Share

Bab 167

Author: Dewiluna
last update Last Updated: 2025-07-07 21:43:00

“Kenapa?” Fera menghampiri Tania di ruang staf pagi itu.

Tania memijat pelipisnya sesaat. Fera bahkan bisa mencium aroma minyak kayu putih.

“Kamu sakit?” Wajah Fera berubah cemas.

Tania menggeleng pelan. Sejak semalam, ia merasa pusing. Pagi tadi Tania sudah minum obat, tapi kepalanya masih sakit.

“Enggak apa-apa kayaknya,” ucap Tania seraya mencari tempat duduk.

Mungkin ia hanya perlu istirahat sebentar. Tania menarik napas panjang. Fera merasa dilema sesaat sebelum akhirnya memilih untuk menemani Tania.

“Mau aku panggil suamimu?” Fera berusaha untuk tidak terdengar seperti ikut campur. Ia cuma khawatir dengan Tania.

Tania menggeleng. “Kayaknya, enggak apa-apa.”

“Nanti aku ke dia kalau udah enggak enak banget.” Tania mencoba berdiri tegak.

Fera masih memandangnya khawatir, tapi Tania meyakinkan temannya jika ia baik-baik saja. Tania malah langsung berjalan menuju lobi, siap memulai jam kerjanya di sana.

Hari cukup sibuk. Tania menangani banyak tamu sampai ia tak sempat untu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 31

    Tangan Tania bergerak panik. Ia melarikan pandangan kesana-kemari untuk mencari alasan. Namun, di dalam ruangan VIP di mana hanya ada mereka bertiga, tak ada apa pun selain makanan. “Aku tadi mau keluar cari obat, tapi ternyata sudah baikan.” Suara Tania bergetar saat ia berbohong. Tania tak bisa memikirkan alasan lain. Ia cuma bisa melihat piring di hadapannya, lalu teringat tentang rasa sakit di perutnya sehabis minum kemarin. “Aku udah enggak apa-apa sekarang,” sambung Tania dengan suara yang lebih tenang. Di samping Tania, Bryan berusaha menahan senyum. Pria itu sama sekali tidak memiliki empati. Padahal Bryan yang membuat Tania tersudut begini!“Mungkin Pak Rafael perlu mengantar Bu Tania ke dokter. Saya tidak masalah sama sekali,” ujar Bryan sok pahlawan. Tania mencibir tanpa suara. Ia menyumpah Bryan dalam hatinya. “Kita bisa makan bersama lain kali. Atau … Pak Rafael boleh mengundang saya secara pribadi di

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 30

    Di dalam ruang VIP restoran ini, Tania hanya bisa meringis. Sial sekali. Rafael meminta semua asisten beristirahat, jadi hanya tersisa mereka bertiga di dalam ruangan. Tak ada yang bisa melihat bagaimana tangan Bryan begitu aktif mengelus kedua paha Tania. “Cabernet Sauvignon yang Mr. Ziv bawa sangat luar biasa. Saya belum pernah mendapati wine yang seharum itu.” Rafael masih terus memuji penuh takjub. Pria itu tidak sadar jika istrinya sedang digoda di depannya. “Jangan lupakan Pinot Noir, Pak Rafael. Itu juga istimewa,” sahut Bryan. Kedua pria itu sibuk bicara dengan Tania yang ada di tengah mereka. Sedangkan Tania, hanya terduduk kaku. Ia memegangi ujung rok sambil sesekali mendelik sinis pada Bryan. Kesabaran Tania hanya berlangsung selama lima menit. Ia berdiri saat tangan Bryan menyentuh area privasinya di bawah sana. “Maaf!” ujar Tania menyela. Ia meminta izin ke toilet. Mendengar u

