Share

7. Bekas Tamparan

Penulis: Dea Anggie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 18:18:33

Charlexon mendekati managernya yang sudah menunggunya di depan studio foto. Terlihat si manager sedang gelisah mondar mandir seorang diri.

"Sedang apa?" tanya Charlexon menatap Damian.

Damian menghentikan langkah dan menatap Charlexon, "kamu ini ya, kemana saja sih? Aku sudah menunggumu lama sekali. Kamu ngapain aja di kamar mandi?" tanyanya khawatir.

"Maaf, maaf. Aku angkat telepon tadi. Asik ngobrol jadi lupa waktu," jawab Charlexon beralasan.

Damian mengerutkan dahinya, " ini ... wajahmu kenapa merah begini? Siapa yang melakukannya? Siapa yang memukulmu?" tanya Damian menyentuh wajah tampan Charlexon.

Charlexon buru-buru menepis tangan managernya dan menutupi bekas tamparan Vanya yang tertinggal di pipinya.

"Bukan apa-apa. Ini cuma kebentur aja tadi. Aku nggak lihat pintu pas masuk kamar mandi," jawab Charlexon beralasan.

"Ah, gitu. Aku kira ada yang memukulmu," sahut Damian.

"Siapa yang berani memukulku?" tanya Charlexon.

Damian diam menatapi Charlexon, "benar juga. Siapa yang berani macam-macam dengan Tuan Muda satu ini. Yang berani namanya orang gila. Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang aku ajak dia ke rumah sakit buat periksa luka benturannya. Jangan sampai terjadi sesuatu, atau aku akan kehilangan nyawaku nanti," katanya dalam hati.

"Ayo, kita ke rumah sakit. Aku nggak tenang sebelum memastikan keadaanmu," kata Damian.

"Buat apa? Aku 'kan nggak lagi sakit," tanya Charlexon heran.

"Meskipun nggak sakit. Lebih baik kita periksa luka benturanmu. Itu yang kebentur wajahmu lho. Wajahmu itu aset berharga," jawab Damian mendesak Charlexon.

"Kalau nggak diturutin bisa-bisa ngomel terus nih orang. Sudahlah, daripada kupingku panas dengerin omelannya. Mending aku turutin aja apa maunya," kata Charlexon dalam hati.

Charlexon menganggukkan kepala malas, "ya, ya, ya. Ayo kita pergi. Jangan ngomel terus," katanya.

Damian langsung menarik tangan Charlexon, mengajaknya pergi.

***

Rumah sakit ...

Charlexon sedang diperiksa oleh dokter. Dokter yang memeriksa terdiam menatap bekas tamparan di pipi Charlexon.

"Apa kamu dan pacarmu sedang bertengkar?" tanya Dokter lelaki paruh baya.

Charlexon kaget, "bagaimana dokter bisa tahu?" tanyanya.

"Tenaganya luar biasa ya. Sampai bekasnya seperti ini," kata dokter itu.

"Dok, boleh saya minta tolong? Sejujurnya saya sudah berbohong pada seseorang, dan mengatakan kalau wajah saya terluka seperti ini karena terbentur pintu. Dia tidak tahu kalau saya habis ditampar. Jadi, bisakah dokter menjaga rahasia ini? Saya nggak mau membuatnya khawatir," pinta Charlexon.

"Ya, baiklah. Aku mengerti. Memarnya tidak terlalu parah, hanya berbekas merah saja dan sedikit bengkak. Nanti sampai rumah langsung dikompres ya. Aku beri resep untuk jaga-jaga," kata dokter.

Charlexon tersenyum, "Terima kasih banyak, dok."

Pemeriksaan Charlexon selesai, dan dia segera pergi meninggalkan ruang pemeriksaan untuk menemui Damian yang sudah menunggu di luar ruangan.

Begitu Charlexon keluar dari pintu, Damian bergeges menghampiri Charlexon.

"Bagaimana? Apa kata dokternya?" tanya Damian.

"Aku baik-baik saja. Nggak perlu khawatir. Dokter bilang cuma bengkak dikit," jawab Charlexon menjelaskan.

"Beneran gitu aja? Kamu tunggu di sini dulu sebentar. Biar aku masuk dan tanya langsung ke dokter," kata Damian yang tidak percaya akan penjelasan Charlexon dan memilih pergi bertemu dokter yang baru saja memeriksa Charlexon.

Charlexon terdiam menatap kepergian Damian. Dia memilih untuk duduk, menunggy Damian keluar dari ruang pemeriksaan.

