Share

Ch. 93 Jamal (2)

last update Last Updated: 2025-11-08 16:52:37

Gita dan Cantika baru saja masuk ke area foodcourt, sedang sibuk mencari tempat kosong untuk mereka duduk dan makan ketika sudut mata Cantika menangkap sepasang wajah yang begitu familiar di mata. Reflek ia menepuk bahu Gita, berbisik lirih ke telinga Gita sembari memberi instruksi pada gadis itu.

"Ke arah jam sembilan, di outlet Y*sh*n*y*!"

Mata Gita langsung mengikuti instruksi, membelalak dengan mulut ternganga melihat apa yang ada di sana.

Wajah yang biasanya begitu dingin dan jutek, terlihat sedang duduk mesra bersama seorang yang dia tahu betul siapa itu!

Wajahnya begitu hangat, sesekali tertawa entah apa yang sedang diobrolkan keduanya.

"Ternyata, mau sekaku apapun, sedingin apapun laki-laki, kalo udah ketemu sama pawangnya, bisa ngakak lepas juga dia, ya?" bisik Gita refleks ikut tersenyum melihat pasangan itu.

"Jarang-jarang liat dok Ge tertawa sampai ngakak begitu, kan?" desis Cantika yang juga tak lepas dari mereka.

"Langka ini, mah! Cuma istrinya yang beruntung tiap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
eeeeeeeaaaaaaa meleleh hati adek Bang!!!!
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
hihi bacanya sambil senyum2 ... dr Bastian sama Evelyn makin le gket aja
goodnovel comment avatar
Luspa Martiningtiyas
co cweet, evelyn dan Sebastian, lanjut up up
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 229 Takdir Yang Seperti Apa?

    "Eh Bang!" sapa Bastian yang seketika membuat wajah jahil Gerrard berubah masam. Gerrard menekuk wajah, menggebuk punggung Bastian berulang kali. Bukannya memekik kesakitan, Bastian malah terbahak-bahak, membuat Gerrard rasanya ingin memukuli lelaki yang kini sah berstatus adik iparnya. "Panggil kayak biasa aja kenapa sih? Hah? Nyari perkara?" tantang Gerrard gemas. Kini wajah itu yang nampak cemberut, ia menatap mata Gerrard, hendak mengajukan protes kalau dilihat dari gerak-geriknya. "Kalo panggil kayak biasa, ntar dikatain kurang ajar sama kakak ipar ... ini dipanggil abang eh malah kena gebuk. Serba salah, ya!" protes Bastian dengan wajah pura-pura lesu. Gerrard tersenyum, ia meraih bahu Bastian, memaksa lelaki itu sedikit lebih dekat dengannya. "Masih ingat janjimu dulu, Bas?" tanya Gerrard keluar dari pembahasan awal mereka. Bastian mengerutkan kening, nampak gelisah dan menatap sekeliling. Tidak ada yang berada di teras rumah, kecuali mereka berdua! "Janji yang mana?" b

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 228 Pesan Aji

    "Udah mau balik, Ge?"Langkah terburu Gerrard sontak terhenti, ia menoleh dan mendapati Willy sudah berdiri di belakangnya."Iya nih, ditunggu karena mau nganter papa balik." jawab Gerrard apa adanya. "Pasien mu yang kemarin, nanya-nanyain kamu terus."Gerrard yang tadinya hendak pamit, seketika mengurungkan niat. Jangan bilang yang dimaksud Willy dengan pasiennya itu adalah ... "Dia keknya nyesel banget dulu misahin kamu sama anaknya, Ge." lanjut Willy yang seolah paham dengan apa yang ada dalam pikiran Gerrard. "Ah udah berlalu juga. Nggak perlu dibahas sih sebenarnya." ucap Gerrard yang kini sudah sangat paham siapa yang Willy maksud. Dugaannya tidak salah! "Iya emang sih, tapi beliau terus ngerasa bersalah gitu, Ge. Bahkan sampai kontrol terakhir kemarin, masih aja nanyain kamu."Gerrard tertawa lirih, begitukah? Bukannya dulu mereka sama sekali tidak mau Gerrard masuk ke dalam keluarga mereka? Sampai tega membunuh darah daging Gerrard yang bahkan baru memulai kehidupannya di

