Teilen

91. Mau Membangunkan Saya?

last update Zuletzt aktualisiert: 01.01.2026 15:00:30

“Tidak!” bentak Jade sambil menatap tajam Bianca.

Bianca yang sudah menerjang ke depan terpaksa berhenti ketika kedua bahunya digenggam kuat.

Jade mendorongnya menjauh dari ambang pintu, cukup keras untuk membuat tubuh Bianca terhuyung satu langkah ke belakang.

Koridor yang luas itu mendadak terasa pengap oleh ketegangan yang menumpuk.

Bianca terdiam. Deru napas wanita itu memberat dan dadanya naik turun cepat, seperti bara yang baru saja disiram bensin.

“Kau …” Bianca terkekeh sumbang. “Kenapa? Kau takut ketahuan kalau tidur bersama Daisy?!”

Tatapan Bianca turun perlahan. Dari rahang Jade yang mengeras, ke lehernya yang terekspos, lalu ke dada pria itu di balik piyama yang tidak rapi. Mata cokelatnya menyipit saat menemukan noda merah samar lain di kulit Jade.

Bianca mengangkat tangannya. Namun sebelum ujung jari Bianca sempat menyentuh noda itu, Jade menghempaskannya.

“Jangan sentuh saya,” tukas Jade rendah dan tajam.

“Kau mau mengelak seperti apa lagi, Jade?” Suara Bianca
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   104. Di Pipimu

    Kedua bola mata Bianca membola. Dia segera menutup panggilan dari Jade dengan panik. “Ada apa?” tanya Neil seraya mengernyitkan dahi. “A-apa itu Jade?” Kali ini Olga yang bertanya. Bianca mengangguk kaku. Sedetik kemudian, Bianca tersadar. Wanita itu melangkah mendekati orang tuanya dan memegang tangan keduanya. “Bagaimana ini?” tanya Bianca panik, keringat dingin turun dari pelipisnya. “Apa yang harus kulakukan, Mama, Papa?” Awalnya mata Bianca hanya berkaca-kaca. Lalu pada akhirnya wanita itu menangis histeris. Beberapa jam kemudian. Jade melangkah lebar dengan rahang mengeras di lobi rumah sakit. Tatapan pria itu tajam, seakan ingin menghancurkan siapa atau apa pun yang ada di hadapannya. Tidak ada rapat daring. Jade menelepon Daisy hanya untuk memeriksa keadaan gadis itu. Namun rupanya Jade sudah terlambat. Baru saja sepuluh menit Daisy masuk ke pintu rumah Keluarga Lulla dan Jade meneleponnya, pria itu sudah tidak bisa mendengar suara asisten pribadinya. Dan kini, sela

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   103. Lebih Baik dari Jade

    “Menikahkan Daisy?” ulang Olga sambil mengernyitkan dahi dan mendekati anaknya. “Kau yakin, Bianca?” Olga mengusap bahu Bianca dan menunggu jawabannya. “Ya, dengan begitu, Daisy tidak akan bisa mengganggu Jade lagi,” jawab Bianca tanpa ragu. Daisy menatap tajam Bianca saat wanita itu kembali menatap ke arahnya. “Aku tidak pernah mengganggu siapa pun, Kak,” sergah Daisy dengan bibir bergetar. “Dan bukan kalian yang berhak menentukan pernikahanku!” “Diam kau, Daisy. Kau tidak berhak bicara di sini, tidak akan ada yang membelamu!” hardik Bianca. Daisy mengepalkan tangan. Namun akhirnya dia bangkit dan melangkah ke arah Rex. Gadis itu mengeluarkan Rex dari dalam pet carrier, lalu berjongkok di dekatnya sambil mengusap bulunya pelan. “Maaf, Rex,” ucap Daisy pelan. “Kebetulan, sebentar lagi Mama dan Papa akan menghadiri pesta pelelangan. Kita bisa mencari pria dari sana,” usul Neil kemudian sambil berdiri di s

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   102. Pakaian Dalam yang Berani