Beberapa saat kemudian Damian keluar dan langsung menghampiri Charlexon yang sedang duduk bermain ponsel.

"Ayo pulang. Aku harus segera mengompres pipimu," ajak Damian.

Charlexon menganggukkan kepala, "hm," gumamnya.

Charlexon berdiri dan segera pergi mengikuti Damian yang sudah lebih dulu berjalan pergi.

***

Malam harinya, di bar ...

Charlexon dan Hansel janjian bertemu. Charlexon lebih dulu datang, dia langsung memesan minuman tanpa alkohol.

"Silakan, Tuan."

Minuman yang dipesan sudah datang. Disajikan di atas meja dihadapan Charlexon.

"Hm," gumam Charlexon.

Charlexon menatap sekeliling. Dia menantikan kedatangan teman baiknya.

Tidak beberapa lama Hansel datang. Dia langsung duduk di samping Charlexon dan memesan alkohol.

Hansel menatap minuman yang dipesan Charlexon, "kamu nggak pesan alkohol?" tanyanya.

"Enggak. Aku nggak minum. Damian nggak kasih izin aku minum di luar. Kamu 'kan tahu itu," jawab Charlexon.

"Ngapain dengerin dia. Dia 'kan cuma manager yang kamu gaji. Toh minum nggak setiap hari," omel Hansel.

"Dia bukan sekadar manager buatku. Dia sudah aku anggap kakakku sendiri. Begitu-begitu dia orang yang setia nemenin aku ke mana-mana lho," jawab Charlexon.

Minuman yang dipesan Hansel langsung disajikan. Hansel memasukkan sebongkah es ke dalam gelas dan langsung menuang alkohol ke gelas berisi es batu.

Digoyangnya pelan gelas dan diminumnya alkohol dalam gelas.

"Kamu bilang besok mau pergi ke luar kota. Ada kerjaan?" tanya Hansel. Meletakkan gelas di atas meja dan langsung menuang alkohol ke dalam gelas.

"Ya, begitulah. Cuma mau cari angin aja," jawab Charlexon.

Hansel menatap Charlexon, dan melihat bekas merah di pipi Charlexon.

"Eh, wajahmu kenapa? Kok ada bekas merah?" tanya Hansel.

"Bukan apa-apa," jawab Hansel.

"Apanya bukan apa-apa?" tanya Hansel mendesak.

"Ya emang bukan apa-apa. Cuma ... " jawab Charlexon yang langsung menghentikan perkataannya.

"Cuma ... " sambung Hansel penasaran.

"Cuma ... " kata Charlexon lagi menghentikan perkataan.

Hansel menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas kasar.

"Cuma apa, Lex? Ngomong jangan diputus-putus dong. Bikin penasaran aja," kata Hansel mulai emosi.

"Cuma bekas tamparan," kata Charlexon.

Hansel yang sedang minum pun tersedak sampai terbatuk.

"Uhukk ..."

"A-apa? Kamu bilang apa? Bekas tamparan?" tanya Hansel kaget.

Charlexon menganggukkan kepala, "ya," jawabnya.

"Gila! Siapa yang berani menamparmu wahai Pangeran?" tanya Hansel.

"Ada deh," jawab Charlexon.

"Eh, kok gitu? Maksudmu aku nggak boleh tahu dia siapa?" kata Hansel. Dan dijawab anggukan kepala oleh Charlexon.

Hansel diam berpikir, "apaan sih. Kok tiba-tiba sok main rahasia-rahasiaan segala. Sok misterius juga," katanya dalam hati.

"Ok. Nggak mau kasih tahu juga nggak masalah. Biar aku tebak aja. Pelakunya pasti perempuan 'kan? Hayo ngaku," tanya Hansel.

"Iya, kamu benar. Pelakunya memang perempuan," jawab Charlexon.

"Aku nggak bisa memberitahumu lebih dari ini, Hans. Aku nggak mungkin bilang, perempuan yang npar aku itu mama sambungmu. Dan alasan aku ditampar karena mencium bibirnya," kata Charlexon dalam hati.

Hansel tersenyum senang karena tebakannya benar.

"Eh, beneran perempuan ya. Padahal aku asal nebak aja lho," kata Hansel.

"Omong-omong, kenapa kamu ditampar?" tanya Hansel ingin tahu.

"Bukan hal penting. Aku cuma melakukan sesuatu yang tidak sengaja membuatnya marah, lalu aku ditampar. Gitu aja," jelas Charlexon.