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 227 Pengantin Baru

    "Hai, Mbak!"Sherly yang sedang membantu Farida menyusun botol dot dan perlengkapan pumping di mesin sterilisasi, kontan menoleh. Ia tersenyum lebar ketika mendapati Evelyn sudah berdiri di depan pintu dengan beberapa tentengan di tangan. "Eh, halo pengantin baru!" sorak Sherly yang langsung melepaskan botol dan membalikkan badan. Mereka berpelukan sejenak, seolah-olah sudah beberapa bulan tidak bertemu. Sherly menatap wajah itu dengan saksama, rona wajah dan sorot mata itu membuat Sherly seketika nyengir lebar. "Berapa kali semalem, Lyn?" goda Sherly dengan suara lirih. Seketika wajah itu memerah, ia segera menjejalkan plastik-plastik itu ke tangan Sherly. Bibirnya menggerucut, hendak pergi dari depan pintu ketika ia teringat sesuatu. "Itu buat mbak Farida satu, Mbak. Cepet dimakan, keburu dingin!" pesannya lalu menghilang dengan segera. Sherly terkekeh, ia segera menyerahkan bungkusan yang dimaksud pada pengasuh anaknya itu. "Dari Evelyn, cepet dimakan, ya!""Terimakasih bany

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 226 Quickly (21++)

    "Masih sakit banget?" Bastian memperhatikan langkah Evelyn, nampak tidak selincah biasanya. Wajah istrinya pun sedikit pucat, membuatnya segera mencecar guna memastikan istrinya itu baik-baik saja. "Agak nggak nyaman sih, cuma nggak apa-apa." ucapnya sembari tersenyum. Kening Bastian berkerut, matanya tak lepas dari wajah itu. "Order online aja? Makan di rumah? Kamu perlu banyak Istirahat." desisnya sembari mengusap pipi Evelyn. Nampak wajah itu berpikir sejenak, cukup lama sampai kemudian ia menghela napas panjang sembari mengangguk pelan. "Tapi nanti jadi ke rumah mas Ge sama anterin papa, kan?" tanya Evelyn dengan wajah memohon. "Jadi, Sayang!" senyum Bastian merekah, ia lantas menjatuhkan kecupan di puncak kepala Evelyn. "Kamu pengen makan apa?""Aku boleh makan apa aja?" tanya Evelyn memastikan. "Asal jangan makan yang tak lazim aja sih." Tawa Evelyn pecah, memang apa yang mau dia makan? Dia memang pemakan sengala, tapi bukan berarti makanan ekstrim dan tak lazim juga di

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 225 Belum Terbiasa

    Sinar matahari masuk menerobos jendela kaca begitu Bastian menyingkap tirai. Sinarnya menyebar ke seluruh penjuru kamar, membuat kamar yang menjadi saksi bisu momen intim mereka semalam menjadi terang benderang. Bastian tersenyum, ketika Evelyn mengerjap sembari menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang terkena sorot sinar yang masuk lewat kaca jendela. "Yang! Bangun yuk!" rayu Bastian sembari menarik selimut. Evelyn mencebik, perlahan tapi pasti matanya mengerjap, terbuka sedikit demi sedikit lalu tertegun menatap Bastian dengan tatapan terkejut. Sedetik-dua detik, Evelyn mematung, ia lantas bangkit, duduk dengan dua tangan menutupi dadanya dengan ekspresi wajah syok. Melihat itu, Bastian mendesah panjang, mengangkat tangannya, di mana cincin itu melingkar di jari manisnya. "Kita udah nikah, ya! Nggak lupa kan semalam kita berapa kali main?"Mendengar itu wajah Evelyn makin terkejut, hanya sebentar karena kemudian tawanya pecah. Ia terbahak-bahak, menurunkan tangan yang tadi

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 224 After Taste (21++)

    Bastian melangkah keluar dari kamar mandi dengan seringai puas. Matanya menatap sang istri yang nampak sudah lelap di balik selimut. Baju-baju mereka masih berserakan di lantai dan Bastian ... ia melewatinya begitu saja tanpa berniat memungutnya. Wajah itu begitu damai dalam tidur, tidak seperti beberapa saat yang lalu dimana wajah itu berubah-ubah ekspresi dari mulai takut, terkejut, kesakitan sampai memekik keras menyiratkan kenikmatan. Bastian sangat suka semua ekspresi itu, terlebih bagaimana .... Dengan cepat Bastian menggeleng, ia naik ke atas kasur, ikut masuk ke dalam selimut dan merengkuh tubuh polos itu erat-erat. Tubuh Bastian meremang. Aroma tubuh Evelyn benar-benar mempunyai daya pikat yang luar biasa. Ditambah gesekan kulit mereka ... Bastian mengusap lembut tubuh istrinya, dari bahu, lengan ... Pinggang dan paha Evelyn. "Berengsek!" Bastian memaki dirinya sendiri, ketika ia menyadari miliknya kembali menengang. Bastian membeku sesaat, namun jari itu lantas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status