LOGINJade kembali membuka mata perlahan, seperti seseorang yang terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang. Namun kali ini Jade sudah berada di dalam ruangan serba putih dengan bau antiseptik yang menyengat, bau khas rumah sakit yang tidak mungkin salah dikenali. "Jade, akhirnya kau sadar juga!" Suara Sydney di sebelahnya langsung menyapa. Jade menoleh dengan lamban karena lehernya masih terasa kaku dan mendapati sang ibu langsung memeluknya erat sambil mengusap punggungnya lembut penuh perasaan lega. Morgan berdiri tidak jauh di belakang Sydney dengan tangan terlipat di depan dada. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat serius meski ada sedikit kelegaan di matanya. Sydney melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh untuk melihat wajah Jade dengan lebih jelas. "Apa kau masih merasa sakit atau sesak pada dadamu?" tanya Morgan. "Dada?" ulang Jade sambil mengernyitkan dahi dan secara refleks memegang dadanya.
Di pelabuhan, beberapa kapal dengan logo Poseidon Exports bersandar dengan megah di dermaga yang luas. Jade melangkah lebar menuju gudang kapal sambil mendengarkan laporan dari sekretarisnya yang khusus bekerja di lapangan, seorang pria bernama Arvin yang beberapa tahun lebih muda dari Jade dan sangat cerdas dalam hal teknis kapal. "Revitalisasi akan memakan waktu dua bulan, Tuan," lapor Arvin sambil membuka tablet yang menampilkan blueprint kapal. "Mesin utama, sistem navigasi, dan lambung kapal semuanya perlu diperbaharui." Jade mengangguk sambil memperhatikan kondisi kapal yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda usia, cat yang mengelupas, karat di beberapa bagian, serta peralatan yang ketinggalan zaman. Setelah Jade mengawasi secara langsung proses revitalisasi kapal dan memastikan semua berjalan sesuai standar, pria itu kembali mengendarai mobil menuju kantor. Namun dalam perjalanan, ponsel Jade ber
Keesokan harinya di rumah Jade yang biasanya sepi, kini dipenuhi dengan wanita-wanita dari Keluarga Draxus yang membuat rumah itu terasa hidup. Sementara Sydney dan Morgan memutuskan untuk menginap di rumah sakit supaya bisa menjaga Elias yang masih dalam masa pemulihan, meski kondisi adik bungsu mereka sudah jauh lebih baik. Pagi itu, meja makan di rumah Jade sangat ramai dengan suara percakapan ringan dan tawa sesekali. Ada Jane yang duduk paling ujung dengan secangkir kopi di tangan, Sereia yang sedang mengupas buah sambil berbicara dengan Zaleia yang duduk di sebelahnya. Jade adalah yang paling terakhir bergabung di meja makan yang juga sudah penuh dengan berbagai menu sarapan, mulai dari pancakes, telur orak-arik, bacon, roti panggang, salad buah, jus jeruk, hingga kopi panas. Jade sudah memakai setelan jas formal berwarna abu-abu gelap dengan kemeja putih, terlihat sangat profesional dan siap untuk
Namun nyatanya, Daisy masih ada di sana, terbaring lemah di ranjang dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya dan tidak sadarkan diri, bahkan setelah Vincent membuka pintu kamarnya kasar sambil memanggil namanya dengan keras.Vincent berdiri di ambang pintu sambil mengatur napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, campuran antara lega dan marah.Pria itu meremas rambutnya dengan frustrasi, lalu berbalik menatap dua anak buahnya yang juga melongok ke dalam dengan wajah pucat."Kalian akan mati malam ini!" ancam Vincent penuh penekanan.Belum sempat mereka merespons untuk memohon ampun atau memberikan penjelasan, ponsel mereka berdering nyaris bersamaan.Bunyi dering yang sangat tidak tepat waktu.Kedua anak buah itu melirik Vincent dengan ragu. Salah satu dari mereka mengangkat ponselnya sedikit, meminta izin untuk menerima panggilan itu lebih dulu.Vincent menghela napas kasar sambil melambaikan tang
"Aku akan melakukan apa pun untuk Daisy. Sama seperti Papi yang rela melakukan apa pun demi Mami." Jade menjawab dengan raut wajah datar. Pria itu menyembunyikan emosinya dengan baik. Morgan menatap Jade penuh selidik. Mata pria itu tidak berkedip, mengamati seberapa dalam dan kuat tekad putra sulungnya. Pria itu mencari tanda-tanda bahwa Jade hanya berbicara berdasarkan emosi sesaat. Namun yang Morgan lihat adalah mata yang sama seperti matanya sendiri puluhan tahun lalu. Mata seorang pria yang sudah mengambil keputusan bulat dan tidak akan mundur apa pun yang terjadi. "Vincent sudah membangunkan iblis di dalam tubuhku yang sudah aku paksa tidur selama puluhan tahun. Sekarang iblis itu bangun dan kelaparan. Setidaknya dengan izin Papi, aku bisa mengendalikan iblis itu," lanjut Jade penuh penekanan. Morgan mendesah panjang. Banyak yang harus Morgan pertimbangkan. Pria paru
“Aargh!” Sydney mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya, seolah kenyataan yang baru saja Jade ungkapkan menyakiti hatinya juga. Wajah wanita paruh baya itu memucat. Napas Sydney tercekat dan tangannya gemetar. Morgan dengan sigap melangkah mendekati Sydney dan menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Sydney dan Morgan adalah orang yang paling mengerti bagaimana hancurnya Daisy dan Jade saat ini. Mereka pernah merasakan hal yang sama, kehilangan dua anak dalam perjalanan mengarungi rumah tangga mereka yang penuh lika-liku. Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Hanya tertimbun oleh waktu. Jane yang biasanya selalu terlihat kuat dan tidak pernah menangis di depan orang lain, kini menitikkan air mata. Wanita itu ikut merasakan seperti apa hancur hati saudara kembarnya. Bahkan air mata Jane tidak berhenti mengalir, seolah Jane juga mewakili Jade un