Hansel menyipitkan mata manatap tajam Charlexon.

"Kamu yakin cuma itu?" tanya Hansel mulai curiga.

Charlexon menganggukkan kepala, "ya," jawabnya.

"Terus kamu apain perempuan itu? Setelah ditampar masa kamu lepasin gitu aja? Seorang Charlexon yang enggan diremehkan nggak mungkin memaafkan gifu aja 'kan?" kata Hansel. Ingin tahu cerita Charlexon lebih lagi.

"Memangnya aku harus ngapain dia? Pokoknya setelah kejadian itu aku langsung pergi. Jadi, nggak sempat ngapa-ngapain dia. Sudah puas dengan rasa penasaranmu, belum?" tanya Charlexon menatap tajam Hansel.

Hansel tersenyum lebar, "hehe ... sudah, sudah. Sudah puas. Puas sekali," jawabnya.

Setelahnya, Charlexon dan Hansel lanjut membicarakan hal lain seputaran pekerjaan. Mereka berdua menghabiskan waktu bercerita cukup lama di bar. Dan baru pulang tengah malam setelah Hansel mabuk.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Liar Penuh Gairah Dengan Teman Putraku   82.

    Malam harinya ...Vanya mendatangi sebuah restoran, memenuhi undangan Robert.Awalnya Vanya ragu, apakah dia harus datang, atau tidak. Meskipun Vanya sangat penasaran dengan informasi yang dipunyai Robert, tetapi dia tetap tidak bisa mengendurkan kewaspadaannya pada Robert. Namun, pada akhirnya Vanya memelih datang. Sekalian untuk memperingatkan Robert, agar tak lagi menyentuh Hansel.Pelayan membuka pintu sebuah ruang VIP. Vanya berjalan masuk dan melihat Robert sedang berdiri menatap dinding kaca. Pemandangan di luar memang tampak indah.Robert memalingkan pandangan mendengar pintu di buka, dia tersenyum tampan ke arah Vanya."Sudah datang," sapa Robert. Segera Robert mendekati kursi, dia menarik kursi untuk Vanya, tetapi Vanya lebih memilih duduk di kursi lain."Nggak perlu repot. Aku punya tangan sendiri buat menarik kursi," kata Vanya, yang barus saja duduk.Robert menganggukkan kepala, dia duduk di kursi yang ditariknya sendiri."Bagaimana kabarmu?" tanya Robert basa-basi."Ng

  • Malam Liar Penuh Gairah Dengan Teman Putraku   81.

    Hansel duduk bersandar bantal di atas tempat tidurnya. Dia memikirkan Vanya dengan begitu serius."Bodohnya aku, baru tahu kalau dia sebaik dan sepeduli itu padaku. Padahal dia bisa saja mengabaikanku, bukankah sebaiknya dia pergi meninggalkan keluarga ini? Kenapa dia tetap bertahan?" tanyanya dalam hati.Hansel membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah foto. Dalam foto ada gambar dirinya dan seorang lelaki paruh baya yang sedang merangkulnya dengan senyuman lebar."Pa ... apa papa melakukan sesuatu padanya, sehingga dia nggak bisa pergi meninggalkan keluarga kita? Bukankah dia masih muda? Masa depannya masih panjang," tanya Hansel. Mengusap wajah sang papa dalam foto.Hansel menatapi gambar papanya. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya duduk diam."Apa papa tahu? Seseorang yang papa nikahi adalah sosok perempuan tangguh dan hebat. Aku akui dulu pikiranku memang sempit. Aku kekanak-kanakan dan bodoh. Sekarang, aku akan terus bersikap baik padanya. Aku ingin dia terus melihatku," uc

  • Malam Liar Penuh Gairah Dengan Teman Putraku   80.

    Ciuman lembut penuh gairah itu, perlahan berubah menjadi ciumam panas."A-apa yang dia lakukan? Ciumannya ... " kata Vanya dalam hati, yang tiba-tiba saja mendorong tubuh Charlexon menjauh darinya."Apa yang kamu lakukan, Charlexon? Apa kamu gila? Sudah aku peringatan untuk tidak sembarangan menciumku, bukan?" omel Vanya tidak senang.Vanya langsung mengusap bibirnya, "pergi kamu dari sini," katanya mengusir.Charlexon kaget, "Ma-maaf. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud jahat, hanya saja aku memang tidak tahan untuk menciummu setelah melihatmu. Maafkan aku," jelasnya.Vanya mengerutkan dahi, "hah? Apa katamu? Bisakah kamu memberi penjelasan yang lebih masuk akal. Kamu benar-benar bajingan mesum. Pergi sana, sebelum aku panggil keamanan untuk menyeretmu keluar," katanya.Charlexon memegang tangan Vanya, "maafkan aku, aku benar-benar hilang kendali buat sesaat. Aku mohon," pintanya memelas.Vanya menepis tangan Charlexon, "apa kamu mau membuatku lebih marah dari ini?" tanyanya. Menatap

  • Malam Liar Penuh Gairah Dengan Teman Putraku   79.

