Mag-log inBastian segera menarik tubuh itu hingga jatuh ke dalam pelukannya, tangisnya pecah. Bastian benar-benar menangis sembari mendekap tubuh itu erat-erat, tak peduli dengan sorak-sorai keluarga dan tepuk tangan meriah yang segera menggema memenuhi ruangan. Dada Bastian rasanya seperti ingin pecah, ia begitu bahagia. Sangat bahagia sampai-sampai dia kehilangan semua kata-kata.Semua prosesi suci itu telah usai, kini tidak ada lagi sekat yang membatasi mereka. Mereka sudah menjadi satu, disatukan bukan hanya oleh cinta, tetapi juga janji suci di depan Tuhan untuk terus selalu bersama."Mulai detik ini, aku yang ambil semua tanggungjawab papa atas kamu, Lyn." Bisik Bastian lirih, ia melepaskan pelukan itu, menatap Evelyn yang matanya memerah, mereka sama-sama menangis. "Siap untuk arungi semua deras kehidupan bersamaku, kan?"Evelyn menyeka air matanya dengan hati-hati dan perlahan. Ia balas menatap wajah itu, mengabaikan semua tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar mereka."Kalau ak
Suasana kamar itu sedikit riuh, suara derap langkah terdengar lalu-lalang. Bau semerbak dari bebungaan menguar, membuat Evelyn cukup rileks tak peduli sejak tadi tangannya berkeringat. Ia duduk di depan cermin tanpa banyak bicara, patuh dengan apapun yang laki-laki kemayu itu perintahkan kepadanya. Lapis demi lapis kosmetik mulai ditempelkan pada kulit wajah, dipulas dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Beberapa kali Evelyn menarik napas panjang, sembari meremas-remas tangannya sendiri yang terasa dingin. Kebaya dengan nuansa putih gading terpasang pada manekin. Cukup sederhana namun 'sakral'. Lengkap dengan sepatu warna senada dan tak lupa kain jarik bernuansa cokelat tanah yang gelap. "Tegang banget sih, Dok?" goda si perias sembari nyengir lebar. Evelyn tersenyum, melirik lelaki berkulit bersih itu sekilas. "Panggil Evelyn aja, Kak. Kan lagi nggak di rumah sakit." ucap Evelyn kembali fokus pada pantulan cermin. "Oke deh oke! Rileks dulu ya, jangan tegang. Habis ini mau bere
"Kamu ini niat nikah nggak sih, Bas? Besok loh nikah, ini masih kerja kamu?"Bukan sambutan hangat yang Bastian terima di apartemennya, melainkan omelan dari Jihan yang sudah memasang wajah masam. Melihat sang ibu sudah dalam posisi begitu, Bastian hanya tersenyum. Merangkul ibunya dan membawanya duduk di sofa. "Kan besok cuma peresmian sama intimate party, Ma. Lagian semua udah diurus sama WO, kita cuma tinggal ikuti instruksi mereka dan selesai."Jihan mendengus, ia melirik ke arah Bastian dengan gemas. "Udah kamu pastiin semua oke?" Bastian merogoh ponsel, membuka kunci layar dan menunjukkan room chat itu pada sang ibu. Ada beberapa foto, video di sana, nampak Jihan menatap layar ponsel dengan saksama. "Sebelum pulang, Bas udah mampir ke sana dan cek semuanya, Ma. Udah nggak ada yang perlu dikhawatirkan." jawabnya dengan nada serius. "WO ini terpercaya, langganan artis papan atas, nggak mungkin nipu kayak yang viral kemarin."Jihan masih sibuk menyimak percakapan yang ada di sa
"Kenapa kamu nggak bilang kalau yang mau kamu nikahin itu adeknya si Ge, Bas!" omel suara itu dari seberang telepon. "Apa pentingnya aku harus lapor ke kamu siapa perempuan yang mau aku nikahi? Kamu bukan ibuku!" sahut Bastian enteng. "Tapi setidaknya biarkan aku tahu!"Bastian tersenyum sinis, ia menatap jadwal operasi yang tertempel di kamar istirahat para dokter yang ada di dalam OK. Bahkan besok menikahpun, Bastian masih harus bekerja, benar-benar totalitas tanpa batas! "Itu bukan ranahmu, Cy. Sudah aku tekankan berkali-kali, jangan campuri urusan pribadiku!" tegas Bastian dengan nada tak suka. "Kita sekarang cuma partner rawat Albert sama-sama, tidak ada hal lain lagi."Hening. Hanya helaan napas panjang berkali-kali yang Bastian dengar. Bastian sudah jemu, ia hendak menutup sambungan telepon ketika suara itu kembali menyapanya. "Lupakan permintaanku kemarin, Bas. Anggap saja aku tidak pernah meminta sesuatu kepadamu." ucap suara itu lirih. "Dia tidak tahu tentang ini, kan?"
"Aku jemput papa di bandara!"Gerrard menjatuhkan kecupan di puncak kepala Sherly, segera melangkah keluar dari kamar dengan langkah yang sedikit tergesa. Besok adalah hari besar Evelyn dan kedatangan Aji yang sangat mepet dengan hari H, membuat Evelyn hampir meraung-raung, takut kalau pada akhirnya dia harus menikah tanpa kehadiran kedua orang tua. Untungnya Aji tetap bisa datang, membuat Evelyn akhirnya bisa sedikit lebih tenang. "Lyn, mas jemput papa!" pamit Gerrard ketika Evelyn keluar dari kamar, namun ia tidak menghentikan langkah, terus melangkah dan menuruni anak tangga. "Hati-hati, Mas!" teriak Evelyn sebelum Gerrard menghilang dari pandangannya.Sepeninggal Gerrard, Evelyn melangkah ke kamar Noah, mengendap-endap dan tersenyum lebar ketika mendapati Sherly ada di sana. "Mbak!" panggil Evelyn yang masih melongok, menyembunyikan tubuhnya di tembok, hanya terlihat kepalanya saja, membuat Sherly hampir melonjak karena terkejut. "Eh, kenapa?" tanya Sherly sembari menatap gem
"Udah?"Sherly tersenyum ketika Gerrard masuk ke dalam kamar, wajah itu balas tersenyum, melangkah menghampirinya yang baru saja sukses menidurkan Noah. Bayi itu sudah menguasai kasur mereka, tidur dengan sangat nyenyak dan lelap dengan jejak susu di sudut bibir."Dia sudah sangat pintar rupanya, kamu yang ajarin?"Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Sherly, membuatnya menengadahkan wajah dan membalas tatapan mata itu."Siapa?""Evelyn dong! Siapa lagi?"Sherly tersenyum, kepalanya mengangguk pelan. Memang sejak hari pernikahan gadis itu ditetapkan kedua belah pihak keluarga, Evelyn sering menemuinya untuk sekedar sharing, berbagi cerita atau meminta pendapat harus bersikap yang seperti apa. Melihat jawaban itu, Gerrard tersenyum, menjatuhkan diri di samping istrinya lalu meraih tangan Sherly dan menciumi tangan itu dengan penuh cinta."Terimakasih banyak sudah meringankan tanggungjawab suamimu ini, Sayang." Ucapnya lirih dan tulus."Sudah jadi tugas aku juga, kan?"Gerrard menga







