LOGIN"Udah mau balik, Ge?"Langkah terburu Gerrard sontak terhenti, ia menoleh dan mendapati Willy sudah berdiri di belakangnya."Iya nih, ditunggu karena mau nganter papa balik." jawab Gerrard apa adanya. "Pasien mu yang kemarin, nanya-nanyain kamu terus."Gerrard yang tadinya hendak pamit, seketika mengurungkan niat. Jangan bilang yang dimaksud Willy dengan pasiennya itu adalah ... "Dia keknya nyesel banget dulu misahin kamu sama anaknya, Ge." lanjut Willy yang seolah paham dengan apa yang ada dalam pikiran Gerrard. "Ah udah berlalu juga. Nggak perlu dibahas sih sebenarnya." ucap Gerrard yang kini sudah sangat paham siapa yang Willy maksud. Dugaannya tidak salah! "Iya emang sih, tapi beliau terus ngerasa bersalah gitu, Ge. Bahkan sampai kontrol terakhir kemarin, masih aja nanyain kamu."Gerrard tertawa lirih, begitukah? Bukannya dulu mereka sama sekali tidak mau Gerrard masuk ke dalam keluarga mereka? Sampai tega membunuh darah daging Gerrard yang bahkan baru memulai kehidupannya di
"Hai, Mbak!"Sherly yang sedang membantu Farida menyusun botol dot dan perlengkapan pumping di mesin sterilisasi, kontan menoleh. Ia tersenyum lebar ketika mendapati Evelyn sudah berdiri di depan pintu dengan beberapa tentengan di tangan. "Eh, halo pengantin baru!" sorak Sherly yang langsung melepaskan botol dan membalikkan badan. Mereka berpelukan sejenak, seolah-olah sudah beberapa bulan tidak bertemu. Sherly menatap wajah itu dengan saksama, rona wajah dan sorot mata itu membuat Sherly seketika nyengir lebar. "Berapa kali semalem, Lyn?" goda Sherly dengan suara lirih. Seketika wajah itu memerah, ia segera menjejalkan plastik-plastik itu ke tangan Sherly. Bibirnya menggerucut, hendak pergi dari depan pintu ketika ia teringat sesuatu. "Itu buat mbak Farida satu, Mbak. Cepet dimakan, keburu dingin!" pesannya lalu menghilang dengan segera. Sherly terkekeh, ia segera menyerahkan bungkusan yang dimaksud pada pengasuh anaknya itu. "Dari Evelyn, cepet dimakan, ya!""Terimakasih bany
"Masih sakit banget?" Bastian memperhatikan langkah Evelyn, nampak tidak selincah biasanya. Wajah istrinya pun sedikit pucat, membuatnya segera mencecar guna memastikan istrinya itu baik-baik saja. "Agak nggak nyaman sih, cuma nggak apa-apa." ucapnya sembari tersenyum. Kening Bastian berkerut, matanya tak lepas dari wajah itu. "Order online aja? Makan di rumah? Kamu perlu banyak Istirahat." desisnya sembari mengusap pipi Evelyn. Nampak wajah itu berpikir sejenak, cukup lama sampai kemudian ia menghela napas panjang sembari mengangguk pelan. "Tapi nanti jadi ke rumah mas Ge sama anterin papa, kan?" tanya Evelyn dengan wajah memohon. "Jadi, Sayang!" senyum Bastian merekah, ia lantas menjatuhkan kecupan di puncak kepala Evelyn. "Kamu pengen makan apa?""Aku boleh makan apa aja?" tanya Evelyn memastikan. "Asal jangan makan yang tak lazim aja sih." Tawa Evelyn pecah, memang apa yang mau dia makan? Dia memang pemakan sengala, tapi bukan berarti makanan ekstrim dan tak lazim juga di
Sinar matahari masuk menerobos jendela kaca begitu Bastian menyingkap tirai. Sinarnya menyebar ke seluruh penjuru kamar, membuat kamar yang menjadi saksi bisu momen intim mereka semalam menjadi terang benderang. Bastian tersenyum, ketika Evelyn mengerjap sembari menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang terkena sorot sinar yang masuk lewat kaca jendela. "Yang! Bangun yuk!" rayu Bastian sembari menarik selimut. Evelyn mencebik, perlahan tapi pasti matanya mengerjap, terbuka sedikit demi sedikit lalu tertegun menatap Bastian dengan tatapan terkejut. Sedetik-dua detik, Evelyn mematung, ia lantas bangkit, duduk dengan dua tangan menutupi dadanya dengan ekspresi wajah syok. Melihat itu, Bastian mendesah panjang, mengangkat tangannya, di mana cincin itu melingkar di jari manisnya. "Kita udah nikah, ya! Nggak lupa kan semalam kita berapa kali main?"Mendengar itu wajah Evelyn makin terkejut, hanya sebentar karena kemudian tawanya pecah. Ia terbahak-bahak, menurunkan tangan yang tadi
Bastian melangkah keluar dari kamar mandi dengan seringai puas. Matanya menatap sang istri yang nampak sudah lelap di balik selimut. Baju-baju mereka masih berserakan di lantai dan Bastian ... ia melewatinya begitu saja tanpa berniat memungutnya. Wajah itu begitu damai dalam tidur, tidak seperti beberapa saat yang lalu dimana wajah itu berubah-ubah ekspresi dari mulai takut, terkejut, kesakitan sampai memekik keras menyiratkan kenikmatan. Bastian sangat suka semua ekspresi itu, terlebih bagaimana .... Dengan cepat Bastian menggeleng, ia naik ke atas kasur, ikut masuk ke dalam selimut dan merengkuh tubuh polos itu erat-erat. Tubuh Bastian meremang. Aroma tubuh Evelyn benar-benar mempunyai daya pikat yang luar biasa. Ditambah gesekan kulit mereka ... Bastian mengusap lembut tubuh istrinya, dari bahu, lengan ... Pinggang dan paha Evelyn. "Berengsek!" Bastian memaki dirinya sendiri, ketika ia menyadari miliknya kembali menengang. Bastian membeku sesaat, namun jari itu lantas
"Ah!" Evelyn pasrah, kini tubuhnya sudah dikuasai oleh Bastian. Entah sejak kapan, semua kain yang menempel di tubuh Evelyn sudah tertanggal semua, membuat wajah Evelyn makin merah padam karena inci demi inci tubuhnya terpampang jelas di mata Bastian sekarang ini. Lelaki itu pun sudah melepaskan kemejanya, bertelanjang dada sembari menindih tubuh Evelyn dan mengeksplor leher jenjang Evelyn sembari sesekali meraup bibirnya. "Ini yang kamu mau, kan?" bisik Bastian dengan deru napas memburu. Permukaan kulit mereka saling bersentuhan, makin membakar api yang membara antar keduanya. Evelyn tidak menjawab, karena Bastian, kembali menyerangnya dengan tiba-tiba. Entah sudah berapa kali Bastian meraup puncak dadanya, Evelyn sampai tidak sempat menghitung. Bastian benar-benar membuatnya tidak berkutik, ia terus menyerang Evelyn, meluapkan semua gairah yang berhasil dia tahan seorang diri. Keringat mengucur, membasahi hampir sekujur tubuh Evelyn yang sukses dibuat membara oleh Bastia