    Malam harinya ...Hansel datang ke bar langganannya. Di sana sudah ada Charlexon yang sedang duduk menunggunya."Maaf telat," kata Hansel. Menepuk bahu Charlexon, lalu duduk disamping Charlexon.Charlexon menatap Hansel, "santai saja. Aku juga baru sampai kok," jawabnya."Gimana kerjaanmu di luar kota?" tanya Hansel ingin tahu."Ya, nggak gimana-gimana. Aku ke luar kota cuma mau ambil sesuatu," jawab Charlexon."Sesuatu apa?" tanya Hansel penasaran. Menatap Charlexon begitu lekat.Charlexon tersenyum, "ada deh. Kepo banget," jawabnya."His ... sudah dibuat penasaran, ujung-ujungnya nggak dikasih tahu. Teman macam apa kamu," kata Hansel mengejek Charlexon."Hei, hei. Begini-begini cuma aku satu-satunya temanmu di dunia ini. Emang ada yang mau temenan sama kamu selain aku? Dasar nggak tahu terima kasih," ejek balik Charlexon."Eh, eh, eh, kamu ... kalau ngomomg suka bener. Cih," kata Hansel mengakui."Ngeselin benget sih bocah satu ini. Bisa-bisanya dia blak-blakan ngomong gitu. Aku 'k

  • Malam Liar Penuh Gairah Dengan Teman Putraku   78

    Hansel menatap Nicky dengan tatapan penuh harap. Dia penasaran dengan apa yang terjadi antara papanya dan Vanya sebelumnya. Dan satu-satunya yang tahu akan hubungan keduanya adalah Nicky."Om sudah lama kenal papa dan mama. Berarti tahu hubungan mereka seperti apa. Aku nggak meragukan siapapun, aku cuma ingin tahu. Tapi, kenapa om Nicky nggak ngomong apa-apa ya? Duh, bikin penasaran aja," kata Hansel dalam hati.Sedangkan Nicky masih diam berpikir. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan Hansel."Aduh, kalau pertanyaannya kayak gini, gimana aku jelasinnya ya? Kalau salah ngomong, bisa-bisa buat salah paham. Apa aku harus jujur kasih tahu? Atau bohong dan ngarang cerita? Nggak, nggak. Nggak boleh. Mau jujur atau bohong aku nggak berhak bicara sekarang. Lebih baik aku tanyakan saja ke Nyonya nanti. Dan aku akan bilang kalau aku ada urusan dan harus balik ke kantor," kata Nicky dalam hati."Hm ... Hans, maaf sebelumnya, tapi om tiba-tiba ingat sesuatu. Karena om buru-buru ke

  • Malam Liar Penuh Gairah Dengan Teman Putraku   77

    Vanya berjalan selangkah, dia diam sebentar sebelum mengatakan sesuatu pada Robert."Jangan lagi kamu menganggu atau menyakiti Hansel. Jangan pernah menginginkan apa yang bukan menjadi milik dan hakmu. Aku nggak akan tinggal diam, jika kamu macam-macam pada anakku. Sekalipun kamu omnya, dan aku hanyalah mama sambungnya, tetapi aku sama sekali nggak keberatan untuk melindunginya dan melawanmu. Pasang telingamu dan dengar omonganku ini, Robert Oliver," kata Vanya dengan mata berkaca-kaca.Vanya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Robert. Sesampainya di pintu, dia segera membuka pintu dan pergi keluar dari ruagan.Vanya berjalan pergi meninggalkan restoran, wajahnya tampak pucat dengan mata yang masih berkaca-kaca.Tanpa sadar air mata Vanya jatuh, menyadari hal itu, dia segera menyeka air matanya dan berjalan cepat keluar keluar dari restoran.Seseorang muncul dari balik dinding, memandangi punggung Vanya. Seseorang itu menyeka air matanya, lalu tersenyum. Dia lantas pergi meningga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status