Share

187. Mengarah Ke Kamu

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2026-02-05 15:02:33

Sydney dan Morgan sama-sama terdiam. Tidak ada yang langsung menanggapi ucapan Jade barusan. Kalimat itu terlalu tajam untuk segera dibalas, tetapi terlalu masuk akal untuk ditepis begitu saja.

Selama ini, yang Sydney dan Morgan pikirkan hanyalah satu hal, yaitu membalas kebaikan.

Keduanya tidak pernah benar-benar mempertimbangkan bahwa dengan terus memberi uluran tangan pada orang yang salah, mereka justru bisa menciptakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Monster
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   235. Rival Terbaikmu

    Namun nyatanya, Daisy masih ada di sana, terbaring lemah di ranjang dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya dan tidak sadarkan diri, bahkan setelah Vincent membuka pintu kamarnya kasar sambil memanggil namanya dengan keras.Vincent berdiri di ambang pintu sambil mengatur napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, campuran antara lega dan marah.Pria itu meremas rambutnya dengan frustrasi, lalu berbalik menatap dua anak buahnya yang juga melongok ke dalam dengan wajah pucat."Kalian akan mati malam ini!" ancam Vincent penuh penekanan.Belum sempat mereka merespons untuk memohon ampun atau memberikan penjelasan, ponsel mereka berdering nyaris bersamaan.Bunyi dering yang sangat tidak tepat waktu.Kedua anak buah itu melirik Vincent dengan ragu. Salah satu dari mereka mengangkat ponselnya sedikit, meminta izin untuk menerima panggilan itu lebih dulu.Vincent menghela napas kasar sambil melambaikan tang

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   234. Bangun dan Kelaparan

    "Aku akan melakukan apa pun untuk Daisy. Sama seperti Papi yang rela melakukan apa pun demi Mami." Jade menjawab dengan raut wajah datar. Pria itu menyembunyikan emosinya dengan baik. Morgan menatap Jade penuh selidik. Mata pria itu tidak berkedip, mengamati seberapa dalam dan kuat tekad putra sulungnya. Pria itu mencari tanda-tanda bahwa Jade hanya berbicara berdasarkan emosi sesaat. Namun yang Morgan lihat adalah mata yang sama seperti matanya sendiri puluhan tahun lalu. Mata seorang pria yang sudah mengambil keputusan bulat dan tidak akan mundur apa pun yang terjadi. "Vincent sudah membangunkan iblis di dalam tubuhku yang sudah aku paksa tidur selama puluhan tahun. Sekarang iblis itu bangun dan kelaparan. Setidaknya dengan izin Papi, aku bisa mengendalikan iblis itu," lanjut Jade penuh penekanan. Morgan mendesah panjang. Banyak yang harus Morgan pertimbangkan. Pria paru

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   233. Si Obsidian Phantom

    “Aargh!” Sydney mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya, seolah kenyataan yang baru saja Jade ungkapkan menyakiti hatinya juga. Wajah wanita paruh baya itu memucat. Napas Sydney tercekat dan tangannya gemetar. Morgan dengan sigap melangkah mendekati Sydney dan menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Sydney dan Morgan adalah orang yang paling mengerti bagaimana hancurnya Daisy dan Jade saat ini. Mereka pernah merasakan hal yang sama, kehilangan dua anak dalam perjalanan mengarungi rumah tangga mereka yang penuh lika-liku. Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Hanya tertimbun oleh waktu. Jane yang biasanya selalu terlihat kuat dan tidak pernah menangis di depan orang lain, kini menitikkan air mata. Wanita itu ikut merasakan seperti apa hancur hati saudara kembarnya. Bahkan air mata Jane tidak berhenti mengalir, seolah Jane juga mewakili Jade un

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   232. Seperti Tahanan

    Begitu Jade keluar dari kamar Daisy dan menutup pintu dengan pelan di belakangnya, ponsel pria itu berdering. Layar ponsel menampilkan nama Zaleia, salah satu adiknya. Kemungkinan besar kabar dari Elias. Jade segera mengangkat panggilan itu sambil kembali berjalan menuju basement. "Ya, Zaleia?" sapa Jade. "Elias sudah sadar, Kak!" ucap Zaleia di ujung telepon terdengar antusias. Satu kabar baik di tengah badai amarah dalam dada Jade. Terdengar seperti angin segar yang menyejukkan, walau hanya sejenak. Meski tidak bisa meredakan amarah Jade sepenuhnya terhadap Vincent, setidaknya satu dari dua orang yang paling berarti untuknya sudah pulih. "Aku akan segera ke rumah sakit. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan dengan Papi," jawab Jade. Setelah berganti kembali ke pakaian yang sebelumnya Jade pakai dan mengembalikan scrub medis serta kartu akses pada perawat yang me

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   231. Berdukalah Sepuasnya

    "Tidak akan, Tuan. Jika Tuan pergi ke lantai dua, Tuan akan bertemu dengan seorang perawat berkacamata yang bersedia membantu kita." Primus menjawab sambil mengulurkan sebuah kartu akses rumah sakit, kartu putih dengan nama seorang dokter tertera di sana, yang tadi dia ambil diam-diam saat berkeliling.Jade mengangguk. Pria itu segera mengambil masker dari dashboard mobil dan memakainya.Dengan kartu akses di tangan, Jade keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk lewat pintu lift menuju lantai dua.Saat pintu lift terbuka di lantai dua, seorang perawat wanita berkacamata tebal berdiri di sana dengan raut wajah cemas. Matanya terus melirik ke kiri dan kanan.Jade melihatnya tanpa berbicara apa pun selama beberapa detik, memastikan dia orang yang dimaksud oleh Primus atau bukan.Sampai akhirnya perawat itu memberikan pakaian scrub medis berwarna hitam yang terlipat rapi pada Jade."Silakan ganti pakaian Anda dengan ini, Tuan. Rua

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   230. Di Dalam Darah Daisy

    Tatapan Jade terus tertuju pada pintu lift, tempat terakhir dia melihat Primus menghilang. Sesekali Jade melirik jam tangannya, lalu beralih ke aplikasi pemantau lokasi di ponsel, lalu kembali ke pintu lift. Tiga hal yang terus Jade periksa bergantian dengan rasa cemas yang semakin membesar. Beberapa kali pintu lift terbuka. Setiap kali itu terjadi, Jade menegakkan punggungnya, berharap sosok Primus yang keluar. Namun yang keluar hanya perawat dengan seragam hijau, seorang pria dengan kantong infus di tangan, atau pun sepasang suami istri yang menggendong bayi. Primus belum juga kembali. Jade mendesah kasar sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Pria itu bersandar ke kursi penumpang, menyilangkan tangan di depan dada, lalu tidak bisa duduk diam dan akhirnya menegakkan punggung lagi. Satu setengah jam berlalu. Sampai akhirnya, saat pintu lift terbuka untuk kesekian kalinya, Jade melihat sosok Primus di sana. Pria paruh baya itu berjalan keluar lift. Jantung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status