Compartir

2. Turut Berbahagia

Autor: prasidafai
last update Última actualización: 2025-11-29 16:55:08

Mata Daisy membulat. Dia merasakan dadanya berdegup cepat.

"Bekerja di luar jam kerja harus ada persetujuan dari kedua belah pihak, Tuan Jade."

Daisy merasakan keberanian itu datang tiba-tiba. Dia berdiri tegak di hadapan Jade, meski lututnya terasa mulai melemas.

“Apa?” Wajah Jade mengeras, dan ada kilatan di mata cokelatnya yang membuat Daisy ingin segera menelan kembali kata-katanya.

Daisy menarik napas dalam-dalam. Nampan di tangan gadis itu bergetar, tetapi Daisy menahannya sekuat mungkin.

"Saya tidak bisa lembur hari ini," lanjut Daisy dengan suara sedikit bergetar.

Sebelum Jade sempat membalas, Daisy buru-buru membungkuk.

“Selamat atas pertunangan Anda, Tuan.” Daisy terdengar kaku. “Saya turut berbahagia. Mohon maaf, saya izin ke belakang.”

Sebelum Jade sempat membalas, Daisy sudah berbalik dan melangkah keluar dari area tersebut.

Gadis itu bisa merasakan sorot mata Jade membuntuti punggungnya sampai dia menghilang melewati pintu samping aula.

Toilet wanita tampak sepi ketika Daisy masuk. Gemuruh pesta hanya terdengar samar dari sini.

Daisy langsung menuju wastafel, membuka keran, dan memercikkan air ke wajahnya. Air dingin itu sedikit membantu mengusir panas yang membakar pipi Daisy.

Ketika Daisy mengangkat kepala, cermin di depannya menampilkan seorang gadis dengan manik hitam membulat lebar dan napas yang terengah.

Daisy memegang tepi wastafel, mencoba menstabilkan napasnya.

“Bagaimana bisa?” tanya Daisy pelan. “Dari berapa banyak kebetulan yang bisa terjadi di dunia ini, kebetulan yang menghampiriku justru adalah ini? Tuan Jade bertunangan dengan Kak Bianca?!”

Sepekan lalu, ketika Daisy akhirnya diterima bekerja di Poseidon Exports Suri tanpa tahu bahwa itu perusahaan tunangan kakak angkatnya, tidak ada seorang pun dari Keluarga Lulla yang menyadari. Mereka terlalu sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, acara-acara sosial dan urusan bisnis.

Daisy bisa datang dan pergi seperti hantu, dan tidak seorang pun di rumah itu akan bertanya di mana dia berada.

Itu sebenarnya yang Daisy inginkan. Ketiadaannya itu adalah kebebasan kecil yang selalu dia impikan.

Namun sekarang? Kebebasan itu terasa akan runtuh.

“Kalau mereka tahu aku bekerja di perusahaan tunangan Kak Bianca, apa mereka akan memaksaku berhenti?” Daisy meremas ujung apron basahnya.

Daisy menutup mata. Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.

“Dan jika Tuan Jade juga tahu …” Daisy menghela napas kasar, “kalau aku dan Kak Bianca memiliki hubungan keluarga, meski tidak sedarah, apakah beliau akan tetap mengizinkan aku untuk bekerja di perusahaannya?”

‘Tidak. Pasti tidak!’ Hati Daisy yang menjawab tanpa ragu.

Tidak masuk akal untuk mempekerjakan asisten pribadi yang ternyata adalah adik angkat dari calon istrinya.

Itu akan memantik masalah. Dan dari yang Daisy amati selama seminggu bekerja, Jade tidak menyukai hal seperti itu.

Daisy membuka mata dan mengembuskan napas panjang.

“Sudah banyak yang aku lalui di rumah itu,” desah Daisy sambil mengangkat lengan kirinya dan menyingsingkan sedikit kain seragam ke atas.

Bekas memar keunguan menyembul, membuat mata Daisy berkaca-kaca.

Malam sebelum wawancara kerja, Bianca mengamuk karena gaun pertunangannya hilang. Dia menuduh Daisy yang mengambilnya.

Karena Daisy terus membantah, Bianca justru semakin kasar. Kakak angkatnya itu menarik rambut Daisy, memukulinya dengan batang sapu, bahkan menampar pipinya berkali-kali sambil memaki Daisy pembawa sial.

Saat Daisy sudah terkulai lemas, gaun itu baru ditemukan di ruang cuci oleh salah satu pembantu di rumah. Bianca pergi meninggalkan Daisy begitu saja ke ruang cuci tanpa meminta maaf.

Itu bukan pertama kalinya Bianca menyiksa Daisy, tapi malam itu adalah yang terparah. Daisy hampir tidak bisa bangun keesokan paginya. Namun, gadis itu memaksakan diri untuk tetap pergi wawancara.

Daisy menggeleng, menyadarkan dirinya dari ingatan buruk itu. Dia menutup lengan kemejanya lagi sambil menatap bayangannya di cermin.

Posisi sebagai asisten pribadi Jade hanya terbuka karena asisten pribadi sebelumnya akan cuti melahirkan selama satu tahun.

