Se connecter“Aargh!” Sydney mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya, seolah kenyataan yang baru saja Jade ungkapkan menyakiti hatinya juga.
Wajah wanita paruh baya itu memucat. Napas Sydney tercekat dan tangannya gemetar. Morgan dengan sigap melangkah mendekati Sydney dan menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Sydney dan Morgan adalah orang yang paling mengerti bagaimana hancurnya Daisy dan Jade saat ini. Mereka pernah merasakan hal y“Aargh!” Sydney mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya, seolah kenyataan yang baru saja Jade ungkapkan menyakiti hatinya juga. Wajah wanita paruh baya itu memucat. Napas Sydney tercekat dan tangannya gemetar. Morgan dengan sigap melangkah mendekati Sydney dan menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Sydney dan Morgan adalah orang yang paling mengerti bagaimana hancurnya Daisy dan Jade saat ini. Mereka pernah merasakan hal yang sama, kehilangan dua anak dalam perjalanan mengarungi rumah tangga mereka yang penuh lika-liku. Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Hanya tertimbun oleh waktu. Jane yang biasanya selalu terlihat kuat dan tidak pernah menangis di depan orang lain, kini menitikkan air mata. Wanita itu ikut merasakan seperti apa hancur hati saudara kembarnya. Bahkan air mata Jane tidak berhenti mengalir, seolah Jane juga mewakili Jade un
Begitu Jade keluar dari kamar Daisy dan menutup pintu dengan pelan di belakangnya, ponsel pria itu berdering. Layar ponsel menampilkan nama Zaleia, salah satu adiknya. Kemungkinan besar kabar dari Elias. Jade segera mengangkat panggilan itu sambil kembali berjalan menuju basement. "Ya, Zaleia?" sapa Jade. "Elias sudah sadar, Kak!" ucap Zaleia di ujung telepon terdengar antusias. Satu kabar baik di tengah badai amarah dalam dada Jade. Terdengar seperti angin segar yang menyejukkan, walau hanya sejenak. Meski tidak bisa meredakan amarah Jade sepenuhnya terhadap Vincent, setidaknya satu dari dua orang yang paling berarti untuknya sudah pulih. "Aku akan segera ke rumah sakit. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan dengan Papi," jawab Jade. Setelah berganti kembali ke pakaian yang sebelumnya Jade pakai dan mengembalikan scrub medis serta kartu akses pada perawat yang me
"Tidak akan, Tuan. Jika Tuan pergi ke lantai dua, Tuan akan bertemu dengan seorang perawat berkacamata yang bersedia membantu kita." Primus menjawab sambil mengulurkan sebuah kartu akses rumah sakit, kartu putih dengan nama seorang dokter tertera di sana, yang tadi dia ambil diam-diam saat berkeliling.Jade mengangguk. Pria itu segera mengambil masker dari dashboard mobil dan memakainya.Dengan kartu akses di tangan, Jade keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk lewat pintu lift menuju lantai dua.Saat pintu lift terbuka di lantai dua, seorang perawat wanita berkacamata tebal berdiri di sana dengan raut wajah cemas. Matanya terus melirik ke kiri dan kanan.Jade melihatnya tanpa berbicara apa pun selama beberapa detik, memastikan dia orang yang dimaksud oleh Primus atau bukan.Sampai akhirnya perawat itu memberikan pakaian scrub medis berwarna hitam yang terlipat rapi pada Jade."Silakan ganti pakaian Anda dengan ini, Tuan. Rua
Tatapan Jade terus tertuju pada pintu lift, tempat terakhir dia melihat Primus menghilang. Sesekali Jade melirik jam tangannya, lalu beralih ke aplikasi pemantau lokasi di ponsel, lalu kembali ke pintu lift. Tiga hal yang terus Jade periksa bergantian dengan rasa cemas yang semakin membesar. Beberapa kali pintu lift terbuka. Setiap kali itu terjadi, Jade menegakkan punggungnya, berharap sosok Primus yang keluar. Namun yang keluar hanya perawat dengan seragam hijau, seorang pria dengan kantong infus di tangan, atau pun sepasang suami istri yang menggendong bayi. Primus belum juga kembali. Jade mendesah kasar sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Pria itu bersandar ke kursi penumpang, menyilangkan tangan di depan dada, lalu tidak bisa duduk diam dan akhirnya menegakkan punggung lagi. Satu setengah jam berlalu. Sampai akhirnya, saat pintu lift terbuka untuk kesekian kalinya, Jade melihat sosok Primus di sana. Pria paruh baya itu berjalan keluar lift. Jantung
Primus segera melajukan mobil menuju titik lokasi salah satu anting Daisy yang berada di rumah sakit kecil di luar kota tanpa banyak bertanya atau membuang waktu satu detik pun. Sementara mobil Jade sendiri yang tertinggal di depan rumah Vincent, akan diurus oleh jasa derek yang dipesan Primus lewat telepon singkat sambil menyetir. Jade menatap layar ponselnya yang masih menampilkan dua titik lokasi berbeda. Jari-jarinya menekan layar itu terlalu kuat, seperti ingin menggenggam Daisy langsung dari sana. "Daisy pasti kehilangan salah satu antingnya di rumah Vincent sebelum dibawa ke luar kota," gumam Jade menyimpulkan dengan suara pelan yang bergetar. "Pria bajingan!" Rumah sakit bukanlah tempat yang bagus. Terlebih lagi rumah sakit kecil di luar kota yang biasanya minim fasilitas dan dokter spesialis yang tidak lengkap. Lebih parah lagi, stok darah yang mungkin tidak mencukupi. J
Jade mengepalkan tangan dengan kuat di sisi tubuhnya. Urat di leher Jade menonjol. Napasnya terasa berat. Dia berusaha mengendalikan amarah yang sangat besar dengan susah payah agar tidak meledak di sini. "Kau terlalu percaya diri, Vincent," sahut Jade dengan penuh penekanan. "Perusahaan yang melejit dengan cepat, tahu apa soal bertahan? Poseidon Exports sudah berusia puluhan tahun dan selama itu, kami selalu memimpin perekonomian." Senyum Vincent memudar. Tipis, tetapi Jade melihatnya dengan jelas. Hyper Move memang masih sangat muda. Usianya belum sampai 10 tahun. Sebelumnya Vincent merasa bahwa perusahaannya bisa saja membalap keberhasilan Poseidon Exports yang sudah berakar kuat di industri ini. Namun saat Jade mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan, jauh di dalam lubuk hatinya, Vincent merasakan kepercayaan dirinya jatuh. Jade menunjuk dada Vincent dengan ja







