untuk membantuku beradaptasi. "Kalau tersesat, telepon aku." Keningku berkerut. "Aku bukan anak kecil." Entah kenapa, setiap kali dia memperlakukanku seperti adiknya, aku justru semakin kesal. Usia kita tidak beda jauh, hanya terpaut beberapa bulan. Kenapa ia mengambil posisi di atasku? Tanpa berkata apapun lagi, aku berjalan meninggalkannya lebih dulu. Di belakangku, Jason masih menatapku sejenak sebelum berbalik dan pergi ke arah yang lain. Aku masuk ke ruang kelas beberapa menit kemudian. Untungnya, dosen belum datang. Aku memilih kursi di bagian tengah, kemudian mengeluarkan buku dan alat tulis dari tas. Beberapa mahasiswa mulai berdatangan. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Sampai salah satu perempuan yang duduk di belakangku tiba-tiba berbisik kepada temannya. "Itu bukan adik tirinya Jason Calloway?"Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida
Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.
“Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada
"Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc
Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak
Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I







