MasukCharlexon memegangi pipi kirinya yang ditampar Vanya. Dia menatap Vanya dan tersenyum tipis seolah merasa puas sudah ditampar.
Melihat ekspresi Charlexon yang tak biasa, membuat Vanya kesal. "Apa-apaan dia ini. Apa dia sudah hilang akal sehat?" tanya Vanya dalam hati. "Apa kamu sudah gila? Beraninya kamu menciumku," sentak Vanya menatap Charlexon dengan tatapan tajam menusuk. "Ya, aku memang sudah gila. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya, kalau aku ini memang gila. Apa kamu lupa, Nyonya?" jawab Charlexon. "Apa? Kamu ... " kata Vanya menghentikan ucapannya. "Ah, sialan! Dia beneran sudah gila. Kalau aku ladenin, yang ada aku ikutan gila. Mending aku abaikan aja dia," kata Vanya dalam hati. "Aku malas banyak omong denganmu. Ini peringatan terakhir, jadi dengar baik-baik. Sekali lagi kamu berani macam-macam kayak gini, aku nggak akan segan lagi. Camkan baik-baik," kata Vanya menunjuk wajah Hansel. Vanya berbalik, hendak pergi, tetapi tangannya langsung ditarik Charlexon dan Vanya didorong ke dinding. Vanya terkejut sampai melebarkan mata. "Jangan kamu kira, kalau kamu temannya Hansel, aku bakalan diem aja kamu perlakuin nggak sopan. Lepasin tanganku," kata Vanya meronta. Dia berusaha melepaskan tangannya yang dicengkram Charlexon. Charlexon tersenyum, didekatkannya wajahnya ke wajahnya Vanya, sampai hidungnya dan hidung Vanya bertemu. "Apa kamu tahu? Apa yang mebuatku begitu tertarik padamu? Selain wajah cantik dan tubuh seksimu?" tanya Charlexon. Vanya mengerutkan dahi, "ngomong apa sih kamu ini. Aku sama sekali nggak ngerti. Berhenti main-main dan lepasin tanganku," kata Vanya. Charlexon mengembuskan napas. Napas hangat Charlexon langsung bisa dirasakan Vanya. "Dia sudah nggak terselamatkan lagi. Dia bemneran gila," kata Vanya dalam hati. "Apa kamu salah minum obat? Atau salah makan? Aku bilang berhenti bermain-main dan lepaskan aku. Kalau enggak aku bakalan teriak," kata Vanya mengancam. Charlexon tersenyum lagi, "oh, mau berteriak? Silakan saja. Toh aku sama sekali nggak keberatan ketahuan sedang seperti ini denganmu. Sebaliknya, kamu bagaimana? Kira-kira semua staf karyawanmu mikir apa kalau sampai mereka melihat kita?" kata Charlexon berbisik. Vanya terkejut. Dia langsung memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas. "Apa maumu?" tanya Vanya. Charlexon kaget mendengar perkataan Vanya. "Oh, apa dia sudah nggak marah lagi? Ini kesempatanku menggodanya," kata Charlexon dalam hati. Vanya kembali meronta, dia sudah hilang kesabaran menghadapi Charlexon. "Katakan, apa maumu? Jangan buat aku semakin kesal," tanya Vanya. "Cium aku," kata Charlexon tiba-tiba. Vanya terkejut, "hah? A-apa maksudmu?" tanyanya. "Aku bilang, cium aku. Aku mau kamu menciumku. Baru aku lepaskan kamu pergi," jawab Charlexon menjelaskan. "Apa kamu ini bajingan mesum yang gila? Bisa-bisanya kamu minta aku menciummu disaat seperti ini. Aku nggak akan melakukannya. Jangan harap!" jawab Vanya. "Mau aku cium? Mimpi saja sana. Huh," kata Vanya dalam hati. "Isi kepalanya apa sih. Nggak cuma gila, dia juga mesum," kata Vanya lagi dalam hati. Charlexon memegang satu tangan Vanya yang lain dan menyatukan kedua tangan di atas kepala. Membuat Vanya semakin tidak nyaman. "Kamu nggak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jadi jangan memaksa. Aku