LOGINDi pagi yang cerah, Claire melangkah masuk ke galeri nasional. Ada semacam perasaan bahagia yang membuncah di hatinya saat akhirnya di mengunjungi galeri ini lagi setelah sekian lama.Bangunan megah itu menyambutnya dengan aroma ruang pameran yang khas. Perlahan, Claire menyusuri lorong utama.Dinding besar itu memamerkan deretan lukisan dari berbagai aliran. Ada lukisan ekspresionis yang liar dan berani, lukisan realis yang menenangkan mata dan lain sebagainya.“Ruang pameran patung…” gumam Claire, membaca petunjuk yang mengarah ke pameran berikutnya. Entah kenapa saat memasuki ruangan ini, dada Claire sedikit berdebar. Inilah dunianya, dunia yang dulu pernah dia tinggalkan sejenak.Cahaya di ruangan itu sedikit melembut dengan beberapa sorot lampu yang lebih terang mengarah ke permukaan patung yang terbuat dari marmer, perunggu, kayu bahkan tanah liat.Claire menelusuri karya-karya itu satu per satu sampai akhirnya jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul sebelas siang.
Claire mengerjapkan matanya berkali-kali. Mulutnya sedikit menganga karena saking kagetnya.Sosok yang berdiri tak jauh dari hadapannya itu pun sama terkejutnya. Namun, sorot mata orang itu nampak begitu sendu.“Claire…” Dia langsung menghambur, memeluk erat tubuh Claire. Sedetik kemudian, tangis terdengar.“Ma-Marsha… Astaga…” Claire membalas pelukan itu. “Jangan nangis, Marsha…” Claire coba menenangkan histeria sahabatnya yang semakin menjadi. “Claire, maafin gue ya… maafin gue…” tukasnya sambil terus tersedu.Kening Claire mengernyit dalam. “Maaf? Untuk apa? Seharusnya gue yang minta maaf karena menghilang begitu saja. Gue tahu pasti lo cemas sama keadaan gue kan?”“Gue yang salah, Claire… Gue…” ucapan Marsha mulai tersendat.Claire melepas pelukannya, menatap wajah Marsha yang terlihat kacau. “Marsha, tenang. Gue baik-baik aja. Dan gue akan mulai kuliah lagi, menyusul angkatan kita yang udah lulus duluan!”Senyum bangga tersemat di wajah Claire.Namun Marsha malah menggigit bibir
Claire menatap selembar kertas di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar saat memegangnya. Tak bisa dipungkiri, jantungnya kini berdebar begitu cepat.Bola mata Claire bergerak, meneliti satu per satu tulisan yang ada di kertas itu. Sampai akhirnya dia sampai ke bagian kesimpulan. Sembilan puluh delapan persen.Hasil tes DNA itu jelas menyatakan bahwa Claire benar-benar anak kandung Maya. Dia adalah anak bayi malang itu, yang dititipkan Maya dua puluh dua tahun lalu di Panti Asuhan Ceria Kasih.“Aku sudah menduganya…” Suara Maya terdengar sedikit tercekat. “Sejak aku melihat tanda lahirmu, aku yakin… kamu adalah anak kandungku.”Claire masih mematung. Pikirannya begitu kacau sekarang. Cahaya matahari sore yang masuk dari jendela klinik menyinari wajah Claire yang dingin. Dan Maya menyadari hal itu.Ketakutan akan Claire yang membenci dirinya semakin nyata.Perlahan, Maya bergerak mendekat, hendak meremas tangan anaknya. Namun saat kulit mereka bersentuhan, Claire segera menepis tangan
Malam menjelang begitu akhirnya Claire kembali duduk berhadapan dengan Maya di teras belakang. Di atas sana, bulan penuh nampak bersinar terang. Malam yang sebenarnya damai kalau saja sore tadi Maya tak mengucapkan hal yang membuat Claire gundah.“Kamu adalah anakku.” Perkataan itu terus menggantung di kepala Claire saat dia sedang mengurus Dante. Anak yang dulu wanita itu tinggalkan di panti asuhan yang sama dengannya.“Maafkan aku,” Maya memulai percakapan dengan tatapan yang menerawang ke halaman belakang rumahnya yang temaram. “Aku paham kamu pasti kaget dengan semua ini… Tapi, memang seperti itu kenyataannya, Claire.” Maya menengadah, memberanikan diri menatap Claire. “Ka-Kamu… adalah anakku…”“Mbak, jangan bercanda. Mana mungkin aku ini anak Mbak Maya?” Suara Claire terdengar menukik lebih tinggi dari biasanya. “Apa hanya gara-gara kami ditinggalkan di panti asuhan yang sama dua puluh dua tahun lalu??”“Tanda lahir itu…” tandas Maya pada akhirnya. “Tanda lahir di belakang pundak
Maya menjeda ucapannya sejenak, membiarkan keheningan menguar di tengah mereka.Sementara, Claire menatap wajah wanita yang berdiri di samping ranjangnya dengan penuh selidik.Kini Maya nampak menggigit kedua bibirnya. Jelas Maya sedang gugup tetapi Claire heran kenapa wanita itu harus gugup.“Hal penting apa, Mbak?” Claire akhirnya buka suara karena penasaran. “Apa… dokter menyembunyikan sesuatu tentang kondisiku, atau bayiku?”“Bukan…” Maya menggeleng sambil tersenyum samar. Debaran di dadanya pun semakin menjadi, sementara rasa bimbang itu terus menggelayutinya. Haruskah dia mengatakan hal ini pada Claire sekarang? Atau nanti? Atau tak usah saja sekalian?“Mbak?” Sahut Claire lagi, tak sabar menunggu ucapan selanjutnya yang hendak wanita itu katakan.“Soal anakku…” Maya berujar dengan suara serak. “Anak yang terpaksa kutinggalkan dua puluh dua tahun lalu di panti asuhan. Ku-kurasa… anak itu–”“Nona Claire,” belum sempat Maya melanjutkan ucapannya, pintu kamarnya keburu terbuka. Seo
Ruang persalinan seketika berubah jadi kacau. Kepanikan melanda begitu Claire secara tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Detak jantungnya di monitor nampak melemah.“Bagaimana dengan stok golongan darahnya?” Dokter itu menoleh ke seorang perawat yang sedang menghubungi ruang persediaan darah.Perawat itu menggeleng. “Stok darahnya habis, Dok. Golongan darahnya A negatif… Kita harus menunggu beberapa jam dari bank darah.”Wajah Claire terlihat sangat pucat dengan bibir yang mulai membiru.“Keluarganya! Hubungi keluarganya! Pasti ada salah satu anggota keluarganya yang punya golongan darah yang sama,” titah dokter sambil terus memantau denyut nadi Claire yang melemah.Perawat itu mengangguk dan bergegas keluar dari ruang persalinan.Sementara itu, di selasar rumah sakit yang lengang Maya duduk dalam diam. Sedari tadi dia terus berdoa agar persalinan Claire berjalan lancar. Namun entah mengapa, perasaan risau yang teramat sangat terus menggelayut di dirinya.Sampai tiba-tiba Maya mendonga







