Short
Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu

Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu

By:  EmmaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
8Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

".... Anu, di situ sangat kering. Rasanya perih dan sakit saat melakukannya, bahkan airnya saja nggak keluar-keluar ...." Aku menatap Tante Adelina, yang wajah cantiknya memerah malu. Lalu melirik sekilas ke arah tubuh seksinya yang sintal dan menggoda. Sambil menelan ludah, aku berkata sambil tersenyum lebar, "Itu ... Tante, masalahmu ini agak rumit. Aku nggak berani langsung ambil kesimpulan ...." "Begini saja, Tante masuk ke balik tirai itu. Aku akan menggunakan alat untuk memeriksa apa sebenarnya masalahnya." "Oh ya, ingat, celananya harus dilepas semua."

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Andre Hirman, seorang dokter ginekologi di rumah sakit ternama. Hari itu, aku sedang bertugas di ruang praktik.

Tiba-tiba, Tante Adelina, sahabat karib ibuku, datang menemuiku. Dia curiga dirinya mengalami menopause dini dan memintaku meresepkan obat.

Menopause dini? Tante Adelina?

Aku melirik ke arah dada Tante Adelina, sepasang "buah persik" yang bulat dan padat. Ukurannya pasti setidaknya 38F.

Di usianya yang hampir menginjak empat puluh tahun, payudaranya masih bisa sekencang dan seberisi itu. Aku yakin dia pasti sering "dimanjakan" oleh pria.

Melihat penampilannya yang genit dan seksi ini, mana mungkin dia mengalami menopause dini?

Aku membetulkan posisi kacamata di pangkal hidung, lalu bertanya apa saja gejala yang dia rasakan.

Tante Adelina menjawab dengan samar. Katanya, dia sudah mencari di google dan gejalanya persis seperti menopause dini. Dia menyuruhku tidak banyak tanya dan langsung memberikan obat saja.

Mendengar ucapan Tante Adelina, seketika muncul istilah "badan montok otak kosong" di kepalaku.

Aku benar-benar curiga, apakah otaknya pindah ke dadanya? Bisa-bisanya dia percaya begitu saja pada informasi simpang siur di internet.

Aku tersenyum dan menjelaskan bahwa sebagai dokter, kami tidak boleh sembarangan meresepkan obat tanpa memahami kondisi spesifik pasien.

"Tante Adelina, ceritakan padaku gejalanya seperti apa. Biar aku bantu analisis apa itu benaran menopause dini atau bukan."

Aku menundukkan pandangan ke arahnya. Saat mata kami bertemu, tatapannya tampak panik dan wajah cantiknya merona merah.

"... Andre, Tante ... Tante ...."

Melihatnya terbata-bata dan tidak berani bicara, aku pun merasa penasaran. Aku memberinya dorongan lewat tatapan mata agar dia melanjutkan.

Wajah Tante Adelina semakin merah padam. Dia tidak berani menatapku, menunduk sejenak dengan ragu, lalu berkata dengan suara lirih, ".... Anu, di situ sangat kering. Rasanya perih dan sakit saat melakukannya, bahkan airnya saja nggak keluar-keluar ...."

Aku tertegun sejenak, belum sempat mencerna maksudnya, lalu bertanya di mana bagian yang kering itu.

Tante Adelina tiba-tiba mendongak menatapku. Melihatku yang seolah benar-benar tidak paham, dia mendadak panik.

Dengan wajah memerah, dia memekik "Aduh!" sambil mengentakkan kaki, lalu berkata bahwa maksudnya "bagian itu".

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk tersadar. Aku bergumam, "Oh ...."

Alasan mengapa reaksiku terlambat adalah karena perhatianku teralihkan oleh sepasang "buah persik" yang bulat sempurna di dadanya.

Saat dia mengentakkan kaki tadi, entah karena gerakannya terlalu besar atau garis leher bajunya yang terlalu rendah, sepasang buah yang sebagian besar terbuka itu hampir saja melompat keluar.

Saat aku melihat sekilas warna merah muda yang menggoda, aku begitu tegang hingga lupa bernapas.

Untung saja saat ini aku memakai jas putih dokter yang longgar. Jika tidak, akan sangat memalukan jika Tante Adelina melihat "tenda" besar yang berdiri di selangkanganku.

Aku menjilat bibir, menatap Tante Adelina dengan tatapan dalam, lalu berkata sambil tersenyum, "Tante Adelina, penjelasanmu terlalu samar. Aku nggak bisa menentukan apa ini menopause dini atau bukan cuma dari itu ...."

"Begini saja, Tante masuk ke balik tirai itu. Aku akan menggunakan alat untuk memeriksa apa sebenarnya masalahnya."

"Oh ya, ingat, celananya harus dilepas semua."

Mendengar harus melepas celana, wajah Tante Adelina memerah dan bertanya dengan canggung, "... Andre, harus ... benaran harus lepas celana?"

Aku memasang ekspresi serius. "Tante Adelina, jangan merasa sungkan. Aku adalah dokter profesional. Di mataku, pasien nggak dibedakan berdasarkan jenis kelamin atau kecantikan."

Melihat Tante Adelina masih ragu, aku takut jika terlalu mendesak malah akan membuatnya kabur. Aku melembutkan nada suaraku dan berkata perlahan, "Begini saja, kalau Tante belum siap, aku akan memeriksa detak jantung dan denyut nadi Tante dulu."

Mendengar dia tidak perlu melepas celana untuk saat ini, Tante Adelina seketika menghela napas lega.

Aku mengambil stetoskop lalu berjalan ke sampingnya. Tante Adelina bertanya apakah dia harus berbaring.

"Ya, boleh."

Aku menarik pandanganku dari balik kerah bajunya. Setelah dia berbaring, aku pura-pura menempelkan stetoskop ke dadanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status