Share

Ch. 283 H-7

last update Last Updated: 2026-02-12 22:00:12
"Nggak bisa, Pak!" tegas Rifai yang membuat Wilson melotot tajam.

"Nggak bisa gimana? Emang kamu mau kemana?" Wilson meletakkan ponselnya, ia menatap Rifai dengan saksama.

"Nggak bisa jemput mbak Nara, Pak. Nggak boleh sama bunda." ucap Rifai menjelaskan.

'Nggak boleh sama bunda.' Kening Wilson makin berkerut, kenapa bunda melarang? Pernikahan mereka tinggal seminggu lagi! Bagaimana bisa bunda melarangnya hendak membawa Nara sekedar makan malam?

"Kok gitu? Biar saya telpon bun--"

"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
NING
Duh Elvan tulus sekali hatimi. Tapi tenang aja. Si Wil mah cuma dimulut ga Cinta sama kamu. Tapi hatinya sudah full ke Nara
goodnovel comment avatar
Cute
ayo kak update lg
goodnovel comment avatar
bunda iim
Nara oh nara tenang kamu juga penting bgt buat Wilson, kelak dia akan jujur sama kamu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 288 First Time (21++)

    "Ah!"Nara terkejut bukan main, ketika sosok itu membelakanginya yang baru saja selesai keluar dari kamar mandi. Tangan Nara langsung mencengkram bathrope yang membungkus tubuhnya yang masih setengah basah. Tanpa membuang waktu, tubuh itu memutar, berdiri membalas tatapan terkejut yang Nara lemparkan ke padanya. Nampak ia tersenyum sinis, menatap tajam ke arah Nara dengan tatapan ganjil, sebuah tatapan yang makin membuat Nara mempererat cengkeramannya pada bathrope. "Tidak lupa kalau kita sudah menikah, kan? Kita tidur sama-sama mulai malam ini!" nampak ia membuka kancing di pergelangan tangan, sementara kancingnya yang lain, sudah terbuka dari atas sampai bawah, memperlihatkan dada dan permukaan perut lelaki itu yang tercetak sempurna. Tidur sama-sama. Mendadak Nara merinding mendengar kalimat itu, terlebih langkah kaki Wilson mulai terayun mendekatinya. Mampus!Wajah itu masih menyunggingkan senyum ganjil, dengan sorot mata tajam bercampur kilatan cahaya yang membuat otak Nara

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 287 The Wedding

    Gaun ini .... Pantulan cermin membuat Nara terkesiap. Bukan hanya karena gaun yang dia kenakan, gaun yang Wilson minta tambahan lace sebagai penutup dada hingga tangan Nara, gaun yang akhirnya Wilson beli, tak peduli harganya puluhan juta. Makeup ala douyin yang viral itu, menjadi pilihan Nara untuk menyempurnakan penampilan di hari besarnya ini. Dilengkapi soflen warna grey berdiameter besar yang membuat Nara jadi macam boneka hidup."Jeje cantik sekali, Sayang!"Nara menoleh, Fatima hari ini juga menjelma bak bidadari, ya sejatinya dia memang ibu peri. Kebaikan hatinya dan keikhlasan merawat puluhan anak-anak yang bukan darah dagingnya menjadi kecantikan yang tidak bisa ditemui pada setiap orang. Senyum Nara merekah, sejenak matanya memanas. Fatima menggeleng cepat, meraih tangan Nara dan meremasnya lembut. "Jangan nangis! Nggak boleh!" tegas Fatima cepat. "Untuk hari ini, nggak boleh ada air mata. Ini momen seumur hidup kamu, Je, jadi harus senyum, gembira dan bahagia. Oke?"Na

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 286 H-1

    "Je." Nara menoleh, nampak Fatima melangkah masuk ke dalam kamarnya, kamar yang sudah penuh dengan beberapa kardus dan koper besar. Malam ini, malam terakhir Nara tidur di sini. Besok, lebih tepatnya subuh sampai acara selesai, Nara tidak akan pulang kemari. Dia akan pergi, ikut kemana suaminya akan membawa Nara tinggal. "Looo, besok mau jadi pengantin kok malah sedih begini, Je?" Fatima duduk di tepi ranjang, menatap Nara yang seketika memerah matanya dengan tatapan haru. Tangis Nara pecah, ia meraih tangan Fatima, mencium punggung telapak tangan itu penuh hormat dan menangis sejadi-jadinya di sana. Fatima membisu, air matanya ikut menitik. Ia merengkuh Nara, membenamkan Nara ke dalam dekapannya. Tangan Fatima mengusap lembut kepala Nara, mengabaikan air matanya yang menganak sungai. "Nggak nyangka bunda, Je ... bunda bisa nemenin kamu sampai detik ini, sampai proses sakral besok pagi." gumam Fatima hampir tidak terdengar, dadanya terasa sesak. "Bunda selalu berdoa se