“Aku tidak bisa menyerah saat jalan keluar untuk pergi dari rumah itu sudah ada di depan mata,” bisik Daisy pada diri sendiri. “Setahun. Aku hanya perlu bertahan satu tahun saja.”

Daisy mengangguk mantap dan tersenyum tipis. Dia akan merahasiakan pekerjaannya pada Keluarga Lulla, dan juga merahasiakan statusnya pada Jade.

Tiba-tiba terdengar suara berisik dari salah satu bilik toilet. Seperti seseorang menabrak pintu dari dalam.

Daisy menoleh cepat, bertepatan dengan pintu bilik yang terbuka.

“Andrew?” Daisy mengernyitkan dahi.

Sosok itu keluar sambil menggosok mata. Mata Andrew tampak merah, entah karena marah, mabuk, atau bangun dari tidur. Rambutnya juga berantakan.

Daisy menarik napas tajam dan langsung mencium aroma alkohol menyengat dari Andrew.

“Daisy?” Andrew menyipit, lalu tersenyum miring. “Kau bukan Bianca.”

“Ini toilet wanita,” tegas Daisy sambil mundur satu langkah. “Kau salah tempat.”

Andrew mengabaikan itu. Pria itu melangkah maju dan terus meringis seperti baru melihat sesuatu yang menarik.

“Aku menunggu Bianca, tapi dia lama sekali.” Andrew tertawa. “Sepertinya sekarang aku akan bermain denganmu dulu, Daisy.”

Darah Daisy langsung mengalir cepat.

“Jangan mendekat!” pinta Daisy sambil mengangkat kedua tangannya ke depan untuk menjaga jarak dari Andrew. “Keluar dari sini, Andrew. Sekarang!”

Andrew justru semakin mendekat. Tubuhnya yang lebih tinggi menekan Daisy ke dinding.

Daisy menahan napas, panik merayap dari ujung kaki hingga kepala.

“Ayo, jangan pura-pura polos,” bisik Andrew dengan suara serak. “Kau pasti kesepian di rumah itu. Bianca tidak berbagi apa pun denganmu, kan?”

“Lepaskan aku!” Daisy mendorong sekuat tenaga, tetapi tubuh Andrew jauh lebih kuat.

Andrew menyentuh lengan Daisy, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan dinding toilet. Napas Andrew yang berbau alkohol menguar, membuat Daisy mual.

“Andrew, berhenti! Kau gila!” seru Daisy sambil terus mendorong kekasih asli Bianca yang mulai menciumi lehernya.

“Bianca masih sibuk dengan tunangannya. Aku bosan, Daisy. Lagipula, sebenarnya kau lebih cantik dan seksi dari Bianca,” ucap Andrew sambil tersenyum miring.

Daisy menggigit bibir hingga hampir berdarah. Semua rasa sakit dari tahun-tahun terakhir kembali merayap, seperti tangan-tangan tidak terlihat yang menyeretnya kembali ke kegelapan.

Daisy membuka mulut dan berteriak, “Tolong! Ada orang–”

Namun Andrew lebih cepat. Pria itu langsung menutup mulut Daisy dengan tangannya dan menekan keras hingga dia hampir kehilangan napas.

‘Setelah disiksa Kak Bianca bertahun-tahun, apa aku harus tetap diam ketika kekasih aslinya mencoba melecehkanku?!’ Air mata Daisy segera membasahi pipinya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   134. Lebih Banyak, Lebih Mahal, Lebih Cantik

    “Tidak sengaja,” jawab Daisy akhirnya. “Saat aku melihat Hyper Move mendapatkan tender yang sama dengan Poseidon Exports.”Vincent mengangguk-angguk perlahan sambil mengamati Daisy. Anggukan itu disertai senyum samar.Daisy mengalihkan pandangannya untuk mengatur napas, lalu berkata, “Terima kasih untuk gaunnya.”Senyum Vincent langsung melebar. Tangan pria itu terhenti di rambut Daisy. Mata abu-abunya memancarkan kelegaan.“Aku bisa memberikan lebih banyak,” balas Vincent percaya diri. “Lebih mahal, dan lebih cantik.”Mata Daisy membola kecil. Gadis itu spontan menggeleng sambil mengangkat kedua tangan di pangkuan untuk menciptakan jarak yang sopan.“Tidak perlu, Vincent. Aku jarang pergi ke acara-acara formal yang memerlukan gaun cantik seperti ini.”Vincent mencondongkan sedikit tubuh, tatapannya turun menyusuri wajah Daisy dari mata hingga bibir, lalu kembali naik dengan lambat.“Kau jauh lebih cantik dari g