    Di dalam toilet pesawat nomor dua, senyum Bianca merekah saat mendapati pramugara, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Andrew, berdiri di sana. Bianca memang pernah meminta Andrew untuk menyamakan jadwal perbangan pria itu dengan jadwal kepulangannya ke Suri, yang seharusnya dia baru naik pesawat sore nanti. Dan Andrew pun tidak menyanggupinya. Namun siapa sangka? Setelah Jade mempercepat jadwal kepulangan mereka, Bianca justru bisa bertemu Andrew di pesawat. “Hai, Cantik,” sapa Andrew genit sambil mengerling nakal. “Lama tidak bertemu, bukan?” Bianca segera masuk bergabung dengannya dan menutup pintu. “Aku kalah suara dari Daisy, Andrew,” keluh Bianca sambil mengangkat tangannya untuk meraba dada bidang kekasihnya di balik kemeja kerja yang membentuk tubuh kekar pria itu. “Sebagian besar keluarga Jade justru lebih menyukainya.” Andrew menyeringai puas. Namun dia segera menghapus seringai itu, sebelum Bianca menyadariny

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   101. Kecantikan yang Mengundang

    Kepulangan Daisy, Jade, dan Bianca akhirnya tiba. Adik-adik Jade, kecuali Jane, ikut mengantar mereka bertiga ke bandara. Kehadiran empat anak Keluarga Draxus di Bandara Internasional Highvale membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka. Selain karena wajah mereka yang membuat orang betah melihat mereka berlama-lama, aura mewah dan elegan juga menguar begitu kuat dari keempatnya. Bianca tersenyum bangga sambil menggandeng Jade dengan erat. Sementara Daisy berjalan sejajar dengan Sereia sambil membawa pet carrier. “Kau sudah memberinya nama?” tanya Sereia berbisik sambil melirik kucing di dalam pet carrier. Daisy tersenyum dan mengangguk. “Namanya Rex,” tutur Daisy. Kucing jantan itu langsung menyahut dengan kencang, “Meoow!” “Ah, dia menyukai namanya!” Sereia terkekeh geli. Jade yang berjalan paling depan, menghentikan langkahnya kala mereka sampai di depan pintu masuk keberangkatan internasional. Pria itu memutar tubuh ke arah adik-adiknya. “Kalian hanya bisa mengan

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   100. Perubahan Jadwal

    Sementara itu di ruang keluarga, beberapa meter dari kamar Daisy, Sydney melihat Jade dan Bianca sedang berdebat. Wajah mereka berdua memerah dan urat-urat di lehernya mengencang. Beberapa pelayan sampai terkejut mendengar Jade dan Bianca saling bersahutan dengan kencang. “Ada apa?” tanya Sydney sambil mengernyitkan dahi khawatir. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat dan segera berdiri di antara keduanya. Bianca membuang wajah sejenak. Sementara Jade mengusap wajahnya kasar, sebelum akhirnya membalas tatapan sang ibu dengan lebih lembut dari yang tadi dia gunakan pada Bianca. “Aku akan kembali ke Suri besok pagi, Mi,” sahut Jade, tanpa menjawab inti pertanyaan Sydney sebenarnya. Kerutan di dahi Sydney semakin dalam. “Bukankah besok pagi seharusnya kalian mengunjung galeri seni Elias?” tanya Sydney heran dengan keputusan putranya. “Setelah itu kalian akan memiliki waktu tanpa agenda. Kalian bisa bersenang-senang mengenal Highvale. Ada banyak tempat menarik di sini, k

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   99. Lebah yang Salah

    Jade balas menatap Morgan dengan berani. Bukan dengan kebencian, melainkan keteguhan.“Daisy bukan masalahku. Dia … wanita yang ingin aku lindungi, Pi,” sergah Jade tanpa ragu.Tangan Morgan mengepal di sisi tubuhnya.“Yang kau rasakan padanya hanya nafsu, Jade. Dia gadis pertamamu, bukan?” Morgan mengangkat salah satu alisnya. “Pada dasarnya, di atas hasrat yang terus kau lampiaskan hingga kau merasa candu padanya, ada perasaan cinta yang jauh lebih mulia. Dan Papi tidak melihat itu pada dirimu atau pun Daisy.”Tanpa menunggu respons Jade, Morgan melangkah pergi.Sementara Jade terpaku di tempatnya begitu mendengar petuah Morgan.Jade sudah berusia 35 tahun, tetapi dia memang masih asing dengan perasaan cinta. Pria itu terlalu lama mendedikasikan dirinya pada pendidikan dan perusahaan keluarga.Karena beban sebagai pewaris utama, ternyata sama besarnya dengan hak istimewa yang Jade dapatkan. Namun siapa sangka, karena hal itu, Jade menjadi bodoh dalam sa

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status