Home / Romansa / Malam Panas dengan Atasan Mantan / Bab 4 : Penyiksaan Kecil

Share

Bab 4 : Penyiksaan Kecil

Author: Nadira Dewy
last update Last Updated: 2025-03-17 22:56:52

“Ya ampun! Tolong tolong!” Sadar akan situasi, Juliet kembali berpura-pura panik.

Semua yang datang langsung mendekat dengan penasaran.

“... Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya satu diantara mereka.

Juliet menggelengkan kepalanya. “Tidak tahu. Aku cuma memeluknya, tapi dia malah seperti itu.”

“Lebih baik kita telepon ambulans, bawa saja ke rumah sakit!” ucap salah satu karyawan yang kebetulan di sana.

Juliet menggigit bibir bawahnya.

Itu tidak boleh terjadi!

Ia pun langsung mencoba untuk menenangkan orang-orang yang ada di sana. “Tidak usah, pacar tersayang ku ini sangat ketakutan dengan rumah sakit. Aku akan urus dia sendiri saja, deh...”

“Kau yakin? Dia terlihat kesakitan sekali, loh. Takutnya terjadi sesuatu yang serius dengan miliknya.”

Juliet kembali tersenyum. “Pokoknya, Kalian tidak perlu khawatir. Kalian bisa lanjut untuk masuk ke kantor, sudah akan terlambat.”

“Baiklah. Ayo kita masuk!”

Argan menatap mereka semua yang pergi dengan tatapan tidak rela, tapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa karena rasa sakit pada bagian intinya membuatnya kehilangan seluruh energi di tubuhnya.

Juliet pun membantu Argan untuk bangkit. “Babe, ayo aku bantu kau berdiri.”

Argan hanya bisa pasrah saat Juliet ingin membantunya berdiri. Lagipula, tidak mungkin juga dia akan terus berbaring di halaman kantor, itu memalukan.

Susah payah Argan berusaha, hingga berhasil.

“Babe, sebenarnya kau ini kenapa, sih? Kenapa kau kesakitan seperti itu?” tanya Juliet berpura-pura.

Argan mengatur nafasnya. Mukanya yang lembab karena keringat dan air mata itu coba Ia seka sapu tangan di saku kemejanya.

“Aku cuma... kemarin saat mandi terpeleset dan jatuh. Anuku terbentur pinggiran bath up, jadi terkena gesekan sedikit sakit sekali,” jawab Argan.

Pembohong!

Juliet tersenyum kesal.

Rasanya ingin sekali mematahkan batang daging sialan itu!

Juliet bersiap membantu Argan berjalan masuk ke kantor. Tapi, dia justru melihat Rania, sahabat pengkhianatnya, turun dari taksi.

Gadis itu berjalan pelan sekali dan wajahnya nampak sangat pucat.

Juliet melirik Argan sebentar, lalu bereaksi berlebihan saat kembali melihat Rania.

“Ya ampun, Rania!” ucap Juliet tiba-tiba. Dia langsung melepaskan tangan Argan.

Bruk!

“Akhhhhh” pekik pria itu karena lagi-lagi dia jatuh duduk.

Juliet langsung berlari mendekati Rania.

Melihat itu, Rania pun terperangah tak percaya.

Dia melihat Juliet berlari padanya, perasaannya begitu waspada apalagi melihat Argan kesakitan.

Rania menggelengkan kepalanya sambil menatap Juliet yang masih ke arahnya. “Tidak... jangan, aku mohon. Jangan mendekat, aku—”

Grep!

Juliet langsung memeluknya. “Rania! Kau baru datang?”

Rania terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit.

Juliet mengguncang tubuhnya, bercerita tentang diskon tas yang ada di salah satu pusat belanja sambil mengguncang-guncang kan tubuh Rania.

“Akhh....!” pekik Rania.

Saat tubuhnya diguncang oleh Juliet, rasanya sakit sekali bagian bawahnya.

Rania sampai berkeringat dingin.

“Hentikan, Juliet!” bentaknya, tak tahan.

Juliet berekspresi sedih. “Kau kenapa?”

Rania mengatur napasnya. “Aku cuma... sedang tidak enak badan. Jadi, tadi kau itu menyakitiku.”

“Oh, begitu ya?” ujar Juliet, menyembunyikan kepuasannya.

Drrt!

Tiba-tiba saja, ponsel Juliet berdering.