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   133. Calon Suami Daisy

    Daisy menaruh cangkirnya yang kosong dengan bunyi lembut di atas tatakan. Jemarinya masih melingkar di pegangan cangkir sejenak sebelum akhirnya terlepas."Saya butuh penjelasan mengapa Tuan Vincent hadir malam ini sebagai ...."Daisy tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.Vincent mengangkat kedua alisnya tinggi. Salah satu sudut bibir pria itu sedikit terangkat."Calon suamimu?" tanyanya.Daisy mengangguk perlahan. Tenggorokannya terasa kering meski baru saja minum teh."Rasanya pertemuan-pertemuan kita, lebih dari sekadar kebetulan, Tuan," tukas Daisy hati-hati.Vincent tertawa geli. Suaranya rendah dan dalam, terdengar menyenangkan di telinga. Namun pria itu tidak pernah melepaskan tatapannya pada Daisy, mata abu-abunya tetap terkunci pada wajah gadis itu."Aku akan menjelaskannya." Vincent berhenti tertawa. "Tapi pertama-tama, aku perlu memperbaiki sesuatu di antar

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   132. Kita Akan Menjadi Keluarga

    Vincent sangat manis.Pria itu bahkan menarik kursi untuk Daisy, baru kemudian dia duduk di sebelah gadis itu. Dia terus tersenyum tipis, tetapi penuh perhatian, seolah Daisy adalah satu-satunya orang di ruangan itu.Neil duduk di kursi kepala keluarga. Di sebelah kanannya ada Olga dan Bianca, sementara di sebelah kirinya ada Vincent dan Daisy.Meja panjang itu penuh dengan hidangan mewah, mulai dari daging panggang, salad segar, sup krim, hingga berbagai makanan pembuka.Neil menegakkan punggung, memperjelas posisinya sebagai tuan rumah."Selamat datang di kediaman Keluarga Lulla, Vincent," ucap Neil ramah.Vincent mengangguk dan tersenyum tipis."Terima kasih sambutannya, Papa," sahut Vincent penuh hormat.Neil tersentak. Kedua alisnya terangkat tinggi."Papa?" ulang Neil tidak percaya."Ya, Papa." Vincent menjawab tanpa ragu, seolah itu adalah hal yang sangat wajar. "Saya boleh memanggil Tua

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   131. Siapa Pria Itu?

    Daisy mendorong pintu kamarnya dan berhenti tepat di ambang.Gadis itu sedikit terkejut kala melihat kamar yang biasa dia tempati sudah didekorasi ulang. Penuh dengan furnitur baru dan didominasi dengan warna putih yang minimalis.Tempat tidur dengan sprei linen putih, meja rias kayu oak dengan cermin besar, bahkan karpet bulu halus di lantai.Olga pasti menyiapkan ini semua untuk berjaga-jaga. Namun Daisy merasa ini sia-sia. Kenyataannya tidak ada siapa pun lagi yang tinggal di kamar ini.Daisy melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Mata gadis itu langsung tertuju pada kotak besar di atas meja rias, kotak yang Olga maksud.Dengan napas panjang, Daisy membuka kotak itu. Di dalamnya terbentang sebuah gaun satin berwarna gading pucat yang memantulkan cahaya dengan kilau lembut. Kain itu terasa dingin saat jemari Daisy menyentuhnya.Daisy akhirnya mandi dengan air hangat yang menenangkan saraf tegangnya. Setelah keluar, g

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   130. Akal-akalan Jade

    Adam yang berada di tengah-tengah mereka, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan seperti penonton pertandingan tenis. Pria paruh baya itu terlihat canggung, tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Daisy menatap lurus ke depan, tidak pada Jade, tetapi pada vas bunga di atas meja di samping sofa. Bibirnya mengatup rapat, menahan kata-kata yang ingin keluar. Jade juga menatap Daisy, matanya tidak pernah lepas dari wajah gadis itu. Ada keinginan besar di sana. Keinginan untuk meraih tangan Daisy, untuk bicara langsung tanpa perantara, dan menghancurkan tembok yang Daisy bangun di antara mereka. Namun Jade tahu dia tidak bisa melakukan itu di sini. Adam berdeham pelan, mencoba memecah keheningan. "Nona Daisy, maaf, tapi keputusannya sudah tidak bisa diubah." Adam menatap Daisy penuh penyesalan. "Bukankah gaji 10 juta per bulan dengan berbagai tunjangan itu masih lebih masuk akal daripada 60 juta per bulan?"

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   129. Menjaga Kepercayaan Daisy

    Pertanyaan itu menggantung di udara. Jade berhenti melangkah, tetapi tidak menoleh ke belakang. Punggung pria itu tegap, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara dia berdiri. Seolah pertanyaan Elias menyentuh sesuatu yang selama ini Jade coba abaikan. "Kenapa, Kak?" Elias mendesak. "Mereka kakak beradik. Seharusnya hubungan mereka baik-baik saja." Jade perlahan memutar tubuhnya. Wajah pria itu tidak lagi dingin, tetapi juga tidak hangat. Hanya datar, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. "Kau pikir semua keluarga seperti keluarga kita, Elias?" Suara Jade rendah. "Tidak semua kakak beradik memiliki hubungan yang baik. Ada yang lebih buruk dari yang kau bayangkan." Elias terdiam. Pria itu menatap kakaknya dengan mata yang mulai mengerti, meski belum sepenuhnya. "Lalu ... apa yang terjadi antara mereka?" Jade menghela napas pelan, seolah pertanyaan Elias bukan hal ya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status