paling nggak suka dipaksa," kata Vanya. "Oh, ya?" tanya Charlexon. Perlahan Charlexon mendekatkan wajahnya, lalu mencium lembut pipi kiri Vanya. "Jangan menciumku!" sentak Vanya. "Mau bagaimana lagi. Kamu nggak mau menciumku. Jadi, aku saja yang menciummu. Rasakan dan nikmati saja apa yang kuberikan," kata Charlexon. Wajah Charlexon kembali mendekat. Dia hendak mencium pipi kanan Vanya, tapi Vanya langsung menyetujui permintaan Charlexon. "Akan kulakukan," kata Vanya. "Apanya?" tanya Charlexon berpura-pura tidak tahu maksud Vanya. "Nggak perlu pura-pura bodoh. Aku akan lakukan apa yang menjadi keinginanmu, tapi aku tak akan setuju begitu saja. Kamu juga harus memenuhi syarat dariku," kata Vanya dengan tatapan mata tajam dan nada suara serius. "Apa syaratmu?" tanya Charlexon. "Lepaskan dulu tangaku. Kamu mencengkram dua tanganku seperti ini, apa nggak keterlaluan?" ucap Vanya. Charlexon langsung melepaskan tangan Vanya. Vanya memijat kedua pergelangan tangannya secara bergantian karena merasa sedikit nyeri. "Katakan apa syaratmu," kata Charlexon yang sudah tidak sabar. "Pertama, jangan lagi menggangguku. Aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi. Kedua, kedepannya bersikaplah seolah kita nggak saling kenal. Anggap saja kita ini orang asing. Bagaimana? Kamu setuju 'kan?" tanya Vanya. Usai menjelaskan syaratnya pada Charlexon. Charlexon terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia menatap Vanya lekat. Vanya juga menatap Charlexon lekat. Dia khawatir syaratnya tidak disetujui Charlexon. "Dia nggak akan menolak syaratku, 'kan?" tanya Vanya dalam hati. "Aku nggak setuju. Bagaimanapun, kedepannya aku dan kamu akan terus saling ketemu. Masa iya aku harus pura-pura nggak kenal kamu?" kata Charlexon. "Kalau kamu nggak setuju, aku juga nggak akan mau menciummu. Sekarang pilihan ada ditanganmu. Mau aku cium dan setujui syaratku, atau kamu tidak akan mendapatkan apa-apa," kata Vanya. "Sialan. Membujuknya nggak mudah sama sekali. Bagaimana ini? Aku harus menjauh darinya sejauh yang aku bisa," kata Charlexon dalam hati. "Sudah aku putuskan. Aku a ... " ucapan Charlexon terpotong karena ponselnya bergetar. Charlexon merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Dia melihat layar ponsel, lalu menatap Vanya. "Kita bahas ini nanti. Aku ada urusan dan harus pergi," kata Charlexon. "Apa? Nggak bisa gitu. Hari ini juga harus kita selesaikan," kata Vanya. Charlexon tidak mendengarkan perkataan Vanya. Dia berjalan pergi beberapa langkah meninggalkan Vanya, tetapi tak lama dia berbalik dan kembali berjalan mendekati Vanya. Vanya berjalan mundur karena terkejut tiba-tiba Charlexon mendekat. "Ada apa? Kamu mau ngapain?" tanya Vanya. Charlexon memojokkan Vanya kedinding,"aku akan ke luar kota. Mungkin 2 atau 3 hari baru kembali. Selagi aku tidak ada. Jangan merindukanku ya," katanya. Vanya tersenyum tipis, "memangnya siapa kamu, sampai harus aku rindukan, huh? Dasar nggak tahu malu," kata Vanya. "Kamu ini perempuan penuh dendam ya? Padahal kamu duluan lho yang menggodaku malam itu. Bukankah sudah aku katakan. Jangan sampai menyesalinya? Kamu pun setuju," kata Charlexon mengingatkan akan malam pertemuan pertamanya dengan Vanya. Vanya terdiam, dia kembali teringat akan kejadian malam liar di hotel. "Sialan! Aku nggak bisa berkata-kata lagi. Dia