Share

Malam Panjang di Bus Terakhir
Malam Panjang di Bus Terakhir
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Devi, seorang istri yang punya daya tarik seksual tinggi.

Sejak kecil aku menyadari bahwa nafsuku sangat besar, aku bahkan sulit menahan diri saat melihat pria.

Namun, karena berpendidikan, aku tidak pernah sembarangan mencari pria.

Aku hanya memberikan kesucianku kepada suamiku. Sejak mencicipi kenikmatan pria saat itu, aku menjadi ketagihan.

Setiap hari aku memohon agar suamiku memuaskanku dengan kuat.

Namun, beberapa waktu ini suamiku bekerja di proyek, berbulan-bulan tidak pulang.

Tanpa belaian pria, aku merasa hampir gila karena menahan hasrat.

Aku sudah mencoba segala cara di rumah, tapi tidak ada yang berhasil. Rasa gatal ini benar-benar tidak tertahankan.

Hari ini aku menelepon suamiku. Aku mengatakan ingin menginap di asrama proyeknya selama beberapa hari, sekalian menemaninya agar tidak kesepian.

Demi memberikan kejutan untuk suamiku, aku sengaja mengenakan gaun seksi dengan kerah belah V.

Sepasang dadaku yang putih terlihat menonjol, sementara kakiku terbalut sepasang stoking hitam panjang yang menggoda.

Aku pun naik bus menuju lokasi proyeknya.

Bus itu penuh sesak dengan penumpang. Para pria tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah dada serta bagian bawah rokku.

Di bawah tatapan mesum mereka, aku mulai merasa gatal dan menyadari bagian bawahku sudah basah.

Dalam hati aku terus merapal doa, cepatlah sampai ke lokasi proyek, biar suamiku bisa memuaskanku.

Saat itu aku menyadari ada empat pria yang duduk agak menyerong di depanku, sepertinya mereka rekan kerja suamiku yang pernah kulihat di rumah.

Bau tubuh mereka mirip dengan suamiku, kulit mereka hitam terbakar matahari. Tubuh mereka sangat berotot karena sering bekerja kasar.

Sekilas saja sudah terlihat garang, kalau sampai mereka menekanku ke lantai ....

Pada saat itu mereka juga menyadari keberadaanku dan menyapaku.

"Kamu istrinya Rendy, 'kan? Mau samperin Rendy ya?"

Mereka berempat menatapku dari atas sampai bawah, membuat seluruh tubuhku terasa agak gerah.

Aku mengangguk. "Iya, kebetulan banget ya ketemu kalian di sini."

"Perjalanannya lumayan jauh, nanti setelah turun masih harus jalan kaki lagi. Kamu bareng kami aja."

"Boleh, terima kasih."

Selesai bicara, aku menggeser posisi dudukku. Tubuhku benar-benar terasa gatal dan tidak nyaman, ditambah lagi udara di dalam bus yang pengap membuat bagian bawahku mulai mengeluarkan cairan.

Saat itu, salah satu rekan kerjanya berkata dengan nada kesal, "Panas banget bus ini, nggak tahan aku."

Sambil menggerutu, dia melepas kaosnya dan memamerkan otot perut delapan kotak yang kekar.

Aku seketika kehilangan kendali, rasanya seperti ada semut yang merayap di bagian bawahku.

Dia menatapku lalu tersenyum. "Busnya pengap banget. Aku buka baju begini, kamu nggak keberatan, 'kan?"

"Ah, nggak apa-apa. Kalian 'kan teman kerjanya Rendy, nggak masalah kok," sahutku sambil melambaikan tangan dan tersenyum.

"Bagus kalau gitu."

Tak lama kemudian, rekan kerja yang lainnya juga ikut melepas kaos mereka. Tubuh mereka masing-masing terlihat lebih perkasa satu sama lain.

Aku terus-menerus menelan ludah, berusaha keras mengencangkan saraf demi melawan rasa gatal di dalam tubuhku.

Bus itu berguncang-guncang. Setiap kali ada gundukan, aku merasa seluruh tubuhku menegang.

Kalau terus begini, rasanya aku benar-benar tidak akan tahan.

Aku mengambil sebuah mainan kecil berwarna ungu dari dalam tas.