Segera ia mengambil ponselnya untuk menerima panggilan telepon.

“Iya, Bu kepala divisi. Ada apa? Ah, baiklah. Aku ke sana sekarang.”

Juliet menatap Rania dan berbalik menatap Argan sebentar. “Ya ampun... Aku harus pergi sekarang. Rania, Aku titip Argan, ya? Dia sepertinya juga sedang tidak baik kondisinya.”

Setelah mengatakan itu, Juliet pergi begitu saja.

Meninggalkan Rania yang murka dan Argan yang menahan sakit.

Tanpa mereka ketahui, Wilson melihat semua kejadian tadi dari jendela kaca ruangan kerjanya.

Meskipun tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Juliet dan juga kedua orang itu, Wilson tahu benar kalau Juliet tadi pasti kehilangan kendali.

“Penyiksaan macam apa itu?” gumamnya sambil tersenyum miring.

Entah mengapa, Wilson ingin melakukan sesuatu….

Pria itu mengeluarkan ponselnya, menghubungi Argan. Beberapa kali hingga akhirnya Argan menyadari teleponnya berdering.

“Selamat pagi, Pak? Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?” ucap Argan begitu panggilan telepon terhubung.

Nada bicaranya terdengar sangat menahan kesakitan.

“Di mana kau? Aku mendapat laporan dari asistenku kalau kau belum sampai di kantor. Kau menganggap remeh meeting kita?” ucap Wilson, suaranya dingin.

“S–saya sudah ada di halaman kantor, Pak.”

Wilson tersenyum sinis. “Oh, begitu. Apa kau minta untuk aku jemput?”

“T–tidak, Pak. Saya akan segera masuk.”

Wilson langsung mengakhiri panggilan telepon.

“Konyol sekali. Pelumas dicampur lem perekat super saja kalian tidak sadar. Hah! Kalian pasti sedang kerasukan setan saat itu,” gumam Wilson.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Panas dengan Atasan Mantan   Bab 108 : Fakta Baru Terungkap

    Langit sore mulai berubah warna ketika Wilson memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Ia berjalan masuk dengan langkah tenang seperti biasa, menyapa beberapa staf rumah tangga dengan anggukan kecil saat mereka juga menyapa Wilson. Namun, dalam hatinya, ia sedang menyimpan kegelisahan yang belum sempat ia utarakan kepada siapa pun atas apa yang terjadi hari ini. Begitu pintu kamarnya terbuka, Wilson langsung merasakan ada yang berbeda. Sekilas, segalanya tampak seperti biasa, rapih, bersih, tanpa kekacauan. Tapi justru karena terlalu rapih, ia tahu ada yang tidak beres. Wilson menatap tempat tidurnya. Sprei yang tadi pagi ia biarkan kusut karena terburu-buru, kini terlipat rapi seperti belum pernah digunakan. Namun yang paling mencolok adalah lekukan samar di bagian tepi ranjang, bekas seseorang yang duduk di sana belum lama ini. Ia tidak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa k

  • Malam Panas dengan Atasan Mantan   Bab 107 : Kecurigaan Chaterine

    Wilson semakin mencurigai sesuatu ketika menyadari bahwa setiap usaha untuk menelusuri masa lalunya selalu berakhir di jalan buntu. Dokumen-dokumen pribadi, catatan medis, bahkan album foto lamanya, terutama beberapa tahun belakangan di rumah, semuanya tampak terlalu rapi, terlalu bersih. Tidak ada yang terasa alami. Tidak ada jejak atau bukti jelas tentang siapa saja yang pernah dekat dengannya sebelum kecelakaan. Bahkan, jika memang benar dulu dia memiliki hubungan yang sangat dalam dengan Karina, Kenapa tidak ada foto-foto kebersamaan di antara mereka berdua? Ia bahkan mencoba mengakses media sosial lamanya, tapi akun-akun itu sudah lama tidak aktif, sebagian bahkan tidak bisa dibuka kembali. Email pribadinya pun hanya berisi hal-hal formal dan pekerjaan, tanpa jejak komunikasi pribadi yang berarti. “Aneh,” gumamnya sambil menatap layar laptop. “Seolah... seseorang sengaja menghapus semuanya. Apa