ini, kenapa sih harus mengingat semua yang terjadi malam itu?" kata Vanya dalam hati. Charlexon mendekatkan wajahnya dan tiba-tiba saja mencium kening Vanya. "Entah kamu percaya atau tidak dengan ucapanku ini, tapi aku akan jujur mengakui perasaanku. Aku sudah jatuh hati padamu, Vanya. Mustahil bagiku untuk mengabaikanmu. Jangan coba-coba menghindariku atau bahkan pura-pura nggak kenal. Apa kamu mengerti maksud ucapanku?" kata Charlexon menjelaskan. Vanya terdiam mendengar perkataan Charlexon. Bibirnya tertutup rapat. Setelahnya Charlexon pergi. Dia meninggalkan Vanya sendiri di dalam gudang.Malam harinya ...Vanya mendatangi sebuah restoran, memenuhi undangan Robert.Awalnya Vanya ragu, apakah dia harus datang, atau tidak. Meskipun Vanya sangat penasaran dengan informasi yang dipunyai Robert, tetapi dia tetap tidak bisa mengendurkan kewaspadaannya pada Robert. Namun, pada akhirnya Vanya memelih datang. Sekalian untuk memperingatkan Robert, agar tak lagi menyentuh Hansel.Pelayan membuka pintu sebuah ruang VIP. Vanya berjalan masuk dan melihat Robert sedang berdiri menatap dinding kaca. Pemandangan di luar memang tampak indah.Robert memalingkan pandangan mendengar pintu di buka, dia tersenyum tampan ke arah Vanya."Sudah datang," sapa Robert. Segera Robert mendekati kursi, dia menarik kursi untuk Vanya, tetapi Vanya lebih memilih duduk di kursi lain."Nggak perlu repot. Aku punya tangan sendiri buat menarik kursi," kata Vanya, yang barus saja duduk.Robert menganggukkan kepala, dia duduk di kursi yang ditariknya sendiri."Bagaimana kabarmu?" tanya Robert basa-basi."Ng
Hansel duduk bersandar bantal di atas tempat tidurnya. Dia memikirkan Vanya dengan begitu serius."Bodohnya aku, baru tahu kalau dia sebaik dan sepeduli itu padaku. Padahal dia bisa saja mengabaikanku, bukankah sebaiknya dia pergi meninggalkan keluarga ini? Kenapa dia tetap bertahan?" tanyanya dalam hati.Hansel membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah foto. Dalam foto ada gambar dirinya dan seorang lelaki paruh baya yang sedang merangkulnya dengan senyuman lebar."Pa ... apa papa melakukan sesuatu padanya, sehingga dia nggak bisa pergi meninggalkan keluarga kita? Bukankah dia masih muda? Masa depannya masih panjang," tanya Hansel. Mengusap wajah sang papa dalam foto.Hansel menatapi gambar papanya. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya duduk diam."Apa papa tahu? Seseorang yang papa nikahi adalah sosok perempuan tangguh dan hebat. Aku akui dulu pikiranku memang sempit. Aku kekanak-kanakan dan bodoh. Sekarang, aku akan terus bersikap baik padanya. Aku ingin dia terus melihatku," uc
Ciuman lembut penuh gairah itu, perlahan berubah menjadi ciumam panas."A-apa yang dia lakukan? Ciumannya ... " kata Vanya dalam hati, yang tiba-tiba saja mendorong tubuh Charlexon menjauh darinya."Apa yang kamu lakukan, Charlexon? Apa kamu gila? Sudah aku peringatan untuk tidak sembarangan menciumku, bukan?" omel Vanya tidak senang.Vanya langsung mengusap bibirnya, "pergi kamu dari sini," katanya mengusir.Charlexon kaget, "Ma-maaf. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud jahat, hanya saja aku memang tidak tahan untuk menciummu setelah melihatmu. Maafkan aku," jelasnya.Vanya mengerutkan dahi, "hah? Apa katamu? Bisakah kamu memberi penjelasan yang lebih masuk akal. Kamu benar-benar bajingan mesum. Pergi sana, sebelum aku panggil keamanan untuk menyeretmu keluar," katanya.Charlexon memegang tangan Vanya, "maafkan aku, aku benar-benar hilang kendali buat sesaat. Aku mohon," pintanya memelas.Vanya menepis tangan Charlexon, "apa kamu mau membuatku lebih marah dari ini?" tanyanya. Menatap
