LOGINDaisy memijat pelan pelipisnya, seolah berharap kesalahan itu bisa lenyap hanya dengan menutup mata.
Namun layar ponselnya tidak peduli. Pesan dari kontak emotikon es batu itu terpampang jelas di sana.[ Camilannya sudah datang? Saya mendapat notifikasi kalau pesanan sudah diterima. Mari makan itu bersama di ruangan saya. Saya juga lapar dan tersiksa, tetapi asisten pribadi saya tidak bekerja dengan baik.]Daisy menutup ponsel itu cepat-cepat, seperti seseorang yangSetiap sore, kini Jade memiliki tempat tujuan baru yang menjadi rutinitas hariannya, yaitu rumah sakit tempat Daisy dirawat. Daisy memang belum bisa dipindahkan karena kondisinya masih sangat kritis. Tubuh Daisy masih lemah, jantungnya masih belum stabil, dan dokter masih terus memantau perkembangan kondisi gadis itu setiap jam. Namun Jade tetap berupaya memberikan yang terbaik untuk Daisy dengan mempekerjakan beberapa dokter spesialis dan perawat khusus yang datang langsung dari rumah sakit besar di pusat kota, untuk bekerja di rumah sakit terpencil itu hanya untuk merawat Daisy. Bahkan Jade mendatangkan berbagai fasilitas medis yang dibutuhkan Daisy dengan uang pribadinya sendiri seperti mesin monitor canggih, obat-obatan import yang mahal, bahkan tempat tidur khusus untuk pasien kritis. Secara tidak langsung, Jade seperti menjadi donatur utama di rumah sakit terpencil itu. Pria itu membawa perubahan besar pada kualit
Kasus Vincent menjadi topik utama pembicaraan selama berhari-hari di media massa, media sosial, kantor-kantor, bahkan di kedai kopi kecil. Nama Vincent Benjamin yang dulunya disegani, kini menjadi bahan olok-olok. Hyper Move yang dulunya megah, kini tinggal puing-puing kehancuran. Hingga akhirnya pengadilan menetapkan hukuman yang sangat berat, yaitu 20 tahun penjara dan denda 1 miliar untuk berbagai tuduhan mulai dari manipulasi tender, penggelapan pajak, hingga penyuapan pejabat. Jade yang datang ke sidang hari itu melipat tangan di depan dada sambil menyeringai tajam saat Vincent menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu. Dua pria yang sudah saling menghancurkan dengan cara mereka masing-masing. Vincent menatap nyalang Jade dengan mata yang merah, seakan dia tidak terima dibuat jatuh sedalam ini oleh pria yang pernah dia anggap sebagai rival bisnis biasa. "Pada akhirnya kau tidak mendapatkan apa-apa. Tidak akan pernah!" Jade berkomentar pelan. Cukup pelan supaya Vincen
Semua orang saling pandang.“Bukan kami yang melakukannya, Tuan.”“Tidak mungkin kami mengkhianati Tuan Vincent.”“A-apa mungkin ini perbuatan kompetitor?”Mereka mengelak, yang justru membuat Vincent semakin murka.Begitu kata kompetitor disebut, pikiran Vincent langsung tertuju pada Jade.Vincent sendiri heran kenapa Jade masih bisa hidup setelah diracun. Para saudarinya pun tidak berhasil diculik.Kini Keluarga Draxus justru memperketat penjagaan, membuat Vincent tidak berkutik.Penderitaan Vincent tidak berakhir sampai di situ.Malam berikutnya, saham Hyper Move turun 12 persen.Satu investor utama menarik dananya.Prang!Vincent menghancurkan gelas kristal di ruang kerjanya.“Jade .…” desisnya.Vincent akhirnya mengerti. Alih-alih membalasnya secara langsung, Jade memang sengaja mencekik Vincent supaya pria itu menderita.“Tidak akan kubiarkan k
Malam itu tidak ada lagi keraguan di mata Jade. Di layar ponselnya, nama Primus masih menyala. Di luar jendela kamar rawat, langit gelap seperti menunggu sesuatu yang akan runtuh. “Target pertama, keuangannya,” desis Jade. Primus tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu diam-diam tertegun mendengar Jade menggunakan nada yang sama ketika Morgan Draxus dulu memutuskan sebuah perang bisnis 20 tahun lalu. “Semua data sudah siap, Tuan. Tiga rekening luar negeri atas nama perusahaan cangkang. Dua di antaranya terhubung langsung dengan proyek konstruksi Vincent,” sahut Vincent lugas. “Bagus.” Jade menatap infus di lengannya sejenak, lalu melepasnya sendiri tanpa ragu. “Kirimkan berkas itu ke Unit Investigasi Keuangan atas nama anonim. Pastikan jejaknya mengarah ke orang di sekitar Vincent.” Primus mengerti. Jika penyelidikan resmi dibuka, para investor akan panik lebih dulu sebelum polisi bergerak.
Morgan menghela napas panjang, napas yang terdengar sangat berat, seakan tengah membawa beban keputusan yang tidak mudah. "Jadi kau akan mengizinkannya?" tanya Morgan sambil menatap istrinya dengan lekat. Sydney mengangguk tegas. Tidak ada keraguan di mata Sydney. Hanya tekad bulat seorang ibu yang sudah lelah melihat anak-anak dan cucunya disakiti. "Terima kasih untuk kepercayaannya, Mami," ucap Jade sambil tersenyum tipis terharu. Kini Jade dan Morgan tidak perlu menutupi apa pun dari Sydney lagi. Sydney sudah merestui jalan yang Jade pilih untuk balas dendam. Jalan yang sama dengan jalan yang pernah Morgan tempuh puluhan tahun lalu. Jade menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan dan baru menyadari bahwa di ruangan ini hanya ada Jade, Sydney, dan Morgan. Kemudian Jade bertanya dengan dahi yang berkerut, "Kenapa Jane, Sereia, dan Zaleia ada di kantor polisi? Ada yang berniat menculik mereka?"
Jade kembali membuka mata perlahan, seperti seseorang yang terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang. Namun kali ini Jade sudah berada di dalam ruangan serba putih dengan bau antiseptik yang menyengat, bau khas rumah sakit yang tidak mungkin salah dikenali. "Jade, akhirnya kau sadar juga!" Suara Sydney di sebelahnya langsung menyapa. Jade menoleh dengan lamban karena lehernya masih terasa kaku dan mendapati sang ibu langsung memeluknya erat sambil mengusap punggungnya lembut penuh perasaan lega. Morgan berdiri tidak jauh di belakang Sydney dengan tangan terlipat di depan dada. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat serius meski ada sedikit kelegaan di matanya. Sydney melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh untuk melihat wajah Jade dengan lebih jelas. "Apa kau masih merasa sakit atau sesak pada dadamu?" tanya Morgan. "Dada?" ulang Jade sambil mengernyitkan dahi dan secara refleks memegang dadanya.