  • Malam Panas dengan Atasan Mantan   Bab 106 : Mulai Curiga dan Mencari Tahu

    Larisa menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab seperti biasa. Setelah proses penyelidikan internal yang dilakukan bersama Roy, akhirnya dalang di balik kecurangan dana administrasi perusahaan berhasil diungkap. Pelaku terbukti telah menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi dan langsung diberhentikan dari perusahaan. Bahkan juga mendapatkan sanksi hukum. Sejak saat itu, Larisa dipercaya penuh untuk menangani seluruh urusan administrasi. Ia kini menjadi penanggung jawab utama, dan kepercayaan itu membuatnya semakin termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi. “Terima kasih atas kerja kerasmu, Larisa,” ucap Roy suatu pagi saat menyerahkan laporan terbaru. “Kau benar-benar sudah bekerja keras.” “Kita beruntung punya seseorang yang bisa diandalkan.” Larisa tersenyum tenang. “Saya hanya melakukan tugas saja, Tuan. Tapi saya akan pastikan tidak akan ada kejadian seperti

  • Malam Panas dengan Atasan Mantan   Bab 105 : Sebuah Kebenaran

    Seperti yang telah direncanakan, Wilson mulai berusaha menjalin kedekatan kembali dengan Reiner. Ia mengirim pesan singkat, mengajak untuk makan siang atau sekadar bertemu dan mengobrol santai seperti yang biasa mereka lakukan dahulu. Namun, setiap kali ajakan itu disampaikan dengan hangat, Reiner selalu memberikan berbagai alasan untuk menolak. “Maaf, Wilson... minggu ini jadwalku padat sekali di kantor. Aku sudah berjanji kepada orang tuaku untuk fokus dengan pekerjaan ku. Sekali lagi, maaf.” “Aku sedang kurang sehat, mungkin lain waktu saja. Maaf ya...” “Saat ini aku sedang berada di luar kota untuk urusan keluarga. Mungkin akan kembali lusa. Maaf...” Alasannya terus berganti, tetapi satu hal yang tetap sama di pikiran Wilson, Reiner sela

  • Malam Panas dengan Atasan Mantan   Bab 104 : Bertemu Dengan Reiner

    Hari-hari pun berlalu dengan lebih tenang. Wilson mulai bisa bernapas lega karena Chaterine dan Luis tidak lagi terus-menerus menuntutnya soal pernikahan dengan Karina. Meskipun tekanan itu masih terasa di sekelilingnya, setidaknya untuk sementara mereka memberinya ruang untuk bernapas lega. Dengan beban pikiran yang sedikit berkurang, Wilson pun bisa fokus kembali pada pekerjaannya di perusahaan. Ia mulai mengatur ulang jadwal, memimpin rapat-rapat penting, dan mengejar ketertinggalan yang sempat terbengkalai akibat sakitnya beberapa waktu lalu. Di balik meja kerjanya, Wilson kadang masih termenung. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa kosong, seperti ada bagian penting yang hilang dan belum bisa ia pahami bahkan sampai detik ini. Tapi untuk sekarang, bekerja adalah satu-satunya hal yang bisa membuat pikirannya tetap sibuk. Meskipun, anehnya tingkat konsentrasi Wilson seperti menurun. “Aku harus terus maju… meski belum tahu ke mana arah hatiku yang sebenarnya,” guma

  • Malam Panas dengan Atasan Mantan   Bab 103 : Pasrah Pada Keputusan Wilson

    Malam itu suasana di ruang tamu kediaman keluarga Andreas terasa begitu tegang. Ibunya Karina, duduk dengan punggung tegak, matanya menatap tajam ke arah Wilson yang duduk di seberangnya. Ia datang tanpa basa-basi, hanya satu tujuan, untuk menuntut kejelasan. “Aku hanya ingin tahu satu hal darimu, Wilson,” ucap Ibunya Karina, nadanya dingin. “Kapan kau akan menikahi Karina? Jangan terus membuang waktu kami. Kesabaranku juga ada batasnya.” Wilson terdiam sesaat. Matanya menatap lantai, lalu menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan yang tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. “Aku... aku tidak bisa terus seperti ini terus,” jawab Wilson pelan tapi tegas. “Yang aku tahu saat ini adalah aku tidak mencintai Karina. Dan aku tidak pernah benar-benar merasa kalau aku mencintainya seperti yang kalian semua katakan selama ini padaku.” Mata Ibunya Karina membelalak. Suaranya langsung meninggi. “Apa maksud ucapan mu, Wilson

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status