Selagi tidak ada yang memperhatikan, aku menyelinapkannya ke balik rok secara sembunyi-sembunyi.

"Huuuh ...." Aku pun menyandarkan tubuh ke sandaran kursi dengan nyaman sambil sedikit merenggangkan kedua kakiku.

Begitu aku menyalakan tombol getarnya, akhirnya aku merasa sedikit lega.

Pergi jauh begini memang nggak bisa kalau nggak bawa mainan.

Aku sedikit memejamkan mata. Hasrat di dalam tubuhku terlalu kuat, mainan kecil ini hanya bisa bertahan sebentar saja.

Aku pun hanya bisa berdoa semoga bus ini melaju lebih cepat.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Panjang di Bus Terakhir   Bab 7

    Arga tidak mau menyerah begitu saja, dia mencengkeram pakaianku dan berusaha memasukkan tangannya.Aku mengangkat kaki, lalu menendang bagian di antara kedua kakinya dengan sekuat tenaga.Arga terkejut oleh perlawanan mendadakku dan sempat terdiam.Dia menutup selangkangannya dengan wajah kesakitan, lalu berubah marah karena malu."Pelacur sialan, berani kamu memukulku? Hari ini kamu mau nggak mau harus menurut padaku!" bentaknya sambil menerjang ke arahku.Ruangan itu memang sempit, tidak lama kemudian aku tertangkap lagi.Dia merobek bajuku, lalu menggigit tulang selangkanganku dengan sangat keras.Aku berontak sekuat tenaga, tapi tenaganya terlalu besar. Dia memelukku begitu erat sampai aku sama sekali tidak bisa bergerak."Kemarin bukannya kamu menikmati banget? Kenapa sekarang malah mau jadi wanita suci?" Dia menggigit telinga bawahku, sementara satu tangannya terus meremas dadaku dengan kasar.Kemarin saja suamiku sudah sangat tidak senang, aku sama sekali tidak boleh melakukan k

  • Malam Panjang di Bus Terakhir   Bab 6

    Aku seketika tegang. Apa karena diperlakukan kasar oleh empat pria di bus tadi, aku jadi longgar?"Ah? Masa sih? Aku nggak terlalu perhatikan."Rendy tidak berkata apa-apa lagi. Dia bergerak beberapa kali di atas tubuhku, lalu semuanya berakhir dengan cepat.Dia menyeka bagian bawahnya, lalu menyalakan sebatang rokok.Tatapannya padaku tampak rumit, ada kesan muram di matanya.Melihatnya tampak kecewa, perasaanku benar-benar tidak enak.Aku pun memeluknya dari belakang, berharap bisa memberinya sedikit kehangatan.Tapi, Rendy tetap diam. Dia hanya berbaring di tempat tidur dan menarik selimut."Tidur gih. Kamu sudah di jalan seharian, pasti capek banget."Dia kemudian berbalik memunggungiku, tidak lagi memedulikanku.Hatiku mulai bertanya-tanya. Apa Rendy tahu apa yang kulakukan?Tapi rasanya tidak mungkin, kejadian itu baru sore tadi dan tidak ada yang memberitahunya. Mungkin dia hanya merasa ada sedikit perubahan.Aku segera mengingatkan diri sendiri untuk tidak berpikir macam-macam.

  • Malam Panjang di Bus Terakhir   Bab 5

    Setelah melewati gerbang proyek dan menyusuri jalanan berlumpur, kami akhirnya sampai di asrama pekerja.Rendy tinggal di lantai tiga, aku pun mengikuti Arga dan teman-temannya naik ke atas.Di sini semuanya pekerja laki-laki, kamar mandinya pun model kolektif yang terletak di tengah lorong.Sering kali ada pria yang selesai mandi tanpa mengenakan pakaian, lalu mondar-mandir di depanku.Hatiku kembali gusar saat melihat tubuh mereka yang kekar.Untung sebelumnya mereka sempat membantuku meredakannya, kalau tidak, mungkin aku sudah tidak sanggup berjalan.Tiba-tiba seorang pekerja yang baru selesai mandi berpapasan dengan kami, tubuhnya masih basah oleh tetesan air, dan miliknya yang besar benar-benar kelihatan tidak masuk akal.Begitu melihatku, dia langsung bereaksi.Dia menggoda Arga sambil bercanda."Woi Arga, bawa perempuan dari mana nih? Cantik banget, mau nggak main ke kamarku sebentar?"Arga menendang ke arah selangkangannya. "Dasar nggak tahu malu, cepat pakai bajumu!"Pria itu

