Share

3. Lalat yang Mengganggu

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2025-11-29 17:08:19

Brak!

Pintu toilet wanita terbuka dengan keras dan seseorang masuk.

Sebelum gadis itu sempat mengerti apa yang terjadi, suara pukulan memecah keheningan, diikuti ringisan kesakitan dari Andrew.

“Aarghh!” pekik Andrew yang terjatuh menghantam ubin lantai toilet sambil memegangi rahangnya.

Daisy terhuyung-huyung ke samping sambil menghirup napas panjang yang membuatnya batuk.

Mata Daisy kabur oleh air mata, tetapi dia bisa melihat sosok yang menolongnya dengan jelas.

“Tuan Jade?” Daisy terisak pelan sambil mengusap kasar dadanya.

Jade menatap Andrew dengan tajam, seperti siap meninju lagi jika pria itu mendekat.

“Kau–” Andrew tersentak, mata merahnya membulat saat menyadari siapa yang memukul. “Aiiishh!”

Daisy menelan ludah saat melihat Andrew perlahan bangkit.

“Sialan!” maki Andrew sebelum berlari keluar toilet.

Jade berbalik menghadap Daisy, dan ketegangan dalam wajahnya berubah menjadi kekhawatiran.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jade sambil memegang kedua bahu Daisy dan menelusuri wajah gadis itu.

Daisy cepat-cepat menghapus air matanya dengan punggung tangan.

Namun pada saat yang bersamaan, gerakan itu membuat lengan kemejanya tersingkap, dan memar keunguan yang mencakup pegelangan tangannya terlihat jelas.

Jade tidak sengaja melihat itu.

"S-saya baik-baik saja. Terima kasih sudah menolong saya." Daisy segera menutupi lengannya kembali.

Bola mata Daisy bergerak liar menatap lantai dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

Melihat kondisi Daisy, Jade mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.

Tiba-tiba, pintu toilet terbuka lagi.

Tiga orang masuk, Bianca dan kedua orang tuanya. Wajah mereka menegang begitu melihat Daisy dan Jade, terlebih tangan Jade masih memegang bahu gadis itu.

“Oh?” Olga tersenyum pucat, tetapi tatapannya menusuk Daisy. “Ada apa ini? Kami mencarimu ke mana-mana, Jade. Sebentar lagi sesi foto keluarga.”

Daisy segera menunduk dan melepaskan diri dari genggaman Jade, berusaha membuat pusat perhatian tidak tertuju padanya.

Kehadiran Bianca membuat setiap otot di tubuh Daisy semakin tegang.

Jade menatap antara Daisy dan Keluarga Lulla beberapa kali. Ada sesuatu yang aneh dari cara mereka menatap Daisy, juga sikap gadis itu yang tampak ketakutan.

Bianca segera menggandeng lengan Jade dengan percaya diri.

"Jade, Sayang, apa yang kamu lakukan di sini bersama seorang pelayan?" tanya Bianca sambil tersenyum.

"Apa kamu salah masuk toilet, Jade?" Tawa Neil terdengar sumbang, tangannya menepuk pelan bahu Jade dan menariknya menjauhi Daisy. "Toilet pria ada di seberang sana."

Jade tampak terganggu dengan tindakan Neil yang berlebihan. Dahinya mengernyit dalam, tetapi pria itu tidak protes.

"Ya, Tuan Jade salah masuk toilet." Daisy menjawab lebih dulu dengan cepat. "Saya sedang memberitahunya."

Daisy menunduk, berharap suaranya tidak bergetar seperti jantungnya.

Jade mengangkat salah satu alis dan melirik Daisy tidak percaya.

"Pergilah ke toilet yang benar, Jade," pinta Olga kembali bersuara. "Fotografer dan orang tuamu sudah menunggu."

Jade enggan meninggalkan Daisy. Namun tampaknya gadis itu ingin Jade mengikuti kemauan orang tua Bianca.

“Terima kasih informasinya,” ucap Jade, ikut memainkan skenario yang dibuat Daisy.

Pria itu segera keluar, diikuti oleh Neil dan Olga. Sementara Bianca menunggu sampai langkah ketiga orang itu menjauh, lalu berbalik perlahan ke arah Daisy.

Aura kehangatan palsu yang tadi Bianca gunakan di depan Jade, lenyap dalam sekejap.

Bianca mendekat.

"Kau tidak sedang menggoda tunanganku, kan, Jalang?" tanya Bianca sambil mengangkat dagu Daisy dengan kasar, jari-jarinya menggigit kulit gadis itu.

Daisy membeku, napasnya tercekat. “T-ti–tidak, Kak.”

“Bagus.” Bianca mendekatkan wajahnya pada wajah Daisy. “Karena kau tidak punya apa-apa untuk ditawarkan pada pria mana pun. Tubuhmu hancur, jelek, rusak. Sangat tidak menarik!”