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 285 Rahasia Kelam

    "Pak, mbak Nara tadi WA saya, Pak." Wajah Wilson langsung beralih dari deretan berkas di atas meja, ia menatap Rifai dengan sorot tajam. "Dia nggak ada chat saya malah." ucap Wilson masih dengan ekspresi tajam. "Ada urusan apa sampai-sampai kamu yang dichat sama dia?" Mata Rifai membulat, hampir tawanya pecah. Wajah dan intonasi suara Wilson benar-benar membuatnya geli! "Soal sejarah keluarga kandungnya, Pak." jawab Rifai tetap tenang dan sabar. "Kan kemarin saya cerita kalau mbak Nara mau nekat ke dukcapil buat cari data orang tuanya yang masih terekam di sana." Seketika ekspresi wajah Wilson melunak, nampak ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Jemarinya mengusap dagu, ada sorot ragu terpancar di wajah itu. Rifai memilih untuk diam menungggu, duduk sembari mencoba membaca wajah Wilson yang berada di depannya ini. "Menurutmu, apakah perlu dia tahu yang sebenarnya, Fai?" Akhirnya Wilson bersuara, hendak mengajaknya beradu argumen perihal calon istrinya. "

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 284 Ikhlas, Ya!

    "Nggak ketemu sama Wilson, kan, tadi?" Bukan pertanyaan lain yang Nara dapatkan dari Fatima, malah pertanyaan yang ini! Ah, Nara lupa, perjanjian tentang bagaimana pernikahannya nanti dengan Wilson, hanya mereka berdua yang tahu. Lagipula untuk apa Wilson menemui dia? Mereka hanya bertemu ketika ada suatu hal yang hendak dibahas. Selain itu? Tidak ada! "Nggak ada, Bun. Jeje juga langsung pulang begitu ganti jam jaga." jawab Nara masih dengan sopan dan lembut. Siapa dia hendak ngambek atau bahkan ngamuk? Sudah dirawat, dibesarkan oleh Fatima saja harusnya dia berterimakasih. Fatima tersenyum, ia mengusap pipi Nara, memberi kode dengan lirikan mata. "Bunda tadi masak, Jeje cepet mandi, makan terus istirahat, ya!" sebuah suara manis yang langsung membuat mata Nara berbinar cerah, ia segera mengangguk, segala lelah dan pusingnya seketika hilang. Tanpa banyak bicara, Nara segera melesat ke kamarnya, patuh mengikuti perintah Fatima yang diberikan padanya. Nara memang sudah cu

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 283 H-7

    "Nggak bisa, Pak!" tegas Rifai yang membuat Wilson melotot tajam. "Nggak bisa gimana? Emang kamu mau kemana?" Wilson meletakkan ponselnya, ia menatap Rifai dengan saksama. "Nggak bisa jemput mbak Nara, Pak. Nggak boleh sama bunda." ucap Rifai menjelaskan. 'Nggak boleh sama bunda.' Kening Wilson makin berkerut, kenapa bunda melarang? Pernikahan mereka tinggal seminggu lagi! Bagaimana bisa bunda melarangnya hendak membawa Nara sekedar makan malam? "Kok gitu? Biar saya telpon bun--" "Aturannya begitu, Pak." potong Rifai cepat. "Seharusnya mbak Nara dipinggit, nggak boleh kemana-mana, cuma karena mbak Nara masih kudu koas, jadi ya tetep harus berangkat koas." Hah? Mata Wilson membulat, "Ini tahun berapa, Fai? Kenapa masih pakai pinggit-pinggitan segala sih?" protes Wilson tidak terima, sudah dua hari mereka tidak bertemu padahal. "Bukan perkara tahun, Pak. Cuma peraturan dari bunda begitu. Bapak sama mbak Nara nggak boleh ketemu sampai hari H nanti." Wilson mengusa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status