  • Malam Panjang di Bus Terakhir   Bab 4

    Selama hari-hari ini aku menahan nafsu yang luar biasa. Apakah sensasi kenikmatan yang sudah lama kurindukan itu akhirnya akan datang?Tepat saat Arga hendak masuk ke dalam tubuhku, dia malah ditarik paksa oleh rekan kerja di sampingnya."Minggir, kenapa selalu kamu yang duluan?""Kesempatan langka ada cewek cantik begini, masa kamu lagi yang harus duluan?"Arga yang sudah hampir masuk merasa sangat kesal karena mendadak diganggu oleh mereka."Sialan kamu, bisa nggak sih jangan ngerusak kesenanganku?"Dia melayangkan tinjunya dan hampir terlibat perkelahian dengan mereka.Rekan kerja yang lain tidak mau kalah. Demi memperebutkan giliran pertama untuk meniduriku, mereka berempat langsung terlibat baku hantam.Mereka berkelahi sampai terjatuh ke sana kemari, bahkan bus itu pun ikut berguncang mengikuti keributan mereka.Sopir di depan berteriak, "Sudah, sudah! Cuma gara-gara satu perempuan saja, apa perlu sampai segitunya?"Tapi mereka sudah terlanjur emosi dan sama sekali tidak memeduli

  • Malam Panjang di Bus Terakhir   Bab 3

    Selesai bicara, Arga menjulurkan tangan dan mengambil mainan kecil itu."Kalian lihat, masih basah begini, cairannya sampai lengket."Aku refleks merapatkan kedua kakiku. Saat benda itu ditarik keluar tadi, rasanya seperti ada aliran listrik yang menyambar tubuhku. Aku hampir saja tidak kuat menahan teriakan.Namun, gerakan itu tertangkap mata Arga. Dia langsung menunjuk ke arahku."Gawat, perempuan ini pura-pura tidur, kakinya barusan gerak!""Serius? Jangan nakut-nakutin kita." Tiga rekan kerja lainnya tampak panik, takut aksi bejat mereka ketahuan."Pasti benar, tadi waktu diraba dia nggak bereaksi sama sekali, itu pasti akting. Jangan-jangan dia malah menikmatinya."......Mendengar mereka sibuk berdebat, jantungku berdegup kencang karena merasa sangat tegang.Mereka semua adalah rekan kerja suamiku. Kalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya pada suamiku?Akhirnya Arga mengertakkan gigi dan menghasut yang lain."Nggak usah peduli dia akting atau ngg

  • Malam Panjang di Bus Terakhir   Bab 2

    Malam mulai larut, para penumpang di dalam bus turun satu per satu.Lokasi proyek adalah tujuan terakhir, jadi di dalam bus hanya tersisa aku dan empat rekan kerja suamiku.Mereka pun tampak kelelahan karena perjalanan jauh, lalu bersandar di kursi dan mulai mendengkur halus.Aku juga memejamkan mata untuk menghemat tenaga, supaya nanti saat sampai di asrama, aku bisa menguras habis semua "simpanan bibit" suamiku selama beberapa hari ini.Entah sudah berapa lama berlalu, dalam keadaan setengah sadar aku mendengar para rekan kerja itu berbicara.Suaranya terdengar sangat pelan. "Sst! Dia sudah tidur belum?""Nggak tahu, coba Arga kamu cek ke sana," sahut salah satu temannya sambil mendorong.Aku merasakan sebuah tangan perlahan mendekat ke arah dadaku.Namun, rekan kerja ketiga segera menghalanginya. "Kamu bodoh, ya? Kalau perempuan ini belum tidur dan kamu ketahuan, habis kamu.""Sialan, aku benar-benar ingin menyikat perempuan gatal ini. Waktu main ke rumah Rendy dulu, aku sempat menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status