Daisy meremas bajunya dengan kuat, menahan nyeri di dalam dada.

“Tidak ada seorang pun yang akan mau melihatmu lebih dari sekadar lalat yang mengganggu. Jadi jangan pikir kau bisa membuat Jade tertarik padamu," lanjut Bianca penuh penekanan.

Satu tetes air mata jatuh lagi.

Bianca menghempaskan wajah Daisy dengan kasar dan bergegas keluar tanpa menoleh lagi.

Daisy mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.

‘Tubuh yang seperti ini, nyatanya membuat kekasih aslimu menginginkannya,’ batin Daisy memanas, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Sesi foto keluarga dimulai beberapa menit kemudian di area yang telah disiapkan khusus, dengan latar belakang bunga putih dan emas yang elegan.

Keluarga Lulla berdiri di samping orang tua Jade, berbaris dengan sempurna seperti ornamen mahal di atas lemari kristal.

Ibu Jade tampak anggun dengan gaun elegan, sementara ayahnya tampak sangat berwibawa. Sedikit banyak, Daisy bisa melihat sifat dingin dan intimidatif Jade menurun dari siapa.

Daisy berdiri jauh di belakang, menonton mereka bergurau dan tertawa di antara sesi foto.

Sejenis kerinduan lama yang Daisy coba kubur muncul kembali, kerinduan pada mendiang ibunya. Wanita sederhana yang selalu memeluk Daisy hangat, meskipun hidup mereka serba kekurangan.

Daisy menunduk, menahan rasa perih di dadanya.

Daisy cepat-cepat meminta temannya bertugas jaga untuk menggantikannya.

"Aku perlu ke dalam sebentar," bisik Daisy, tidak ingin menangis di sekitar para tamu yang ramai.

Temannya mengangguk, tidak menanyakan apa-apa.

Daisy masuk ke area pekerja, sebuah ruang kecil di balik panggung aula. Tempat itu sunyi, sangat cocok untuk menenangkan diri.

Daisy hendak duduk ketika suara percakapan dari ujung ruangan membuatnya menahan langkah.

Dua orang pembantu yang datang dari rumah Keluarga Lulla sebagai perbantuan sedang berbicara sambil menyusun piring.

“Kasihan, ya,” ujar salah satunya. “Kabarnya, Daisy diminta menjadi pelayan seperti kita hari ini.”

"Daisy lahir dari rahim mantan pembantu keluarga ini. Bakat genetiknya memang hanya seputar dapur dan melayani. Tidak ada yang bisa diharapkan dari gadis seperti itu," timpal yang lain.

Keduanya tertawa senang, sama sekali tidak menyadari bahwa Daisy ada di sekitar mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Agnes Dhone
🥹🥹🥹 so sad
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   276. Jade Tidak Akan Bisa Menebaknya

    “Nona Daisy!” Suara wanita itu memecah udara pagi yang masih dipenuhi kabut tipis. Daisy yang baru saja menuruni anak tangga kereta berhenti melangkah. Dia menoleh ke arah sumber suara itu. Di ujung peron, seorang wanita muda melambaikan tangan beberapa kali dengan semangat. Senyumnya pun sangat lebar. Daisy langsung mengenalinya. “Martha?” sapa Daisy. Pelayan yang pernah Vincent pekerjakan khusus untuk melayani Daisy yang terkurung di rumah itu mengangguk cepat sambil tertawa kecil, lalu berjalan mendekat. Daisy ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kota, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Begitu jarak mereka cukup dekat, Martha berhenti dan sedikit menundukkan kepala. “Selamat datang, Nona Daisy.” Daisy terkekeh pelan. “Tolong, pakai nama saja,” pinta Daisy. “Kamu bukan lagi pelayanku.”

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   275. Memantaskan Diri

    Jade meraih amplop itu. Hampir terlihat seperti sedang merebutnya dari tangan Sam. Pria itu membukanya dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi. Dia mulai membaca dengan mata yang bergerak cepat dari baris ke baris. [Tuan Jade, Saat Tuan membaca surat ini, mungkin saya sudah tidak berada di tempat yang bisa Tuan jangkau. Jangan khawatir. Saya tidak pergi karena membenci Tuan. Justru sebaliknya. Saya pergi karena terlalu menghormati Tuan. Terima kasih sudah datang ke hidup saya saat dunia terasa begitu gelap. Terima kasih sudah memegang tangan saya ketika saya bahkan tidak yakin masih pantas untuk hidup. Tuan pernah berkata bahwa saya kuat. Padahal sebenarnya, kekuatan saya selama ini hanyalah karena Tuan berdiri di belakang saya. Jika suatu hari Tuan melihat langit sore yang cerah, anggap saja itu saya yang sedang tersenyum dari jauh.

