LOGINArga tidak mau menyerah begitu saja, dia mencengkeram pakaianku dan berusaha memasukkan tangannya.Aku mengangkat kaki, lalu menendang bagian di antara kedua kakinya dengan sekuat tenaga.Arga terkejut oleh perlawanan mendadakku dan sempat terdiam.Dia menutup selangkangannya dengan wajah kesakitan, lalu berubah marah karena malu."Pelacur sialan, berani kamu memukulku? Hari ini kamu mau nggak mau harus menurut padaku!" bentaknya sambil menerjang ke arahku.Ruangan itu memang sempit, tidak lama kemudian aku tertangkap lagi.Dia merobek bajuku, lalu menggigit tulang selangkanganku dengan sangat keras.Aku berontak sekuat tenaga, tapi tenaganya terlalu besar. Dia memelukku begitu erat sampai aku sama sekali tidak bisa bergerak."Kemarin bukannya kamu menikmati banget? Kenapa sekarang malah mau jadi wanita suci?" Dia menggigit telinga bawahku, sementara satu tangannya terus meremas dadaku dengan kasar.Kemarin saja suamiku sudah sangat tidak senang, aku sama sekali tidak boleh melakukan k
Aku seketika tegang. Apa karena diperlakukan kasar oleh empat pria di bus tadi, aku jadi longgar?"Ah? Masa sih? Aku nggak terlalu perhatikan."Rendy tidak berkata apa-apa lagi. Dia bergerak beberapa kali di atas tubuhku, lalu semuanya berakhir dengan cepat.Dia menyeka bagian bawahnya, lalu menyalakan sebatang rokok.Tatapannya padaku tampak rumit, ada kesan muram di matanya.Melihatnya tampak kecewa, perasaanku benar-benar tidak enak.Aku pun memeluknya dari belakang, berharap bisa memberinya sedikit kehangatan.Tapi, Rendy tetap diam. Dia hanya berbaring di tempat tidur dan menarik selimut."Tidur gih. Kamu sudah di jalan seharian, pasti capek banget."Dia kemudian berbalik memunggungiku, tidak lagi memedulikanku.Hatiku mulai bertanya-tanya. Apa Rendy tahu apa yang kulakukan?Tapi rasanya tidak mungkin, kejadian itu baru sore tadi dan tidak ada yang memberitahunya. Mungkin dia hanya merasa ada sedikit perubahan.Aku segera mengingatkan diri sendiri untuk tidak berpikir macam-macam.
Setelah melewati gerbang proyek dan menyusuri jalanan berlumpur, kami akhirnya sampai di asrama pekerja.Rendy tinggal di lantai tiga, aku pun mengikuti Arga dan teman-temannya naik ke atas.Di sini semuanya pekerja laki-laki, kamar mandinya pun model kolektif yang terletak di tengah lorong.Sering kali ada pria yang selesai mandi tanpa mengenakan pakaian, lalu mondar-mandir di depanku.Hatiku kembali gusar saat melihat tubuh mereka yang kekar.Untung sebelumnya mereka sempat membantuku meredakannya, kalau tidak, mungkin aku sudah tidak sanggup berjalan.Tiba-tiba seorang pekerja yang baru selesai mandi berpapasan dengan kami, tubuhnya masih basah oleh tetesan air, dan miliknya yang besar benar-benar kelihatan tidak masuk akal.Begitu melihatku, dia langsung bereaksi.Dia menggoda Arga sambil bercanda."Woi Arga, bawa perempuan dari mana nih? Cantik banget, mau nggak main ke kamarku sebentar?"Arga menendang ke arah selangkangannya. "Dasar nggak tahu malu, cepat pakai bajumu!"Pria itu
Selama hari-hari ini aku menahan nafsu yang luar biasa. Apakah sensasi kenikmatan yang sudah lama kurindukan itu akhirnya akan datang?Tepat saat Arga hendak masuk ke dalam tubuhku, dia malah ditarik paksa oleh rekan kerja di sampingnya."Minggir, kenapa selalu kamu yang duluan?""Kesempatan langka ada cewek cantik begini, masa kamu lagi yang harus duluan?"Arga yang sudah hampir masuk merasa sangat kesal karena mendadak diganggu oleh mereka."Sialan kamu, bisa nggak sih jangan ngerusak kesenanganku?"Dia melayangkan tinjunya dan hampir terlibat perkelahian dengan mereka.Rekan kerja yang lain tidak mau kalah. Demi memperebutkan giliran pertama untuk meniduriku, mereka berempat langsung terlibat baku hantam.Mereka berkelahi sampai terjatuh ke sana kemari, bahkan bus itu pun ikut berguncang mengikuti keributan mereka.Sopir di depan berteriak, "Sudah, sudah! Cuma gara-gara satu perempuan saja, apa perlu sampai segitunya?"Tapi mereka sudah terlanjur emosi dan sama sekali tidak memeduli
Selesai bicara, Arga menjulurkan tangan dan mengambil mainan kecil itu."Kalian lihat, masih basah begini, cairannya sampai lengket."Aku refleks merapatkan kedua kakiku. Saat benda itu ditarik keluar tadi, rasanya seperti ada aliran listrik yang menyambar tubuhku. Aku hampir saja tidak kuat menahan teriakan.Namun, gerakan itu tertangkap mata Arga. Dia langsung menunjuk ke arahku."Gawat, perempuan ini pura-pura tidur, kakinya barusan gerak!""Serius? Jangan nakut-nakutin kita." Tiga rekan kerja lainnya tampak panik, takut aksi bejat mereka ketahuan."Pasti benar, tadi waktu diraba dia nggak bereaksi sama sekali, itu pasti akting. Jangan-jangan dia malah menikmatinya."......Mendengar mereka sibuk berdebat, jantungku berdegup kencang karena merasa sangat tegang.Mereka semua adalah rekan kerja suamiku. Kalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya pada suamiku?Akhirnya Arga mengertakkan gigi dan menghasut yang lain."Nggak usah peduli dia akting atau ngg
Malam mulai larut, para penumpang di dalam bus turun satu per satu.Lokasi proyek adalah tujuan terakhir, jadi di dalam bus hanya tersisa aku dan empat rekan kerja suamiku.Mereka pun tampak kelelahan karena perjalanan jauh, lalu bersandar di kursi dan mulai mendengkur halus.Aku juga memejamkan mata untuk menghemat tenaga, supaya nanti saat sampai di asrama, aku bisa menguras habis semua "simpanan bibit" suamiku selama beberapa hari ini.Entah sudah berapa lama berlalu, dalam keadaan setengah sadar aku mendengar para rekan kerja itu berbicara.Suaranya terdengar sangat pelan. "Sst! Dia sudah tidur belum?""Nggak tahu, coba Arga kamu cek ke sana," sahut salah satu temannya sambil mendorong.Aku merasakan sebuah tangan perlahan mendekat ke arah dadaku.Namun, rekan kerja ketiga segera menghalanginya. "Kamu bodoh, ya? Kalau perempuan ini belum tidur dan kamu ketahuan, habis kamu.""Sialan, aku benar-benar ingin menyikat perempuan gatal ini. Waktu main ke rumah Rendy dulu, aku sempat menc