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 29

    “Siang, Pak Rafael. Saya juga baru datang,” jawab Bryan santai. Tania memicing untuk melihat noda lipstik di bibir Bryan, tapi tak ada sama sekali. Mereka beruntung. “Saya baru saja membahas kontrak dengan Bu Tania,” sambungnya. Tania mendelik saat melihat Bryan yang menahan senyum padanya. Pria gila itu benar-benar sudah membuat Tania lemas. Kedua lututnya terasa seperti jelly karena panik. Dan Bryan melihatnya. “Ada apa? Apa Bu Tania lelah?” Bryan malah membuat Tania menjadi pusat perhatian. “Tidak, lututku sedikit gatal,” elak Tania cepat. Ingin sekali Tania mencolok kedua mata Bryan yang menatapnya mengejek. Pria itu benar-benar ingin mempermalukannya. Tania sempat mendelik kesal pada Bryan sebelum Rafael menegurnya. Perhatian sang suami lah yang membuat Tania teralih. “Ayo kita duduk saja,” ajak Rafael seraya menggandeng Tania ke sofa. Seketika raut wajah Bryan berubah, yang sebelumnya me

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 28

    “Apa kamu rindu padaku?” Bryan langsung memepet Tania di dalam ruang kerjanya di Grand Velora. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Tania sudah merapat ke dinding. “Jangan macam-macam di sini, Bryan,” ujar Tania mengingatkan. Bryan terkekeh. Pria itu tidak menganggap peringatan Tania. Sekarang, tangan Bryan malah sibuk membelai pinggang Tania manja. “Kenapa? Asistenmu sudah pergi,” sahut Bryan. Pria itu dengan lihainya meminta Farah membuatkan kopi agar tidak mengganggu mereka. Sementara asisten Bryan, Erik, berpura-pura tidak melihat apa yang mereka lakukan sambil berjaga di depan pintu masuk. “Jangan!” Tania masih mencoba menolak, tapi Bryan jelas tidak mendengar. Sebuah kecupan hinggap di bibir Tania tanpa peringatan. Senyum terukir lebar di wajah Bryan. “Melihat kamu yang baik-baik saja, artinya malam itu kamu sukses memberikan alasan. Apa yang kamu katakan pada suamimu?”Tania melotot. Ia lang

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 27

    “Ini. Minumlah dulu.” Rafael menyodorkan segelas teh madu hangat pada Tania. “Aku sudah menghubungi dokter. Sebentar lagi sampai.”Seketika, Tania kembali merasakan perih di ulu hati. Perhatian Rafael kali ini bukan membuatnya senang, malah malu. “Aku mau ke kamar mandi.” Tania melarikan diri. Teh yang dibuat oleh Rafael sama sekali tidak disentuh olehnya. Ia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya di sana. Sungguh, Tania merasa kotor. Otaknya mulai memuat ingatan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Bryan. Saat pria itu memeluknya, mengecupnya, menjamahnya. Rasa bersalah menusuk Tania, membuatnya berdarah tanpa luka. Kran air sengaja Tania buka untuk menutupi tangis. Tangannya gemetar. Kedua matanya menatap kosong ke arah bathtub yang perlahan terisi. Gemericik air membuat Tania tersadar dari lamunan. Ia melangkah masuk saat air sudah meluap. Air dingin itu menusuk, m

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 26

    “Sudah bangun?” Tania membuka mata dan mendapati wajah Bryan di depannya. Kaget, Tania langsung bangun. Namun, tubuhnya limbung ke sisi sofa. Tubuh Tania hampir menabrak lantai yang dingin jika Bryan tak cepat bergerak. “Tidak perlu sampai seperti ini kalau kamu mau dipeluk,” ejek Bryan. Tak ada balasan. Tania hanya mendengus pelan. Ia belum bisa merespon apapun karena masih sibuk dengan rasa sakit di kepalanya. “Apa yang terjadi?” Tania mulai bertanya saat ia sudah bisa melihat dengan jelas. Pemandangan di depannya masih sama. Tania dan Bryan masih ada di ruang VIP di dalam klub. Mereka berbincang tentang kontrak, lalu Bryan memberikan syarat. Tania minum banyak, dan setelahnya….“Ini jam berapa?!” Kesadaran Tania yang kembali, langsung membuatnya panik. Ingatan sebelum mabuk mulai menerjang Tania bagai air bah. Ia keluar rumah di saat malam telah larut. Dan Tania sudah tak tahu sudah berapa lama dirinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status