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   274. Bertemu Daisy untuk yang Terakhir Kali

    "Daisy?" panggil Gea seraya mengangkat kedua alis penuh kekhawatiran melihat sahabatnya termenung terlalu lama dengan tatapan kosong. Panggilan Gea membuyarkan lamunan Daisy. Daisy segera menjawab sambil menggeleng pelan, "Aku mengganti nomor telepon. Dan sejak awal bertemu kembali setelah aku sadar, kami tidak saling bertukar nomor." Kini luntur sudah prasangka Daisy yang mengira bahwa Jane, Sereia, dan Elias tidak menjenguknya karena menjaga perasaan Jade atau ikut kecewa pada Daisy karena menolak lamaran kakak mereka. Namun ternyata itu semua karena mereka sudah tidak ada di Suri. "Ah ya, Elias titip salam untukmu, Daisy. Dia juga minta maaf karena tidak sempat berpamitan," sahut July yang sedang memeriksa ponselnya. Sepertinya July sedang saling mengirim pesan dengan Elias. Wajahnya terlihat lebih cerah saat menatap layar ponsel. "Sampaikan kembali salamku," balas Daisy sambil tersenyum tipis. "Semoga Elias ce

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   273. Pesta Perpisahan

    Pintu apartemen itu akhirnya terbuka, tepat setelah Daisy menekan tombol kirim di ponselnya. Gea muncul dari sana mengenakan bathrobe putih dan handuk berwarna senada di kepalanya. "Maaf, Daisy, aku baru saja selesai mandi dan July sedang mendengarkan musik dengan headphone, jadi dia tidak mendengarmu," ucap Gea sambil membukakan pintu lebih lebar. "Masuklah." Daisy masuk sambil membungkuk sopan. "Tidak apa-apa. Kupikir kalian belum sampai," balas Daisy. Gea menutup pintu apartemennya kembali. Dia mengajak Daisy masuk lebih dalam. Apartemen Gea memiliki ruang tamu yang cukup luas dengan sofa berwarna krem dan meja kaca yang bersih. Walaupun tidak seluas apartemen Daisy yang dulu, tetapi tempat ini tetap terasa nyaman dan penuh dengan sentuhan personal. "Di mana Rex?" tanya Daisy sambil menyapu pandangannya ke sekeliling, mencari-cari sosok berbulu yang sangat dia rindukan.

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   272. Titipan Daisy

    Daisy tidak tahu dirinya merasa kesal karena Jade seperti mengingkari janjinya, atau karena bukan Jade yang ada di sana untuk menyambutnya keluar dari rumah sakit. Kedua perasaan itu bercampur aduk di dadanya, membuat Daisy semakin bingung dengan apa yang sebenarnya dia inginkan. "Tuan Jade tidak mungkin lupa," jawab Sam. "Beliau berani mengirim saya ke sini, karena tahu Nona Daisy akan mampir ke suatu tempat sebelum benar-benar pergi." Daisy membulatkan kedua bola matanya sesaat. "Tahu dari mana?" tanya Daisy sambil menyipitkan mata. Tatapan Daisy penuh dengan kecurigaan dan sedikit amarah yang mulai memuncak. Selain bekerja sebagai sopir Jade, Daisy yakin Sam melakukan hal lebih dari itu, seperti mungkin memata-matai pergerakan Daisy, mencatat setiap langkahnya, dan melaporkan segala aktivitasnya pada Jade tanpa sepengetahuan dirinya. "Saya tidak berhak bertanya seperti

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   271. Berpura-pura Tidak Mendengar

    Daisy memutuskan untuk mengabulkan permintaan terakhir Jade, karena pria itu juga setuju untuk mengabulkan permintaan terakhirnya. Ini adalah kesepakatan yang adil. Selama satu bulan penuh, Daisy menjalani fisioterapi dengan penuh dedikasi dan tekad yang sangat kuat untuk bisa berjalan kembali. Sampai akhirnya di suatu siang yang cerah, dokter masuk ke ruangan Daisy saat gadis itu tengah berdiri di sisi ranjang sambil merapikan barang bawaannya yang tidak begitu banyak. Daisy sudah tidak lagi mengenakan pakaian pasien. Kini gadis itu memakai pakaian kasual warna kesukaannya, blus merah muda pastel yang lembut dengan celana panjang krem yang nyaman. "Selamat siang, Nona Daisy!" sapa dokter dengan ceria sambil melangkah masuk. "Senang sekali melihat Anda hari ini. Anda akan pulang, bukan?" Daisy tersenyum. "Ya, fisioterapi saya sudah selesai. Berkat dokter, perawat, dan terapis, saya sudah bisa berjalan kembali. Ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status