Malam harinya ...Hansel datang ke bar langganannya. Di sana sudah ada Charlexon yang sedang duduk menunggunya."Maaf telat," kata Hansel. Menepuk bahu Charlexon, lalu duduk disamping Charlexon.Charlexon menatap Hansel, "santai saja. Aku juga baru sampai kok," jawabnya."Gimana kerjaanmu di luar kota?" tanya Hansel ingin tahu."Ya, nggak gimana-gimana. Aku ke luar kota cuma mau ambil sesuatu," jawab Charlexon."Sesuatu apa?" tanya Hansel penasaran. Menatap Charlexon begitu lekat.Charlexon tersenyum, "ada deh. Kepo banget," jawabnya."His ... sudah dibuat penasaran, ujung-ujungnya nggak dikasih tahu. Teman macam apa kamu," kata Hansel mengejek Charlexon."Hei, hei. Begini-begini cuma aku satu-satunya temanmu di dunia ini. Emang ada yang mau temenan sama kamu selain aku? Dasar nggak tahu terima kasih," ejek balik Charlexon."Eh, eh, eh, kamu ... kalau ngomomg suka bener. Cih," kata Hansel mengakui."Ngeselin benget sih bocah satu ini. Bisa-bisanya dia blak-blakan ngomong gitu. Aku 'k
Hansel menatap Nicky dengan tatapan penuh harap. Dia penasaran dengan apa yang terjadi antara papanya dan Vanya sebelumnya. Dan satu-satunya yang tahu akan hubungan keduanya adalah Nicky."Om sudah lama kenal papa dan mama. Berarti tahu hubungan mereka seperti apa. Aku nggak meragukan siapapun, aku cuma ingin tahu. Tapi, kenapa om Nicky nggak ngomong apa-apa ya? Duh, bikin penasaran aja," kata Hansel dalam hati.Sedangkan Nicky masih diam berpikir. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan Hansel."Aduh, kalau pertanyaannya kayak gini, gimana aku jelasinnya ya? Kalau salah ngomong, bisa-bisa buat salah paham. Apa aku harus jujur kasih tahu? Atau bohong dan ngarang cerita? Nggak, nggak. Nggak boleh. Mau jujur atau bohong aku nggak berhak bicara sekarang. Lebih baik aku tanyakan saja ke Nyonya nanti. Dan aku akan bilang kalau aku ada urusan dan harus balik ke kantor," kata Nicky dalam hati."Hm ... Hans, maaf sebelumnya, tapi om tiba-tiba ingat sesuatu. Karena om buru-buru ke
Vanya berjalan selangkah, dia diam sebentar sebelum mengatakan sesuatu pada Robert."Jangan lagi kamu menganggu atau menyakiti Hansel. Jangan pernah menginginkan apa yang bukan menjadi milik dan hakmu. Aku nggak akan tinggal diam, jika kamu macam-macam pada anakku. Sekalipun kamu omnya, dan aku hanyalah mama sambungnya, tetapi aku sama sekali nggak keberatan untuk melindunginya dan melawanmu. Pasang telingamu dan dengar omonganku ini, Robert Oliver," kata Vanya dengan mata berkaca-kaca.Vanya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Robert. Sesampainya di pintu, dia segera membuka pintu dan pergi keluar dari ruagan.Vanya berjalan pergi meninggalkan restoran, wajahnya tampak pucat dengan mata yang masih berkaca-kaca.Tanpa sadar air mata Vanya jatuh, menyadari hal itu, dia segera menyeka air matanya dan berjalan cepat keluar keluar dari restoran.Seseorang muncul dari balik dinding, memandangi punggung Vanya. Seseorang itu menyeka air matanya, lalu tersenyum. Dia lantas pergi meningga







